Zian Arsya, seorang laki-laki mandiri dan sukses di usia 29 tahun, telah menjadi tulang punggung keluarga setelah di percaya ayah dan ibunya untuk mengelola usaha Hotel dan Restoran. Namun, di balik kesuksesannya, Zian menyembunyikan masa lalu pahit yang membuatnya menjadi pendiam dan jarang bicara. Dia pernah dikhianati kekasihnya semasa kuliah, yang memilih laki-laki lain, membuatnya kehilangan kepercayaan pada cinta.
Suatu hari, Zian dijodohkan dengan Raya, seorang gadis cantik, ramah, dan pintar yang sangat perhatian. Zian setuju dengan perjodohan itu, tapi dia tidak berani mengungkapkan masa lalunya kepada Raya dan keluarganya. Dia takut kehilangan kesempatan untuk memiliki keluarga dan cinta yang sebenarnya.
Namun, kehadiran Raya membuat Zian perlahan-lahan membuka diri dan menghadapi masa lalunya. Apakah Zian akan mampu mengungkapkan kebenaran kepada Raya dan keluarganya? Atau akankah rahasia itu menjadi beban yang menghancurkan kebahagiaan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dina Sen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
lagi-lagi perhatiannya
Malam turun pelan di rumah Zian.
Lampu-lampu kota terlihat berkelip dari balik balkon lantai atas, seperti bintang yang jatuh ke bumi. Angin malam menyentuh wajah Zian, membawa udara dingin yang biasanya mampu menenangkan pikirannya.
Namun malam ini berbeda.
Zian berdiri bersandar di pagar balkon, satu tangan di saku, satu lagi menggenggam ponsel yang layarnya mati. Jas sudah ia lepaskan, diganti kemeja gelap yang kancing atasnya terbuka. Rambutnya sedikit berantakan tanda pikirannya belum benar-benar beristirahat.
Nama itu muncul tanpa diundang.
Yulia.
Bukan wajahnya yang pertama teringat, melainkan caranya pergi.
Tanpa kata.
Tanpa penjelasan.
Tanpa keberanian untuk menatapnya sekali pun.
Zian menghembuskan napas panjang.
“Kalau kamu muncul sekarang…” gumamnya lirih, hampir tak terdengar oleh angin, “…aku pun tidak tahu apa yang akan aku katakan.”
Ia menatap langit gelap. Tidak ada bintang yang jelas malam itu.
Dulu, ia marah.
Marah pada pengkhianatan.
Marah pada dirinya sendiri yang merasa bodoh karena membela terlalu jauh.
Lalu marah itu berubah menjadi dingin.
Dan dingin itu berubah menjadi tembok.
Namun sekarang… perasaan itu terasa jauh. Tidak lagi tajam. Tidak lagi mendesak.
Hanya sisa.
Kenangan yang akhirnya tidak lagi meminta tempat.
Zian mengangkat tangan kirinya. Cincin di jarinya memantulkan cahaya lampu balkon. Sederhana. Tapi berat dengan makna.
Raya.
Wajahnya terlintas dengan senyum lembut, dengan suara tenangnya yang berkata aku menunggu tanpa tuntutan.
Zian tersenyum kecil senyum yang nyaris tidak pernah ia berikan pada siapa pun.
“Yang satu pergi saat aku jatuh,” katanya pelan pada dirinya sendiri.
“Yang satu memilih tinggal… bahkan sebelum aku benar-benar berdiri.”
Ia menegakkan tubuh, seolah membuat keputusan yang sudah lama tertunda.
“Cukup,” ucapnya tegas, meski hanya angin yang mendengar. “Tidak ada lagi ruang untuk masa lalu.”
Yulia apa pun kisah yang belum selesai, apa pun rasa bersalah atau pertanyaan malam itu, Zian menguburnya dalam-dalam. Bukan dengan amarah, tapi dengan penerimaan.
Ia memilih untuk tidak menoleh lagi.
