NovelToon NovelToon
Saat Istriku Setuju Bercerai

Saat Istriku Setuju Bercerai

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Penyelamat
Popularitas:25.5k
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad Yunus

Gavin tidak menyangka istri yang dulu berbuat licik demi menikah dengannya, Tiba-tiba setuju bercerai.

Dua tahun menikah dengan rasa dendam, Gavin tidak pernah benar-benar mengenal sosok Azalia, ah, lebih tepatnya tidak peduli.

Perceraian yang dinanti itu akhirnya akan segera terwujud. Gavin sudah tidak sabar menunggu kedatangan kekasihnya yang dulu pergi karena dirinya terpaksa menikah.

Lantas apakah perceraian yang dinanti Gavin akan benar-benar terwujud?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Yunus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Senyum indah Azalia.

Sambutan antusias Alvin di balas tamparan keras dari Renata.

Begitu melihat kedatangan Renata, Alvin segera menutup berkasnya, meninggalkan apapun yang ia kerjakan tadi dan berdiri menyambutnya. Senyumnya lebar, dia tampak benar-benar senang melihat kedatangan wanita itu.

Tamparan tiba-tiba itu membuat Alvin membeku.

"Apa kalian suka mempermainkanku seperti ini?" suara Renata langsung meninggi dan bergetar. "Setelah apa yang terjadi padaku, kau masih bisa berdiri di sini, tersenyum menyambutku seolah tidak pernah terjadi apa pun. Apa ini yang kalian inginkan? Sudah puas kalian mempermainkanku?"

"Renata, aku tidak pernah mencoba mempermainkanmu?"

"Lalu apa ini semua?" seluruh tubuh Renata meremang. Air mata berjatuh di kedua pipinya.

Rasa sakit hati, dan kekecewaan Renata Alvin bisa merasakannya.

"Kau yang bilang jika mereka akan bercerai. Kau yang mengatakan padaku jika Gavin selalu menungguku. Semua orang mengatakan padaku kalau Azalia tidak pernah ada dalam hidup Gavin. Tapi apa? Gavin membatalkan perceraiannya. Ucapanmu yang mengatakan kalau hanya ada kebencian yang dimiliki Gavin untuk Azalia hanyalah omong kosong!"

Napas Renata terengah. Bukan karena teriakannya, tapi karena marah yang menyesakkan dadanya.

"Kau juga sama saja! Kau bilang kau membenci Azalia. Kau sama sekali tidak menyukainya, nyatanya kau juga ada di sisinya. Kalian benar-benar brengsek! Aku tidak ingin melihatmu lagi."

"Renata, tunggu Ren! Ren... " Alvin mengejar, menahan lengannya. "Aku memang salah. Tapi kau harus tahu aku dan Gavin tidak pernah mempermainkanmu. Semua yang terjadi ini di luar yang kita pikirkan."

"Lepaskan, Alvin! Aku sudah muak dengan kalian!"

"Tidak. Kau harus mendengarkan aku. Aku tahu kau sakit hati dengan ini. Tapi sungguh, tidak ada dari kami yang berniat mempermainkanmu, satu bulan lalu, bahkan setelah mereka menandatangani dokumen perceraian, semua masih baik-baik saja."

"Masih berpikir untuk membual padaku?" Renata tersenyum miring, berusaha melepaskan lengannya dari genggaman Alvin.

"Azalia sakit, Ren. Ikutlah denganku. Kau tahu aku tidak suka berbohong, aku akan membuktikan semua kata-kataku."

"Aku tidak mau."

🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸

Rutinitas harian Azalia kembali. Gadis itu sangat bersemangat menyiapkan bekal makan siang untuk Gavin.

Kali ini tidak khawatir akan rasanya, karena ada pelayan yang membantu mengingatkannya jika ada sesuatu yang ia lupakan.

Abu terus memperhatikan Nyonya-nya yang sedang bersemangat.

Sampai pada waktu Azalia sudah menyelesaikan masakannya. Azalia tersenyum lebar dan puas, menutup kotak bekal itu.

Abu buru-buru bersiap mengantarnya, tapi Azalia menggeleng.

"Tidak perlu. Aku ingin pergi sendiri. Pak Abu hanya perlu memberikan alamat pada sopir taksi, aku tidak akan hilang."

Azalia terlihat bersemangat. Setelah beberapa kali melihat wanita itu, Abu tidak pernah melihatnya sesenang ini.

Karena keinginan Azalia seperti itu, Abu tidak bisa menolak. Dia mencarikan taksi untuknya. Memastikan sopir itu mengantar Azalia tepat di depan perusahaan.

