Kaelen Voss, pemuda yang dianggap sampah karena tak memiliki kekuatan apa pun seketika mendapatkan kekuatan legendaris Sistem Penguasaan Elemen. Dia mampu mengendalikan segala elemen, dari dasar hingga yang terkuat. Melalui perjalanan dan pertempuran, dia bangkit dari keterpurukan, mengungkap rahasia masa lalu, dan akhirnya mengalahkan penguasa kegelapan untuk menjadi sosok terhebat yang menguasai segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sandra Yandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kau Adalah Cahaya Yang Memadat
Di balik pilar, Lira menjerit tertahan menutup mulutnya. Dimas mengepal tangannya erat hingga kuku menusuk daging. Guru Hanes memejamkan matanya tak sanggup melihat.
Namun di tengah hujan duri maut itu, Kaelen tidak berusaha melompat atau berlari. Dia tidak menghindar. Dia berdiri diam dengan tatapan matanya menatap setiap pergerakan duri-duri itu, melihat struktur energi yang sama persis dengan makhluk di hadapannya.
"Terlalu cepat untuk dihindari. Tapi tidak terlalu cepat untuk dipahami," gumam Kaelen pelan.
Kaelen menggerakkan kedua tangannya melingkar di udara. Dia membentuk pola aneh. Dia mengerahkan elemen Tanah dan Kristal yang baru dia miliki, lalu memancarkan gelombang resonansi yang halus namun luas ke seluruh lantai dan udara di sekelilingnya.
[KEMAMPUAN: RESONANSI KESEIMBANGAN DIPAKAI.]
[EFEK: MENYEARASKAN FREKUENSI DIRI DENGAN LINGKUNGAN DAN OBJEK DI SEKITAR. MEMBATALKAN SIFAT KERAS DAN TAJAM SEMENTARA.]
Keajaiban terjadi. Saat duri-duri kristal itu tinggal beberapa sentimeter lagi dari tubuh Kaelen, benda-benda yang sekeras berlian dan setajam pisau itu tiba-tiba kehilangan sifat kekerasannya. Mereka seolah berubah menjadi kabut cahaya yang halus, melambat, dan berbelok arah. Mengalir lembut menyusuri lengan dan tubuh Kaelen tanpa melukai sedikit pun, lalu menghilang masuk ke dalam pori-pori kulitnya.
Serangan maut itu berubah menjadi aliran energi murni yang langsung diserap dan dipelajari.
Wali Kristal itu tampak terkejut, meski wajahnya yang terbuat dari kristal tidak memiliki ekspresi. Dia mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi. Cahaya di seluruh ruangan semakin menyilaukan. Dari langit-langit gua, ribuan sinar laser tipis namun mematikan jatuh menghujani Kaelen dari segala arah. Sihir pemantulan dan penusukan tingkat tinggi. Sebuah serangan yang mustahil dihindari dan sulit ditahan.
Namun lagi-lagi Kaelen tetap tenang. Kali ini dia mengerahkan elemen Kristal yang ada di dalam dirinya ke permukaan kulit. Tubuhnya seketika dilapisi cahaya putih keperakan yang sama persis dengan warna makhluk di hadapannya. Dia meniru sifat pemantulan mutlak Wali Kristal itu sendiri.
TING..
TING..
TING..
Semua sinar yang menyambar tubuhnya terpantul kembali sempurna, tepat ke arah asalnya. Kemudian mengenai tubuh Wali Kristal itu sendiri. Makhluk raksasa itu terhuyung mundur beberapa langkah karena serangannya sendiri berbalik menyerang dirinya.
"Kau... kau bisa meniru sifatku? Kau bisa menyelaraskan dirimu dengan esensi Kristal?" gema suara Wali Kristal terdengar penuh keheranan. "Siapakah kau sebenarnya, anak manusia? Tidak ada makhluk hidup yang bisa melakukan hal ini. Menyatu dengan struktur energi. Itu adalah rahasia tertinggi para Dewa Elemen."
"Aku bukan meniru. Aku memahami," jawab Kaelen sambil melangkah maju selangkah demi selangkah. Semakin mendekati panggung. "Setiap elemen punya aturan. Punya ritme. Punya jiwanya sendiri. Kau adalah Kristal. Kau adalah Cahaya yang memadat. Dan aku... aku adalah dia yang mendengarkan dan membuat semua itu menjadi milikku."