Karena di depannya, ada tanggung jawab yang jauh lebih besar dari sekadar luka lama.
Zian menatap kembali cincin itu, lalu menggenggamnya sejenak.
“Mulai sekarang,” bisiknya mantap, “hidupku bukan tentang menebus kesalahan kemarin.”
Ia mengangkat wajah, sorot matanya jernih.
“Tapi tentang menjaga masa depan.”
Dan nama itu...
Raya Wanita anggun dan cantik, yang lahir hanya beda selisih satu hari dengannya, ayah Raya sang penolong ibu Zian, membawa Zian dan Raya pada satu takdir dalam bentuk perjodohan, yang Zian terima tanpa paksaan, tapi pertanggung jawaban.
Takdir itu terasa ironis bila dipikirkan kembali.
Raya... lahir hanya berselisih satu hari dengannya.
Dua jiwa yang hampir sejajar waktunya, namun baru dipertemukan ketika hidup Zian telah ditempa luka dan kesunyian, tidak ada yang tahu nasib Zian saat itu.
Ayah Raya.
Pria yang dulu, bertahun-tahun lalu, menjadi penolong di saat hidup ibu Zian berada di ujung batas.
Bukan dengan janji. Bukan dengan imbalan.
Hanya tangan yang terulur dan keberanian untuk tidak berpaling.
Zian baru benar-benar memahami malam ini.
Bahwa perjodohan itu bukan keputusan mendadak.
Bukan paksaan yang dibungkus restu.
Melainkan lingkaran takdir yang pelan-pelan menutup dirinya… pada waktu yang tepat. Ia tersenyum tipis, menatap gelap yang membentang di hadapannya.
“Kalau ini disebut perjodohan,” gumamnya pelan,
“maka ini perjodohan yang datang setelah aku belajar arti kehilangan.”
Zian menyandarkan punggungnya ke dinding balkon. Angin kembali berembus, kali ini terasa lebih jinak. Seperti tahu bahwa pertempuran di dalam dadanya telah selesai. Ia teringat sorot mata Raya sore tadi.
Bukan sorot mata wanita yang menuntut cinta.
Tapi sorot mata seseorang yang siap berjalan berdampingan ... apa pun jalannya nanti.
Tanpa memaksa. Tanpa menggenggam terlalu erat. Dan justru karena itulah… Zian ingin menjaga.
“Aku tidak menjanjikan hidup yang sempurna,” ucapnya lirih, seolah Raya berdiri di depannya.
“Tapi aku berjanji… kamu tidak akan berjalan sendirian.”
Untuk pertama kalinya sejak lama, Zian tidak merasa dikejar masa lalu.
Tidak merasa dibayangi kesalahan.
Yang ada hanyalah satu arah ke depan. Ia menatap langit sekali lagi, lalu berbalik meninggalkan balkon.
...
Pagi datang dengan cahaya lembut yang menyelinap melalui celah tirai kamar Zian. Ia terbangun lebih cepat dari biasanya. Tidak ada mimpi buruk. Tidak ada gelisah yang tertinggal. Hanya perasaan tenang yang asing, namun tidak menakutkan.
Zian duduk di tepi ranjang, meraih ponselnya. Nama itu langsung ia cari, seolah sudah hafal letaknya.
Raya.
Ia menatap layar beberapa detik sebelum mulai mengetik.
"Pagi."
"Hari ini kamu berdandan lebih cantik dan rapi, ya."
Ia berhenti sebentar, lalu menambahkan pesan kedua.
"Bukan karena kamu kurang apa pun. Aku hanya tidak ingin siapa pun di hotel menilai kamu sembarangan."
Pesan ketiga menyusul, lebih jujur dari yang ia duga.
"Hari ini aku akan mengenalkanmu. Bukan sebagai staf. Tapi sebagai calon istriku. Dua minggu lagi, aku akan meminang mu secara resmi."
