Zayyan Mahendra membawa Lolly ke Swiss untuk merayakan kelulusannya sekaligus melamar wanita itu. Namun di saat Zayyan berharap cinta mereka berakhir bahagia, Lolly justru memilih pria lain.
Dengan hati hancur, Zayyan memutuskan pulang ke Indonesia. Tak disangka, di bandara ia bertemu kembali dengan teman lamanya dan membuat keputusan gila. Dia menikah Alin, teman lamanya itu.
Pernikahan tanpa cinta itu awalnya hanya pelarian. Tapi siapa sangka, takdir justru mempertemukan mereka pada cinta yang sebenarnya. Namun, keberadaan Lolly selalu mengganggu rumah tangganya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28
Alin menarik selimut lebih tinggi hingga ke dada, tubuhnya yang masih polos terasa dingin meski udara kamar nyaman. Matanya yang berkaca-kaca menatap Zayyan dengan campuran antara sakit hati dan amarah yang tertahan.
Zayyan duduk tegak di sampingnya, rambutnya acak-acakan, wajahnya yang tadinya damai kini tampak tegang. Ia menghela napas panjang, tangannya hendak meraih Alin tapi ditahan. Akhirnya Zayyan memilih berbicara dengan suara pelan dan serius.
"Baiklah... aku akan ceritakan semuanya dari awal. Aku nggak mau kamu salah paham, sayang."
Zayyan menatap mata Alin dalam-dalam sebelum melanjutkan.
"Aku dan Lolly pacaran hampir tiga tahun. Dulu aku benar-benar serius sama dia. Bahkan aku sudah melamarnya di Swiss. Tapi dia menolak. Alasannya yang jelas apa, aku tidak tahu. Tapi yang aku lihat dia berada di dalam kamar hotel dengan laki-laki lain Aku hancur saat itu. Rasanya ditolak oleh orang yang sudah aku bayangkan jadi ibu anak-anakku."
Zayyan berhenti sejenak, mengusap wajahnya.
"Setelah itu aku memutuskan pulang dari Swiss tanpa dia. Tapi saat di bandara aku tidak sengaja bertabrakan dengan mu, dan tidak sengaja menemukan dompetmu"
Alin mendengarkan tanpa memotong, tapi air matanya sudah jatuh pelan.
"Aku mengurung di selama tiga hari di dalam kamar sampai adikku menyadarkan ku. Aku yang sadar langsung memutuskan menemui mu untuk mengembalikan dompet yang aku temukan. Pertama kali aku melihatmu, aku merasa ada sesuatu yang berbeda. Kamu nggak seperti Lolly. Kamu hangat, kamu tulus, dan kamu membuat aku merasa ingin melindungi dan memiliki kamu sepenuhnya. Bukan karena aku patah hati, Alin. Tapi karena aku benar-benar jatuh cinta sama kamu."
Alin menatap tajam suaminya, suaranya bergetar saat bertanya:"Jangan bohong Zay, kamu pasti menikahiku hanya untuk pelampiasan rasa sakitmu kan?"
Pertanyaan itu menusuk. Zayyan langsung menggeleng kuat. "Itu tidak benar. Aku tidak ada niatan seperti itu. Aku menikahimu karena murni aku menginginkanmu. Aku ingin bangun setiap pagi melihat wajahmu. Aku ingin pulang ke rumah dan memeluk kamu. Bukan Lolly. Bukan siapa-siapa. Hanya kamu, Alin."
Alin mengusap air matanya kasar. Meski hatinya masih sakit, penjelasan Zayyan terdengar tulus.
"Tapi kenapa dia masih menghubungimu?" tanya Alin penuh selidik. "Katanya dia yang menolakmu?"
Zayyan mengangkat bahu, ekspresinya benar-benar bingung. "Aku tidak tahu soal itu. Karena sejak dia menolak lamaran ku, aku sudah tidak pernah bertemu dia lagi, ataupun menghubunginya. Mungkin dia dengar kabar kita sudah menikah dan tiba-tiba merasa kehilangan. Orang kadang begitu, baru sadar setelah kehilangan."
