Bagaimana rasanya menjadi seorang anak yang tidak diinginkan, di tuntut untuk selalu mengalah dalam segala hal, menyerahkan apapun yang dimiliki untuk orang lain bahkan orang yang di cintai sekalipun harus ia lepaskan? Selalu salah dan di anggap pembawa sial.
Itulah penderitaan yang di rasakan oleh seorang wanita bernama Ayla, ia tumbuh di keluarga yang serba berkecukupan, punya dua kakak laki-laki dan orang tua yang masih lengkap, namun sayang sekali, meskipun memiliki semua itu Ayla sama sekali tidak memiliki kasih sayang dan kebahagiaan.
Di mata keluarga Ayla adalah pembawa sial, sosok yang selalu salah dalam segala hal, berbanding terbalik dengan Alena yang selalu menerima kasih sayang penuh dan selalu di utamakan oleh semua orang.
Siapa Alena? Dan kenapa Ayla memiliki nasip berbeda dengan nya? Cus baca kisah mereka di sini, bersama author Nadia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
08# Pengorbanan Yang Tak Adil
“Bahkan hewan peliharaan pun diberi makan tanpa harus bekerja dulu. Aku ini anak kandung mereka, tapi nasibku jauh lebih buruk daripada seekor hewan peliharaan...” batin Ayla pedih.
Ia menarik napas panjang, lalu bertanya dengan nada pasrah, “Apa yang harus aku kerjakan?”
Meski hatinya sakit, tubuhnya lemas, dan rasa lapar menggila, ia tetap bertanya. Baginya, makanan adalah tenaga untuk tetap bertahan hidup, dan ia rela melakukan apa saja demi sepiring nasi di rumahnya sendiri.
“Kebetulan aku punya banyak sekali tumpukan pakaian kotor yang belum dicuci. Kau cuci saja semuanya. Tapi ingat... jangan sampai kau gunakan mesin cuci. Pakai tanganmu, gosok sampai bersih,” ucap Adnan sambil menatap Ayla dengan sorot mata penuh kebencian dan dengki.
“Baiklah...” jawab Ayla singkat, tanpa membantah sedikit pun.
Tiga puluh menit kemudian...
Ayla kini berdiri di depan wastafel kamar mandi yang dingin. Dengan patuh, ia mengerjakan apa yang diperintahkan Adnan, hanya demi mendapatkan sepotong makanan.
Tubuhnya yang kurus dan ringkih itu sungguh memancing rasa iba. Kaki-kakinya yang kecil tampak nyaris tak sanggup menopang berat badannya sendiri, namun kedua tangannya terus bergerak menggosok pakaian kakaknya itu dengan tenaga sisa yang ia miliki.
“Kapan semua penderitaan ini akan berakhir? Apakah hidupku akan berakhir dengan kematian di tengah keluarga ini?” batin Ayla, matanya menatap kosong ke arah tumpukan cucian yang masih begitu tinggi.
Tak lama kemudian, terdengar suara kendaraan memasuki halaman. Mama dan Papa Ayla pun tiba di rumah.
“Di mana Ayla?” tanya Mama Tina kepada Adnan.
Saat itu, Adnan sedang duduk santai di ruang tengah, sibuk bermain gim di ponselnya sembari menonton televisi.
“Dia ada di kamar mandi,” jawab Adnan tanpa rasa bersalah sedikit pun.
“Apa yang dia lakukan di sana?” tanya Mama Tina lagi.
“Sedang menjalani hukuman,” jawab Adnan santai.
Mereka berdua pun duduk di sofa, lalu seketika itu juga mengabaikan keberadaan maupun nasib Ayla yang sedang menderita.
“Ah ya, Adnan... Kakakmu Bastian belum pulang?” tanya sang Papa.
Adnan mematikan layar ponselnya, lalu menoleh dan memusatkan perhatiannya pada kedua orang tuanya.
“Belum. Ada apa, Pa?”
“Tidak ada... Sebenarnya kami ingin membicarakan persiapan pesta ulang tahun Alena besok malam,” sambung Mama Tina.
“Bicarakan saja sama aku. Aku akan bantu menyiapkan semuanya sampai sempurna,” ucap Adnan, seketika wajahnya berubah cerah dan penuh semangat.
Belum lama berselang, Bastian pun tiba. Ia berjalan masuk dan langsung menghampiri orang tua serta adiknya.
“Kak, ada apa? Kenapa wajahmu terlihat kusut dan pucat begitu?” tanya Adnan bingung melihat raut wajah kakaknya yang begitu kacau.
Bastian tak menjawab. Ia hanya duduk di samping Adnan, lalu mengusap wajahnya dengan kasar. Jelas sekali ia sedang memikirkan sesuatu yang berat dan menguras seluruh energinya.
“Bastian... Apakah ada masalah di perusahaan? Apakah keadaan perusahaan baik-baik saja?” tanya Papa Bayron dengan nada khawatir.
