Jiang Qiuye, putri tabib Jiang begitu sedih setelah tahu bahwa dirinya bukanlah putri kandung dari orang yang telah membesarkannya selama lima belas tahun.
Apalagi saat ia tahu bahwa ayah kandungnya tidak menginginkannya bahkan tega membuangnya begitu saja.
Untuk itu Qiuye berusaha agar bisa masuk ke dalam istana dan berharap mendapatkan informasi mengenai dirinya dan keluarga aslinya itu.
Akan tetapi perjuangannya tidak lah mudah, Qiuye harus menghadapi berbagai macam rintangan. Bahkan ayah kandungnya yang telah mengetahui bahwa dirinya masih hidup pun, menjadikannya sebagai buronan istana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novi niajohan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18. Mencari informasi
"Yang Mulia, bolehkah hamba masuk ke dalam ruang arsip istana?" tanyaku secara langsung.
"Liontin giok yang ku berikan hanya untuk kebebasanmu mengelilingi istana ini, tapi bukan berarti kau bisa masuk ke dalam ruang istana begitu saja tanpa kepentingan yang jelas. Lalu kau ingin pergi ke ruang arsip istana? Tujuanmu untuk keperluan apa?" tanya Putra Mahkota.
"A-aku ---"
Nona Huang menahanku agar tidak bicara, sehingga aku terdiam dan menunggunya.
"Yang Mulia, sebelumnya Qiuye meminta ijin pada hamba untuk masuk ke ruang arsip istana. Tapi karena hamba tidak punya kekuasaan seperti itu, maka hamba membawa Qiuye kesini untuk meminta ijin kepada Yang Mulia secara langsung."
"Kamu bilang begitu? Kamu meminta ijin padanya?" tanya Putra Mahkota dan aku menggangguk.
"Tapi untuk apa?"
"Katanya Qiuye ingin menemukan keberadaan teman ibunya yang sudah lama tidak ada kabar," ucap Nona Huang memotong.
"Apa ibumu seorang dayang?" tanya Putra Mahkota membuatku semakin keringat dingin.
"Bukan Yang Mulia," jawabku tidak bisa berbohong.
"Jika ibumu bukan seorang dayang, lalu bagaimana ibumu bisa kenal dayang di istana ini?" selidik Putra Mahkota.
"Ibu Qiuye bukan seorang dayang tapi teman masa kecilnya sebelum menjadi dayang," jawab Nona Huang sekenanya.
Putra Mahkota menghela nafasnya panjang dan memilih menyudahi saja perbincangan tersebut karena dianggap tidak berbahaya selama tidak berkaitan dengan keamanan istana.
"Hmm.. Baiklah, tapi arsip istana tidak bisa di masuki oleh seseorang tanpa ijin atau keperluan mendesak yang jelas."
"Untuk itulah hamba datang kesini Yang Mulia, hamba memohon agar Yang Mulia memberi Qiuye ijin agar bisa masuk ke ruang arsip istana," ucap Nona Huang terus memohon ijin.
"Hamba akan menjamin Qiuye, jika dia melakukan kesalahan. Maka hamba siap menerima hukumannya," sambung Nona Huang meyakinkan.
Putra Mahkota berpikir sejenak, namun perkataan nona Huang selanjutnya membuat Putra Mahkota akhirnya memberi ijin.
"Baiklah, kau boleh masuk ke ruang arsip istana."
"Benarkah Yang Mulia?" seruku dan Nona Huang bersamaan.
"Ya, tapi selama memasuki ruang arsip istana ada beberapa peraturan yang harus kau patuhi. Yang pertama kau tidak boleh mencuri apalagi membawa apapun yang ada di dalam ruang arsip, lalu yang kedua, kau tidak boleh mengacak-acak susunan buku di lemari dan yang terakhir, kau hanya diperbolehkan masuk ke dalam sana selama lima belas menit," ucap Putra Mahkota menjelaskan.
"Baik Yang Mulia Putra Mahkota, hamba akan selalu ingat peraturan tersebut," ucapku berterima kasih.
"Terima kasih Yang Mulia karena anda telah mempercayai hamba," tambah Nona Huang.
"Sama-sama," Putra Mahkota lalu memerintahkan kasim untuk mengantar Qiuye ke ruang arsip istana dan menunggunya hingga selesai.
Sedangkan Nona Huang masih berada di ruangan bersama dengan Putra Mahkota.
"Yao Er, aku tahu kau sedang berbohong padaku."
"Yang Mulia ... "
"Aku tahu jawabanmu tadi hanya alasan belaka yang dibuat-buat agar aku mengeluarkan ijin untuknya. Tapi yang tidak ku mengerti, kenapa kau melakukan semua ini? Dan kenapa kau mau membantu tabib kecil itu bicara?" selidik Putra Mahkota ingin tahu.