Jari Zian terhenti di atas layar. Ia membaca ulang, memastikan tidak ada nada yang terdengar memerintah. Ia tidak ingin Raya merasa dituntut ... hanya dilindungi.
"Aku bukan mau sombong, Raya. Aku hanya tidak mau kamu terluka oleh omongan orang."
Pesan terkirim.
Zian meletakkan ponsel, menghela napas pelan. Ada degup kecil di dadanya bukan gugup, tapi antisipasi.
…
Di sisi lain kota, Raya menatap layar ponselnya dengan mata yang masih sedikit mengantuk.
Pesan dari Zian.
Satu. Dua. Tiga.
Dan hatinya menghangat perlahan.
Ia tidak membaca tuntutan di sana. Yang ia rasakan justru perhatian cara khas Zian yang kaku tapi jujur.
Raya membalas singkat.
"Baik. Terima kasih sudah memikirkanku."
"Aku akan siap."
Ia tersenyum kecil, lalu bangkit menuju lemari. Hari ini bukan sekadar hari kerja. Hari ini… hidupnya akan bergeser ke babak yang sama sekali baru.
…
Di rumah Zian, suara mesin mobil terdengar di halaman.
Derry turun lebih dulu, mengenakan setelan rapi dengan ekspresi yang seperti biasa santai tapi sigap.
“Pagi, Bos,” sapa Derry saat Zian keluar rumah.
“Pagi,” jawab Zian singkat. “Kita jemput Raya.”
Derry mengangkat alis. “Oh, jadi hari ini resmi.”
“Belum resmi,” koreksi Zian. “Dikenalkan.”
“Di dunia hotel?” Derry menyeringai. “Itu sama saja kayak deklarasi publik.”
Zian membuka pintu mobil. “Makanya aku ingin kamu ikut.”
“Siap,” kata Derry cepat. “Pengawalan paket berharga.”
Zian menutup pintu, lalu menoleh tajam. “Jaga ucapan.”
Derry tertawa kecil. “Santai. Aku profesional… kalau situasi menuntut.”
Mobil melaju menuju rumah Raya.
…
Saat Raya keluar dari rumahnya, Derry sempat terdiam sepersekian detik.
Bukan karena terkejut berlebihan tapi karena Raya hari ini tampak berbeda. Gaun sederhana dengan potongan rapi, rambutnya ditata anggun, riasan tipis yang justru menonjolkan ketenangannya.
Zian turun dari mobil.
Tatapan mereka bertemu.
Dan untuk sesaat, dunia terasa senyap.
“Kamu…” Zian berhenti sejenak, lalu mengangguk kecil. “Terima kasih.”
Raya tersenyum. “Aku mengerti maksudmu.”
Itu saja. Tidak ada keberatan. Tidak ada rasa tersinggung.
Zian membuka pintu mobil untuk Raya, gestur kecil yang tidak luput dari perhatian Derry.
Saat Raya duduk, Derry menoleh lewat spion dan berkomentar ringan, “Oke. Hotel bakal heboh.”
Zian duduk tegak. “Aku juga mau bahas satu hal.”
“Apa?” tanya Derry.
“Mulai hari ini,” ujar Zian tenang, “Raya tidak lagi di Front Office.”
Raya menoleh cepat. “Zian...”
“Dengar dulu,” potong Zian lembut. “Aku pindahkan kamu ke divisi internal. Bukan karena aku tidak percaya kamu di depan. Tapi karena aku ingin meminimalkan risiko.”
Derry mengangguk paham. “People talk. Terutama kalau tahu status.”
Raya terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan. “Aku percaya keputusanmu.”
Zian menatapnya singkat. “Kalau nanti kamu merasa tidak nyaman… bilang.”
Raya tersenyum kecil. “terimakasih atas perhatian sejauh ini."