Sayangnya, setelah Azalia tiba, sekretaris Gavin mengatakan kalau Gavin baru saja pergi.

"Apa... dia akan lama?" tanyanya ragu.

"Saya kurang tahu, Nyonya. Jika Anda mau menunggu, silakan menunggu di dalam. Saya akan memberi kabar Tuan kalau Anda datang."

"Tidak, aku akan menunggu saja. Jangan menghubunginya. Mungkin dia memiliki sesuatu yang penting."

Azalia tidak berani masuk ke ruang Gavin tanpa menunggu pria itu, jadi dia hanya berani menunggu di ruang tunggu.

Ternyata Gavin tidak pergi terlalu lama. 30 menit setelahnya, pria itu terlihat memasuki perusahaan. Dua anak buahnya masih mengikuti di belakang pria itu.

Langkah mereka lebar, tenang dan mendominasi. Setiap yang bersisihan akan menundukkan kepala, tapi Gavin tidak mengalihkan pandangan sedikit pun.

Sorot matanya tajam. Masih tersisa bekas kemarahan sekaligus kekesalan di wajahnya. Seperti kebiasaan pria itu, tatapannya hanya lurus ke depan. Hingga tidak melihat kehadiran Azalia yang ada di ruang tunggu.

Azalia sendiri juga tidak menyadari kedatangan Gavin.

Sekretaris Gavin yang memberitahukannya. Dia menghentikan langkah Gavin sebelum pria itu masuk ke ruangannya.

"Tuan," panggilnya. "Istri Anda menunggu di ruang tunggu. Apa Anda sudah melihatnya?"

Gavin mengernyit. Kepalanya berputar ke belakang, dia memang tidak melihat Azalia di sana.

"Apa dia sudah lama? Kenapa tidak menghubungiku?"

"Sekitar 30 menit yang lalu. Saya sudah menawarkan, tapi istri Anda menolak karena takut mengganggu Anda."

Gavin kembali ke belakang. Langkahnya lebih tenang saat mendekati ruang tunggu.

Di ruangan itu, Azalia terlihat sedang melihat barisan buku dengan ketertarikan.

"Kau ingin membacanya?"

Suara Gavin sedikit mengejutkannya. Saat dia menoleh, pria itu sudah ada di belakangnya dengan dua orang pria yang memakai setelan jas hitam di sisi kanan kiri.

"Kau sudah kembali?"

Gavin menggangguk. Matanya tertarik pada bekal kotak makan siang yang diletakkan Azalia di atas meja.

"Itu untukku?"

Azalia mengikuti arah pandang Gavin. "Sebenarnya iya. Tapi.. Kau mungkin sudah makan siang. Tidak apa-apa, aku akan membawanya kembali."

Azalea baru meraih kotak itu, tapi Gavin merebutnya. "Siapa yang mengatakan aku sudah makan siang? Aku sangat lapar."

Gavin tentu tidak rela Azalia membawa pulang bekal makanan untuknya. Sudah sangat lama tidak ada yang mengantar bekal makan siang untuknya. Selama ini masakan di luar sana tidak sebanding dengan yang dibuat Azalia. Kecuali beberapa hari terakhir sebelum perceraian saat masakan Azalia mulai tidak karuan.

Tapi sekarang Gavin tidak peduli, dia rindu makanan yang dibuat Azalia. Gavin tidak ragu untuk mengambilnya. Dia bahkan meminta kedua pengawalnya pergi.

Gavin tidak meminta Azalia masuk. Tapi dia sendiri yang menggandeng Azalia bersamanya. Itu adalah pemandangan pertama yang dilihat karyawan Gavin selama mereka bekerja.

Gavin juga mengajak Azalia duduk di sofa, tepat di sisinya.

"Kau sudah makan?"

"Sudah. Abu memaksaku. Dia bilang aku tidak bisa pergi sebelum aku menghabiskan makan siangku, itu sebabnya aku terlambat ke sini."

"Dengarkan dia jika aku tidak ada di rumah."

Gavin menatap bekal itu dengan antusias. Seperti yang dia perkirakan, karena Azalia dibantu oleh pelayan, kali ini masakan Azalia kembali seperti dulu.

Melihat Gavin yang lahap. Azalea tidak bisa menyembunyikan senyumnya. "Gavin kau sangat lapar, ya?"

Gavin mengangguk.

"Jika lapar, kenapa tadi tidak sekalian makan siang di luar?"

Gavin berhenti sejenak.

Bagaimana jika dia mengatakan kalau dia tidak pernah makan siang sejak Azalia tidak membawakannya bekal?

Tentu itu terlalu memalukan.

