Alana, seorang wanita yang sedang memulihkan luka hati, mengasingkan diri ke rumah tua peninggalan kakeknya di puncak bukit terpencil. Kehidupannya yang sunyi berubah sejak ia menemukan surat-surat misterius bertinta perak di dalam sebuah kotak pos kuno yang konon hanya menerima kiriman "dari langit".
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon habbah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27: Protokol Kepunahan Cahaya
Suara baling-baling helikopter hitam itu perlahan mati, menyisakan kesunyian yang mencekam dan tidak alami di tengah kabut hijau yang masih menyelimuti Navasari. Kabut itu kini terasa lebih kental, bermuatan listrik statis yang membuat bulu kuduk Elian berdiri. Pria bersetelan abu-abu yang menyebut dirinya Arthur Vance itu melangkah maju dengan ketenangan yang menghina hukum fisika. Di sekelilingnya, peluru-peluru yang tadi dilepaskan militer masih melayang diam, terjebak dalam distorsi ruang seolah waktu telah membeku hanya untuk menyambut kehadirannya.
Arthur tidak membawa senjata api. Di tangannya, sebuah koper perak dengan permukaan halus tanpa sambungan memancarkan pendaran ritmis berwarna putih pucat. Pendaran itu berdenyut selaras dengan guratan emas yang menjalar di lengan Alana—sebuah sinkronisasi yang mengerikan, seolah koper itu adalah pemangsa yang sedang mengunci detak jantung mangsanya.
"Namaku adalah Arthur Vance. Dan tidak, aku bukan Viktor yang lembek itu," ucap pria itu. Suaranya tidak keras, namun terdengar sangat jernih di telinga setiap orang di sana, melampaui deru angin gunung. "Viktor adalah saudaraku yang terlalu idealis. Dia menghabiskan hidupnya percaya bahwa manusia bisa mengelola kekuatan ini dengan cinta dan surat-surat puitis. Aku? Aku lebih praktis. Aku percaya pada keseimbangan mutlak."
Alana masih berlutut di fondasi batu mercusuar, telapak tangannya menempel erat pada permukaan dingin yang kini terasa bergetar hebat. Ia bisa merasakan frekuensi Arthur. Itu bukan frekuensi penuh amarah yang berapi-api seperti milik Martha, tapi sesuatu yang jauh lebih berbahaya: frekuensi yang kosong. Dingin. Seperti ruang hampa di antara galaksi yang menelan semua cahaya tanpa sisa.
"Alana, jangan dengarkan dia! Apapun yang dia katakan, itu bohong!" Elian berteriak, suaranya parau. Ia berdiri di depan Alana, mencengkeram gagang sekopnya dengan tangan yang bergetar. Ia merasa sangat tidak berdaya; seorang pemuda desa dengan alat kebun, mencoba menghalangi entitas yang tampak seperti penguasa takdir.
Arthur menghentikan langkahnya tepat di garis batas di mana ruang mulai melengkung. Ia mengangkat koper peraknya setinggi dada. "Kalian semua di sini, penduduk desa dan Navigator kecil, menganggap 'Akar Bumi' sebagai perisai pelindung yang suci. Tapi dalam catatan asli kakekmu, Surya, proyek ini memiliki nama lain: The Extinction Protocol. Protokol Kepunahan."
Arthur menatap Alana dengan mata yang tidak memiliki binar kemanusiaan. "Surya tahu bahwa frekuensi langit tidak bisa bersatu dengan bumi tanpa menghancurkan keduanya. Jika Navigator tidak bisa lagi dikendalikan oleh otoritas manusia, maka bumi harus menariknya kembali ke inti tanah untuk dihancurkan sebelum energinya meledak dan membakar seluruh atmosfer. Penyatuanmu dengan mesin di bawah sana, Alana, bukanlah sebuah kesembuhan. Itu adalah pemicu bom waktu yang sedang berdetak menuju angka nol."
Di Tengah Pengepungan
Di belakang barisan barikade, suasana menjadi kacau. Para tentara yang tadinya beringas kini mulai merintih. Gelombang frekuensi yang dipancarkan dari koper Arthur mulai mengacak-acak sinyal saraf mereka. Beberapa dari mereka berlutut, memegangi kepala yang terasa seperti sedang dihantam palu godam tak terlihat.
Kabut hijau Navasari yang tadinya menenangkan, kini perlahan berubah warna menjadi merah tua—sebuah reaksi kimia-energi dari "Akar Bumi" yang merasa terancam. Tanah di bawah kaki mereka mulai mengeluarkan suara mengerang, seolah-olah akar-akar tembaga di kedalaman sedang menggeliat kesakitan.
"Elian," bisik Alana, suaranya kini terdengar langsung di pusat kesadaran Elian, bukan lagi melalui udara. "Dia membawa pemutus sirkuit kosmik. Koper itu berisi frekuensi pembatal yang didesain kakek untuk menghapusku jika aku menjadi ancaman. Jika dia membukanya sepenuhnya, 'Akar Bumi' akan melakukan implosi—meledak ke dalam—dan semua orang di radius sepuluh kilometer ini akan terhapus dari realitas. Tidak ada kematian, Elian. Hanya ada ketiadaan."
"Lalu apa yang harus kita lakukan? Aku tidak bisa membiarkan dia mendekat!" Elian menoleh sekilas ke belakang, menatap penduduk desa yang meringkuk ketakutan di bawah lampu-lampu sorot yang mulai berkedip liar.
