"Ayo mengaku, Mas Sholeh! Kamu bisa lihat aku, kan?! Jangan bohong, bohong itu dosa, nanti masuk neraka loh!"
Bagi Arash, menjadi cowok indigo itu melelahkan. Makanya, dia pakai trik keramat: Pura-pura buta huruf soal hal gaib. Mau ada pocong kayang pun, Arash bakal tetap lempeng.
Strategi itu sukses bertahun-tahun, sampai dia ketempelan sesosok roh cewek misterius yang punya jiwa "cegil" (cewek gila) akut. Bukannya nakutin, roh genit ini malah rusuh mengintil kemana-mana, bahkan nekat narik kerah jaket Arash demi minta perhatian.
Arash mati-matian bertahan demi menjaga iman dan aktingnya. Tapi saat teror mistis yang mengancam nyawanya datang, si hantu cegil justru pasang badan paling depan dengan cara yang paling bar-bar.
Gimana jadinya kalau cowok sholeh berkharisma harus menghadapi musuh gaib bersama hantu cegil yang ternyata... belum sepenuhnya mati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy_Ar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Tengah malam yang sunyi melingkupi kamar Arash, yang suasana begitu gelap dan tenang.
Hanya ada sisa-sisa cahaya bulan yang menerobos masuk secara samar melalui celah gorden, memantulkan bayangan siluet perabotan kamar yang kaku.
Di atas lemari jati besar yang terletak di sudut ruangan, Lala sudah kembali ke tempat tidurnya.
Hantu cewek itu tampak meringkuk nyaman di area ghaibnya, tertidur dengan lelap setelah seharian penuh energi spiritualnya terkuras untuk bergosip ria dengan geng kuntilanaknya di pohon kenuti sebelah rumah.
Napas ghaibnya yang teratur sesekali mengembuskan hawa dingin tipis ke sekeliling sudut lemari.
Di atas ranjang, Arash juga sempat terlelap dengan nyenyak, membiarkan tubuh fisiknya menyerap sisa-sisa nutrisi bubur ayam dan susu hangat untuk memulihkan total sel-sel tubuhnya yang sempat drop.
Namun, kedamaian itu mendadak terusik.
*Wusshhh...*
Tiba-tiba seutas angin malam yang aneh bertiup masuk ke dalam kamar.
Angin itu tidak dingin menusuk seperti hawa kehadiran mahluk halus biasanya, melainkan terasa hangat dan membawa aroma harum bunga melati yang sangat lembut, menenangkan jiwa siapa saja yang menghirupnya.
Hembusan angin itu dengan perlahan menyapu permukaan wajah Arash, membuat cowok indigo itu terusik dari tidur nyenyaknya.
Kelopak mata Arash bergetar, lalu perlahan-lahan terbuka lebar.
Saat matanya mulai menyesuaikan dengan kegelapan, Arash mendapati seberkas cahaya putih keperakan yang sangat bersih mendadak muncul dan berhenti tepat di sebelah jendela kamarnya.
Cahaya itu tidak menyilaukan mata, melainkan bersinar dengan pendaran yang teduh, seolah memancarkan kesucian yang hakiki.
Perlahan, pendaran cahaya putih itu memadat, membentuk siluet seorang remaja perempuan yang sangat akrab di ingatan Arash.
"Fira?" gumam Arash pelan, suaranya parau khas orang yang baru bangun tidur.
Dia segera mengubah posisinya menjadi duduk bersandar di kepala ranjang, memastikan bahwa penglihatannya kali ini bukanlah bagian dari sisa-sisa mimpi indahnya di padang rumput bersama kedua orang tuanya.
Gadis itu, Fira, berdiri melayang beberapa senti di atas lantai kamar tepat di samping gorden.
Dia mengenakan gaun putih polos yang bersih tanpa noda.
Tidak ada lagi raut wajah ketakutan, tidak ada lagi bekas luka lebam keunguan akibat jerat kutukan, dan tidak ada lagi aura hitam pesugihan yang sempat mengunci jiwanya di ruang kepala sekolah tempo hari.
Wajahnya kini tampak sangat cantik, berseri-seri, dan memancarkan senyuman yang teramat teduh sebuah senyuman yang menandakan kebebasan mutlak dari segala penderitaan duniawi.
"Kak Arash..." sapa gadis itu dengan suara yang terdengar begitu merdu, jernih, dan tidak lagi menyiratkan kesedihan.
"Kamu... kenapa ada di sini, Fir?" tanya Arash dengan nada suara yang sangat lembut, berbisik agar tidak membangunkan Lala yang sedang tidur mendengkur halus di atas lemari jati.
Arash menatap Fira dengan pandangan mata yang dipenuhi rasa lega yang tak terhingga.
Fira melayang sedikit lebih dekat ke arah ranjang Arash, kedua tangannya bertaut di depan dada dengan sikap yang sangat sopan.
"Aku datang ke sini sengaja di tengah malam yang sunyi ini, Kak. Aku mau berterima kasih yang sebesar-besarnya sama Kak Arash. Kalau bukan karena keberanian dan ketulusan hati Kak Arash .. mungkin sampai detik ini jiwaku dan Papa masih akan terus terikat menjadi budak pesugihan hitam milik om Bakti."