Mobil melaju meninggalkan kawasan rumah Raya.
bahkan Zian mau perkenalkan Raya sebagai calon istri 😄😄
Ehmmm gmn yaa jika seandainya Yulia kembali setelah Zian bahagia dg Raya ? pst masalah besar tuhhh agaknya 😥😥
Zian menatap cincin pertunangan nya dg Raya ciieee 😄😄
duhh Derry jahil mulu suka godain Zian 😄😄
di tunggu updatenya ya Sayyy quuu Author kesayangan🥰🤗 semangat terus Sayyy🤗
duhh Derry godain Raya dan Zian mulu bikin ngakak 😆😆😆
penasaran dg lanjut nyaa
di tunggu updatenya Author kesayangan kuuuu tetap semangat Sayyy quuu 🥰🤗💪
jangan² Raya juga jatuh cinta sama Zian 😄😄
bener kata Zian ada seseorang yang harus dia jaga yaitu Raya..
perhatian nya ma Raya,
Zian sepertinya emang jatuh cinta sama Raya 😅😅
duhh Zian minta Derry antar Raya plg gk tuh 😅😅
di tunggu updatenya ya Author kesayangan kuuu 🥰 semangat terus Sayyy 🤗💪
tapi bnr kok Zian emng sepertinya jatuh cinta sama Raya 😅😅😅
tapi Zian gk mengakuinya 😅😅😅
ledekin terus Zian ya Derry lucu soalnya 😅😅😅
untungnya Zian baik baik Saja...
di tunggu updatenya ya Author kesayangan kuuuu tetap semangat Sayyy makin seru cerita nya🥰🤗
Derry ada² saja blg nnt juga bakal tau
tau apa yaa kira² apakah Zian dan Raya akan menikah? 😄😄
bener banget Raya hrs mengenal Zian lagi...
tinggal di tunggu kapan nikah nya😄😄
di tunggu updatenya ya Author kesayangan kuuu tetap semangat ya Sayyy 🤗🥰
jgn dong Zian harus menjauh dari Raya 🥲..
di tunggu updatenya ya Author kesayangan kuuu tetap semangat ya Sayyy 🤗🥰
duhh gmn yaa klo Raya dan Zian tau soal perjodohan 😌😌
Ya ampuun Derry usil banget suka jailin Raya sampai malu malu dong 😆😆😆
. penasaran dg lanjutannya, di tunggu kekocakan Derry Sayyy quuu Author kesayangan tetap semangat ya Sayyy 🤗quuu🤗 🥰💪
Zain minta Derry antar Raya plg buat mastiin Raya aman gk tuh 😄😄
ciieee Raya dahh nyaman tuh dg Zain 😄😄
namun gmn dg perasaan Zain? mungkin Zain juga sama😄😄
penasaran dg lanjut nyaa
di tunggu updatenya ya Author kesayangan kuuu tetap semangat ya Sayyy quu🤗🥰💪
siapa tuhhh yg menghubungi Raya?? jgn² masa lalu Zian duhh Raya dalam bahaya dong 😌😌
yg menghubungi Raya cowok yaa, ada hubungan apa Raya dg cowok itu?
l
penasaran dg lanjut nyaa
di tunggu updatenya Author kesayangan kuuu tetap semangat Sayyy quu 🤗🥰💪
Duhh Raya merasa ada yg mengikutinya... 😄😄
Derry blg ke Zian lapor polisi dong... 😁😁
Siapa yaa yg mengikuti Raya 🤔🤔
Derry menggaruk kepala gk tuh 😆😆
Derry bingung dong menatap bos nya 😄😄
Zian blg Raya harus mendapatkan pengawasan khusus gk tuh 😆😆
Bener tuh Derry sejak kapan Raya sepenting itu buat bos 😄😄
Duhhh siapa sihh pria bertato leher itu... 😌😌
Waduhh Derry ngomong Bos yang dulu belain cewek waktu itu, berani nyaa Derry 😆😆
Derry di suruh diam gk tuh 😆😆
Derry nanya mulu 😆😆
Penasaran dg lanjut nya.
Di tunggu updatenya Author kesayangan kuuu
Tetap semangat Sayyy 🥰🤗💪