"Maaf Yang Mulia, hamba tidak bermaksud ingin membohongi Yang Mulia. Tabib Qiuye masih terlalu polos dan dia belum tahu cara menyampaikan sesuatu dengan benar, jadi hamba hanya membantu Qiuye menyampaikan keinginannya."
"Ya aku mengerti, tabib Qiuye masih muda dan belum mengerti. Tapi kau malah membantunya berbohong, aku tidak mengerti kenapa kalian bersikeras meminta ijin untuk masuk ke ruang arsip istana, tapi membohongi orang termasuk perbuatan salah. Jadi Yao Er, beritahu aku yang sebenarnya," desak Putra Mahkota.
Melihat wajah Qiuye yang mirip dengan permaisuri Liu sewaktu muda, membuat Putra Mahkota merasa ada yang harus ia ketahui lebih lanjut.
"Maaf Yang Mulia, hamba tidak bisa memberitahukan yang sebenarnya kepada anda, karena hamba telah berjanji sebelumnya pada tabib Qiuye. Akan tetapi hamba berani menjamin apabila tabib Qiuye tidak akan bertindak yang merugikan anda ataupun istana ini," balas nona Huang.
"Baiklah, aku percaya padamu."
"Terima kasih Yang Mulia," balas nona Huang.
...***...
Ruang Arsip Istana.
Sementara itu, aku telah tiba di ruang arsip istana setelah diantar oleh kasim pribadi Putra Mahkota.
"Silahkan masuk ke dalam dan jangan lupa waktu anda hanya lima belas menit," ucap penjaga ruangan itu padaku.
"Baik, terima kasih." Aku kemudian masuk ke dalam ruang tersebut, sementara sang kasim menungguku di luar ruangan sampai urusanku selesai.
Tidak ingin membuang waktu aku segera mencari data dayang dan pelayan disaat lima belas tahun kebelakang, disana aku melihat berbagai data dan informasi yang kuperlukan.
Seperti nama-nama mereka, alamat tempat tinggal, keluarga bahkan skandal-skandal yang pernah dialami.
Namun dari semua yang disebutkan, aku tidak menemukan satu nama pun yang cocok dengan dugaanku.
"Bukan mereka, tidak ada dayang atau pekerja disini yang memiliki anak dan keluar dari istana saat musim gugur."
"Permisi Nona, waktu anda sudah habis." Penjaga ruang arsip memberitahuku.
"Baik Tuan," balasku menurut. Lalu keluar dari ruang itu.
"Apa sudah menemukan yang anda cari Nona?" tanya Kasim.
"Belum Tuan, tapi aku rasa dayang yang aku cari tidak ada disini."
"Hmm. Begitu, mari kita kembali."
"Baik Tuan," jawabku patuh. "Oh iya Tuan, apa ada ruang arsip lain?" tanyaku kemudian sambil berjalan beriringan menuju ruang istirahat khusus tamu kediaman Huang.
"Disini hanya ada dua ruang arsip, pertama ruang arsip untuk pekerja dan satu lagi adalah ruang arsip keluarga istana," jawab Kasim.
"Ruang arsip keluarga istana?"
"Ya, di ruang arsip itu terdapat silsilah keluarga istana. Ada nama-nama raja terdulu, informasi permaisuri dan anggota keluarga istana lainnya. Dan ruang tersebut dijaga sangat ketat oleh penjaga, orang biasa tidak boleh masuk kesana. Bahkan anggota keluarga istana harus meminta ijin terlebih dahulu," jawab Kasim.
"Lalu siapa yang boleh memberi ijin untuk masuk ke dalam sana?" tanyaku ingin tahu.
"Hanya ketua mata-mata negara ini. Jenderal muda Guan Yu, penjaganya pun adalah orang-orang terlatih milik kediamanan Jenderal." balas Kasim.
"Jenderal muda Guan Yu," ucapku. "Apa dia adalah putra Jenderal besar?" tanyaku kemudian.
"Benar, ayahnya adalah Jenderal besar negara ini. Dan ia sedang menjaga keamanan di perbatasan utara," balas Kasim.
Aku terdiam memikirkan sesuatu, terlintas kembali dalam benakku akan kata-kata ayah sewaktu itu. Dimana ayah pernah mengucap kata Jenderal Besar.
Apa aku perlu mencari informasi mengenainya juga? Tapi butuh berapa banyak nyali agar aku berani mengorek informasi darinya.
"Nona Qiuye kita sudah sampai," ucap Kasim.
"Iya Tuan, terima kasih karena telah mengantarku."
"Sama-sama," balas Kasim lalu pergi ke ruang putra mahkota kembali.
...Bersambung....