NovelToon NovelToon
Di Ujung Rasa Sesal

Di Ujung Rasa Sesal

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Hamil di luar nikah / Romansa / Konflik etika
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Bunda SB

Tiga tahun Nadira mencintai Raka, setia menunggu pernikahan meski selalu ditolak dengan alasan "belum siap" bahkan saat ia hamil delapan bulan.

Hingga Nadira mendengar pengakuan Raka: hubungan mereka hanya permainan. Ia tak pernah serius, hanya menginginkan tubuhnya.

Saat Raka mengejar untuk menjelaskan, kecelakaan menghantam. Nadira koma, bayi mereka tak sempat lahir.

Di hadapan tubuh Nadira yang tak berdaya, Raka akhirnya mengerti... ia benar-benar mencintainya.

Tapi penyesalan selalu datang terlambat. Cinta yang disia-siakan mungkin tak akan terbangun lagi, meski orang yang dicintai masih bernapas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Detik-Detik Keajaiban

Satu tahun.

Satu tahun penuh Raka menunggu. Satu tahun penuh ia menanti. Satu tahun penuh ia berharap, berharap bahwa suatu hari nanti, Nadira akan membuka matanya dan tersenyum lagi padanya.

Tapi satu tahun berlalu, dan Nadira masih terbaring di sana... di ranjang ICU yang sama, dengan monitor yang sama, dengan suara pip... pip... pip yang sama.

Tidak ada perubahan.

Dokter sudah beberapa kali mengatakan hal yang sama: "Kondisinya stabil, tapi tidak ada tanda-tanda kesadaran. Kemungkinan untuk sadar semakin kecil seiring waktu berlalu."

Tapi Raka tidak peduli. Ia tetap datang setiap hari. Ia tetap duduk di samping Nadira. Ia tetap berbicara padanya. Ia tetap berharap.

Karena Nadira bukan hanya pacarnya lagi. Nadira adalah istrinya. Istrinya yang sah. Dan seorang suami tidak meninggalkan istrinya, tidak peduli dalam kondisi apapun.

Hari ini, seperti hari-hari sebelumnya, Raka datang ke rumah sakit setelah pulang kerja. Ia sudah berganti baju, mengenakan kaos putih sederhana dan celana jeans. Tidak ada lagi kemeja kerja. Ia ingin terlihat lebih santai, lebih hangat saat berada di samping Nadira.

Ia melewati lorong rumah sakit yang sudah sangat familiar, menyapa beberapa perawat yang sudah mengenalnya dengan baik.

"Pak Raka datang lagi," sapa salah satu perawat dengan senyuman ramah.

"Iya, Suster. Seperti biasa," jawab Raka dengan senyuman tipis.

"Bapak luar biasa. Setia sekali," ucap perawat dengan nada kagum.

Raka hanya tersenyum,senyuman yang lelah tapi tulus. "Dia istri saya. Tentu saja saya harus setia."

Perawat itu mengangguk dengan tatapan penuh simpati, lalu membukakan pintu ICU untuk Raka.

Raka melangkah masuk, sudah tidak perlu pakai APD lengkap lagi karena ia sudah sering masuk dan pihak rumah sakit memberikan kelonggaran khusus untuknya. Hanya masker dan sarung tangan yang ia pakai.

Ia berjalan menuju ranjang Nadira, ranjang di sudut yang selalu sama. Dan di sana, Nadira terbaring seperti biasa. Wajahnya pucat, matanya tertutup, tubuhnya kurus, lebih kurus dari setahun lalu.

Raka duduk di kursi kecil di samping ranjang, menggenggam tangan Nadira yang dingin... tangan yang sudah ia genggam ribuan kali selama setahun terakhir.

"Hai, istriku," bisik Raka dengan suara lembut. "Aku datang lagi. Seperti biasa."

Tidak ada jawaban. Hanya suara monitor yang berbunyi pelan.

Raka tersenyum tipis yang penuh kerinduan.

"Hari ini... hari ini genap setahun kita menikah, sayang," lanjutnya pelan. "Kamu ingat nggak? Setahun yang lalu, kita menikah di ruangan ini. Kamu tidur, tapi aku yakin kamu dengar. Kamu dengar aku bilang aku mencintaimu, kan?"

Raka mengusap punggung tangan Nadira dengan ibu jarinya... gerakan yang lembut, penuh kasih sayang.