Jadi Gavin memilih tidak mengatakan apa-apa dan melanjutkan makan.

"Kau diantar sopir?" pada akhirnya Gavin bertanya.

"Aku menolak. Aku ingin naik taksi."

"Kenapa masih memakai taksi? Lain kali biarkan sopir membawamu."

Dan sekarang, Azalia yang tidak menjawab. Bibirnya tertutup rapat, tapi matanya masih fokus memandangi wajah Gavin dari sisi.

"Apa kau akan pulang nanti malam?"

Gavin terhenti lagi. Ini adalah pertanyaan yang dulu setiap hari Azalia tanyakan padanya melalui pesan singkat. Dia menghelan napas sebentar sebelum berkata tanpa melihatnya, "Aku akan selalu pulang. Setiap hari, setiap sore. Kau tidak perlu menanyakan itu lagi sekarang."

"Kalau begitu aku akan menunggumu di rumah." Azalia mengulurkan tangan, menadahkan telapak tangannya. "Beri aku uang untuk ongkos kembali."

Kali ini Azalia mengatakannya tanpa malu-malu, tidak seperti pertama kali dia meminta padanya. Justru saat Gavin melihatnya, wajah Itu tampak berbinar, seperti anak kecil yang menunggu diberi permen. Ada ketertarikan saat dia meminta.

Gavin menatap telapak tangan kecil itu, lalu mengamati wajah Azalia yang sudah tidak sabar dan berseri-seri.

"Jadi kau sengaja memakai taksi agar kau bisa meminta uang padaku?"

Dan Azalia mengakui itu, Gadis itu mengangguk tanpa malu-malu.

"Aku sudah terlalu lama tidak meminta apa pun dari siapa pun. Aku hanya ingin tahu bagaimana rasanya meminta sesuatu tanpa harus merasa bersalah atau diremehkan. Aku ingin tahu bagaimana rasanya menjadi seorang istri yang diberi tanpa harus berpikir keras bagaimana caranya bertahan hidup sendirian."

Azalia tersenyum kecil, seolah yang baru saja ia katakan bukanlah sesuatu yang berarti. Tatapannya santai, suaranya terdengar ringan. Terlalu ringan untuk sesuatu yang sebenarnya begitu dalam.

"Selama ini aku bisa mencari uang sendiri. Selama ini aku bisa bertahan tanpa harus meminta. Tapi kali ini... Aku hanya ingin merasa seperti istri. Seperti seseorang yang bisa mengandalkan suaminya, meskipun hanya sekali saja."

Semua kalimat itu diutarakan Azalia dengan sangat biasa, tanpa ada ekspresi apa pun. Bahkan dia juga tersenyum dengan ringan, seperti seseorang yang sudah terbiasa menelan semuanya sendiri.

Tapi, perkataan itu mengiris hati Gavin. Sebuah rasa bersalah yang menusuk tajam langsung ke jantungnya.

2 tahun bukan waktu yang singkat, dan dia sudah menelantarkan Azalia selama itu.

Sudah cukup terlambat bukan?

Tapi sayangnya Gavin tidak bisa memutar waktu.

Dia mengeluarkan dompetnya, mengambil kartu hitam dari sana. "Ini milikmu sekarang. Kau bisa membeli apa pun yang kau inginkan dengan itu. "

Namun, Azalia justru mendorongnya kembali. "Tidak, aku tidak ingin ini. Aku hanya ingin meminta darimu setiap hari, mengulurkan tanganku seperti ini."

Ucapan Azalia membuat Gavin agak bingung, tapi pada akhirnya dia mengeluarkan semua uang kertas dari dalam dompetnya. "Ini!"

Dan itu benar-benar membuat Azalia sangat bahagia, Ini bukan tentang seberapa banyak, Azalia tidak gila materi, dia hanya ingin merasakan bisa meminta tanpa rasa sungkan.

Karena saking bahagianya, Azalia refleks memeluk Gavin dengan erat. "Terima kasih."

Sayangnya, saat Gavin baru sebentar merasakan debaran di dadanya, Azalea sudah menarik diri lebih cepat.

Bisakah dia meminta wanita itu melakukannya lebih lama?

Tapi dasar Gavin! Mulutnya terlalu kaku mengatakan itu. Yang keluar dari mulutnya justru, "kau senang?"

Tawa Azalia menyita perhatian Gavin.

Sangat polos.

Sangat cantik.

"Ternyata seperti ini rasanya ketika mendapat pemberian dari seseorang."

"Apa yang ingin kau lakukan dengan uang itu? Jumlahnya sudah sangat lebih hanya untuk ongkos pulang."

