NovelToon NovelToon
The Sovereign Architect: Runtuhnya Dinasti Wijaya

The Sovereign Architect: Runtuhnya Dinasti Wijaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Sistem
Popularitas:11.7k
Nilai: 5
Nama Author: Cut founna

"Kecerdasanmu mati di jalanan bersama jaket kurirmu, Arka."
​Hinaan Sarah di hari kelulusannya menjadi luka terdalam bagi Arka, pria yang rela putus kuliah demi membiayai hidup gadis itu. Diinjak-injak oleh Rian Wijaya sang pewaris korporat, Arka mencapai titik nadir hingga sebuah suara dingin bergema: [Sistem Sovereign Architect Aktif].
​Sistem ini tidak memberinya uang instan, melainkan 'mata' untuk melihat celah busuk di balik kemegahan kota. Bermodal sepuluh ribu rupiah dan otak jenius yang dianggap sampah, Arka mulai merancang arsitektur balas dendamnya.
​Bukan dengan senjata, tapi dengan memutus urat nadi ekonomi sang konglomerat. Satu per satu gedung pencakar langit akan bertekuk lutut, dan Sarah akan menyadari bahwa pria yang ia buang adalah penguasa tunggal atas cetak biru dunianya.
​"Selamat datang di permainanku. Di sini, aku adalah arsiteknya, dan kau hanyalah debu."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut founna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

25

Bab 25: Badai di Lembaga Pemasyarakatan

Malam di Lapas Kelas II Tanjungbalai tidak pernah benar-benar sunyi. Selalu ada suara latar belakang: denting sendok pada jeruji besi, gumaman doa yang putus asa, hingga tawa liar dari mereka yang sudah tidak lagi peduli pada hari esok. Namun malam ini, udara terasa berbeda.

Ada tekanan yang berat, seperti atmosfer sebelum badai besar menghantam pesisir Asahan.

Arka duduk bersila di lantai selnya, menatap ke arah bayangan jeruji yang memanjang di bawah lampu koridor yang berkedip. Di telapak tangannya, ia memegang sepotong kecil arang yang ia dapatkan dari dapur. Di lantai semen, ia menggambar sebuah skema logistik—bukan tentang rute kurir Sovereign, melainkan rute pelarian dan titik buta kamera pengawas di blok ini.

[Status Sistem: Hibernasi. Memulihkan Fungsi Kognitif...]

[Bisikan Insting: Adrenalin meningkat di seluruh blok. 80% kemungkinan terjadi anarkisme dalam 30 menit ke depan.]

Arka menghapus gambar itu dengan telapak tangannya yang kasar. Tanpa data akurat, ia hanya mengandalkan "indra keenam" yang diasah di jalanan. Ia bisa mendengar bisik-bisik yang terlalu teratur di sel seberang. Jono dan kelompoknya tidak lagi berteriak mengejeknya. Mereka diam.

Dan diamnya seorang pemangsa adalah tanda serangan segera dimulai.

"Arka," suara Baskara terdengar lirih dari sel sebelah. Pria tua itu menempelkan wajahnya ke jeruji pemisah. "Kau dengar itu? Suara kikir yang beradu dengan gembok di ujung koridor?"

Arka mengangguk. "Rian Wijaya tidak sabar menungguku di pengadilan. Dia ingin aku keluar dari sini dalam kantong jenazah."

"Dengar," Baskara merogoh sesuatu dari balik lipatan sarungnya yang kumal. Sebuah pulpen kecil dan secarik kertas yang penuh dengan angka-angka koordinat. "Jika sesuatu terjadi padaku malam ini, bawa ini pada Elina. Ini adalah titik GPS di mana Thomas mengubur limbah kimia ilegal di bawah lahan panti asuhanmu untuk menurunkan harga tanahnya sepuluh tahun lalu. Itu adalah bukti kejahatan lingkungan yang tidak bisa dihapus oleh suap mana pun."

Arka menerima kertas itu, menyembunyikannya di dalam lipatan kausnya. "Kenapa kau memberikannya sekarang, Pak?"