"Aku... aku sangat merindukanmu," ucapnya, suaranya mulai bergetar. "Aku rindu suaramu. Aku rindu ocehanmu yang dulu aku anggap menyebalkan. Aku rindu senyumanmu yang selalu hangat setiap pagi. Aku rindu masakanmu, nasi goreng, kopi, semua yang dulu kamu siapkan untukku."

Air matanya mulai mengalir perlahan, tanpa suara.

"Aku rindu... aku rindu kamu yang hidup, Dira. Kamu yang bergerak, yang tertawa, yang marah, yang manja. Aku rindu semuanya."

Ia menundukkan kepalanya, dahinya menyentuh punggung tangan Nadira.

"Kumohon bangunlah," bisiknya dengan suara putus asa. "Kumohon... aku sudah menunggu setahun. Aku sudah bersabar. Aku sudah berdoa setiap hari. Kumohon, Tuhan... kembalikan istriku padaku..."

Keheningan.

Hanya suara monitor yang terus berbunyi.

Raka mengangkat kepalanya, menatap wajah Nadira dengan tatapan penuh cinta dan kerinduan yang mendalam.

"Aku punya banyak mimpi, sayang," ucapnya pelan. "Mimpi tentang kita. Tentang kehidupan kita setelah kamu bangun nanti."

Ia tersenyum penuh harap.

"Aku ingin kita punya anak lagi. Anak yang sehat, yang lucu, yang mirip kamu. Aku ingin jadi ayah yang baik, ayah yang nggak pernah aku jadi untuk anak kita yang pertama. Aku janji... aku janji akan jadi ayah yang terbaik."

Suaranya semakin bergetar.

"Aku juga ingin kita punya rumah sendiri. Rumah kecil yang hangat, dengan halaman di depan. Kamu bisa nanem bunga tulip di sana. Sebanyak yang kamu mau. Aku akan belikan semuanya."

Air matanya terus mengalir.

"Dan setiap pagi, aku akan bangun lebih dulu. Aku yang akan masak sarapan buat kamu. Aku yang akan siapkan kopi. Aku yang akan senyum duluan saat kamu bangun. Aku janji... aku janji akan memperlakukanmu seperti ratu. Seperti yang seharusnya aku lakukan dari dulu."

Raka menggenggam tangan Nadira lebih erat.

"Aku ingin kita hidup bahagia, Dira. Hidup yang penuh cinta, penuh tawa, penuh kehangatan. Aku ingin dengar ocehanmu lagi. Aku ingin lihat senyumanmu lagi. Aku ingin.. "

Tiba-tiba, Raka merasakan sesuatu.

Sesuatu yang sangat kecil, hampir tidak terasa.

Tapi ada.

Jari Nadira, jari telunjuknya bergerak.

Sangat pelan. Hampir tidak kelihatan. Tapi bergerak.

Raka membeku. Matanya membelalak. Napasnya tertahan.

"Sayang...?" bisiknya pelan, tidak yakin dengan apa yang baru saja ia rasakan.

Ia menatap tangan Nadira dengan fokus, menatap jari-jari itu dengan harap-harap cemas.

Dan kemudian...

Jari itu bergerak lagi.

Kali ini lebih jelas. Lebih nyata.

Raka merasakan jantungnya berhenti sejenak, lalu berdegup sangat kencang.

"DIRA!" teriaknya tanpa sadar.

Ia mengangkat kepalanya, menatap wajah Nadira dan ia melihatnya.

Kelopak mata Nadira bergerak.

Sangat pelan. Bergetar. Seperti sedang berusaha keras untuk membuka.

"Oh Tuhan... Oh Tuhan..." gumam Raka dengan suara bergetar. Tangannya gemetar hebat, air matanya mengalir semakin deras.

"SUSTER! DOKTER!" teriaknya keras sambil berlari menuju pintu ICU. "TOLONG! ISTRIKU... ISTRIKU BERGERAK!"

Beberapa perawat langsung berlari masuk. Dokter jaga juga datang dengan cepat.

"Apa yang terjadi?" tanya dokter sambil langsung mendekat ke ranjang Nadira.

"Jarinya... jarinya bergerak! Dan matanya bergerak juga!" ucap Raka cepat, suaranya penuh harap dan panik sekaligus.

Dokter langsung memeriksa Nadira, memeriksa pupil matanya dengan senter kecil, memeriksa respons sarafnya, memeriksa monitor.

"Aktivitas otak meningkat," ucap dokter sambil menatap monitor. "Ada respons. Ini bagus. Ini sangat bagus."

Raka hampir jatuh berlutut mendengar kata-kata itu. "Jadi... jadi dia akan sadar?"

