Tio Wirawan, seorang solo climber arogan, tersesat dan terluka parah di Gunung Slamet.
Terisolasi tanpa bantuan, ia berjuang melawan lapar, infeksi, dan dingin yang perlahan merenggut hidupnya.
Namun saat kematian semakin dekat, ia menemukan sesuatu yang mustahil: sebuah desa misterius yang tidak ada di dunia manusia.
Di sana, Tio dihadapkan pada sebuah kebenaran—ia tidak hanya tersesat di gunung, tetapi di antara dua alam.
Ketika ia akhirnya kembali, secara tak masuk akal muncul di kaki Gunung Ciremai, Arya sadar ia telah diberi kesempatan kedua. Tapi sebagian dari dirinya tertinggal di tempat itu—di Pasham, tempat di mana manusia harus tersesat untuk benar-benar menemukan jalan pulang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30 Hari
Setelah telepon dengan ibunya, Tio duduk terpaku di teras rumah Pak RT. Ponsel masih di tangannya, layarnya basah oleh air mata. Ia menatap kosong ke arah sawah di kejauhan, pikirannya melayang ke mana-mana.
Pak RT duduk di sampingnya, diam memberi waktu. Beberapa warga masih berkumpul di halaman, berbisik-bisik, tapi tidak mengganggu.
Beberapa menit kemudian, Tio menarik napas panjang. Ia menoleh pada Pak RT.
"Pak, saya mau tanya. Hari ini tanggal berapa?"
Pak RT menyebutkan tanggal. Tio menghitung dalam kepala. Ia mendaki tanggal 3. Hari ini tanggal... ia menghitung lagi. 30, Tiga puluh hari sejak ia meninggalkan basecamp Gunung Malang.
Tio mengingat-ingat. Ia masuk ke desa gaib setelah... berapa hari? Ia tidak tahu persis. Yang ia ingat, ia sudah 16-17 hari di hutan sebelum menemukan desa itu. Lalu di desa gaib, ia merasa sekitar 5 hari. Total mungkin 22-23 hari.
Tapi sekarang tanggal menunjukkan 30 hari sejak ia berangkat. Berarti... ada selisih.
Waktu di desa gaib mungkin berbeda. Atau mungkin ia pingsan lama di suatu tempat. Atau mungkin lorong antar dunia itu membuat waktu berjalan berbeda.
Tio menghela napas. Tidak penting lagi. Yang penting, ia selamat. Ia pulang.
"Pak, saya boleh pinjam ponsel lagi? Saya mau telepon ibu saya sekali lagi. Biar lebih tenang."
Pak RT mengangguk, memberi isyarat silakan.
Tio menekan nomor yang sama. Kali ini diangkat lebih cepat.
"Le... Tio? Iki Tio?" (Nak... Tio? Ini Tio?)
"Iya, Bu. Ini Tio."
"Le... matur nuwun Gusti... matur nuwun..." (Nak... terima kasih Tuhan... terima kasih...)
Tio mendengar ibunya menangis lagi. Di latar belakang, suara ayahnya ikut terdengar, mencoba menenangkan tapi suaranya juga bergetar.
"Bu, Tio di Kuningan, Jawa Barat. Tio nggak tahu bisa pulang cepat atau enggak. Tapi Tio sehat, Bu. Alhamdulillah sehat."
"Kuningan? Lha kok iso Kuningan, Le? Koe wingi nang Slamet?" (Kuningan? Lha kok ISO tekan Kuningan, Nak? Kamu kemarin di Slamet?)
"Iya, Bu. Ceritanya panjang. Nanti Tio cerita kalau sudah pulang. Yang penting Tio selamat."
"Le... ibu... ibu ki ngira koe wis ora ono. Wong wis telung puluh dino ora ono kabar. Ibu... ibu wis pasrah. Ning saiki... saiki koe urip..."
(Nak... ibu... ibu itu mengira kamu sudah tidak ada. Soalnya sudah 30 hari tidak ada kabar. Ibu... ibu sudah pasrah. Tapi sekarang... sekarang kamu hidup...)
