NovelToon NovelToon
Menghancurkan Suami Benalu Dan Adik Tiriku

Menghancurkan Suami Benalu Dan Adik Tiriku

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Wanita
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nila KingShop Wati

HANCURLAH BERSAMA "SUAMI PARASIT DAN ADIK BENALU"
Selama dua tahun pernikahan, Violet hidup sebagai istri yang selalu mengalah. Ia tidak pernah menyangka suami yang dicintainya ternyata diam-diam berselingkuh dengan Eliana, adik tirinya sendiri.
Lebih kejam lagi, mereka hanya memanfaatkannya demi merebut perusahaan keluarga yang menjadi haknya. Saat kebenaran terungkap, Violet kehilangan segalanya—ayahnya koma karena sebuah kecelakaan yang ternyata direncanakan, hartanya dirampas, dan nyawanya dihabisi oleh orang-orang yang paling dipercayainya.
Dalam detik terakhir sebelum kematian, Violet mengutuk mereka dan memohon kesempatan untuk mengulang hidupnya.
Ketika membuka mata, ia kembali ke dua tahun lalu.
Ke hari saat Arga datang melamar.
Kali ini Violet tidak akan memilih pria yang menghancurkan hidupnya.
Sebagai gantinya, ia memilih Sherkan—paman Arga yang terkenal dingin, kejam, dan menjadi penguasa dunia bisnis.
Keputusan itu mengubah segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nila KingShop Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aku memilih pamannya

BAB 12 — AKU MEMILIH PAMANNYA

Pagi itu, suara dering ponselku memecah keheningan ruangan berkali-kali tanpa henti. Nama yang tertera di layar tidak berubah—Arga, lagi dan lagi. Seolah pria itu tidak akan berhenti sampai aku mengangkatnya. Aku menatap layar yang berkedip-kedip dengan tatapan kosong, tanpa sedikit pun rasa senang atau harapan yang dulu selalu muncul setiap kali melihat namanya. Di kehidupan yang telah berlalu, setiap panggilan darinya selalu membuat hatiku berdebar, membuatku tersenyum sendiri, dan membuatku merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia. Namun sekarang? Semua perasaan itu telah terkubur dalam-dalam, tertimbun oleh rasa sakit, pengkhianatan, dan kematian yang pernah kualami. Aku bahkan tidak memiliki keinginan sedikit pun untuk mengangkat telepon itu, apalagi mendengar suaranya yang dulu aku anggap paling menenangkan.

Panggilan itu masuk lagi, untuk kesekian kalinya, seolah memaksaku untuk menjawab. Dengan gerakan yang lambat dan penuh ketegasan, aku meraih ponsel itu dan langsung mematikannya sepenuhnya, lalu meletakkannya di atas meja dengan suara yang sedikit berdentang. Hari ini, aku memiliki urusan yang jauh lebih penting, sesuatu yang akan mengubah seluruh jalannya takdirku—sesuatu yang tidak akan pernah aku lakukan jika aku masih menjadi Violet yang polos dan buta akan kebenaran di masa lalu.

Setelah selesai sarapan, aku memanggil sopir yang sudah siap menunggu di depan pintu. “Siapkan mobilnya,” ucapku singkat.

“Baik, Nona. Ke mana kita akan pergi?” tanyanya sopan sambil membukakan pintu mobil.

Aku menatap ke luar jendela, melihat deretan gedung-gedung tinggi yang menjulang di tengah kota, sebelum akhirnya menyebutkan nama yang selama ini hanya terdengar dalam bisikan-bisikan penuh rasa hormat dan takut. “Ke Grup Satria Internasional.”

Sopir itu langsung terdiam seketika. Ia bahkan sempat melirikku melalui kaca spion dengan tatapan penuh keraguan, seolah memastikan apakah ia benar-benar mendengar dengan jelas. Bagaimana tidak? Semua orang di kota ini tahu betul siapa pemilik perusahaan raksasa itu. Sherkan Satria—sebuah nama yang telah menjadi legenda di dunia bisnis selama lebih dari dua dekade. Pria yang dijuluki sebagai Raja Es karena sifatnya yang dingin, tegas, dan tidak pernah menunjukkan belas kasihan dalam setiap keputusannya. Pria yang ditakuti oleh para pengusaha besar maupun kecil, karena satu kata darinya saja sudah cukup untuk membuat sebuah perusahaan besar runtuh dalam semalam. Dan yang paling penting dari semuanya—ia adalah paman kandung Arga.