Dokter menatap Raka dengan tatapan serius tapi penuh harap. "Kita tidak bisa memastikan. Tapi ini adalah tanda yang sangat baik. Tanda yang kita tunggu selama ini. Saya akan panggil tim medis untuk pemeriksaan lebih lanjut. Bapak harus keluar dulu."

"Tapi..."

"Pak, tolong. Biarkan kami bekerja. Ini untuk kebaikan istri Bapak."

Raka mengangguk dengan susah payah. Ia melirik Nadira sekali lagi, wajah yang masih pucat, tapi kelopak matanya masih bergetar pelan.

"Aku di luar, sayang," bisik Raka. "Aku menunggu. Aku di sini."

Lalu dengan berat hati, ia keluar dari ruang ICU.

Raka berdiri di luar ruang ICU dengan tubuh gemetar. Tangannya terkepal erat, matanya tidak lepas dari pintu kaca yang tertutup.

Di dalam sana, ia bisa melihat dokter dan perawat bergerak cepat, memeriksa Nadira, menyesuaikan alat, berbicara dengan serius.

Raka berdoa dengan sepenuh hati, dengan air mata yang terus mengalir.

"Ya Allah, kumohon. Kumohon kembalikan dia padaku. Kumohon biarkan dia sadar. Aku janji... aku janji akan menjadi suami yang terbaik. Aku janji tidak akan menyia-nyiakan dia lagi. Kumohon..."

Menit demi menit berlalu seperti jam. Raka tidak bergerak dari tempatnya berdiri, matanya terus menatap ke dalam, menunggu dengan harap-harap cemas.

Mama Nita datang, entah bagaimana ia tahu, tapi ia datang dengan napas tersengal.

"Raka! Apa yang terjadi? Mama dapat telepon dari perawat!" tanya Mama sambil memegang bahu Raka.

"Nadira, Ma," jawab Raka dengan suara bergetar. "Dia bergerak. Jarinya bergerak. Matanya juga. Dia... dia akan sadar, Ma. Dia akan kembali."

Mama menatap anaknya dengan tatapan tidak percaya, lalu senyuman lebar mengembang di wajahnya, air mata mengalir di pipinya.

"Alhamdulillah..." bisik Mama Nita sambil memeluk Raka. "Alhamdulillah, Nak..."

Mereka berdiri di sana berdua, menunggu dengan harap yang sangat besar, harap yang sudah setahun mereka pegang erat.

Harap bahwa akhirnya... Nadira akan kembali.

Dan di dalam ruang ICU, kelopak mata Nadira terus bergetar, semakin kuat, semakin jelas.

Seperti sedang berjuang keras untuk kembali.

Untuk kembali ke dunia.

Untuk kembali pada suaminya yang menunggu dengan setia.

1
Dew666
🍎🍎🍎🍎🍎
Dew666
🪸🪸🪸🪸
aku
lah, masa dlu dy semerong sm yg lain dong brti pas msh ma dira?
Anonymous
CUIH bawa bawa nama TUHAN,, dasar MUNAFIK
Anonymous
gak perlu bangun Nadira..
aku
3 vs 1
bnr kata mama mu raka, ujian buatmu, kau gantung dira 3 thn, ni msh setahun lbh dikit udh blg lelah aja hehh
partini
ini nanti bangun dari koma langsung lovely doply atau sebaliknya
semoga ga lovely doply yah Thor
gantian dong tuh laki merasakan rasa sakit hati enak benar menyesal terus happy, semua orang bisa Kya dia berbuat sesuka hati terus nyesel
Anonymous
BANGGA? MENGHAMILI ANAK ORANG BANGGA? MEMBUAT NYA SEKARAT DAN KEGUGURAN ITU BANGGA? DASAR GILA
Anonymous
Fuwa Fuwa Time 🎸🎸
Dew666
💎💎💎💎💎
Sasikarin Sasikarin
q kira mo tiap hari up nya.. dah lah buat pembaca kevewa sanhat
rian Away
TCH GOB
rian Away
bisa bisa nya lu bawa nama tuhan
Shuttttttttttt
up thoooor
Shuttttttttttt
bkn aku nangis aja, awas yaa end mreka sma²
cik gak terima aku cwk udah berkorban sbnyak itu, sedangkan cwoknya hnya menyesal lngsung damai dan bersma kmbli
ogaaah bgtt cokk
Dew666
🔥🔥🔥🔥🔥
Dew666
💐💐💐💐💐
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!