Kang Youngha seorang yang dulunya Direktur Muda Perusahaan Kang. Dia menikah dengan Jang Dohee, sosok perempuan yang dicintainya sedari dulu. Tiba-tiba, Kang Youngha melepaskan diri dari jabatan Direktur Muda. Dia mulai mengenal dunia militer dan masuk melalui Wajib Militer, di dunia militer nya Kang Youngha disegani banyak orang. Kali ini, dia benar-benar satu tim dengan teman-teman masa kecilnya yang sudah dianggap saudara. Di pertengahan tahun, dia mulai seperti hidup sendiri. Jang Dohee yang sudah tidak diajak berbicara semenjak Ayah Youngha sendiri berbuat hal yang tidak baik kepada keluarganya, Jang Dohee yang merasa kesal dan harus meluruskan ini selama pernikahannya yang sudah hampir menyentuh 5 tahun itu. Meski begitu, Dohee masih memperhatikan Youngha diam-diam dan mulai mengumpulkan semua aset untuk masa tuanya bersama suaminya. Di sisi lain, pria yang bernama Yoon Hain adalah teman masa kecil Kang Youngha. Mereka sudah seperti saudara kandung dan menyimpan banyak rahasia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon The Black, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 : With Family
Akhir pekan datang, Youngha dan Hain mengeluarkan mobil besarnya, pas membawa semua orang pergi piknik. Mereka pergi berpiknik dan tidak lupa menyewa homestay mewah jauh dari perumahan, mereka semua kumpul di tengah untuk membakar daging. Youngha dan Hain bagian membakar semuanya, Jieun dan Dohee memasak sayur dan lain-lainnya.
“Aiya, Dohee jangan lupa duduk” ujar Ibu Sion,
“Kenapa dengan Nyonya Jieun” tanya Youngha,
“Dia barusan bermesraan dengan Hain” jawab Dohee,
“Hain?” panggil Youngha sambil menatap Hain maung,
“Tidak, Dohee kamu salah paham” ujar Hain menolak.
Setelah itu mereka makan-makan, Youngha menyuapi daging Dohee sedikit. Lalu diselingi dengan sayur yang segar,
“Oh ya, Jungha kemana? Aku tak melihatnya dua hari ini di markas?” tanya Raon,
Youngha dan Dohee saling menatap, kemudian Youngha mengeluarkan ponselnya dari saku. Dohee segera menelfon Jungha dan Miran, berharap mereka mengangkat. Tapi tak ada satupun yang mengangkatnya, Dohee teringat lokasi yang selalu update di ponsel Youngha. Dohee langsung mengecek dan keberadaannya mendadak ada di luar negeri, Dohee langsung lemas. Youngha menangkap Dohee yang langsung bersandar, “Kenapa sayang?” tanya Youngha.
Semuanya menatap Dohee yang lemas, wajahnya pucat. Suasana menghening sejenak,
“Jungha ada di luar negeri” ujar Dohee lemas,
“Astaga, kenapa dia pergi jauh sekali?!” tanya Hain terkejut,
Youngha langsung mengambil ponsel dan segera meninggalkan lingkaran itu, Youngha menghubungi semua timnya. Pada akhirnya, salah satu tim Jungha mengangkat telfon Youngha.
“Siap Komandan” kata personil itu,
“Kapten Lee, dimana keberadaan Kapten Kang?” tanya Youngha tegas,
“Letkol Kang, kemarin Dewan Perwakilan ditangkap diduga terlibat kasus Ayahnya Kapten Kang. Jadi dia membawa kabur Jang Miran, untuk bersembunyi sementara di luar negeri. Yang tahu hanya tim di divisi kita” ujar Kapten Lee,
“Kapten Lee, rapatkan dengan Letkol Gunwoo” jawab Youngha,
“Siap laksanakan komandan” balas Kapten Lee.
Youngha berjalan kembali dan bergabung ke lingkaran itu lagi,
“Kak Youngha, bagaimana?” tanya Raon,
“Dia sedang bersembunyi” jawab Youngha duduk di sebelah Dohee sambil melingkarkan tangan di lengan Dohee,
“Sayang, tenang saja. Dia bersama Miran disana, mereka baik-baik saja sayang” ujar Youngha sambil mengelus punggung Dohee,
“Hah... Jungha, Miran” jawab Dohee lemas sambil menggenggam tangan Youngha,
“Dohee, tak apa-apa... Jangan terlalu dipikir ya, mereka sudah dewasa pasti sudah bisa menjaga diri” ujar Ibu Raon sambil menepuk kaki Dohee bagian paha,
“Iya ibu” jawab Dohee mencoba untuk tenang.