Gedung Grup Satria Internasional berdiri megah di jantung kota, menjulang lebih tinggi dibandingkan gedung-gedung di sekitarnya, seolah menjadi penguasa yang tak tergoyahkan. Arsitekturnya yang modern dan kokoh memancarkan kekuasaan dan pengaruh yang tak terbantahkan, jauh lebih megah, lebih luas, dan tentunya jauh lebih menakutkan dibandingkan gedung milik keluarga Arga maupun keluargaku sendiri. Aku berdiri di depan pintu kaca yang berkilau itu selama beberapa detik, menarik napas panjang sambil membiarkan ingatan dari kehidupan sebelumnya melintas cepat di benakku.

Di masa lalu, Sherkan tidak pernah memiliki hubungan yang baik dengan keponakannya sendiri. Bahkan bisa dibilang, hubungan mereka sangat buruk. Arga selalu berusaha keras untuk mendapatkan pengakuan dan perhatian dari pamannya itu, berusaha membuktikan bahwa ia layak mewarisi nama besar keluarga, namun usahanya selalu berakhir dengan kekecewaan. Sherkan tidak pernah menunjukkan sedikit pun rasa peduli atau kebanggaan terhadap Arga, seolah pria muda itu tidak ada artinya baginya. Namun di tengah semua ketidakpedulian itu, ada satu hal yang masih terukir jelas di ingatanku—saat hari-hari terakhir hidupku dulu. Saat semua orang memalingkan wajah, saat perusahaan keluargaku direbut paksa, saat ayahku terbaring lemah dalam keadaan koma tanpa ada yang mau menolong, Sherkan adalah satu-satunya orang yang berani berdiri dan secara terbuka mempertanyakan tindakan Arga dan lingkaran kekuasaannya. Meski pada saat itu semuanya sudah terlambat, meski nyawaku sudah tidak bisa diselamatkan lagi, tindakannya itu tetap meninggalkan kesan mendalam.

Namun kali ini, semuanya berbeda. Kali ini aku masih hidup, masih memiliki kesempatan untuk mengubah segalanya, dan aku datang lebih dulu sebelum Arga sempat menjalin aliansi apa pun.

Lobi gedung itu terasa sangat megah namun juga sangat dingin. Setiap sudutnya dirancang dengan kesempurnaan yang luar biasa, dan setiap karyawan yang berjalan melewati tampak bergerak dengan cepat dan teratur, tidak ada yang berbicara dengan suara lebih keras dari yang diperlukan, seolah mereka takut mengganggu ketenangan yang terjaga di sana. Suasana disiplin dan ketat terasa begitu kuat, menekan siapa saja yang baru pertama kali masuk. Aku berjalan dengan langkah tegap menuju meja resepsionis, berusaha menyembunyikan sedikit pun kegelisahan yang tersisa di dalam hatiku.

“Saya ingin bertemu dengan Tuan Sherkan Satria,” ucapku dengan suara yang tenang dan jelas.

Resepsionis wanita itu langsung mengangkat kepalanya, menatapku sekilas dengan tatapan profesional namun tetap waspada. “Apakah Anda memiliki janji temu sebelumnya dengan beliau, Nona?”

“Tidak,” jawabku jujur.

Senyum sopan namun tetap menjaga jarak terukir di bibirnya. “Maaf, Nona. Tanpa janji temu, hampir mustahil untuk bisa bertemu langsung dengan Tuan Sherkan. Beliau sangat sibuk dan hanya menerima tamu yang sudah dijadwalkan.”

Sudah kuduga hal ini akan terjadi. Jika semudah itu bertemu dengan orang sekuat dan seterkenal Sherkan, maka seluruh orang yang memiliki kepentingan pasti sudah berbondong-bondong datang ke sini. Namun aku tidak berniat mundur selangkah pun. Aku datang dengan tujuan yang jelas, dan aku tidak akan pergi sebelum berhasil menyampaikannya.

“Katakan padanya bahwa Violet Wibisono ingin bertemu,” ucapku mantap.