Tangis ibunya pecah lagi. Tio ikut menangis. Ia tidak bisa berkata-kata.
"Bu, Tio minta maaf. Maafin Tio. Tio ngilang, Tio nggak kabar-kabar, Tio... Tio minta maaf."
"Le, wis, wis. Sing penting saiki koe selamat. Kapan mulih? Ibu jemput." (Nak, sudah, sudah. Yang penting sekarang kamu selamat. Kapan pulang? Ibu jemput.)
"Tio nggak tahu, Bu. Tio masih di puskesmas katanya mau diperiksa. Nanti Tio kabari lagi."
"Iya, Le, iya. Ibu tunggu. Ibu... ibu seneng, Le. Seneng banget."
"Iya, Bu. Tio juga seneng. Tio sayang ibu."
"Ibu juga sayang koe, Le. Ibu... ibu ngenteni koe mulih."
Telepon berakhir. Tio memandangi ponsel itu lama. Ada rasa lega yang luar biasa, tapi juga rasa bersalah yang dalam. Ia sudah membuat ibunya menderita selama 30 hari.
Ia sudah membuatnya menangis, khawatir, putus asa. Tapi setidaknya, sekarang ibunya tahu. Anaknya masih hidup. Akan pulang.
Pak RT menepuk bahunya. "Engké atuh nepungan indung, Pak. Ayeuna mah kudu ka puskesmas heula. Isteri mah geus ngabéjaan ka mantri."
(Nanti saja ketemu ibu, Pak. Sekarang harus ke puskesmas dulu. Istri saya sudah kasih tahu mantri.)
Tio mengangguk. Ia dibantu berdiri, lalu diantar dengan motor milik warga menuju puskesmas kecamatan.
Puskesmas Cigugur sederhana—bangunan satu lantai, cat putih mulai pudar, halaman berumput dengan beberapa pohon rindang. Tio masuk, ditemani Pak RT dan satu warga lain.
Seorang perawat menyambut, matanya membelalak melihat kondisi Tio. Pakaian compang-camping, tubuh kurus, bekas luka di mana-mana. Ia segera memanggil mantri—tenaga medis yang bertugas.
"Mang, ieu pasien nu diwartosan ku Pak RT. Tersesat di gunung, konon tilu puluh dinten."
(Bang, ini pasien yang dikabari Pak RT. Tersesat di gunung, katanya 30 hari.)
Mantri itu—pria muda sekitar 30-an, berkacamata—mendekati Tio dengan cekatan. "Silakan duduk, Pak. Saya periksa dulu."
Tio duduk di kursi pasien. Mantri itu mulai memeriksa tekanan darah, suhu tubuh, refleks, dan luka-lukanya.
Dan semakin diperiksa, semakin aneh ekspresinya.
"Pak, ini luka di kepala... kelihatan sudah lama, tapi sembuhnya... sembuh total? Tidak ada bekas jahitan, tapi jaringan sudah rapi. Ini aneh."
Tio diam. Tidak tahu harus menjawab apa.
Mantri itu beralih ke kaki Tio. "Ini kaki kanan... bengkaknya sudah turun, tapi ada bekas luka parah di sini. Bekas infeksi berat. Tapi kok... sembuh total? Ini jaringan baru, tapi tidak seperti luka yang dijahit. Ini... ini seperti regenerasi alami yang sempurna."
Ia mengangkat kaki Tio, memeriksa lebih teliti. "Seharusnya luka infeksi separah ini meninggalkan jaringan parut besar. Tapi ini... hampir tidak ada bekas. Aneh."
Tio masih diam. Di dalam hati, ia bersyukur. Ramuan Mbok Ranti memang ajaib.
Tapi mantri itu belum selesai. Ia memeriksa lengan Tio, menemukan luka-luka lain yang masih segar.
"Nah, ini yang aneh. Luka di tangan ini... masih baru. Mungkin 2-3 hari. Tapi kok teksturnya berbeda? Ada yang sudah sembuh total, ada yang masih baru. Ini... ini seperti dua periode luka yang berbeda."
