Aruna selalu memilih duduk di barisan paling belakang.
Di sana, dia merasa aman, terlindung dari keramaian, dari tatapan, dari hal-hal yang membuat dadanya sesak.
Hujan adalah teman terbaiknya, satu-satunya suara yang mengerti diamnya.
Sampai suatu pagi, di tengah gerimis dan jendela berkabut, Bu Maita menyebut dua nama yang tak pernah Aruna bayangkan akan berdampingan.
“Aruna Pratama dan Dhira Aksana.”
Dhira, cowok yang selalu jadi pusat perhatian, yang langkahnya tenang tapi meninggalkan riak kecil di mana pun dia lewat.
Sejak saat itu, barisan belakang bukan lagi tempat untuk bersembunyi.
Perlahan, tanpa sadar, Aruna mulai membuka ruang yang sudah lama dia kunci rapat-rapat.
Di antara rintik hujan, catatan pelajaran, dan detik-detik canggung yang tak terduga, Aruna belajar bahwa beberapa pertemuan datang seperti gerimis.
pelan, jujur, dan sulit dilupakan.
Karena kadang, seseorang masuk ke dalan hidupmu setenang hujan, tanpa suara, tapi kamu ingat selalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Elang yang Mulai Runtuh
Hari-hari berlalu setelah kejadian itu.
Setelah Elang ngeliat Dhira pegang wajah Aruna.
Setelah Elang nangis sendirian di taman kota.
Setelah... setelah dia ngerasa hatinya remuk jadi debu.
Dan sejak saat itu...
Elang berubah.
Dia menarik diri.
Dari semua orang.
Dari semua tempat.
Dari... Dhira.
---
Pagi itu, kantin ramai kayak biasa.
Anak-anak kelas sebelas berebut tempat duduk. Berisik. Ketawa-ketawa. Beberapa anak cewek ngomongin drama sinetron semalam. Beberapa cowok main kartu remi di pojok.
Tapi Elang... nggak ada.
Biasanya dia duduk di meja paling pojok. Meja yang paling sepi. Bawa bekal dari rumah—nasi bungkus plastik yang udah dingin, sama lauk seadanya—makan sendirian sambil baca buku.
Tapi sekarang... meja itu kosong.
Dhira ngeliat itu dari meja dia—meja yang rame, penuh temen-temennya, Dimas, Riko, dan yang lain.
"Eh, Dhir, lu ngeliatin meja kosong buat apa? Ada hantu?" celetuk Dimas sambil nyengir, mulutnya penuh roti bakar.
Dhira nggak jawab. Cuma... ngeliat meja Elang yang kosong itu.
*Lang... lu ke mana?*
---
Jam istirahat kedua.
Perpustakaan.
Biasanya Elang ada di sini. Duduk di pojok belakang, di antara rak-rak buku usang yang jarang orang sentuh. Baca buku sains atau novel fiksi ilmiah yang dia pinjam dari perpus kota.
Tapi sekarang...
Dhira nyari.
Keliling perpustakaan.
Nggak ada.
Elang nggak ada.
"Dhira, cari buku apa?" tanya Bu Yuni, penjaga perpustakaan, dari meja depan.
"Eh... nggak, Bu. Gue cari temen. Elang. Biasanya dia di sini."
Bu Yuni menggeleng. "Elang udah nggak ke perpus lagi. Udah seminggu ini dia nggak muncul."
Seminggu.
Dhira... terdiam.
*Seminggu? Kok gue nggak sadar...*
---
Pulang sekolah.
Dhira jalan ke kelas Elang—kelas sebelas IPA 2.
Kelas itu udah sepi. Semua orang udah pulang. Cuma ada beberapa anak yang piket nyapu lantai.
Dhira ngeliat meja Elang. Meja paling belakang, pojok kanan, deket jendela.
Mejanya... rapi. Terlalu rapi.
Nggak ada buku. Nggak ada coretan. Nggak ada... jejak Elang.
Kayak... kayak cowok itu udah nggak pernah ada.
Dhira jalan keluar kelas. Napasnya nggak enak. Dadanya sesak.
*Lang... lu kenapa sih...*
---
Besoknya.
Dhira nungguin Elang di depan kelas cowok itu.
Pagi-pagi. Sebelum bel masuk.
