NovelToon NovelToon
Saat Istriku Setuju Bercerai

Saat Istriku Setuju Bercerai

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Penyelamat
Popularitas:25.5k
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad Yunus

Gavin tidak menyangka istri yang dulu berbuat licik demi menikah dengannya, Tiba-tiba setuju bercerai.

Dua tahun menikah dengan rasa dendam, Gavin tidak pernah benar-benar mengenal sosok Azalia, ah, lebih tepatnya tidak peduli.

Perceraian yang dinanti itu akhirnya akan segera terwujud. Gavin sudah tidak sabar menunggu kedatangan kekasihnya yang dulu pergi karena dirinya terpaksa menikah.

Lantas apakah perceraian yang dinanti Gavin akan benar-benar terwujud?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Yunus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kencan

"Gosip murahan dari mana, yang bilang Presiden Direktur membenci istrinya?"

Gavin yang dikenal dingin, selalu menjaga jarak dari siapa pun, kini berjalan dengan tenang bersama istrinya, tangannya menggenggam erat tangan Azalia.

Karyawan yang mereka lewati sepanjang jalan, beberapa sekretaris dan manajer tingkat tinggi seketika menghentikan aktivitas mereka. Mata mereka diam-diam melirik ke arah pasangan itu, tak percaya dengan pemandangan yang mereka saksikan.

"Lihat, bagaimana dia menggandeng tangan istrinya." bisik salah satu dari mereka.

Bukan dengan genggaman sekedarnya, melainkan dengan mantap. Seolah memastikan Azalia tetap berada di sisinya.

Yang orang tahu, selama ini hubungan mereka tidak baik. Bahkan Gavin tidak membiarkan istrinya lebih lama di perusahaan selesai mengirim bekal.

Gavin tidak menghiraukan kehebohan yang dia ciptakan. Dia bertindak seolah-olah menggandeng Azalia adalah hal yang sudah biasa di lakukan.

Sementara itu, Azalia sendiri menundukkan wajahnya sedikit. Bukan karena malu, tapi karena dia sadar betul bahwa pemandangan ini sangat langka. Dia tahu semua orang sedang memperhatikan mereka dan dia juga tahu, Gavin bukan tipe yang suka menunjukkan kelembutan di hadapan banyak orang.

Jadi, kenapa hari ini berbeda?

Sampai mereka tiba di luar gedung, Gavin tak sekalipun melepas genggamannya. Bahkan saat dia membukakan pintu mobil untuknya, tangannya hanya terlepas sebentar sebelum kembali meraih tangan Azalia, membantunya masuk.

"Kenapa kau terus menggandeng tanganku?" akhirnya Azalia bertanya.

Gavin meliriknya sekilas, alisnya terangkat ringan. Dia juga tidak langsung menjawab, menarik napas pelan, lalu menatap lurus ke depan.

"Apakah tidak boleh?"

Tentu saja boleh. Hanya saja itu terlalu mengejutkan bagi Azalia.

"Jadi kau ingin ku antar ke mana?"

"Akan ku tunjukkan nanti."

Ragu, Gavin menoleh padanya. Ekspresinya menunjukkan itu, tapi dia tidak mengungkapkannya.

Azalia tersenyum tipis. "Kau takut aku melupakan jalannya?"

Tentu saja.

Tapi nyatanya Gavin hanya diam. Sampai pada akhirnya Azalia melanjutkan, "Jangan khawatir, aku sering datang ke sana. Jadi aku tidak mungkin melupakan itu."

Karena Azalia sudah berkata demikian, Gavin tidak berpikir lagi untuk menginjak gas. Sesuai instruksi Azalia, mereka berbelok ke sebuah gang.

Di dalam sana, pedagang kaki lima berjajar sepanjang bahu jalan. Gavin tidak pernah tahu ada tempat seperti ini di sisi kota. Banyak orang berlalu lalang dan berbagai aroma makanan menguar di udara.

Akhirnya Azalia memintanya memarkirkan mobil. Mengajak dia berjalan di sepanjang jalan itu.