Wanita itu tampak ragu sejenak, matanya bergerak sedikit seolah mempertimbangkan apakah ia harus menyampaikannya atau tidak. Namun akhirnya ia mengangguk pelan dan mengangkat telepon di hadapannya. “Permisi, ada seorang wanita bernama Violet Wibisono yang ingin bertemu dengan Tuan Sherkan. Ia tidak memiliki janji temu sebelumnya.” Ia terdiam sejenak, mendengarkan suara di seberang sana, sebelum tiba-tiba menambahkan dengan nada yang sedikit berubah, “Ehh, tunggu… apakah itu putri dari Nyonya Wibisono?”

Beberapa menit berlalu terasa sangat lama bagiku, hingga akhirnya ekspresi wajah resepsionis itu berubah—sedikit terkejut, namun juga lebih hormat dari sebelumnya. Ia meletakkan gagang telepon dan menatapku dengan senyum yang lebih tulus. “Silakan tunggu sebentar. Seseorang akan datang mengantar Anda.”

Aku mengangguk perlahan, merasakan detak jantungku yang mulai berpacu sedikit lebih cepat namun tetap berusaha menenangkan diri. Aku menarik napas panjang, menghembuskannya perlahan. Permainan ini baru saja dimulai, batinku.

Lima belas menit kemudian, aku berjalan menaiki lift khusus yang langsung menuju lantai paling atas gedung itu—lantai yang dikenal sebagai wilayah terlarang, yang hampir tidak pernah dimasuki oleh sembarang orang kecuali mereka yang memiliki wewenang tertinggi. Pintu lift terbuka perlahan, dan aku melangkah masuk ke ruangan kerja yang luas, megah, dan sunyi senyap. Di sana, tepat di depan jendela kaca raksasa yang menawarkan pemandangan seluruh kota dari ketinggian, berdiri sosok pria yang sudah aku kenal dari cerita dan ingatan masa lalu.

Sherkan Satria.

Tubuhnya tinggi dan tegap, dipenuhi aura wibawa yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Ia mengenakan setelan jas hitam yang rapi dan mahal, yang menonjolkan ketegasan dan kekuasaannya. Bahkan hanya dari punggungnya saja, aku bisa merasakan hawa dingin yang menyelimuti seluruh ruangan itu, seolah udara di sini saja sudah memiliki suhu yang lebih rendah dari tempat lain. Aku akhirnya mengerti mengapa orang-orang memberinya julukan Raja Es—karena ia benar-benar terlihat dingin, tak tergoyahkan, dan membuat siapa saja yang berada di dekatnya merasa tertekan tanpa perlu ia mengucapkan sepatah kata pun.

Perlahan, pria itu berbalik menghadapku. Tatapan matanya yang tajam dan dalam langsung jatuh tepat ke arahku, meneliti setiap inci wajah dan sikapku dengan ketajaman yang membuatku merasa seolah ia bisa membaca setiap rahasia yang tersembunyi di dalam hatiku. Di kehidupan sebelumnya, aku hanya bertemu dengannya beberapa kali, dan setiap pertemuan selalu berlangsung sangat singkat dan formal. Namun sekarang, aku berdiri tepat di hadapannya, berhadapan langsung dengan orang yang bisa menjadi kunci dari segala rencanaku.

“Aku dengar kau baru saja menolak lamaran keponakanku,” ucapnya dengan suara yang berat, dalam, dan tenang—namun di balik ketenangannya itu tersimpan kekuatan yang luar biasa. Nada bicaranya sulit ditebak, tidak ada tanda-tanda marah, tidak ada tanda-tanda senang, hanya datar dan penuh pengamatan.

Aku tersenyum tipis, berusaha menjaga ketenanganku di hadapan pria yang membuat banyak orang gemetar ketakutan. “Kabar memang bergerak sangat cepat di lingkaran kita.”

“Di dunia bisnis, kabar buruk selalu bergerak dua kali lebih cepat dibandingkan kabar baik,” jawabnya singkat namun penuh makna.

Aku hampir tertawa mendengarnya. Benar sekali. Penolakan yang aku lakukan terhadap Arga pagi ini pasti sudah menjadi bahan gosip utama di kalangan atas kota ini.

Sherkan berjalan perlahan menuju meja kerjanya yang besar dan terbuat dari kayu berkualitas tinggi, lalu duduk di kursi besar yang terlihat nyaman namun tetap memancarkan kekuasaan. Ia menyandarkan punggungnya dan menatapku terus tanpa berkedip, membuatku merasa seolah seluruh perhatiannya terpusat hanya padaku. “Jadi?” tanyanya singkat. “Untuk apa kau datang menemui saya? Menolak keponakanku, lalu datang ke sini—apa maksudmu sebenarnya?”