Kaelen mengangkat kedua tangannya ke arah sosok raksasa itu. Dia tidak lagi menghindar atau menangkis. Dia membuka dirinya selebar-lebarnya.
[KEMAMPUAN UTAMA DIAKTIFKAN: PENYERAPAN MUTLAK - TINGKAT MAKSIMUM.]
[TARGET: INTI ENERGI WALI KRISTAL.]
[METODE: PENYELARASAN PENUH. MENJADI SATU DENGAN OBJEK SEBELUM MENARIKNYA.]
Dari telapak tangan Kaelen muncul dua aliran cahaya putih keperakan yang sangat terang, menyambungkan dirinya langsung ke dada Wali Kristal, tepat ke Inti Ungu yang berdenyut itu.
Makhluk raksasa itu gemetar hebat. Tubuhnya yang kokoh seolah ditarik oleh gaya gravitasi raksasa yang berasal dari sosok kecil di bawah sana. Dia berusaha melawan. Berusaha mempertahankan wujud dan energinya. Cahaya ungu di dadanya menyala semakin terang, memancarkan tekanan dahsyat yang mengguncang seluruh gua. Retakan-retakan mulai muncul di dinding gua. Kristal-kristal besar jatuh berderai dari langit-langit.
"Kaelen! Lari! Gua ini akan runtuh!" teriak Guru Hanes dari kejauhan, suaranya parau karena ketakutan.
Namun Kaelen seolah tidak mendengar seruan itu. Seluruh kesadaran dan konsentrasinya kini terhubung sepenuhnya dengan Inti Energi di hadapannya. Baginya, guncangan gua. Kristal yang runtuh, atau bahaya yang mengancam nyawa hanyalah hal sekunder. Di matanya hanya ada satu hal yang penting yaitu memahami, menyerap, dan menguasai esensi murni elemen Kristal yang sedang berjuang mempertahankan dirinya itu.
"Jangan melawan. Biarkan saja," bisik batin Kaelen. Suaranya bergema langsung ke dalam kesadaran Wali Kristal. "Kau tidak akan musnah. Kau hanya berubah bentuk. Dari sekadar energi liar, kau akan menjadi bagian dari kekuatan yang lebih besar. Kekuatan yang akan membawa esensi ini ke tingkat yang jauh lebih tinggi dari pada sekadar menjaga gua ini selamanya."
Kata-kata itu, yang terucap bukan dengan suara lisan melainkan melalui getaran jiwa dan energi, seolah menembus ketahanan terakhir makhluk purba itu. Perlawanan yang keras itu perlahan melemah. Cahaya ungu yang tadinya menyala ganas kini berdenyut pelan, seolah mendengarkan dan mempertimbangkan tawaran yang belum pernah didengarnya sejak ribuan tahun lalu.
"Membawa ke tingkat yang lebih tinggi," gema suara Wali Kristal bergema lemah di dalam benak Kaelen. "Selama ribuan tahun aku ada di sini. Hanya menjaga. Diam... dan menunggu. Tidak ada yang memahami. Hanya ada yang ingin menghancurkan atau mengambil paksa. Kau satu-satunya yang datang untuk mendengarkan."
Guncangan di sekeliling perlahan mereda. Retakan di dinding gua berhenti melebar. Kristal-kristal yang sempat jatuh melayang kembali ke tempat asalnya dikendalikan oleh kesadaran makhluk raksasa itu sendiri yang kini memutuskan untuk berhenti melawan.
Wali Kristal itu menundukkan kepalanya yang besar dan megah ke arah Kaelen. Cahaya di sekujur tubuhnya perlahan memudar. Beralih menjadi aliran cahaya halus yang murni dan indah. Kemudian mengalir deras seperti sungai bercahaya, masuk tanpa hambatan ke dalam kedua telapak tangan Kaelen yang terbuka lebar.
"Terimalah warisan ini. Pengetahuan tentang kekerasan, kemurnian, dan cahaya. Jadilah pembawa esensi ini. Penguasa Elemen."
Suara itu menghilang perlahan bersamaan dengan hancurnya wujud fisik Wali Kristal. Tubuh raksasa yang sekeras berlian itu berubah menjadi debu cahaya yang berkilauan. Menyisakan hanya satu benda yaitu sebuah Inti Kristal besar berbentuk segi delapan berwarna ungu bening, memancarkan getaran kekuatan yang begitu pekat hingga membuat udara di sekitarnya berdenyut.
seperti biasa kakak selalu putus tengah jalan😩...suasananya seru+ kepo tau..../Scream/