"Karena malam ini, badai tidak hanya datang untukmu, Arka. Badai ini datang untuk membersihkan saksi bisu," Baskara tersenyum getir.

Tiba-tiba, suara ledakan kecil terdengar dari arah ruang panel listrik. Seluruh blok padam.

Kegelapan total menyelimuti penjara, hanya menyisakan cahaya merah dari lampu darurat yang remang-remang.

"Buka semua sel! Bebaskan macan-macan kita!" teriak sebuah suara yang sangat dikenal Arka. Itu bukan Jono, melainkan salah satu oknum sipir yang sudah dibeli oleh Wijaya Group.

Suara denting kunci dan decit pintu besi yang terbuka terdengar serempak. Teriakan liar meledak. Kerusuhan yang direncanakan telah dimulai.

Arka berdiri, punggungnya menempel pada dinding. Di kegelapan, ia melihat siluet Jono yang memegang sikat gigi tajam dan sebilah besi panjang. Di belakangnya, belasan tahanan yang sudah dijanjikan remisi dan uang oleh Rian Wijaya merangsek maju.

"Arka Pramudya! Waktumu habis!" Jono menerjang.

Arka menghindar dengan gerakan yang hampir mustahil dalam kegelapan. Tanpa Mode Analisis, ia mengandalkan suara embusan napas Jono. Ia menangkap pergelangan tangan Jono, memutarnya dengan teknik yang ia pelajari dari para kurir senior di jalanan, lalu menghantamkan lututnya ke perut Jono.

"Ugh!" Jono terhuyung, namun anak buahnya mulai mengepung Arka.

Di tengah kekacauan itu, Pak Setyo berlari masuk membawa senter besar. Wajahnya penuh keringat.

"Arka! Ke sini! Aku akan membukakan jalan ke ruang isolasi, di sana lebih aman!"

Namun, Arka melihat ke arah sel Baskara.

Kelompok tahanan lain mulai menyeret pria tua itu keluar. Mereka tidak mengincar Arka saja; mereka ingin menghapus semua jejak Thomas Van Heusen

"Pak Setyo, urus evakuasi tahanan lain! Aku tidak akan meninggalkan Baskara!" teriak Arka.

"Tapi kau bisa mati, Arka!"

"Harga diriku tidak mengizinkanku lari sementara orang lain mati untukku!" Arka menyambar sebuah nampan besi dari lantai dan menerjang kerumunan itu seperti banteng yang terluka.

Sementara itu, di luar gerbang Lapas, suasana tidak kalah mencekam. Elina Clarissa berdiri di samping mobilnya, menatap kobaran api yang mulai terlihat dari jendela lantai atas penjara. Di sampingnya, Sarah menggenggam chip warisan ayah Arka dengan tangan bergetar.

"Seseorang sengaja mematikan komunikasi di dalam!" Elina berteriak pada asistennya. "Mana tim pengacara? Mana polisi militer? Aku tidak peduli berapa biayanya, dobrak gerbang itu!"

Sarah menatap ponselnya. Sebuah pesan masuk dari sumber anonim yang ia retas dari peladen Rian: 'Eksekusi Nomor 402 dimulai pukul 23.00. Tidak ada saksi.'

"Arka..." Sarah berbisik, air mata menetes di layar ponselnya. Ia teringat kata-kata pedasnya dulu: "Kecerdasanmu mati di jalanan bersama jaket kurirmu." Kini, kecerdasan itu sedang berjuang demi nyawa di balik tembok terkutuk itu, dan Sarah menyadari bahwa dialah yang menyebabkan Arka terjebak di sana.

"Elina! Aku punya ide gila," Sarah tiba-tiba mendongak. "Gunakan seluruh armada Sovereign yang ada di Tanjungbalai. Suruh mereka mengepung penjara ini. Hidupkan semua lampu jauh motor mereka, arahkan ke jendela penjara! Kita harus memberikan cahaya agar mereka tidak bisa membantai dalam gelap!"