Malam semakin larut, pikiran Dohee semakin menjadi dan kacau. Youngha yang masih membersihkan badan itu segera cepat menyelesaikan lalu menemani Dohee yang duduk di tepi tempat tidur sambil melipat kedua tangannya di dada agak panik,
“Sayang” panggil Youngha sambil duduk di sebelah Dohee,
Youngha meminta tolong mengeringkan rambutnya dengan handuk, Dohee berdiri langsung menggosok pelan. Youngha memegang perut Dohee yang sudah agak sedikit besar itu,
“Jika kamu Kang Dongho, Papa harap kamu Kang Dongho. Anakku, jangan pernah membuat Papa dan Mama khawatir ya... Papa mau kalau kamu sudah besar nanti patuh dengan Papa dan Mama, main kemana saja pun boleh asalkan bilang kesulitannya pasti kita bantu kamu” ujar Youngha sambil mendekat ke perut Dohee lalu menciumnya, Youngha langsung melingkarkan tangannya di pinggang Dohee.
Dohee membuka handuk Youngha, bersamaan dengan itu Youngha langsung menarik badan Dohee sampai terjatuh di pelukannya. Wajah mereka bertemu,
“Jang Dohee, jangan pernah memikirkan Jungha dan Miran lagi. Jika ini maunya mereka, terserah. Fokus pada anak kita dan aku saja ya?” tanya Youngha,
“Iya Kak Youngha” jawab Dohee lalu mengelus wajah Youngha lembut.
Mereka saling menatap, Dohee melingkarkan tangannya di leher Youngha. Kemudian dia mencium bibir Youngha dengan penuh kelembutan, Dohee naik ke pangkuan Youngha. Youngha memegang punggung Dohee dengan kedua tangannya, mereka jatuh di tempat tidur. Youngha dan Dohee tidur bersama, Youngha memainkan jari Dohee, dia langsung mencium kening Dohee.
“Sayang, apakah mereka akan pulang dengan selamat?” tanya Dohee sambil mengelus pipi kanan Youngha,
“Pasti sayang, mereka sudah dewasa dan mengerti dunia luar bagaimana... Daripada kita yang tua” jawab Youngha,
“Sayang, kamu juga tidak akan pergi ke luar kota maupun keluar negeri kan?” tanya Dohee,
“Sayang, selama tujuh bulan aku akan menemanimu satu bulannya aku akan pergi ke luar kota setelah pas anak kita lahir, aku akan berlari ke rumah sakit dan masuk kedalam ruang persalinan lalu menggenggam tanganmu, mencium keningmu yang basah dengan keringat itu” jawab Youngha,
“Kamu sudah memikirkan sampai sana ya?” tanya Dohee,
“Iya sayang, aku sudah memikirkan hal itu sampai sana” jawab Youngha,
“Aku sangat senang bisa menikahi mu, seumur hidupku aku akan selalu mencintaimu sampai kapan pun itu” ujar Dohee,
“Aku setiap hari bersyukur lebih dari bersyukur bisa bersamamu setiap hari tanpa hambatan apapun” jawab Youngha, lalu bangun dari tidurnya dan menempelkan keningnya ke Dohee dan mencium bibir Dohee.
Pada keesokan harinya,
Mereka menikmati liburan di tengah kota itu, membawa banyak belanjaan agar bisa di masak bersama-sama. Disana Youngha tak hanya berpiknik tapi para personil merencanakan patungan membeli rumah utama di perumahan itu untuk perkumpulan mereka sebagai keluarga besar, banyak tempat tidur dan besar dapurnya. Mereka kembali pada siang hari, Dohee mengucapkan terima kasih pihak homestay karena tempat itu juga masih punya ibu mertuanya. Mereka kembali lagi di perjalanan arah pulang, dari situ Dohee mengalami mual-mual. Untung saja ibu Raon membuatkan racikan agar dia tak mual-mual saat perjalanan, jadi sepanjang jalan menuju rumah Dohee tidur di kursi penumpang sebelah Youngha.
Malam harinya,
Akhirnya setelah perjalanan panjang mereka sampai dari rumah, mereka semua berpamitan dan membawa barangnya masing-masing. Youngha membuka seat belt Dohee, dia turun lalu membuka pintu mobil Dohee dan menggendong Dohee. Youngha menggendong Dohee dengan satu tangan, tangan kanannya membawa barang lalu membuka sandi pintu. Youngha pergi masuk kedalam, dia menaruh pelan di sofa kamar tidur mereka. Youngha mengambil dua piyama, lalu dia membuka bajunya dan memakai piyama lalu mengikat piyama seperti baju mandi.
