⚠️ Harap mengatur emosi selama membaca ⚠️
"JANGAN PIKIR KARENA AKU LEMAH, AKU BAKALAN DIAM YA, MAS!"
10 tahun menikah, Hanum tidak pernah merasakan arti keluarga yang "Sakinah, Mawadah, Warahmah" seperti yang pernah diucapkan saat ijab kabul pernikahannya dulu.
Puncaknya, gara-gara kelakuan bejat suaminya itu, dia harus menanggung derita yang lebih berat dibandingkan sebelumnya.
"VANYA... KAU BOLEH SAJA MEREBUT SUAMI KU. AKU BERIKAN DIA, TAPI KAN KU REBUT SELURUH HIDUP KALIAN BERDUA!" — Hanum Arsyila Putri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Motjaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2. Keputusan Akhir
Hanum masih berada di dalam ruangannya. Dia menatap kertas yang dilemparkan Bramasta dua hari yang lalu. Surat cerai itu masih belum ia tanda tangani sebab ada hal yang masih saja mengganjal hatinya. Dia sedang mengandung anak Bramasta, anak pertama yang selama ini ia dambakan kehadirannya. Namun, apa daya Bramasta yang sama sekali tidak menghiraukannya, membuat Hanum harus berpikir dua kali untuk mengambil keputusan.
"Maafin mama ya, Nak. Mungkin ini keputusan yang terbaik. Mama juga gak sanggup untuk menghadapi papa kamu," ucap Hanum seraya mengelus perutnya yang baru menonjol, kira-kira hampir tiga bulan.
Matanya mulai sembap, tetapi dia mencoba menengadah ke atas. Ah, sudahlah semoga saja ini adalah solusi yang terbaik, pikirnya kembali. Dia pun berdiri dari kursinya, lalu pergi meninggalkan ruangan itu.
"Hanum," ucap Devan ketika Hanum sedang berjalan menuju pintu luar butiknya.
"Eh, Devan. Sejak kapan kamu di sini?" tanya Hanum menatap Devan yang tampak bersama wanita di sebelahnya.
"Aku baru saja di sini, mau beliin kebaya untuk Bunda," Devan mengulas senyumnya kepada wanita di sebelahnya.
"Kenalin, Bun. Ini Hanum, teman semasa SMA dulu," ucap Devan kepada Bunda nya.
Hanum tersenyum ramah sambil memperkenalkan dirinya. "Saya Hanum, Tante. Senang bisa berkenalan sama Tante. Ya udah, Van. Biar aku bantu cariin setelan yang cocok buat bunda kamu. Mari tante lihat-lihat dulu," ucap Hanum sembari memegang tangan wanita itu. Devan tersenyum senang menatap keduanya yang kini tampak berceloteh akrab sambil memilih setelan yang pas.
Setelah selesai memilih, akhirnya Devan dan bundanya pamit untuk pulang terlebih dahulu.
"Makasih ya, Hanum. Tante seneng banget bisa ketemu sama kamu, di rumah Tante suntuk gak ada siapa-siapa. Devan tiap hari kerja melulu sampe lupa kalo bunda nya juga gak ada temen di rumah," ucap Rasti sambil mencuil pipi Devan yang tampak malu.
"Apaan sih, Bun.., jangan gitu dong..," bisik Devan pada bundanya sambil menatap Hanum yang tersenyum kepada mereka berdua.
"Kalau boleh, Hanum siap kok nemenin Tante di rumah. Kalo dipikir-pikir sih, Hanum juga suka suntuk hehe, soalnya jarang banget bicara sama orang tua..," Pikirannya kembali mengingat mama nya yang telah lama pergi.
Devan sontak mengerti, lalu dengan cepat mengajak bunda nya untuk pergi. "Ih, kamu mah gitu. Ya udah, Tante tunggu kamu di rumah ya," kata Rasti sambil menggerutui Devan.
"Siap, Tante," Hanum menatap kedua orang itu memasuki mobil yang terparkir di depan butiknya hingga pergi meninggalkan tempat itu.
Tring!
Sebuah pesan masuk di ponselnya. Hanum mengecek pop up pesan itu.
"Saya tidak mau tahu. Hari ini juga kamu selesaikan surat cerai itu. Temui saya di rumah nanti."
Angin menerpa wajah nya, Hanum membetulkan belakang hijabnya yang tampak berkibar itu. Hatinya terasa gundah. Dia menatap jam di layar ponselnya. Waktu asar hampir tiba, dia pun memilih untuk pergi ke masjid yang ada di sekitar butiknya.
Dia memanjatkan doa untuk meminta keteguhan hati atas keputusannya ini. Tak mudah dalam menggugat cerai suaminya yang selama ini dia sayangi. Bertahun-tahun lamanya, mengapa harus berpisah? Air matanya perlahan menetes membasahi pipinya. Dia membayangkan hari dimana pertama kali dia menikah bersama Bramasta. Saat pria itu memasangi cincin kawin kepadanya dengan raut wajah yang datar, sama sekali tidak menunjukkan kepeduliannya. Atas dasar apa mereka menikah selain rasa terpaksa karena dijodohkan oleh orang tua nya. Wasiat yang ditinggal oleh orang tua Hanum jelas tidak bisa ia usik. Tapi untuk kali ini, Hanum benar-benar menyerah...