Seperti apa yang ia lakukan tadi, Gavin pun masih menggandeng dia di sisinya, sementara matanya menyapu semua jajanan yang bisa ia jangkau.

"Belum ada yang ingin kau beli?" Gavin meliriknya sekilas.

"Ada di sana, di bagian ujung. Aku ingin memakan itu. Kau juga akan menyukainya."

Azalia bersemangat menarik tangan Gavin, membawanya berhenti di depan sebuah stand sederhana.

Ubi bakar Cilembu. Itu yang tertulis di atas stand sederhana itu.

"Ubi?" tanyanya, seolah itu bukan makanan yang pantas dipilih.

Tapi Azalia mengangguk bersemangat. "Percayalah, Ubi disini enak."

Penjual itu seorang wanita paruh baya. Hampir semua bagian rambutnya sudah memutih, tapi dia memiliki senyum yang hangat. "Azalia, lama tidak melihatmu. Kupikir kau sudah tidak akan mampir ke sini lagi."

"Tidak ada ubi yang enak dari buatanmu. Belakangan ini aku hanya sedikit sibuk saja."

Lalu pandangan wanita itu jatuh pada Gavin. Matanya mengawasi dengan teliti, lalu tersenyum lebar dan malu-malu. "Apa dia suamimu?"

Azalia tidak mampu menjawab. Dia hanya tersipu, tersenyum simpul.

"Kau sangat pandai memilih suami. Dia sangat tampan!" Wanita itu tertawa renyah menggoda mereka. "Baiklah, kalian pasti sudah lapar. Seperti biasanya, kan?"

Azalia mengangguk.

Tidak lama menunggu, pesanan mereka selesai dibuat. Azalia menarik Gavin ke taman, mengajak dia duduk di bangku sederhana di bawah pohon.

"Gavin, ini ubi bakar paling enak yang pernah aku makan. Kupas dulu foilnya seperti ini."

Karena terlalu bersemangat, Azalia sampai lupa jika apa yang ada di tangannya baru saja selesai dimasak. Asapnya masih mengepul, dan rasa panas itu membakar kulitnya yang tipis.

"Panas, Azalia! Berhati-hatilah!" kesal Gavin. Dia menarik jemari Azalia yang memerah, meniup jari-jari itu perlahan.

Begitu sentuhan hangat itu terasa dijemarinya, Azalia mendadak membeku.

Hembusan napas Gavin yang menyentuh kulitnya terasa lembut, hangat, dan asing secara bersamaan. Jantungnya berdetak lebih cepat, dan entah mengapa udara di sekitarnya terasa lebih sunyi. Semua suara riuh di taman seolah meredup, menyisakan hanya detak jantungnya sendiri yang kini berdebar tak beraturan.

Diam-diam Azalia memperhatikan wajah Gavin. Rahang pria itu yang tegas, sorot mata yang menyimpan kekesalan, tapi juga ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang lebih lembut.

Azalia menelan ludah.

Selama ini, kedekatan mereka selalu terasa dingin dan penuh jarak. Namun, kali ini berbeda. Ada perhatian di sana, kehangatan yang menyelusup begitu saja tanpa aba-aba.

Saat bibir Gavin terus meniup luka kecil di jarinya. Azalia bisa merasakan hembusan napas itu menyentuh kulitnya. Dan tanpa sadar, jari-jarinya sedikit menggenggam telapak tangan Gavin.

Seketika, Gavin berhenti.

Dia baru sadar sedekat apa wajahnya dengan Azalia saat ini.

Untuk beberapa detik, rasanya jantungnya berhenti berdetak, lalu menjadi lebih kencang setelahnya.

Gavin berdehem, melepas tangan Azalia. "Lain kali hati-hati! Kau bukan anak kecil yang tidak bisa membedakan panas atau tidak. Bahkan asapnya masih mengepul, kau sungguh tidak sabaran."

Kekesalannya hanya untuk menutupi salah tingkahnya saja.

Tapi Azalia benar-benar sudah membelah ubi itu menjadi dua, Gadis itu meniup uap yang masih mengepul. Dia menyodorkan sepotong pada Gavin. "Coba ini."