Elina tertegun sejenak, lalu matanya berkilat. "Ide cerdas. Lakukan!"

Hanya dalam hitungan menit, raungan ribuan mesin motor kurir Sovereign membelah kesunyian malam. Ribuan cahaya lampu LED putih membelah kegelapan penjara, menembus celah-celah jeruji. Cahaya itu bukan sekadar penerangan; itu adalah simbol bahwa dunia luar sedang menonton. Bahwa Arka tidak sendirian.

Di dalam penjara, cahaya terang dari ribuan motor kurir tiba-tiba menembus jendela sel, membutakan pandangan kelompok Jono. Arka menggunakan momentum itu untuk menarik Baskara ke balik pilar semen.

"Dengarkan aku!" Arka berteriak, suaranya membelah kegaduhan. Ia berdiri di atas meja makan aula yang kini terbalik. "Kalian semua! Lihat cahaya itu!"

Para tahanan yang sedang saling pukul terhenti sejenak, menatap ribuan lampu yang menembus jendela.

"Kalian pikir Rian Wijaya peduli pada kalian? Kalian pikir setelah membunuhku, kalian akan dibebaskan?!" Arka menunjuk ke arah Jono yang merangkak bangun. "Kalian hanya pion! Setelah malam ini, kalian akan dikambinghitamkan atas kerusuhan ini. Kalian akan membusuk di sel isolasi seumur hidup sementara Rian berpesta di atas darah kalian!"

"Jangan dengarkan dia!" teriak Jono.

"Lihat ke luar!" suara Arka semakin menggelegar. "Itu adalah orang-orangku! Mereka tidak akan pergi sampai aku keluar hidup-hidup. Jika kalian membantuku menghentikan kerusuhan ini, aku janji melalui Elina Clarissa, setiap keluarga kalian akan mendapatkan bantuan hukum dan pekerjaan yang layak setelah kalian bebas! PILIH: MENJADI BUDAK WIJAYA ATAU MENJADI MANUSIA MERDEKA BERSAMA SOVEREIGN?!"

Keheningan sesaat terjadi. Seorang tahanan besar di barisan belakang menjatuhkan pisaunya. "Aku bosan jadi pion. Istriku butuh makan, bukan janji palsu Rian."

Satu per satu, para tahanan mulai berbalik arah. Mereka mengepung Jono dan para sipir korup. Kekuatan massa yang tadinya digunakan untuk menghancurkan Arka, kini berbalik menjadi perisai baginya.

Arka jatuh terduduk, napasnya tersengal, dadanya terasa nyeri akibat pukulan Jono tadi. Namun, saat ia melihat Pak Setyo kembali dengan pasukan cadangan yang setia, ia tahu ia telah memenangkan pertempuran harga diri ini.

Baskara memegang bahu Arka. "Kau bukan sekadar arsitek, Nak. Kau adalah pemimpin yang bisa membangun jembatan di atas jurang kebencian."

Fajar mulai menyingsing saat Arka dibawa keluar ke poliklinik penjara. Di luar gerbang, ribuan kurir Sovereign masih setia menunggu, tidak membubarkan diri meski polisi meminta.

Sarah dan Elina diizinkan masuk untuk kunjungan darurat. Saat melihat Arka yang penuh luka namun tetap tegak, Sarah tidak bisa lagi menahan diri. Ia berlari dan memeluk Arka, mengabaikan tatapan dingin Elina dan peringatan penjaga.

"Maafkan aku, Arka... maafkan aku..." isak Sarah.

Arka tidak membalas pelukan itu dengan hangat, tangannya tetap kaku di samping tubuhnya, namun sorot matanya melembut. "Perbaiki sistemnya, Sarah. Buktikan bahwa kau layak mendapatkan kepercayaan dari ribuan orang di luar sana."

