NovelToon NovelToon
Pemberontak Para Dewa Season 2

Pemberontak Para Dewa Season 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Keluarga / Action / Persahabatan / Mengubah sejarah / Mengubah Takdir
Popularitas:44.7k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Setelah menyelamatkan Alam Dewa dan mencapai ranah Dewa Sejati, Shi Hao terpaksa meninggalkan rumah dan orang-orang yang dicintainya demi mencegah kehancuran dimensi akibat kekuatannya yang terlalu besar.

Namun, saat melangkah keluar ke Alam Semesta Luar, Shi Hao menyadari kenyataan yang kejam. Di lautan bintang yang tak bertepi ini, Ranah "Dewa" hanyalah titik awal, dan planet tempat tinggalnya hanyalah butiran debu. Tanpa sekte pelindung, tanpa kekayaan, dan diburu oleh Hukum Langit yang menganggap keberadaannya sebagai "Ancaman", Shi Hao harus bertahan hidup sebagai seorang pengembara tak bernama.

Menggunakan identitas baru sebagai "Feng", Shi Hao memulai perjalanan dari planet sampah. Bersama Nana gadis budak Ras Kucing yang menyimpan rahasia navigasi kuno ia mengikat kontrak dengan Nyonya Zhu, Ratu Dunia Bawah Tanah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 227

Lautan Hampa (The Void Sea) – Wilayah Tanpa Koordinat.

Bahtera Teratai Merah melayang tanpa suara di tengah kegelapan abadi. Tidak ada bintang di sini, hanya kabut ungu tipis yang berputar pelan seperti napas raksasa yang sedang tidur.

Di anjungan kapal, Luo Tian (Si Mata Tiga) sedang bertugas jaga. Dia baru saja meminum Pil Pemurni Jiwa pemberian Shi Hao, membuat kekuatan mentalnya berada di puncaknya.

Tiba-tiba, telinganya menangkap suara.

La... La... La...

Suara nyanyian. Halus, merdu, dan penuh kerinduan. Suara itu tidak masuk lewat telinga, tapi merembes langsung ke dalam Lautan Kesadaran.

"Suara apa ini?" Luo Tian waspada.

Mata ketiganya di dahi terbuka. Sinar ungu memancar, menembus kabut di luar.

Apa yang dia lihat membuatnya merinding.

Di luar kapal, ratusan makhluk transparan berwujud wanita cantik dengan ekor ikan bercahaya sedang berenang mengelilingi kapal. Wajah mereka penuh kasih sayang, tangan mereka melambai memanggil.

Sirene Void (Void Sirens). Makhluk roh jahat yang memakan jiwa dengan menjebak mereka dalam mimpi abadi.

"Kapten! Kita diserang!" teriak Luo Tian.

Namun, tidak ada jawaban.

Luo Tian menoleh ke belakang.

Tie Shan (Raksasa Batu) sedang meringkuk di lantai, memeluk lututnya sambil tersenyum bodoh, air liur menetes. "Ibu... sup batunya enak..."

Shu Ling (Si Tikus) sedang berguling-guling di lantai seolah sedang mandi di tumpukan emas, tertawa cekikikan.

Nana sedang menatap kosong ke dinding, berbicara dengan bahasa kucing kuno kepada seseorang yang tidak ada di sana.

Dan Wuming... Sang Dewa Sejati itu berdiri mematung, pedangnya terhunus setengah, tapi matanya kosong. Air mata mengalir di pipinya. Dia terjebak dalam penyesalan masa lalu tentang sektenya yang hancur.

"Iblis Hati..." desis Luo Tian. "Mereka semua terkena serangan mental!"

Luo Tian menatap Shi Hao yang duduk bersila di kursi kapten.

Wajah Shi Hao sangat tenang. Terlalu tenang. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum lembut yang sangat jarang terlihat di dunia nyata.

"Gawat," Luo Tian berkeringat dingin. "Jika Kapten tidak bangun, kita akan dimakan hidup-hidup oleh Sirene itu!"

Luo Tian mencoba mengguncang tubuh Shi Hao. "Tuan Feng! Bangun! Itu palsu!"

Tapi Shi Hao tidak bergeming. Jiwanya telah ditarik jauh, menyeberangi ruang dan waktu, kembali ke tempat yang paling dia rindukan.

Di Dalam Alam Ilusi Shi Hao.

Cahaya matahari pagi yang hangat menerpa wajah. Bau roti bakar dan kopi susu memenuhi udara.

Shi Hao membuka matanya.

Dia tidak berada di kapal perang. Dia tidak memegang pedang. Dia berada di sebuah kamar tidur yang berantakan. Poster band rock tertempel di dinding. Komputer menyala menampilkan game online.

Dia melihat tangannya. Halus. Tidak ada kapalan pedang. Tidak ada sisik naga. Tidak ada bekas luka bakar.

"Hao-er! Bangun! Kau mau telat kuliah lagi?"

Suara wanita paruh baya terdengar dari lantai bawah.