Setelah itu Youngha melepas semua pakaiannya Dohee termasuk pakaian dalam, dia memakaikan piyama itu lalu menggendong Dohee lagi, sebelumnya Youngha membuka selimut kemudian dia naik ke tempat tidur sambil membawa Dohee. Dohee kali ini benar-benar tidur di pelukan Youngha sepanjang malam, Youngha yang terjaga, dia mengusap keringat Dohee yang keluar sebesar sebiji jagung. Dohee membuka kedua matanya, wajahnya pucat. Youngha mengelus kepala Dohee lembut,
“Ehm... Sudah sampai rumah ya?” tanya Dohee lemas,
“Iya sudah sayang, jangan khawatir aku disini” jawab Youngha sambil menepuk-nepuk lengan Dohee,
Dohee mencoba bersandar di dekapan Youngha, “Sayang, mual sekali” ujar Dohee. Youngha langsung cepat-cepat mengambil aroma terapi yang diberikan khusus oleh Jieun sebelum pulang tadi, kening Dohee yang awalnya mengerut itu langsung memudar karena aroma terapi itu. Dohee langsung tertidur nyenyak lagi, Youngha mengelus perutnya sesekali dia menyisihkan rambutnya. Youngha mengangkat tangan Dohee yang mungil baginya, dia menatap jarinya yang ada cincin pernikahan itu. Lalu dia mencium tangan Dohee dan menaruh dengan pelan, dia mengelus kepala Dohee dengan lembut agar dia tertidur kembali.
Pada keesokan harinya, Youngha izin untuk tidak pergi ke markas. Kali ini dia benar-benar izin satu hari full untuk menemani Dohee yang tak kunjung pulih, usai membersihkan badan Youngha memandikan Dohee. Hari ini, Dohee tak kuat untuk jalan, jadi Youngha menggendongnya sepanjang hari. Makan pun Youngha memangkunya lalu menyuapi sedikit demi sedikit, setelah itu dia membantu Dohee meminum vitamin yang diberikan dengan Jieun pagi ini. Dohee tetap lemas di gendongan Youngha,
“Sayang” panggil Dohee lemas dan suaranya menjadi pelan sekali dari biasanya,
“Iya sayangku, kamu mau apa?” tanya Youngha lembut sambil menepuk lengan tangan Dohee pelan,
“Apa kamu tidak capek menggendongku sepanjang hari?” tanya Dohee,
“Sayang, sepertinya aku tidak merasakan apa-apa beban di tubuhku” jawab Youngha lalu tertawa sedikit untuk menghibur Dohee,
“Sayang” balas Dohee malu.
Malam harinya,
Dohee sudah agak sedikit pulih dia bisa duduk sendiri di sebelah Youngha sambil menonton televisi, tapi Dohee tidak mau melepaskan pelukan hangat milik Youngha. Tiba-tiba, sandi pintu utama berbunyi dan masuklah seseorang.
“Sayang, itu adikmu” bisik Dohee,
“Sst, kamu istirahat biar aku yang mengurusnya nanti” jawab Youngha lalu menutup telinga Dohee.
Setelah Youngha menidurkan Dohee dan menaruhnya di tempat tidur, Youngha mengurus Jungha dengan wajah maungnya. Youngha habis-habisan dengan tegas memarahi Jungha. Hasil dari marah Youngha adalah Jungha benar-benar dihukum dan memperbaiki sifatnya, merenungkan sifatnya. Miran yang ada di sampingnya itu membantu Jungha, dia membela apa yang terjadi. Youngha mengerti lalu segera menikahkan mereka berdua, karena mereka sudah melakukan hal itu.
Youngha agak kecewa dengan Jungha yang susah diatur itu. Tapi pikirnya nasi sudah menjadi bubur, dia hanya bisa apa. Youngha hanya banyak-banyak bersabar kepada Jungha dan mengajarkan menjadi suami yang terbaik untuk istrinya, Jungha kali ini benar-benar patuh dengan Youngha. Karena sekali lagi Jungha bikin ulah dia sudah tak akan menganggap Jungha lagi sebagai adik. Jungha meminta maaf sambil menangis dan meminta ampun kepada kakaknya, jadi dia patuh apa yang di katakan Youngha.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...