Gavin memandangi potongan ubi yang masih hangat di tangan Azalia, lagu sejenak sebelum akhirnya menerimanya. Dia menggigitnya perlahan.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia merasa ubi bakar bisa benar-benar enak. Lembut, sedikit berair, dengan rasa manis alami yang lebih kaya.

Azalia mengamati ekspresinya, lalu terkekeh pelan. "Bagaimana rasanya, enak?"

Gavin mengunyah perlahan, lalu melirik Azalia sejenak. "lumayan."

Azalia tertawa.

"Bilang saja kalau kau suka, kapan-kapan kita datang lagi ke sini."

Gavin hanya berdehem sekenanya.

Tapi kali ini, Azalia tidak bisa berhenti tersenyum. "Tunggu di sini, aku akan membelikanmu minum."

Azalia melangkah menuju tepian jalan, menunggu celah yang cukup untuk menyebrang. Lalu, saat jalur sepi, dia mulai melangkah.

Namun, suara deru mesin yang mendadak menderu kencang dari sisi lain jalan menarik perhatian Gavin.

Refleks, mata pria itu melebar. Jantungnya serasa berhenti sedetik sebelum berdebar tak terkendali.

"AZALIA!!"

Suara teriakan Gavin mengema di antara kebisingan kota. Tanpa pikir panjang, Gavin meleset secepat mungkin, sekuat mungkin.

Ban mobil itu mencicit di aspal, lajunya tak melambat justru semakin cepat.

Dan....

1
Dede Dedeh
sedihhhhh
Rahma Inayah
km liat sendri kan ren berapa Gavin peduli dan cnt nya mkn jg SDH bucin pada azalia.lpakn Gavin ren ..GK ush terlalu berharap akan kmbli pada Gavin
Ais
huh kupikir renata tulus sm azalia ngak taunya bangke juga ini perempuan🤣🤣🤣
Bela Viona
udah lah ren,lu berharap apa sama suami orang. mungkin kalian tdk berjodoh.
kamu cantik,msh bisa mendapatkan laki² yg lbh baik. bkn suami org.
muna aprilia
lanjut
Erni Kusumawati
kan..kan..gak percaya saya Renata dg ikhlas menerima begitu saja,pasti dia akan membuat perhitungan dg Azalia..see terbukti 🤬🤬
Dew666
😍😍😍
Erni Kusumawati
semoga Renata beneran tulus mau menjenguk Azalia
Ila Latifah
ntar ketika cinta cintanya, azalia mati. kayaknya puas deh🤣
Vie
karena saat itu kamu hanya sekedar menyukai bukan mencintai dengan setulus hati kamu, tapi sekarang kamu menyayangi dan mencintai Azalia dengan sepenuh hati kamu.... 🥰🥰🥰
Rahma Inayah
makanya Marta jgn main2 SM Gavin km pikir Gavin GK tau km yg SDH mau mencelakai azalia km Lp siapa Gavin orang berpengaruh mudah bgi nya utk mendptkan data mu apalgi pas di lacak plat mobil mantan sang mertua yg ingin mencelakai ank kandung nya sendiri
Ais
lanjut thor👍
Hani Ekawati
Wah di apain tuh si Marta.
Bagus sih si Marta di kasih hukuman, lagian mau mencelakai anak kandungnya sendiri. Apalagi orang yang mau di celakai istri seorang Gavin.
Hani Ekawati
Ternyata kamu pelaku nya🙄
Ibu macam apa kamu, mau mencelakai anak kamu sendiri
Vie
siksaan dari seorang Gavin....
Vie
kamu akan mati kayaknya..
Vie
dasar gak waras... punya anak cuman satu2nya malah mau dicelakai... dasar sinting. 😡😡😡
Vie
kenapa tuh,apa ada yang sengaja mau jahatin Azalia atau murni emang pengendara gila... 😱😱😱
Dew666
💟💟💟
Rahma Inayah
oh..Alaa emak nya sendri yg mau bunuh darah daging nya sendri demi ambisi dan balas dendam nya tp nihil yg ada km akan di buat menderita hidup mu oleh Gavin .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!