Setitik air mata ghaib yang bening tampak menggenang di sudut mata Fira, namun itu bukanlah air mata kesakitan, melainkan air mata kebahagiaan yang membuncah.
"Sekarang... aku dan Papa sudah tenang, Kak. Kami sudah benar-benar terlepas dari jeratan menyeramkan itu. Ikatan gaib yang mengunci kami di rumah tua itu sudah hancur lebur bersama abu dari kotak yang Kak Arash bakar," lanjut Fira dengan binar mata yang begitu cerah.
Mendengar pengakuan tulus dari ruh gadis di depannya, dada Arash mendadak berdenyut oleh rasa haru yang luar biasa hebat.
Pengorbanannya yang sampai harus batuk muntah darah dan pingsan selama tiga hari penuh, serta kepanikan yang ia timbulkan untuk seluruh anggota keluarganya, rasanya terbayar lunas dalam satu detik malam ini.
"Alhamdulillah... Alhamdulillah ya Allah, Fir," sahut Arash tulus, sebuah senyuman lebar mengembang di wajah pucatnya.
Dia melipat kedua tangannya di depan dada, mengucap syukur sedalam-dalamnya kepada Sang Pencipta yang telah memberikan akhir yang adil bagi jiwa-jiwa yang teraniaya ini.
"Aku ikut senang mendengarnya, Fir. Sungguh. Demi Allah, melihat kamu bisa tersenyum sebahagia ini, rasa sakit di dadaku kemarin rasanya langsung hilang total."
Fira mengangguk anggun. "Papa juga menitipkan salam hangat untuk Kak Arash, Papa bilang, Kak Arash adalah pemuda yang sangat luar biasa. Kelak, kebaikan hati Kak Arash ini akan menjadi ladang pahala yang menuntun Kakak menuju derajat yang tinggi di mata Allah."
"Aku cuma perantara, Fir. Semua ini bisa terjadi karena pertolongan Allah, dan juga karena doa-doa serta bantuan dari teman-teman," ujar Arash merendah, tidak ingin sedikit pun merasa tinggi hati atas kemampuan indigo yang dimilikinya.
"Lalu... setelah ini, apa yang akan kamu lakukan?"
Fira mendongak, menatap ke arah langit-langit kamar seolah pandangan ghaibnya mampu menembus atap rumah menuju ke arah langit malam yang bertabur bintang di luar sana.
"Waktuku di dunia ini sudah benar-benar habis, Kak. Tugas dan ikatanku sudah selesai seiring dengan jatuhnya hukuman untuk om Bakti dan Mama. Sesaat lagi, sebuah gerbang cahaya akan menjemputku dan Papa untuk pulang ke tempat yang seharusnya... tempat yang jauh lebih indah dan penuh kedamaian di sisi-Nya," jawab Fira dengan nada suara yang sangat ringan, seolah beban seberat gunung yang selama ini menghimpit pundak ghaibnya telah diangkat menguap ke udara.
Arash mengangguk paham.
Ada secercah rasa sedih karena harus berpisah dengan salah satu ruh yang berjuang bersamanya, namun rasa bahagia karena Fira mendapatkan tempat terbaik jauh lebih mendominasi hatinya.
"Pergilah dengan tenang, Fir. Jangan khawatirkan apa pun lagi di dunia ini. Pak Bakti sudah mendapatkan balasan yang setimpal di penjara, dan Mamamu... tim medis serta doa-doa terbaik akan menentukan takdirnya. Semua kebusukan sudah berakhir."
"Terima kasih, Kak Arash. Selamat tinggal... tetaplah menjadi pejuang kebenaran yang tangguh," ucap Fira sebagai kalimat perpisahan terakhirnya.
Gadis itu memberikan lambaian tangan yang sangat lembut.
Perlahan-lahan, wujud transparan Fira mulai mengabur, menyatu kembali dengan pendaran cahaya putih keperakan yang sejak tadi menyelimutinya.
Cahaya itu kemudian bergerak naik secara anggun, melesat menembus kaca jendela kamar tanpa menimbulkan suara sedikit pun, lalu terbang tinggi menembus awan malam, meninggalkan keharuman melati yang bertahan selama beberapa saat di dalam kamar Arash.
Arash menatap kepergian cahaya itu dengan pandangan mata yang damai. Dia menarik napas dalam-dalam, merasakan ketenangan spiritual yang luar biasa meresap ke dalam jiwanya.
Kini, ia tahu, wejangan dari Mami Kayla dan Papinya di padang rumput hijau kemarin adalah sebuah kebenaran mutlak.
Kemampuan ini, serumit dan seberat apa pun risikonya, jika digunakan untuk membela kebenaran, akan selalu membawa kedamaian yang hakiki bagi sesama mahluk ciptaan Allah.
‘Begini rasanya jika berhasil menolong,’ gumam Arash dalam hati, lalu dia menoleh menatap ke arah Lala, ‘Apa aku juga bisa menolong kamu La?’
‘Kenapa, aku merasa kalau masalah mu lebih rumit dari Fira?’
si Cegil ini ternyata pilih² pasangan ya,,
😅😅