Di balik hiruk-pikuk kehidupan modern, setiap manusia menyimpan rahasia gelap yang mereka simpan sendiri. Kota yang tampak gemerlap di siang hari menyembunyikan luka, pengkhianatan, dan pilihan-pilihan sulit yang mengubah arah hidup seseorang.
Ini kisa tentang Naya, yang menerima pengkhianatan dari tunangan dan adik tirinya. Tentang Naya yang terjebak dalam pernikahan kontrak dengan pria paling berkuasa di negaranya. Dan tentang Naya yang ternyata tidak punya siapa-siapa, selain lapisan rumit labirin hidup yang membuatnya berjuang memecahkan teka-teki, lalu dengan tanpa pilihan memilih percaya pada suaminya.
*
Cerita ini hanyalah karangan penulis, kesamaan nama tokoh dan latar hanyalah fiksi belaka untuk kebutuhan tulisan dan tidak ada hubungannya dengan dunia nyata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mapple_Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Di depan meja pantry dapur apartemen Rebecca, Naya berdiri terpaku, menatap mesin pembuat kopi dengan tatapan yang sulit diartikan, seolah pikirannya sedang menembus sesuatu yang lebih daripada sekadar benda di depannya.
Ingatannya melayang kembali ke malam tadi. Orang yang ia tunggu akhirnya datang, orang itu membawa surat kematian ibunya.
Naya memang tidak dekat dengan pria itu, tapi yang ia tahu, orang tersebut masih termasuk kerabat ibunya dan adalah satu-satunya yang menyimpan surat kematian itu. Naya sudah membaca surat itu, dan semakin jelas baginya bahwa ada begitu banyak kejanggalan di balik kematian ibunya.
Dan entah kenapa, sekarang semua mulai terasa sangat masuk akal bahwa orang yang mungkin menjadi pelakunya adalah ayahnya sendiri.
“Tapi kenapa?” Pertanyaan itu terus menghantui kepala Naya sejak semalam. Kenapa ayahnya membunuh ibunya? Kenapa dia melakukan itu, dan kenapa sekarang dia juga tampak mengincar nyawanya?
Ting! Tong!
Lamunan Naya buyar ketika suara bel pintu berbunyi. Ia cepat-cepat mengambil gelas kopinya, lalu bergegas menuju pintu.
Saat pintu terbuka, Naya hampir menjatuhkan gelas kopi yang dipegangnya.
“Lucio…?” Wajah Naya memucat melihat pria itu ada disini.
Pria itu berdiri menjulang di depan pintu, matanya menatap Naya dengan dingin dan penuh kekecewaan. Ia hanya diam sejenak, mengamati Naya dari atas ke bawah seolah memastikan bahwa yang ia lihat benar-benar nyata.
“Aku tahu itu kamu,” gumam Lucio, suaranya sedikit kasar saat ia mendorong Naya ke samping, lalu melangkah masuk ke dalam apartemen.
“Kenapa kamu ke sini?” tanya Naya, suaranya pelan namun jelas terdengar tegang. Ia mengikuti langkah panjang Lucio dengan sedikit terseok, menjaga jarak tanpa berani terlalu dekat.
Lucio menghempaskan tubuhnya ke sofa, lalu mendengus kasar. “Kamu masih berani bertanya?”
Dingin sekali suara itu.
Naya menelan ludahnya gugup. Jemarinya tanpa sadar mencengkeram gelas kopi di tangannya. Ia tetap berdiri di tempat, tidak berani melangkah lebih dekat.
“Kamu masih mencurigaiku, kan?” ujar Lucio, tangannya mengacak rambutnya dengan frustrasi. Ia lalu bangkit dan melangkah mendekat.
Refleks, Naya mundur satu langkah.
“Aku sudah bilang kalau aku hanya menyelidiki kematian mamamu—”
“Lalu kenapa kamu melakukan itu?” potong Naya cepat, nada suaranya agak meninggi tanpa sengaja. “Dia bukan siapa-siapa bagimu.”
Lucio terdiam.
Rahangnya mengeras, matanya menatap Naya tanpa berkedip, tapi tidak ada jawaban yang keluar.
“Lihat, kan?” Naya melipat kedua tangannya di depan dada. “Kamu diam. Aku tidak bisa mempercayai siapapun sekarang. Bahkan kamu… mungkin saja kamu juga ingin membunuhku.”
Keheningan sejenak memenuhi ruangan.
“Aku tidak akan membunuhmu.” tegas Lucio.
Tiba-tiba pintu apartemen terbuka.
Rebecca yang baru saja kembali dari membeli sarapan pagi langsung tertegun di ambang pintu. Tatapannya berpindah dari Naya ke sosok pria yang berdiri tidak jauh darinya, jelas ia tidak menyangka akan melihat Lucio di dalam apartemennya.
“Maaf mengganggu, kalian lanjut saja,” ucap Rebecca dengan senyum canggung yang dipaksakan.
Ia sempat melirik Naya, dan Naya membalas tatapan itu dengan penuh harap, meminta bantuan tanpa kata. Namun Rebecca hanya menggeleng pelan, lalu buru-buru masuk ke kamarnya sendiri dan menutup pintu dengan cepat, seolah tidak ingin ikut terseret dalam permasalahan mereka.
Suasana kembali hening.
Lucio menarik napas pelan sebelum akhirnya berbicara, suaranya lebih rendah dari sebelumnya. “mamamu adalah sahabat mamaku. Sebelum dia meninggal, dia pernah meminta ibuku untuk menjagamu.”
Kata-kata itu terdengar sederhana, tapi cukup untuk membuat akhirnya menatap ke mata Lucio.
“Dan itu alasan kamu menikahiku?” tanya Naya. Ada secercah harapan kecil di matanya, harapan yang bahkan ia sendiri tidak yakin ingin ia dengar jawabannya.
Ia berharap Lucio akan menggeleng.
Namun pria itu justru mengangguk.
Seketika bahu Naya merosot.
Ada sesuatu di dalam dirinya yang kecewa, sebuah harapan kecil yang diam-diam ia simpan. Dalam hatinya, ia sempat berpikir, mungkin sedikit saja, Lucio memiliki perasaan padanya.
Namun ternyata tidak.
Naya menunduk, menggigit bibir bawahnya. Lalu mendongak lagi, itu hanya sedikit kekecewaan dan tidak akan terlalu mempengaruhinya.
“Terimakasih sudah mau menjagaku. Aku baru tahu kalau mamaku bersahabat dengan mamaku.” Gumam Naya, karena selama ini ayahnya selalu mengatakan kalau keluarga mereka hanya sebatas rekan kerja.
“Percaya padaku Naya, aku akan melakukan apapun untuk mendapatkan keadilan untuk mama kamu.” Kata Lucio terdengar sangat meyakinkan seperti sebuah janji yang dia yakin bisa ditepati.
“Setelah itu?”
“Setelah semuanya jelas, kamu bebas memutuskan apapun…” Lucio menjeda sejenak, menatap Naya dalam. Lalu melanjutkan. “Termasuk pergi dari pernikahan ini.”
“Ya, itu bagus.” Naya tersenyum.
Memiliki seseorang sekuat Lucio di sisinya jelas sebuah keuntungan. Dan jika benar ibunya dan ibu Lucio pernah sedekat itu, maka mungkin… mempercayainya bukanlah pilihan yang sepenuhnya salah