Hari yang seharusnya menjadi puncak kebahagiaan Humairah berubah menjadi mimpi buruk saat Abraham, calon suaminya, melarikan diri tepat sebelum akad nikah dimulai karena ketidaksiapan mental. Demi menutupi aib besar keluarga, ayah Abraham—seorang Kyai terpandang—mengambil keputusan nekat untuk menikahkan putranya, Ustadz Fathan Kareem,yang sekaligus kakak Abraham untuk menggantikan posisi mempelai pria.
Fathan akhirnya mengucap ijab kabul. Namun, di balik wajah tenangnya, Fathan menyimpan luka masa lalu yang belum sembuh akibat pengkhianatan mantan kekasihnya. Ia membangun tembok tinggi di hatinya dan menegaskan sebuah janji dingin kepada Humairah di malam pertama mereka:
"Kita menikah hanya di atas kertas. Jangan harapkan hati, apalagi cinta."
Kini, Humairah harus berjuang dalam pernikahan tanpa kasih sayang, sementara Fathan terus berperang dengan traumanya. Akankah ketulusan Humairah mampu meruntuhkan dinding ustadz.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Suasana di meja makan yang seharusnya tenang setelah sarapan, mendadak kembali memanas.
Kyai Umar meletakkan gelas susu kedelainya, lalu menatap Humairah dengan binar bangga yang tak bisa disembunyikan.
"Humairah," panggil Kyai Umar lembut. "Abah perhatikan cara mengajimu tadi subuh sangat bagus. Tajwid dan makhorijul hurufmu sempurna. Mulai hari ini, Abah minta kamu untuk mulai mengajar di kelas santriwati. Gantikan Ustadzah halaqah pagi yang sedang cuti."
Humairah tertegun, matanya membulat. "Saya, Bah? Tapi saya..."
"Abah, saya keberatan," potong Fathan tiba-tiba. Suara baritonnya memotong udara dengan dingin.
Ia meletakkan sendoknya dengan bunyi denting yang keras.
"Mengajar di pesantren ini bukan hanya soal suara merdu. Perlu mental dan kedalaman ilmu. Saya menganggap Humairah hanya akan menjadi beban bagi kurikulum kita jika ia belum siap."
Fathan menatap istrinya dengan tatapan meremehkan, seolah Humairah hanyalah orang asing yang mencoba menyusup ke wilayah sucinya.
Nyai Latifah langsung menyambar kesempatan itu untuk kembali menyudutkan.
"Benar kata Fathan, Bah! Dia itu sama sekali tidak layak menjadi istri seorang ustadz, apalagi mengajar di sini. Lihat saja riwayatnya, dia saja hanya lulusan SMA. Beda jauh dengan kedua putraku yang lulusan S2 luar negeri!"
Nyai Latifah mencibir ke arah Humairah yang kini tertunduk dalam, meremas ujung mukenanya di bawah meja.
"Malu-maluin pesantren kalau guru ngajinya cuma modal lulusan sekolah menengah. Apa kata wali santri nanti?"
Kyai Umar menghela napas panjang, wajahnya yang teduh kini tampak mengeras.
Beliau menatap istrinya dengan pandangan yang sangat tajam, sebuah teguran bisu yang jarang beliau tunjukkan.
"Nyai, ilmu itu luasnya dari Allah, bukan hanya dari selembar ijazah. Jangan pernah menyombongkan gelar di depan orang yang lebih beradab darimu," ucap Kyai Umar dengan nada rendah namun berwibawa.
"Tapi kenyataannya begitu, Abah! Gelar itu menunjukkan kualitas!" bantah Nyai Latifah tak mau kalah.
Kyai Umar tersenyum getir, lalu melirik ke arah kursi kosong yang seharusnya diduduki Abraham.
"S2? S2 seperti Abraham yang meninggalkan tanggung jawab dan mempermalukan keluarga tepat sebelum akad? S2 seperti itu yang Nyai banggakan?"
Pertanyaan telak itu membuat Nyai Latifah bungkam seketika.
Wajahnya memerah padam, sementara Fathan hanya bisa terdiam dengan rahang yang mengeras.
"Abah selalu saja membela wanita sihir ini! Dia sudah mencuci otak Abah!" teriak Nyai Latifah emosi, suaranya melengking memenuhi ruang makan.
"Nyai, cukup!!" bentak Kyai Umar.
"Keputusan Abah sudah bulat. Humairah akan mengajar pagi ini. Fathan, sebagai suaminya, kamu yang harus mengantarnya ke kelas santriwati dan memperkenalkannya. Jangan biarkan egomu merusak amanah ini."
Fathan tidak menjawab. Ia berdiri dari kursinya, memberikan isyarat dingin pada Humairah untuk segera mengikutinya.
Humairah melangkah dengan hati yang remuk; di satu sisi ia bersyukur atas kepercayaan Kyai Umar, namun di sisi lain, ia tahu bahwa setiap langkahnya di pesantren ini akan menjadi sasaran kebencian baru bagi suami dan ibu mertuanya.
Sesampainya di kamar lantai atas, Fathan menutup pintu dengan bantingan yang cukup keras hingga membuat bahu Humairah terlonjak.
Pria itu berbalik, menatap istrinya dengan tatapan yang penuh dengan kilatan amarah.
Ketegangan di meja makan tadi rupanya telah mencapai puncaknya di kepala Fathan.
Fathan melangkah maju, memangkas jarak hingga Humairah terdesak ke dekat meja rias.
Ia memandang wajah istrinya dengan tatapan menghakimi, seolah sedang menatap seorang terdakwa.
"Puas kamu membuat kami berselisih?" tanya Fathan dengan suara rendah yang mengancam.
