NovelToon NovelToon
Talak Tiga Di Malam Pertama

Talak Tiga Di Malam Pertama

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: Re _ ara

Salwa Azzahra, gadis berusia 22 tahun, menikah dengan orang yang sangat dia cintai , dan berharap Salwa bisa keluar dari rumah yang membuathya terluka . namun harapannya hancur seketika di malam pertama pernikahan .

Baru saja akad dilaksanakan, Yogie, suaminya, langsung menjatuhkan talak tiga tepat di malam itu juga, tanpa penjelasan yang masuk akal. Ia mengembalikan Salwa ke rumah orang tuanya seolah gadis itu barang yang tidak berguna. Salwa hancur, merasa harga dirinya diinjak-injak, dan kini harus menanggung malu serta fitnah masyarakat yang menuduhnya bersalah hingga diceraikan secepat itu.

Di balik sikap dingin Yogie, ternyata ada rahasia besar dan alasan tersembunyi yang membuatnya terpaksa melakukan hal menyakitkan itu, meski sebenarnya ia menyimpan rasa peduli. Takdir mempertemukan mereka kembali bertahun-tahun kemudian, saat luka keduanya belum sembuh , apakah Salwa akan kembali pada Yogie?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Re _ ara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30

Sania yang mendengar semua itu semakin marah dan kesal. Ia tidak terima dilihat sebagai pihak yang salah, tidak terima dilihat sebagai pencuri atau wanita licik. Ia kembali angkat bicara, berusaha mempertahankan sisa harga dirinya yang tinggal sedikit itu.

"Kau... kau keterlaluan sekali, Salwa! Kami datang ke sini dengan niat baik . Kenapa kau malah sombong begini? Memang benar, sekarang kau kaya, sekarang kau punya jabatan tinggi. Tapi jangan lupa, dulu kau tidak punya apa-apa kalau bukan karena kami yang mengizinkanmu hidup di sekitar kami! Dan Mas Yogie... Mas Yogie mencintaiku! Dia memilihku, bukan kau! Sekaya apa pun kau, setinggi apa pun jabatanmu... Mas Yogie tetap memilihku!"

Sania berusaha menggandeng lengan Yogie erat, menariknya mendekat seolah ingin menunjukkan kepemilikannya, seolah ingin menantang Salwa. Namun, reaksi Yogie justru membuatnya semakin terpukul. Yogie dengan perlahan namun pasti melepaskan lengannya dari cengkeraman Sania, bahkan mundur sedikit menjauhi wanita itu. Tindakan kecil itu terasa seperti pukulan telak bagi Sania.

Salwa hanya tertawa kecil, tawa yang renyah namun penuh rasa jijik dan kemenangan. Ia menatap Sania dengan pandangan yang begitu kasihan, seolah sedang menatap anak kecil yang sedang merajuk dan tidak tahu apa-apa.

"memilihmu?" ulang Salwa pelan. "Biar ku beritahu satu hal, Sania. Kalian berdua... Yogie dan kau... kalian memang pasangan yang sangat serasi. Sama-sama sombong, sama-sama picik, sama-sama menghargai sesuatu hanya dari harganya, dan sama-sama buta akan nilai sejati seseorang. Kalian memang pantas untuk bersama. Jangan khawatir, aku sama sekali tidak berniat merebut apa yang kalian miliki. Barang yang sudah aku buang, barang yang sudah aku anggap kotor dan tidak berharga, tidak akan pernah aku ambil kembali, sekalipun barang itu dikembalikan ke tanganku dengan gratis."

Salwa berhenti sejenak, lalu tatapannya kembali berubah tajam dan dingin, menatap keduanya bergantian.

"Dan satu hal lagi yang harus kalian ingat baik-baik. Malam ini kalian masih berdiri di sini, masih bisa berbicara, masih bisa bernapas dengan lega... hanya karena aku masih memberi izin. Ingatlah posisi kalian sekarang. Kalian bukan lagi pihak yang berkuasa, bukan lagi pihak yang bisa menghina dan membuang sesuka hati. Sekarang, akulah yang memegang kendali atas segalanya. Akulah yang memegang nasib perusahaan Pratama, nasib usaha ayahmu, dan nasib masa depan kalian semua."

Suara Salwa menjadi berat dan penuh ancaman yang nyata, membuat bulu kuduk Yogie dan Sania merinding seketika.

"Jangan pernah lagi kalian berani menatapku dengan pandangan sombong. Jangan pernah lagi kalian berani mengganggu ketenanganku atau keluargaku. Dan yang paling penting... bersiaplah. Karena malam ini hanyalah awal. Awal dari pembalasan atas segala rasa sakit, air mata, dan penghinaan yang pernah kalian berikan padaku dulu. Aku tidak akan menghancurkan kalian dengan cara kasar... aku akan menghancurkan kalian dengan cara yang paling menyakitkan: membuat kalian hidup dalam ketakutan, hidup dalam penyesalan abadi, dan hidup menyadari bahwa kalian telah membuang kebahagiaan terbesar yang pernah ada di hadapan kalian."

Salwa mengangguk kecil kepada Bunga di sebelahnya, memberi isyarat untuk pergi. Sebelum berbalik badan meninggalkan keduanya yang berdiri kaku dan pucat pasi itu, Salwa melempar satu kalimat terakhir yang paling menusuk hati Sania dan Yogie sekaligus.