Jantung Shi Hao berdegup kencang. Suara itu...

Shi Hao turun dari kasur, berlari keluar kamar, menuruni tangga rumah dua lantai yang sangat familiar itu.

Di meja makan, seorang wanita sedang mengoleskan selai ke roti. Dan seorang pria sedang membaca koran sambil menyeruput kopi.

Ayah dan Ibu. Mereka masih muda. Masih hidup. Tidak ada penyakit. Tidak ada kecelakaan.

"Kenapa bengong begitu?" tanya Ayahnya sambil melipat koran. "Mimpi buruk lagi dikejar-kejar monster?"

Ibunya tertawa renyah. "Dasar anak ini. Kebanyakan main game cultivation sih. Sini makan."

Shi Hao berdiri mematung di ujung tangga. Matanya berkaca-kaca.

Ini Bumi. Ini rumahnya. Semua penderitaan, darah, kematian, dan pertarungan melawan Dewa selama ratusan tahun... apakah itu semua hanya mimpi buruk?

"Aku..." suara Shi Hao serak. "Aku pulang?"

"Tentu saja kau di rumah," kata Ibunya lembut. Dia berjalan mendekat, memegang wajah Shi Hao dengan tangannya yang hangat. "Di mana lagi kau mau berada?"

Shi Hao memejamkan mata, menikmati sentuhan itu. Rasanya begitu nyata. Begitu damai.

Di sini, dia tidak perlu membunuh untuk bertahan hidup. Di sini, dia tidak perlu khawatir tentang Raja Dewa yang mengejarnya. Di sini, dia bisa menjadi manusia biasa yang bahagia.

"Tinggallah di sini, Hao-er," bisik Ibunya. "Lupakan pedang. Lupakan darah. Hiduplah dengan damai bersama kami selamanya."

Kedamaian yang memabukkan. Keinginan untuk menyerah begitu kuat.

Namun.

Di dalam saku celana tidurnya, jari Shi Hao menyentuh sesuatu yang dingin. Bukan benda fisik, tapi sebuah ingatan yang terpatri dalam jiwanya.

Dinginnya gagang pedang Leviathan. Panasnya Api Matahari. Dan sumpah yang dia ucapkan di depan mayat Xing Tian.

Shi Hao membuka matanya.

Dia melihat "Ibunya" dengan tatapan yang berubah. Dari kerinduan menjadi kesedihan yang mendalam.

"Ini indah," kata Shi Hao pelan. "Sangat indah."

"Tapi Ibu..."

Shi Hao memegang tangan wanita itu, lalu perlahan melepaskannya.

"...Ibu yang asli tidak pernah memaksaku untuk melupakan impianku."

Wajah wanita itu berubah kaku sesaat. "Apa maksudmu, Nak?"

Shi Hao mundur selangkah. Aura di sekitarnya berubah. Meskipun di dunia ini dia tidak punya kultivasi, Niat Dao (Dao Intent) miliknya melampaui realitas ilusi.

"Kalian sudah mati," kata Shi Hao, air mata jatuh dari sudut matanya, tapi suaranya tegas seperti baja. "Aku menguburkan kalian dengan tanganku sendiri di Bumi."

"Dunia ini palsu. Kedamaian ini racun."

"Ibu" dan "Ayah" itu tiba-tiba tersenyum. Senyum yang lebar, tidak wajar, hingga merobek pipi mereka. Gigi mereka berubah menjadi taring runcing.

"Kenapa tidak menyerah saja?" suara mereka berubah menjadi jeritan Sirene yang melengking. "Di luar sana hanya ada kematian! Di sini ada surga!"

"Surga yang dibangun di atas kebohongan adalah Neraka," jawab Shi Hao.

Shi Hao mengangkat tangan kanannya. Di dunia ilusi ini, tidak ada pedang. Jadi dia memadatkan Niat Hati-nya menjadi bilah pedang tak kasat mata.

Dia menatap kedua sosok yang menyerupai orang tuanya itu. Hatinya sakit seperti diiris sembilu. Membunuh musuh itu mudah. Membunuh kenangan orang yang dicintai... adalah ujian terberat bagi seorang kultivator.

"Maafkan aku," bisik Shi Hao.

"Dao Hati: Pemutus Debu Merah (Severing Red Dust)."

Shi Hao mengayunkan tangannya.

SRET.

Bilah niat itu memenggal kepala "Ayah" dan "Ibu" ilusinya sekaligus.

Tidak ada darah. Tubuh mereka pecah menjadi asap ungu.

Rumah itu runtuh. Matahari padam. Langit biru berubah menjadi wajah-wajah Sirene yang menjerit kesakitan.

"AKU ADALAH ASURA! JANGANKAN IBLIS, KENANGAN PUN AKAN KUTEBAS JIKA MENGHALANGI JALANKU!"

PRANG!

Dunia cermin itu hancur berkeping-keping.

Dunia Nyata – Bahtera Teratai Merah.