"Puas kamu melihat Abah membentak Umi hanya untuk membelamu? Sepertinya predikat 'polos' yang kamu sandang itu benar-benar senjata yang ampuh untuk memecah belah keluargaku."
Humairah mendongak, matanya yang berkaca-kaca menatap langsung ke dalam manik mata Fathan.
Rasa sakit akibat tuduhan suaminya terasa lebih perih daripada hinaan Nyai Latifah.
"Astaghfirullah, Mas..." suara Humairah bergetar, namun ada ketegasan di sana.
"Demi Allah, tidak ada sedikit pun niat di hatiku untuk membuat Mas Fathan berselisih dengan Abah. Abah yang memintaku mengajar, dan aku tidak pernah memintanya. Aku bahkan tidak berani bermimpi untuk mengajar di sini."
"Jangan bawa-bawa nama Allah untuk menutupi ambisimu," desis Fathan sinis.
"Kamu tahu Abah sangat menghargai kemampuan mengaji, dan kamu sengaja memamerkannya tadi subuh agar Abah terkesan. Kamu cerdas, Humairah. Kamu tahu persis cara mengambil hati orang tua yang sedang merasa bersalah atas kelakuan anaknya."
Humairah menggeleng pelan, air matanya kini benar-benar luruh.
"Mas, jika Mas memang tidak mengizinkanku mengajar, aku akan menolaknya. Aku akan bicara pada Abah bahwa aku tidak sanggup. Aku lebih memilih diam daripada harus menjadi alasan Mas membenciku lebih dalam lagi."
Fathan terdiam sejenak, menatap lekat-lekat wajah istrinya yang tampak begitu rapuh namun tetap bersahaja.
Ada sekelibat keraguan di hatinya, namun ego dan luka masa lalu segera menutupinya kembali.
"Sudah terlambat," ucap Fathan ketus sambil berbalik memunggungi Humairah.
"Menolak perintah Abah sekarang hanya akan menambah keributan. Persiapkan dirimu. Aku akan mengantarmu ke kelas, tapi ingat satu hal: jangan buat kesalahan sedikit pun. Aku tidak akan segan-segan menghentikanmu jika kamu mempermalukan posisiku sebagai kepala pendidikan di sini."
Fathan menyambar sorbannya dan melangkah keluar kamar tanpa menoleh lagi, meninggalkan
Humairah yang terduduk lemas di tepi ranjang, meratapi nasibnya yang harus berjuang di antara pengabdian dan kebencian.
Baru beberapa langkah keluar, pintu kamar kembali terbuka dengan kasar.
Fathan melangkah masuk dengan langkah lebar, tangannya mencengkeram selembar kain hitam lembut.
Ia berdiri di depan Humairah yang masih menyeka sisa air matanya, lalu menyodorkan kain itu dengan gerakan yang tidak ramah.
"Mulai sekarang, pakai cadar," perintah Fathan tanpa basa-basi.
Humairah tersentak, menatap kain hitam di tangan suaminya dengan bingung.
"Cadar? Tapi Mas, biasanya ustadzah di sini hanya memakai hijab biasa..."
"Jangan membantah," potong Fathan cepat, suaranya naik satu oktav.
"Keputusan Abah sudah bulat. Kamu mengajar bukan hanya untuk santriwati, tetapi santri lainnya juga di aula terbuka karena kekurangan pengajar tajwid. Aku tidak ingin wajahmu menjadi fitnah atau bahan tontonan santri laki-laki."
Fathan menatap istrinya dengan pandangan yang sulit diartikan—antara protektif yang posesif atau sekadar ingin menyembunyikan wajah wanita yang telah membuatnya terpaksa menikah.
"Pakai itu setiap kali kamu keluar rumah atau mengajar. Aku tidak ingin ada mata yang memandangmu lebih dari sekadar guru. Mengerti?"
Humairah menerima kain itu dengan tangan gemetar. Ia tahu, di balik alasan "menghindari fitnah", ada keinginan Fathan untuk menutupinya dari dunia, seolah kehadirannya adalah sesuatu yang memalukan untuk diperlihatkan secara bebas.
"Baik, Mas. Jika ini yang Mas inginkan agar hatimu lebih tenang, aku akan memakainya," jawab Humairah lirih.
Dengan jari-jari yang masih kaku, Humairah mengikatkan cadar itu ke wajahnya.
Kini, hanya matanya yang indah dan teduh yang terlihat, namun di balik kain hitam itu, isaknya kembali tertahan.
Ia merasa dunianya semakin sempit dan gelap, tepat seperti warna kain yang kini menutupi separuh wajahnya.
Fathan hanya menatapnya sekilas, tidak ada pujian atas kepatuhan istrinya.
"Cepatlah. Kelas akan segera dimulai. Jangan sampai santri menunggumu lebih lama lagi."
Ia berbalik dan berjalan keluar, meninggalkan Humairah yang kini berdiri di depan cermin, menatap bayangan dirinya yang baru.
Sosok wanita tanpa wajah, yang suaranya mungkin akan dikagumi, namun keberadaannya tetap menjadi rahasia yang tak diinginkan oleh suaminya sendiri.
gak usah toleh lagi laki modelan begitu...
kau berhak bahagia....
dari pada dari pada..
lanjut thor🙏
apalagi anaknya sifatnya sama tidak jauh dari Mak lampir
ayo humaira kabur aja jangan tahan dipenjara sok suci ini
melawan si..
bantah sesekali Maklampir....
dan tinggalin Ajja si laki yg model begituan... GK adahatinya sama sekali...
sempah akubacanya sambil nangis 😭😭😭