“Aku... aku bingung harus mulai dari mana. Aku sudah benar-benar tak tahan lagi menyimpan berita ini sendirian. Awalnya aku berniat membicarakan masalah ini setelah pesta ulang tahun Alena selesai, tapi ternyata ini sangat mendesak. Aku tak bisa memikirkan jalan keluarnya sendiri lagi,” ucap Bastian, menatap satu per satu anggota keluarga yang ada di hadapannya.
Semuanya kini membalas tatapan itu dengan penuh rasa cemas dan tanda tanya.
“Ada apa sebenarnya, Bastian? Katakan saja sekarang. Jangan buat kami bertanya-tanya dan khawatir begini,” desak Mama Tina.
“Pa, Ma... Kalian masih ingat dengan perjanjian yang aku buat bersama Tuan Hans saat perusahaan Gunawan hampir bangkrut dan hancur?” tanya Bastian, mulai berbicara dengan nada serius dan berat.
“Ingat... Memangnya ada apa dengan perjanjian itu?” jawab Papa Bayron.
“Kenapa tiba-tiba kau bahas hal itu lagi?” sela Adnan, ia pun mengetahui isi perjanjian tersebut.
Sementara itu, Mama Tina hanya diam menunggu penjelasan selanjutnya dengan hati yang mulai tak tenang.
“Laki-laki tua yang mengerikan itu... Hans... Dia datang ke kantor siang tadi. Dan dia menuntut kita menepati janji itu sekarang juga,” jelas Bastian, matanya menatap mereka dengan penuh kegelisahan.
Seketika itu juga, raut wajah semua orang di ruang tengah itu berubah menjadi pucat pasi. Mereka yang mengetahui betapa beratnya isi perjanjian itu, jelas merasa sangat takut dan khawatir.
“Ya Tuhan... Bagaimana ini bisa terjadi?” gumam Mama Tina gelisah.
“Kenapa harus panik begitu? Kan kita sudah berjanji, jadi tinggal penuhi saja apa yang dia minta,” ucap Adnan seolah hal itu adalah hal mudah dan tak membebani sama sekali.
“Iya, tapi... Tuan Hans mengancam akan menghancurkan keluarga kita dan membuat kami semua menjadi gelandangan jalanan jika kami berani mengingkari janji,” tambah Bastian.
“Aku... aku tidak mau jadi gelandangan...” ucap Adnan, wajahnya seketika berubah cemas.
“Sudah, jangan bertindak gegabah. Pikirkan dulu jalan keluarnya. Intinya, perusahaan Gunawan Group yang kini sudah berdiri kokoh dan besar, tak boleh jatuh atau hancur lagi,” ucap Papa Bayron menjadi penengah.
“Iya... Masalahnya sekarang adalah... siapa yang akan kita kirimkan ke keluarga Aditama? Alena atau Ayla?” tanya Bastian pelan namun menohok.
Keempat orang itu seketika terdiam kembali. Mereka saling berpandangan satu sama lain dengan ragu dan bimbang.
“Kak... Kau tidak akan mengirimkan Alena ke sana, kan? Aku tidak mau kalau yang pergi itu Alena. Dia adalah bintang keberuntungan kita, malaikat pelindung keluarga ini,” seru Adnan cepat.
“Iya, Mama juga tidak setuju sama sekali. Mama tak sanggup membiarkan Alena hidup bersama pria yang cacat fisik maupun mental. Bagaimana kalau dia nanti disiksa atau diperlakukan buruk di sana?” sahut Mama Tina, sama khawatirnya dengan Adnan.
“Mama benar,” sahut Adnan lagi.
“Alena itu sangat lemah dan rapuh. Jika dia yang dikirim ke sana, bagaimana nanti kalau penyakitnya kambuh karena tekanan batin, atau dia disakiti? Bisa-bisa nyawa Alena melayang di tangan pemuda gila itu. Kalian semua pasti sudah sering mendengar betapa mengerikannya gosip soal Tuan Muda Valen itu, kan?” tambah Papa Bayron sambil menggelengkan kepala tak setuju.
“Tapi kita tidak mungkin menyerahkan Ayla, kan? Dia kan anak kandung keluarga ini... Bagaimana kalau nanti...” potong Bastian ragu-ragu.
“Sudahlah Kak... Justru itulah jalan satu-satunya. Mereka pasti menginginkan anak kandung, bukan anak angkat. Lagipula, bukankah Ayla yang diramalkan membawa nasib buruk? Dia pas sekali untuk dikorbankan,” potong Adnan dengan cepat dan tegas.
“Iya... Betul. Adnan benar,” sambung Mama Tina setuju.
“Papa pun setuju,” ucap Papa Bayron mengakhiri.
“Aku TIDAK SETUJU!”
****
bukan satu atau dua alur cerita begini jadi udah malas ma ceritanya