Aku tidak langsung menjawab. Aku tahu betul bahwa kesempatan ini hanya datang sekali. Jika aku membuat kesalahan langkah, jika aku salah mengucapkan kata-kata, maka semuanya akan berakhir di sini, dan aku tidak akan pernah mendapatkan kesempatan kedua. Aku menatap matanya dengan lurus, tidak berusaha menghindar sedikit pun, lalu dengan suara yang tegas dan penuh keyakinan, aku mengucapkan kalimat yang sudah aku persiapkan berulang kali di dalam hati.

“Aku ingin menikah dengan Anda.”

Ruangan itu mendadak menjadi sunyi senyap. Bahkan udara di dalamnya terasa berhenti bergerak sejenak. Sekretaris wanita yang berdiri dengan hormat di sudut ruangan langsung membelalakkan matanya, mulutnya sedikit terbuka karena terkejut mendengar apa yang baru saja aku ucapkan. Aku bisa melihat keterkejutan yang sulit disembunyikan terpancar dari wajahnya. Namun di sisi lain, Sherkan tetap terlihat tenang—terlalu tenang untuk ukuran orang yang baru saja mendengar permintaan yang tidak masuk akal dari seorang wanita yang baru saja menolak keponakannya sendiri. Ia hanya mengangkat satu alisnya perlahan, seolah ingin memastikan apakah ia tidak salah mendengar, atau apakah aku benar-benar mengerti apa yang baru saja aku ucapkan.

1
vj'z tri
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/ kan kan kan kena jawaban sendiri
vj'z tri
kedekatan iniiiiii janganlah cepat berlalu uuu ...kedekatannn iniii ingin ku kenang selaluuuu ,hati ku damai jiwa ku tenang di samping muuuu ahayyyyy aselole🤭🤭🤭
vj'z tri
wes langsung termo jari ku 🤣🤣🤣🤣🤣
Amidah Anhar
maaak bab selanjutnya pengumuman Meraka udah jadi sepasang suami istri iya..
pengen tahu reaksi mereka 🤣🤣🤣🤣
Miss Typo
aku suka aku suka
aku padamu Sherkan ♥️🫰

apa Sherkan juga mengulang waktu mengulang masa lalu, jadi dia tau semuanya yg disembunyikan Violet? 🤔
Maria Kibtiyah
kayakmya sherkan tau apa yg di alamin violet di masa lalu
Miss Typo
ku pikir Sherkan mau duduk di meja rias trs menarik pinggang Violet untuk memakaikan dasinya itu 🤣
ternyata aku salah dgn pikirin ku sendiri 😁
Ayudya
sherkan suami yg terbalk
Ayudya
lanjut kak
Amidah Anhar
Maaak aku belum move-on dengan nama sherkan nya Elf 🤭🤭🤭🤭
Evve Miss Plot twist: yang ini bakal bikin jauh lebih ga bisa bikin move on makkk😍🤭
total 1 replies
Maria Kibtiyah
sherkan gak ketebak kira2 apa rencana dia
Maria Kibtiyah
semangat mak semakin menarik😍
Maria Kibtiyah: 😍😍😍😍😍
total 2 replies
Silvia
lagi Thor semangat💪💪
Evve Miss Plot twist: ok mak😍
total 1 replies
Nana Colen
semangat thooooor.... lanjut up lagi dan kalau bisa tolong dong lanjutin cerita nya dalam cengkraman badai
Evve Miss Plot twist: siap makkk sudah update lagi 1 bab, tunggu review yah
total 2 replies
Nana Colen
aaah orang kaya mah pasti udah diselidiki duluan ath neng violet... dari makanan favorit hobinya apa dan sebagainya 😁😁😁😁
Nana Colen
thor aku mau tanya... apakah ayahnya violet saat ini sudah berada drumah sakit atau gimana aku kurang nggeuh
Nana Colen
aku ucapkan Terima kasih thor mau berkarya lagi di NT.... aku kangen banget dengan cara dan gaya mu dalam membuat novel selalu banyak kejutan dan takateki 😍😍😍😍😍
Miss Typo
kalian berdua ngegemesin deh 😍

semangat Mak Eva 💪🥰
wiliss
alhamdulilllah saahh? saaahhhhh🥰🙏
Nana Colen
balaslah dengan elegan violet... kamu bukan cewek lemah dan bodoh 💪💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!