Dua keluarga dan satu janji masa lalu. Ach. Valen Adiwangsa dan Milana Stefani Hardianto adalah potret anak muda sempurna; mengelola perusahaan, membangun usaha mandiri, sambil berjuang di semester akhir kuliah mereka. Namun, harmoni yang mereka bangun lewat denting unik Gitar Piano terancam pecah saat sebuah perjodohan direncanakan secara sepihak oleh orang tua mereka.
Segalanya menjadi rumit ketika Oma Soimah, pemegang kekuasaan tertinggi keluarga Hardianto, pulang dengan sejuta prinsip dan penolakan. Baginya, cinta tidak bisa didikte oleh janji dua sahabat lama. Di tengah tekanan skripsi dan ambisi keluarga, Valen harus membuktikan bahwa dirinya lebih dari sekadar "pilihan orang tua".
Mampukah nada-nada yang ia petik meluluhkan hati sang Oma yang tak mengenal kata kompromi?
Ataukah perjodohan ini justru menjadi akhir dari melodi yang baru saja dimulai?
Yuk kisah cinta Mila dan Valen🥰❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Awan Tulis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 27 - Perjodohan Dibatalkan
Mila tidak peduli lagi dengan tatapan ratusan pasang mata mahasiswa di koridor fakultas. Ia berlari menuruni tangga secepat yang ia bisa, mengabaikan teriakan bangga Bang Robi di belakangnya. Begitu sampai di lapangan, langkahnya melambat. Di sana, di tengah kerumunan yang mulai bertepuk tangan mengikuti irama Keytar, Valen menurunkan instrumennya dan tersenyum lebar.
Napas Mila tersengal. "Kak... kamu gila ya? Malu-maluin tahu nggak!" ucap Mila, meski air mata harunya tidak bisa disembunyikan.
Valen terkekeh, ia melangkah mendekat dan menyerahkan sebuah buket bunga matahari besar yang sedari tadi disiapkan stafnya.
"Malu itu kalau aku nggak datang di hari paling penting dalam hidup calon istriku. Selamat ya, S.E. kesayangan aku."
Mila menerima bunga itu, "Makasih, Kak. Makasih buat semuanya. Buat MP3-nya, buat revisi Bab 5-nya, dan buat tetap di sini meskipun aku sempat jahat kemarin."
Valen mengusap kepala Mila lembut. "Kita impas. Sekarang, ayo pulang. Ada satu orang lagi yang harus kita kasih tahu kabar bahagia ini sebelum dia berubah jadi singa lagi."
Kediaman Hardianto
Sesampainya di rumah, tampak Oma Soimah duduk di kursi kebesarannya, ditemani Tante Dewi. Begitu melihat Mila masuk dengan kalungan bunga dan draf skripsi bertanda tangan penguji, wajah kaku Oma perlahan melunak.
"Oma... Mila lulus! Nilainya A!" seru Mila sambil memeluk neneknya.
Oma menepuk punggung Mila bangga. "Tentu saja A. Cucu Hardianto tidak boleh dapat nilai di bawah itu. Tapi..." Mata Oma beralih pada Valen yang berdiri sopan di belakang Mila. "Valen, kemari kamu."
Valen mendekat. "Iya, Oma."
"Syarat dariku sudah kamu penuhi sempurna. Mila lulus dengan nilai yang bagus, memuaskan, dan kafe mu tidak perlu aku tutup," ucap Oma dengan nada berwibawa. "Tapi, ada satu hal yang mengganjal hatiku. Tadi Robi mengirimkan foto spanduk 'Calon Suami' yang kamu bentangkan di kampus. Kamu benar-benar nekat, ya?"
Valen tersenyum tipis. "Saya hanya ingin seluruh dunia tahu kalau saya bangga pada Mila, Oma. Bukan karena perintah Papa, tapi karena keinginan saya sendiri."
Oma Soimah terdiam sejenak, lalu ia menoleh pada Papa Fildan dan Mama Aty yang juga sudah hadir di sana. "Fildan, Faul... janji perjodohan kalian dulu memang sah di mata kalian. Tapi hari ini, aku nyatakan perjodohan itu BATAL."
Suasana ruangan mendadak hening. Papa Fildan dan Ayah Faul tampak tegang. Tak lama menyusul kehadiran Mutia, Tasya, juga keluarga Tante Lesti. Hingga Oma melanjutkan kalimatnya dengan senyum penuh arti. "Aku batalkan perjodohan antara Mila dan juga Valen karena 'tugas', dan akan aku ganti menjadi restu karena cinta. Valen sudah membuktikan dia bukan sekadar pion dalam bisnis kalian. Dia laki-laki yang punya harga diri untuk memperjuangkan pilihannya."
Semua tampak senang dan tersenyum tenang melihat Valen dan Mila yang saling tatap saat ini.
"Ciee lampu hijau nih," goda April.
"Sahabatku menjadi adik iparku," imbuh Robi menimpali.
"Bunda, mari kita rayakan keberhasilan Valen dan Mila untuk pembuktian restu ke Omanya," ucap ayah Faul yang tampak senang.
"Iya, Ayah, tadi bunda sudah pesan, itu katering sudah datang. Ayo-ayo makan dulu," balas Bunda Selfi yang tampak baru saja berpelukan dengan mama Aty dan Tante Dewi.
Semua berjalan menuju ruang makan, dan tampak mengambil makanan untuk disantap siang ini.
Namun, saat hidangan terakhir baru saja disajikan, suasana ceria itu tiba-tiba berubah.
April yang tadinya sedang makan mendadak menutup mulutnya. Wajahnya yang cerah seketika pucat pasi. Ia segera berlari menuju kamar mandi di dekat ruang makan, terdengar suara mual yang cukup hebat.
"Sayang! Kamu kenapa?" seru Robi panik, langsung menyusul istrinya.
Bunda Selfi dan Tante Dewi ikut berdiri dengan cemas. Tak lama kemudian, Robi keluar sambil membopong April yang lemas.
"Bun, April pusing banget, mualnya nggak berhenti dari tadi pagi katanya, tapi sekarang makin parah."
"Cepat bawa ke rumah sakit Naldy sekarang! Jangan sampai dehidrasi," perintah Oma Soimah dengan nada tegas namun tersirat kekhawatiran.
Tanpa membuang waktu, Robi membawa April ke mobil. Mila dan Valen yang juga panik memutuskan untuk ikut menyusul, sementara Oma dan orang tua lainnya akan menyusul dengan mobil terpisah.
Rumah Sakit Naldy
Lagi-lagi, koridor rumah sakit Naldy menjadi saksi bisu kekalutan keluarga ini. Valen merangkul pundak Mila yang tampak cemas, mencoba menenangkannya. Tak lama, Dokter Naldy keluar dengan senyum yang sangat lebar, jauh berbeda dengan ekspresinya saat menangani Mila minggu lalu.
"Gimana, Naldi? Istriku nggak apa-apa kan?" tanya Robi menyergap.
_______
Ditunggu part selanjutnya ya Guys
Love you All ❤️