Shi Hao tersentak bangun di kursinya.

"HAH!"

Napasnya memburu, keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya. Matanya liar, pupil naga dan asuranya berputar cepat.

"Kapten!" teriak Luo Tian lega.

Shi Hao melihat sekeliling. Dia melihat teman-temannya yang masih terjebak dalam halusinasi. Dia mendengar nyanyian Sirene di luar yang semakin keras, mencoba menembus pertahanan mentalnya lagi.

Kesedihan di hati Shi Hao berubah menjadi Amarah.

Beraninya makhluk-makhluk rendahan ini menggunakan wajah orang tuanya? Beraninya mereka menodai kenangan sucinya?

Shi Hao bangkit berdiri..

"Luo Tian, tutup telingamu," perintah Shi Hao dingin.

Shi Hao melangkah keluar ke geladak kapal, tanpa baju zirah, tanpa perlindungan. Dia berdiri di tengah kehampaan, dikelilingi ratusan Sirene yang sedang bernyanyi.

Para Sirene itu melihat Shi Hao keluar. Mereka tertawa, mengira mangsa menyerahkan diri. Mereka terbang mendekat untuk menghisap jiwanya.

Shi Hao menarik napas dalam-dalam.

Dia mengaktifkan Darah Naga dan Jiwa Asura sekaligus.

Bukan teknik pedang. Bukan api.

Ini adalah Raungan Dominasi.

"AUMAN NAGA LELUHUR: PENGHANCUR ILUSI!"

ROAAAAAAAAARRRRRR!

Gelombang suara fisik bercampur energi spiritual meledak dari mulut Shi Hao.

Di ruang hampa udara, suara tidak bisa merambat.

Gelombang kejut itu menghantam para Sirene.

PECAH!

Tubuh roh para Sirene itu tidak kuat menahan getaran jiwa Shi Hao yang penuh amarah. Mereka meledak satu per satu seperti gelembung.

Ratusan Sirene musnah dalam satu auman.

Di dalam kapal, guncangan mental itu membangunkan semua orang.

Tie Shan terbangun bingung. "Ibu? Sup batunya mana?" Wuming tersentak, pedangnya jatuh. "Sekteku...?" Nana mengeong kaget.

Ilusi itu lenyap.

Shi Hao berdiri di geladak, napasnya berasap. Dia menatap kehampaan yang kini sunyi. Tidak ada lagi nyanyian.

Dia menyentuh dadanya. Rasa sakit membunuh "orang tua"-nya masih ada, tapi hatinya kini jauh lebih keras dan jernih.

"Jalan kultivasi adalah jalan kesepian," gumam Shi Hao.

Dia berbalik masuk ke dalam kapal.

"Semuanya bangun!" bentak Shi Hao, menyembunyikan kesedihannya di balik wibawa kapten.

"Jangan tidur lagi! Kita hampir sampai di perbatasan!"

Luo Tian menatap punggung Shi Hao dengan rasa hormat yang baru. Dia tahu, kaptennya baru saja memenangkan pertarungan yang lebih berat daripada melawan seribu pasukan.

1
Eka suci
kalau SDH punya tempat sendiri saat keluarga mu dari alam bawah naik punya tempat shi kamu punya beberapa kehidupan dan beberapa keluarga di setiap reinkarnasi mu
༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Selamat anda mendapat julukan " Silver Fans ".
༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Meluncur 2 gift ☕ dan 2 gift 🌹 lanjut Up Thor
༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Tetap semangat Thor 💪💪
Eka suci
lanjuuut
Eko Lana
hahahaha...mulai melanjutkan petualangan baru mantap👍
Eka suci
asender dari bumi langsung ke dunia langit
Rhaka Kelana
cerita bagus, bahasa yang lugas...seru, tegang...romansa dalam bahasa yang halus , lanjutkan karya mu thor .....👍👍
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Hajar semua iblis🌟🐉🔥🔛
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Kepruk jadikan bothok🔝🌟🐉🔥
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Tak ada wkt tnp pertarungan..
Muantebz 🔝🐉🔥🌟🔛
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Sarapan 🔝🐉🔥🌟
Harman Loke
bunuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuhhhhh semuaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaanyaaaaa jangan beri ampun bantaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaiiiiiiiiiiii
Harman Loke
bantaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaiiiiiiiiiiii rataaaaaaaaaaaaakaaaann dengaaaaaaaaaaaaaaannn tanaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaahh
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
🔝🔛 🔝
Harman Loke
mantaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaappppp banget musuh musuhmu Zhu Shi Hao lari tunggang langgang3
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Seruuuuuuu 🔝⚔️❤️
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Yuhuuuuu 🔥🐉🌟
Harman Loke
kuaaaaaaaaaaaaaaaaatkaaaaaaaannn tekaaaaaaaaaaaaaaaaadmuuuuuuuuuu Shen Zhu Shi Hao
Harman Loke
fokuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuusssss teruuuuuuuuuuuuuuuuuuuuusssssss
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!