Elang dateng—jalan pelan, kepala nunduk, ransel di punggung yang keliatan berat meskipun isinya cuma buku tipis sama bekal seadanya.
"Lang."
Elang berhenti. Tubuhnya menegang.
Dia nggak noleh.
"Lang, gue tau lu denger," kata Dhira, jalan mendekat. "Gue mau ngomong."
"Gue buru-buru, Dhir. Nanti gue telat—"
"Kita masih ada waktu lima belas menit sebelum bel." Dhira berdiri di depan Elang sekarang. Menatap sahabatnya yang... yang kelihatan lebih kurus. Lebih pucat. Kantung matanya hitam. "Lu kenapa sih akhir-akhir ini? Lu menghindari gue?"
Elang... diam.
Nggak ngangkat kepala.
"Lang, serius. Kita sahabat." Suara Dhira... khawatir. Beneran khawatir. "Kalau lu ada masalah, cerita dong. Gue bisa bantuin—"
"Gue baik-baik aja," potong Elang. Suaranya datar. Kosong. Nggak ada emosi.
"Lu nggak baik-baik aja. Gue liat lu—"
"Gue bilang gue baik-baik aja!" bentak Elang tiba-tiba.
Dhira... tersentak.
Elang nggak pernah bentak. Nggak pernah marah. Cowok itu selalu... kalem. Pendiam. Nggak pernah naikin suara.
Tapi sekarang...
Sekarang matanya... merah. Tangannya gemetar. Napasnya pendek-pendek.
"Lu... lu udah punya kesibukan sendiri, kan?" lanjut Elang, suaranya bergetar. "Sama... Aruna."
Deg.
Dhira... diam.
Ngeliat Elang dengan tatapan... bingung.
Ada nada aneh di suara Elang saat nyebut nama itu.
Nada yang... sakit.
"Lang, lu—"
"Udah, Dhir." Elang menggeleng cepat. "Lu pergi aja. Gue... gue mau sendiri."
"Tapi—"
"Pergi!" teriak Elang, suaranya pecah. Matanya berkaca-kaca.
Dhira... berdiri di situ.
Bingung. Khawatir. Nggak ngerti apa yang terjadi sama sahabatnya.
Tapi dia ngeliat mata Elang.
Mata yang... penuh rasa sakit.
Rasa sakit yang Dhira nggak ngerti dari mana asalnya.
Akhirnya... Dhira mengangguk pelan. "Oke. Tapi... kalau lu mau ngomong, gue di sini, Lang."
Elang nggak jawab.
Cuma... berbalik. Masuk ke kelas. Nutup pintu.
Dhira berdiri di luar kelas. Sendirian.
Dadanya... nggak enak.
*Ada yang salah sama Lang. Ada yang dia sembunyiin...*
Tapi Dhira nggak tau apa.
---
Siang itu.
Elang duduk di kelas. Sendirian.
Semua temennya udah ke kantin. Tapi dia... diam di tempat.
Tangannya masuk ke dalam saku celana.
Ngeluarin sesuatu.
Kertas.
Kertas yang udah dilipet rapi. Udah kusut di beberapa bagian karena dipegang berkali-kali.
Surat.
Surat yang dia tulis... untuk Aruna.
Elang buka lipatannya pelan.
Baca.
---
*Aruna,*
*Aku nggak tau harus mulai dari mana. Aku udah nulis surat ini berkali-kali. Dirobek. Ditulis lagi. Dirobek lagi.*
*Karena aku... aku nggak pernah pinter ngomong. Apalagi soal perasaan.*
*Tapi aku harus bilang. Sebelum terlambat. Sebelum aku... mati dalam diam.*
*Aku suka kamu, Aruna.*
*Udah lama. Sejak awal semester. Sejak aku pertama kali liat kamu berdiri sendirian di barisan belakang saat upacara.*
*Kamu... kamu kelihatan sedih. Tapi ada sesuatu di matamu yang bikin aku nggak bisa berhenti ngeliat.*
*Sejak saat itu, aku selalu perhatiin kamu. Dari jauh. Karena aku... aku terlalu pengecut buat deketin.*
*Aku tau aku nggak kayak Dhira. Aku nggak ganteng. Nggak populer. Nggak punya apa-apa.*
*Tapi aku... aku cinta kamu, Aruna. Lebih dari yang bisa aku jelasin lewat kata-kata.*
*Aku nggak mengharapkan kamu balas perasaan aku. Aku tau kamu suka Dhira. Aku liat dari matamu saat kamu ngeliat dia.*
*Tapi aku cuma pengen kamu tau.*
*Kalau ada seseorang yang ngeliat kamu. Beneran ngeliat kamu.*
*Bukan sebagai bayangan.*
*Tapi sebagai... cahaya.*
*Maafkan aku kalau surat ini ganggu kamu.*
*Maafkan aku... karena aku nggak bisa jadi orang yang kamu butuhkan.*
*Tapi terima kasih... karena kamu ada.*
*Karena kamu... kamu bikin aku ngerasain cinta untuk pertama kalinya.*
*Meskipun cinta itu... nggak akan pernah terbalas.*
*— Elang*
---
Elang... menutup surat itu pelan.