Sarah melepaskan pelukannya, mengangguk mantap. Ia menyerahkan sebuah dokumen yang baru saja dicetak. "Kita mendapatkannya. Chip ayahmu berisi rekaman suara Thomas Van Heusen saat merencanakan sabotase proyek ayahmu sepuluh tahun lalu. Rian Wijaya juga terlibat dalam pemalsuan akun pencucian uangmu. Tim hukum Elina akan mengajukan pra-peradilan pagi ini."

Elina melangkah maju, memberikan botol air minum pada Arka. "Kau berantakan, Arka. Tapi kau baru saja melakukan sesuatu yang tidak bisa dilakukan oleh uangku: kau membuat penjara ini tunduk padamu."

Arka menatap ke arah jendela, di mana ribuan lampu motor kurir mulai padam digantikan cahaya matahari. "Aku tidak membuat mereka tunduk, Elina. Aku hanya mengingatkan mereka bahwa mereka masih punya harga diri untuk diperjuangkan."

Thomas Van Heusen mungkin masih memiliki gedung-gedung pencakar langit, dan Rian Wijaya mungkin masih memiliki dendam. Namun Arka Pramudya baru saja membuktikan bahwa bahkan di tempat paling gelap dan terkunci sekalipun, seorang Arsitek Kedaulatan bisa membangun jalan menuju keadilan.

Badai di Lapas telah berlalu, namun guncangannya baru saja mulai meruntuhkan fondasi Wijaya Group di seluruh Tanjungbalai.

1
marsellhayon
ceritanya menarik,melawan sistem.
tapi alurnya terlalu lambat dan bertele tele.
tokoh utama memang mantan kurir,bagus banget ketika ia tak mengkikuti maunya sistem utk jd oportunis dan tak berperasaan.
tp kan oleh sistem dia udah dpt kemampuan analisis utk berani melawan dan berpikir cepat.
jadinya malah membosankan membaca cerita ini.
variable of ancient
banyak cingcong di kepalanya
variable of ancient
lama banget anjg
Manusia Biasa
Konsep Sistemnya menarik thor🫣
adib
banyak pengulangan... tolong dikoreksi lagi
Sofian Dzikrul Hidayah
lnjut thor
Founna: siap💪
total 1 replies
Founna
iya kaka, maaf ya🙏 belum lulus review
Wega Luna
ini cerita nya diganti kah Thor , perasaan kemarin GK gini deh
Founna: iya kak, maaf ya🙏 Belum lulus review kemaren
total 1 replies
Naga Hitam
"ayo sayang....."
Loorney
Pasar langsung kacau nih kalau ada yang begini, 100% terlalu gede.
Dewiendahsetiowati
Sarah sama Adrian tadi kan naik mobil pergi dari sana to
Founna: Halo Kak Dewi! Makasih banyak ya masukannya, sangat membantu Fonna memperbaiki cerita ini. 🙏 Fonna baru saja merevisi Bab 1 dan Bab 2 supaya alurnya lebih nyambung. Ternyata Sarah dan Adrian nggak langsung pergi, tapi mereka sombong mau pamer kamar suite dulu. Yuk, dibaca ulang revisinya, dijamin lebih greget! 🔥
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
hadir thor
Wega Luna
setuju, biar tahu rasanya di rendah kan ,untung 2 tobat , setidaknya sadar diri GK mengharapkan mantanya🤣🤣🤣🤣
Wega Luna
ehm dibuang sih,,,dia sejak awal bohong ,dia dapat transfer an terus ,
BaekTae Byun
Mending nanti aja thor cinta cinta an mah kan baru mulai move on kalau bisa nikmatin dulu waktu sendiri thor
Wega Luna
🙀 semangat
Jack Strom
Itu tergantung Sarah-nya Thor, kalau dia masih originil ya boleh sih baikan kembali sama Arka, tapi kalau sudah dol... ya jangan lah... 🤭😁😂🤣😛
Jack Strom
Seandainya Arka-nya jadi kaya pelan², tahap demi tahap, mungkin cerita ini lebih seru... 🙂😁😛
Jack Strom: Baik, tak tunggu ya Om... 🤭😁😁😛😛
total 2 replies
iky__
3 bab perhari thor
iky__
tes
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!