"Kau harus menghancurkan stabilitas frekuensi koper itu, Elian. Bukan dengan kekuatan fisik, karena koper itu dilindungi perisai kinetik. Kau harus menggunakan frekuensi yang tidak dimiliki Arthur... frekuensi yang tidak bisa dia masukkan ke dalam algoritma mesin dinginnya."
"Apa itu?" Elian bertanya, napasnya tersengal.
"Surat-suratmu, Elian. Emosi manusiamu yang tidak logis. Ingatlah setiap kata, setiap rasa sakit, dan setiap rindu yang pernah kau tuliskan untukku saat aku masih terasing di langit. Emosi adalah satu-satunya frekuensi yang tidak memiliki pola matematis yang tetap. Itu adalah 'gangguan' yang bisa menghancurkan sistemnya."
Arthur mulai menggeser pengait koper peraknya. Suara desis mekanis yang tajam terdengar, disusul oleh cahaya putih menyilaukan yang mulai merembes dari celah kecil koper tersebut. Seluruh peralatan elektronik militer, mulai dari radio hingga mesin panser, meledak seketika dalam percikan api jingga.
"Selamat tinggal, Navasari. Terima kasih atas datanya," gumam Arthur datar.
Elian tidak berlari menyerang. Sebaliknya, ia menjatuhkan sekopnya, berbalik, dan memeluk Alana dengan seluruh tenaganya. Ia menutup matanya rapat-rapat, mengabaikan dunia yang sedang runtuh di sekitarnya. Ia memfokuskan seluruh jiwanya pada setiap memori yang mereka miliki—rasa hangat saat pertama kali jari mereka bersentuhan di ruang bawah tanah, aroma melati dari teh yang ia bawakan setiap pagi, dan rasa hancur saat ia melihat Alana mulai menghilang menjadi kabut indigo.
Elian melepaskan sebuah teriakan—bukan suara dari tenggorokan, melainkan gelombang emosi murni yang ia alirkan melalui darahnya yang masih menempel pada Alana.
Alana menangkap gelombang kacau itu, frekuensi cinta dan ketakutan manusia yang begitu mentah, dan meneruskannya langsung ke dalam sistem "Akar Bumi".
Seketika, kabut merah tua di sekeliling mereka meledak menjadi jutaan kelopak cahaya indigo yang berkilauan. Gelombang itu menghantam Arthur seperti tsunami emosi. Namun, alih-alih menghancurkan raga pria itu, gelombang tersebut "mengisi" kekosongan di dalam koper perak Arthur dengan jutaan memori manusia yang tumpang tindih. Mesin di dalam koper itu mencoba mengalkulasi data yang masuk, namun emosi tidak bisa dihitung.
Arthur terhuyung ke belakang. Koper peraknya mengeluarkan suara dengkingan frekuensi yang menyakitkan, lalu sirkuit di dalamnya meledak hebat, mengeluarkan asap perak yang beraroma seperti kertas terbakar. "Tidak mungkin... anomali emosional ini seharusnya sudah diredam!"
Arthur terlempar ke tanah saat koper itu hancur menjadi debu halus. Helikopter hitamnya mendadak mati total dan jatuh miring ke semak-semak. Tanpa tekanan dari koper itu, para tentara mulai mendapatkan kembali kesadaran mereka, namun mereka terlalu terguncang untuk mengangkat senjata. Mereka melihat pemandangan yang mustahil: sebuah desa yang kini bersinar terang seperti sebuah galaksi yang turun ke bumi.
Arthur merangkak bangun dengan napas tersengal, wajahnya yang tadi rapi kini dipenuhi debu dan darah. Ia menatap Alana dan Elian dengan tatapan kebencian yang mendalam. "Kalian pikir kalian menang? Kalian baru saja membatalkan protokol pengamanan terakhir. Sekarang, Alana tidak akan pernah bisa berhenti menyerap energi bumi. Dia akan terus tumbuh... hingga dia menjadi satu dengan planet ini secara permanen. Kau tidak menyelamatkannya, Elian. Kau baru saja mengutuknya menjadi tuhan yang kesepian selamanya di menara ini."
Arthur menghilang ke dalam kegelapan hutan yang pekat tepat saat pasukan militer mulai mundur dalam kepanikan massal.
Alana berdiri perlahan, guratan emas di tubuhnya kini bersinar lebih terang dari sebelumnya, memancarkan aura otoritas yang tenang namun tak terbantahkan. Ia menatap tangannya yang kini solid, lalu menatap Elian. Ia merasa sangat kuat, namun ia juga merasa bahwa setiap detak jantungnya kini adalah detak jantung seluruh gunung Navasari.
"Elian," bisik Alana sambil menatap fajar yang mulai menyingsing. "Arthur benar tentang satu hal. Aku tidak bisa lagi pergi dari sini. Aku adalah Navasari sekarang. Setiap langkahku adalah langkah tanah ini."
Saat fajar menyingsing, penduduk desa keluar dari rumah mereka dan menyaksikan sebuah keajaiban yang mengerikan: Mercusuar itu kini tidak lagi terbuat dari kayu tua, melainkan telah membatu menjadi kristal indigo transparan yang akarnya menembus hingga ke pusat bumi. Di tengah kristal itu, Alana berdiri, menatap Elian dengan senyum yang penuh kesedihan sebuah perpisahan di dalam kebersamaan. Namun, di kejauhan, sebuah sinyal baru muncul di kompas Elian bukan dari langit, bukan dari Arthur, tapi dari arah samudera terdalam. Sebuah pesan berkode muncul di permukaan kompas: "Jangkar telah terpancang. Saatnya memanen dunia."