"Wah, wah.. Siapa yang datang. Mau apa lo kemari hah?" Vanya dengan angkuhnya berdiri di depan pintu saat Hanum baru saja turun dari ojek motor yang dia tumpangi.
"Dasar wanita gak tahu diri, harusnya kamu sadar kamu tuh udah merebut suami saya, pelakor!" Hanum menerobos masuk rumahnya.
"Sembarangan kalo ngomong! Mas Bram dulu yang goda gue ya, lo jangan asal nuduh!"
Mau gimana pun yang namanya pelakor gak bakalan ngaku, pikir Hanum.
"Dimana Mas Bram?" Hanum celingak-celinguk mencari pria itu.
"Ada apa sih? Lo tuh udah bukan istri dia lagi. Udah sono pergi sana sebelum dia datang dan usir lo lagi. " Vanya dengan puas mengatakan seolah dia lah penguasa rumah ini.
"Cih, kamu pikir saya mau jadi istri dia? Hari ini juga saya bakalan pisah resmi dengan suami saya," Hanum mengeluarkan surat cerai yang kemarin sempat dilemparkan oleh Bramasta. "Puas kamu?" dia menunjukkan kertas itu di depan Vanya.
"Haha, akhirnya lo nyerah juga. Emang bener ya, lo tuh lemah tau?!"
Hanum tidak membalas ucapan wanita gila itu. Dia menunggu di ruang tamu. Meskipun rumah ini bukan miliknya, tapi sebagai istri seharusnya dia mendapatkan jatah atas hasil jerih payahnya dan suaminya. Tetapi rasa besar hati itu lah yang membuat Bramasta buta akan nya.
"Mas, ini nih ada orang masuk ke rumah kita..," Vanya langsung menunjuk Hanum.
Bramasta menatap tajam ke arah Hanum. Tak suka dengan kehadirannya meskipun dia sendiri yang menyuruhnya untuk tiba kemari. Buru-buru Hanum menyerahkan surat itu, bagaimana pun juga semuanya harus usai.
"Kamu tahu kan, aku udah gak cinta atau pun sayang sama kamu lagi, Mas..," lirih Hanum sebelum dia menatap pria di depannya. "Detik ini juga, jangan pernah kamu menghubungi ku lagi. Semoga ini jalan terbaik buat kita berdua, Mas. Aku harap kamu dan "pelakor" itu bahagia," Hanum tak mampu membendung air matanya. Lalu menyeka nya dengan tisu yang ada di atas meja ruang tamu.
"Ah, sudah sudah. Jangan banyak drama, lebih baik kamu pergi keluar!" Bramasta yang masih mementingkan ego nya itu malah menyuruh nya pergi.
Hanum tersenyum pahit. Dari dulu selalu saja begini.
"Aku pergi dulu, Mas. Assalamualaikum."
Buru-buru dia meninggalkan rumah itu. Rumah yang sedari dulu menjadi tempat pertama nya untuk berteduh kini berubah menjadi tempat tinggal orang lain. Semburat senja menghiasi langit sore itu. Hanum menyeka air matanya lagi, "Ah, sudahlah. Aku gak boleh nyerah begini. Masih banyak kok cara lain yang bisa aku lakukan."
Sementara itu, di ruangan bekas istrinya duduk, Bramasta terdiam sejenak. Pikirannya mendadak teringat akan satu hal. Kehamilan Hanum. Dia tidak pernah membawa Hanum untuk mengecek kandungannya sekali pun. Terlebih dia selalu menghabiskan waktu bersama Vanya saja. Dasar pria tidak bertanggungjawab!
"Mas..., kamu kenapa?? Masih mikirin perempuan lemah itu ya??" Vanya memeluk Bramasta dari belakang.
Bramasta tidak menjawab.
"Jangan-jangan kamu mikirin Hanum yang katanya hamil itu, ya?" kata Vanya lagi. "Gak usah dipikirin, Mas. Kamu sendiri kan yang bilang kalau kamu gak pernah berhubungan badan sama istri kamu sendiri."
"Selain itu, harusnya kamu lebih mikirin aku dong..," ucap Vanya dengan suara yang mendayu-dayu.
Bramasta berbalik dan menatap Vanya.
"Aku.. Hamil, Mas," ucap Vanya tersenyum lebar sambil menunjukkan tespek yang menunjukkan positif itu.
Hanum tak lagi menghiraukan arah langkahnya. Dia menaiki taksi, meminta driver nya agar diantar ke pantai.
"Wah, Neng mau sunset an ya? Cocok banget ini mumpung lagi bagus view nya!" seru driver dengan penuh semangat. Hanum membalasnya dengan senyum saja. Hingga akhirnya dia tiba, dia menghabiskan waktu untuk duduk di salah satu pendopo yang ada di tepi pantai. Banyak juga pengunjung pantai itu, dia memesan kelapa muda dan membawanya ke bibir pantai. Duduk di atas hamparan pasir putih nan lembut. Angin yang cukup kuat menerpanya. Gelombang laut juga cukup tinggi, tetapi dia tidak mempedulikan nya sama sekali.
"AWAS OMBAK!!!" Tiba-tiba saja salah satu orang yang sedang berenang berlari dari bibir pantai. Samar-samar Hanum melihat gelombang yang tingginya hampir tiga meter itu datang dan
BLARRRRRRRRR!!!
"ADA YANG TENGGELAM! CEPAT SELAMATKAN WANITA TADI!!"