Azalia memandangi uang kertas di tangannya. Wajahnya lebih berbinar. "Apa nanti kau akan memberiku uang lagi?"

"Kapan pun, kau boleh minta padaku."

"Kalau begitu mungkin aku akan membeli cemilan dari uang ini."

"Mau ku temani?"

Tawaran Gavin membuat Azalia terkejut.

"Tapi Gavin, bukannya kau memiliki pekerjaan?"

"Siapa yang mengatakan itu? Aku tidak memiliki apapun untuk ku kerjakan."

Gavin berdiri lebih dulu, menarik tangannya dan mengajaknya keluar.

Sekretaris Gavin langsung berdiri mengejar. "Tuan, Anda ingin keluar? Sebentar lagi ada ra...."

"Tangguhkan!" potongnya dengan cepat. "Aku memiliki sesuatu yang lebih penting untuk kerjakan."

KENCAN.

Sedangkan di tempat lain, Alvin tidak memberi ruang Renata untuk pergi. Dia benar-benar menjelaskan kesalahpahaman ini dengan sejelas-jelasnya. Alvin tidak mau Renata menyakiti Azalia karena dia dan Gavin.

"Kau boleh membenciku, Ren. Aku tidak akan memohon kau memaafkan kami, sudah ku jelaskan apa yang ingin ku jelaskan. Sekarang, semua terserah padamu."

Renata menangis dalam diam. Dia ingin marah pada Alvin dan Gavin.

Tapi setelah Alvin menjelaskan semuanya. Bisakah dia masih berkeras hati?

"Alvin, boleh aku menjenguknya. Di pertemuan terakhir kami, aku tidak benar-benar memperhatikannya. Ternyata dia juga tidak beruntung."

Senyum Alvin merekah, dia tahu Renata bukan perempuan yang jahat.

"Akan ku temani nanti."

Renata merengsek memeluk Alvin, menumpahkan tangisnya yang sesegukan. Menumpahkan segala kecewa juga rasa penyesalan.

######

Udah sepanjang ini....

Author boleh dong minta semangatnya

Happy Reading...

1
Dede Dedeh
sedihhhhh
Rahma Inayah
km liat sendri kan ren berapa Gavin peduli dan cnt nya mkn jg SDH bucin pada azalia.lpakn Gavin ren ..GK ush terlalu berharap akan kmbli pada Gavin
Ais
huh kupikir renata tulus sm azalia ngak taunya bangke juga ini perempuan🤣🤣🤣
Bela Viona
udah lah ren,lu berharap apa sama suami orang. mungkin kalian tdk berjodoh.
kamu cantik,msh bisa mendapatkan laki² yg lbh baik. bkn suami org.
muna aprilia
lanjut
Erni Kusumawati
kan..kan..gak percaya saya Renata dg ikhlas menerima begitu saja,pasti dia akan membuat perhitungan dg Azalia..see terbukti 🤬🤬
Dew666
😍😍😍
Erni Kusumawati
semoga Renata beneran tulus mau menjenguk Azalia
Ila Latifah
ntar ketika cinta cintanya, azalia mati. kayaknya puas deh🤣
Vie
karena saat itu kamu hanya sekedar menyukai bukan mencintai dengan setulus hati kamu, tapi sekarang kamu menyayangi dan mencintai Azalia dengan sepenuh hati kamu.... 🥰🥰🥰
Rahma Inayah
makanya Marta jgn main2 SM Gavin km pikir Gavin GK tau km yg SDH mau mencelakai azalia km Lp siapa Gavin orang berpengaruh mudah bgi nya utk mendptkan data mu apalgi pas di lacak plat mobil mantan sang mertua yg ingin mencelakai ank kandung nya sendiri
Ais
lanjut thor👍
Hani Ekawati
Wah di apain tuh si Marta.
Bagus sih si Marta di kasih hukuman, lagian mau mencelakai anak kandungnya sendiri. Apalagi orang yang mau di celakai istri seorang Gavin.
Hani Ekawati
Ternyata kamu pelaku nya🙄
Ibu macam apa kamu, mau mencelakai anak kamu sendiri
Vie
siksaan dari seorang Gavin....
Vie
kamu akan mati kayaknya..
Vie
dasar gak waras... punya anak cuman satu2nya malah mau dicelakai... dasar sinting. 😡😡😡
Vie
kenapa tuh,apa ada yang sengaja mau jahatin Azalia atau murni emang pengendara gila... 😱😱😱
Dew666
💟💟💟
Rahma Inayah
oh..Alaa emak nya sendri yg mau bunuh darah daging nya sendri demi ambisi dan balas dendam nya tp nihil yg ada km akan di buat menderita hidup mu oleh Gavin .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!