"Nikmati kebersamaan kalian berdua selagi masih bisa. Karena percayalah... kebahagiaan palsu yang kalian bangun di atas penderitaanku itu, tidak akan bertahan lama. Selamat malam."

Dengan langkah tegap, anggun, dan penuh kewibawaan, Salwa dan Bunga berjalan menjauh, meninggalkan Yogie yang diam terpaku penuh penyesalan dan Sania yang gemetar menahan amarah, rasa malu, dan ketakutan yang kini mulai merayap masuk ke dalam hatinya.

Di kejauhan, pintu utama tertutup rapat di belakang Pak Joko dan Bu Ratna yang telah pergi dengan penuh rasa malu dan dendam. Malam itu, di ruangan megah yang penuh kemegahan itu, garis pemisah telah ditarik tegas. Di satu sisi berdiri kekuasaan, kebenaran, dan keadilan yang telah bangkit. Di sisi lain, berdiri mereka yang dulu berkuasa, kini hancur lebur, kalah telak, dan menunggu hukuman yang pasti akan datang. Permainan sesungguhnya baru saja dimulai, dan takdir telah memastikan bahwa tidak ada satu pun dari mereka yang pernah menyakiti Salwa Azzahra yang akan bisa lolos dari pembalasan yang setimpal.

Di luar gedung megah itu, suasana malam terasa sejuk dan hening, sangat kontras dengan hiruk-pikuk, kemegahan, dan gemerlap lampu yang masih terasa di dalam ruangan pesta. Namun, ketenangan malam itu sama sekali tidak terasa bagi dua orang yang baru saja melangkah keluar dengan tergesa-gesa, penuh rasa malu, amarah, dan kepahitan yang memuncak.

Pak Joko berjalan dengan langkah panjang dan cepat, wajahnya merah padam menahan emosi yang meluap-luap. Tangan kanannya mencengkeram kuat lengan Bu Ratna, menyeret wanita itu seolah-olah ia bukan istrinya, melainkan barang berharga yang telah membuatnya menderita kerugian besar. Napas Pak Joko terdengar berat dan kasar, setiap hembusannya bercampur dengan geraman marah yang tertahan di tenggorokan.

Di sepanjang jalan menuju tempat parkir mobil, pandangan orang-orang yang lewat atau petugas keamanan yang berjaga seolah terasa menuduh dan menertawakan dirinya. Bagi Pak Joko, setiap pasang mata yang memandangnya itu adalah bukti aib besar yang baru saja ia terima. Aib yang menurutnya, semata-mata disebabkan oleh perbuatan istrinya sendiri.

Begitu mereka sampai di samping mobil mewah mereka yang terparkir rapi, Pak Joko melepaskan cengkeramannya dengan kasar hingga Bu Ratna terhuyung ke belakang dan hampir jatuh tersungkur ke aspal. Tubuh wanita itu masih gemetar hebat, air matanya belum kering, sisa-sisa rasa sakit hati, penyesalan, dan penghinaan yang baru saja ia terima dari Ardiansyah masih terasa membakar setiap inci jiwanya. Wajahnya pucat pasi, matanya bengkak dan merah, penampilannya yang tadi berusaha dibuat semewah mungkin kini terlihat berantakan dan menyedihkan.

Pak Joko berbalik badan, menatap istrinya dengan tatapan yang begitu tajam, penuh kebencian, dan kemarahan yang tak terbendung. Ia mengangkat tangannya, menunjuk tepat ke arah wajah Bu Ratna dengan jari gemetar karena amarah.

"Kau gila ya, Ratna?! Kau sudah gila?!" teriak Pak Joko meledak, suaranya menggelegar memecah keheningan malam. Ia tidak lagi peduli siapa yang mendengar atau siapa yang melihat. Rasa malunya sudah berubah menjadi api kemarahan yang siap membakar apa saja di hadapannya. "Kau pikir tadi apa yang kau lakukan di dalam sana?! Kau sadar tidak siapa kita?! Kau sadar tidak di hadapan siapa kau berteriak-teriak dan mempermalukan dirimu sendiri dan juga aku?!"

Bu Ratna terguncang hebat oleh teriakan itu. Ia mengusap air matanya dengan kasar, menatap suaminya itu dengan pandangan yang sudah berubah. Rasa takutnya perlahan berubah menjadi rasa benci, rasa sakit hati, dan kemarahan yang juga tidak kalah besarnya. Selama bertahun-tahun ia menahan segalanya, selama bertahun-tahun ia hidup menutupi kebohongan, selama bertahun-tahun ia menelan kepahitan hidup bersamanya... dan malam ini, saat hatinya sedang hancur lebur, saat ia sedang terluka parah, bukannya mendapat dukungan atau setidaknya sedikit rasa iba, yang ia dapatkan hanyalah makian dan kemarahan.

bersambung ,,,

1
Emily
CK narasi nya lebay bahkan di ulang ulang dan berulang ulang
Emily
heleh..ujung ujungnya balikan setelah si cewe nikah an bercerai
Safarniaty
👍seruu
Alit Liet
ceritanya bagus tidak berbelit2
Alit Liet
bab 23 nya mana
Jetva
Yogie..kamu sayang tp kamu talak 3...jelas kamu tak bisa lagi kembali padanya...lelaki koq otaknya kecil..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!