Tangannya gemetar.
Matanya... basah.
Dia ngeliat surat itu lama.
Lama banget.
Lalu... dia ambil keputusan.
*Besok.*
*Besok aku kasih surat ini.*
*Besok... aku beresin semua ini.*
*Meskipun... meskipun aku tau jawabannya.*
*Meskipun aku tau... dia nggak akan pernah lihat aku kayak aku lihat dia.*
*Tapi setidaknya...*
*Setidaknya aku udah coba.*
*Setidaknya aku nggak mati... dengan penyesalan nggak pernah ngomong.*
Elang melipat surat itu lagi. Rapi. Masukin ke dalam amplop putih yang udah dia siapin dari kemarin.
Tulis nama "Aruna" di depan amplop dengan tulisan tangan yang... rapi tapi gemetar.
Terus... masukin amplop itu ke dalam tas.
Dalam banget.
Biar nggak keliatan.
Biar nggak hilang.
Biar... besok dia bisa kasih.
---
Malam itu.
Elang di kamarnya.
Rebahan di kasur tipis. Ngeliat langit-langit yang retak.
Hapenya bunyi. Notifikasi.
Pesan dari Dhira.
Dhira: Lang, lu beneran oke? Gue khawatir.
Elang... ngeliat pesan itu lama.
Tangannya... pengen bales.
Pengen bilang: *Nggak, Dhir. Gue nggak oke. Gue sakit. Gue patah hati. Gue cinta sama cewek yang lu deketin. Gue... gue nggak kuat lagi.*
Tapi...
Tangannya ngetik balesan lain.
^^^Elang: Gue oke, Dhir. Jangan khawatir. Maaf kalo gue aneh akhir-akhir ini.^^^
Dhira: Lu yakin?
^^^Elang: Yakin. Istirahat sono. Besok ada ulangan kan.^^^
Dhira: Oke. Lu juga istirahat. Jangan begadang.
^^^Elang: Iya.^^^
Elang taruh hapenya di meja. Layarnya masih nyala.
Dia ngeliat layar itu sampai... sampai layarnya mati sendiri.
Gelap.
Kayak hatinya.
Elang tutup mata.
Napas panjang.
*Besok.*
*Besok aku beresin ini.*
*Besok... aku akhiri semua rasa sakit ini.*
*Dengan ngasih surat itu.*
*Dengan... ngasih harapan terakhir yang aku punya.*
*Meskipun aku tau...*
*Harapan itu cuma... ilusi.*
---
Keberanian yang datang dari keputusasaan...
Adalah jenis keberanian yang paling berbahaya.
Karena sudah nggak ada lagi yang ditakuti untuk hilang.
Karena kamu udah... udah di titik paling bawah.
Dan satu-satunya jalan...
Adalah maju.
Meskipun maju itu... artinya menuju kehancuran total.
Tapi setidaknya...
Setidaknya kamu udah coba.
Dan Elang...
Elang udah siap.
Siap buat hancur.
Siap buat... ditolak.
Tapi dia nggak siap...
Buat hidup dengan penyesalan nggak pernah ngomong.
Jadi besok...
Besok dia akan bilang.
Lewat surat yang ditulis dengan air mata.
Dengan tangan gemetar.
Dengan hati yang udah remuk.
Tapi tetep... dengan cinta yang tulus.
Cinta yang nggak pernah diminta.
Cinta yang nggak akan pernah terbalas.
Tapi tetep... cinta.
Dan cinta itu...
Berhak untuk diucapkan.
Meskipun jawabannya...
Adalah penolakan.