Ia menatap Tio. "Pak, maaf, ini agak aneh. Bapak benar-benar 30 hari di hutan?"
Tio mengangguk.
"Dan luka-luka ini? Yang di kaki, yang di kepala—itu dari awal jatuh?"
"Iya."
Mantri itu menggeleng. "Tidak masuk akal. Luka infeksi separah itu, tanpa obat modern, tanpa perawatan medis, dalam 30 hari harusnya... maaf, harusnya bapak sudah tidak bisa jalan. Atau bahkan... maaf, meninggal karena sepsis. Tapi ini sembuh total. Ini... ini seperti luka yang dirawat di rumah sakit dengan obat terbaik."
Ia menatap Tio dengan campuran heran dan
curiga. "Pak, jujur, apa bapak benar-benar 30 hari di hutan? Atau mungkin bapak mendapat pertolongan di suatu tempat?"
Tio diam. Ia bisa saja berbohong. Tapi ia lelah berbohong.
"Ada yang menolong saya," katanya pelan. "Di hutan. Mereka... mereka mengobati saya dengan ramuan tradisional."
Mantri itu mengerutkan kening. "Ramuan tradisional? Sepaket itu? Tidak mungkin. Ramuan tradisional paling hanya untuk luka ringan. Untuk luka infeksi separah ini... maaf, saya sebagai medis, saya tahu itu tidak mungkin."
Tio tidak menjawab. Ia hanya menunduk.
Mantri itu diam beberapa saat, lalu menghela napas.
"Sudahlah, yang penting bapak selamat. Saya akan berikan vitamin dan obat-obatan standar. Tapi untuk luka-luka ini, sepertinya sudah tidak perlu perawatan khusus. Ajaib, sungguh ajaib."
Setelah pemeriksaan selesai, Tio diberi pakaian bersih—baju bekas milik salah satu warga—dan segelas susu hangat. Ia duduk di ruang tunggu puskesmas, ditemani Pak RT yang setia menemaninya.
Di luar, sore mulai turun. Langit jingga di ufuk barat. Tio memandanginya lama.
"Pak RT, makasih banyak. Makasih untuk semua bantuan warga sini. Saya... saya tidak tahu harus bilang apa."
Pak RT tersenyum. "Teu sawios, Pak. Jalma mah kudu silihtulungan." (Tidak apa-apa, Pak. Manusia harus saling tolong.)
Tio mengangguk. "Saya akan pulang besok atau lusa. Saya harus ketemu ibu saya."
"Badé dijemput? Atawa badé naon?" (Mau dijemput? Atau mau apa?)
"Naik kereta mungkin. Tapi... uang saya tidak ada. Semua hilang."
Pak RT mengangguk mengerti. "Abdi tiasa bantu, Pak. Sakedap nyak." (Saya bisa bantu, Pak. Sebentar.)
Ia berdiri, berjalan ke luar, berbicara dengan beberapa warga yang masih setia menunggu. Beberapa menit kemudian, ia kembali dengan membawa amplop coklat.
"Ieu, Pak, hasil urunan warga. Kangge ongkos mulih. Teu seueur, mugi-mugi cekap."
(Ini, Pak, hasil urunan warga. Buat ongkos pulang. Tidak banyak, semoga cukup.)
Tio memandangi amplop itu, lalu menatap Pak RT. Air mata kembali mengalir.
"Pak... saya... saya tidak tahu harus bilang apa..."
"Teu usah ngomong nanaon, Pak. Sing penting selamat, geura balik ka indung."
(Tidak usah bilang apa-apa, Pak. Yang penting selamat, cepat pulang ke ibu.)
Tio mengangguk, memeluk amplop itu erat. Di luar, matahari semakin rendah. Malam akan segera tiba.
Malam pertama di dunia nyata setelah 30 hari. Tapi malam ini, tidak ada bayangan menonton. Tidak ada suara gamelan. Tidak ada ketakutan.
Hanya kedamaian. Dan rasa syukur yang tak terhingga.