Alin diam cukup lama. Ia menunduk, memainkan ujung selimut dengan jari-jarinya. Zayyan mendekat pelan, kali ini Alin tidak menolak saat tangan suaminya meraih tangannya.
"Sayang... aku serius. Aku nggak ada hubungan apa-apa lagi sama Lolly. Kalau kamu mau, aku blokir nomornya sekarang di depan kamu. Atau aku balas pesannya dan bilang aku sudah menikah bahagia dan minta dia jangan hubungi aku lagi. Kamu yang putuskan."
Zayyan menarik Alin ke dalam pelukannya. Awalnya Alin kaku, tapi lama-kelamaan ia meleleh juga. Ia menyembunyikan wajah di dada bidang suaminya, menghirup aroma tubuh Zayyan yang sudah familiar.
"Aku takut kehilangan kamu..." bisik Alin, karena sudah menyerahkan mahkotanya pada Zayyan.
"Kamu nggak akan kehilangan aku," jawab Zayyan tegas sambil mengusap punggung istrinya. "Aku milikmu sepenuhnya. Tubuh, hati, dan masa depanku."
Zayyan mengecup puncak kepala Alin, lalu turun ke kening, pipi, dan akhirnya bibirnya. Ciuman itu lembut pada awalnya, tapi perlahan berubah hangat dan dalam. Tangan Zayyan mengusap lembut paha Alin yang masih pegal, seolah meminta maaf atas semua jejak yang ditinggalkannya.
Alin mendesah pelan di antara ciuman mereka. Meski hatinya masih gelisah, sentuhan Zayyan selalu berhasil membuatnya luluh.
"Janji ya?" bisik Alin di sela ciuman.
Zayyan menatap Alin dengan pandangan yang penuh tekad dan kasih sayang. Tanpa melepaskan pelukannya, ia berbisik lembut di depan wajah istrinya,
"Janji. Aku akan buktikan sekarang juga, sayang. Bahwa kamu satu-satunya yang aku inginkan. Satu-satunya yang bisa bikin aku gila seperti ini."
Alin masih ragu, tapi sentuhan hangat Zayyan dan suaranya yang dalam berhasil melelehkan pertahanannya. Air matanya masih menggenang, tapi ia membiarkan suaminya menindihnya pelan di atas kasur king size itu.
Zayyan mencium Alin dengan lembut pada awalnya, penuh kasih. Bibirnya menyapu bibir istrinya, lalu lidahnya menyusup masuk dengan perlahan, menari bersama lidah Alin. Ciuman itu perlahan semakin dalam, semakin panas. Tangan Zayyan merayap ke dalam selimut, mengusap pinggul Alin yang masih telanjang, lalu naik ke payudaranya yang lembut.
"Ahh..." Alin mendesah pelan di antara ciuman mereka. Tubuhnya yang masih sensitif langsung bereaksi. Putingnya mengeras di bawah telapak tangan Zayyan.
Zayyan menarik selimut hingga terlepas sepenuhnya, memperlihatkan tubuh Alin yang polos dan penuh jejak samar percintaan mereka sebelumnya. Ia menunduk, menciumi leher Alin, lalu turun ke dada. Mulutnya menyedot salah satu puting dengan lembut tapi rakus, lidahnya berputar di puncak yang sudah basah.
"Sayang... pelan..." rengek Alin, meski pinggulnya sudah mulai menggelinjang kecil.
Zayyan mengangkat kepalanya, matanya gelap penuh nafsu tapi juga penuh cinta.
"Aku nggak mau pelan hari ini. Aku mau kamu merasakan betapa aku mencintaimu."
Ia membuka paha Alin lebar-lebar, lalu menunduk di antara kedua kakinya. Tanpa aba-aba, lidahnya menyapu celah basah Alin dengan satu sapuan panjang.
"Akhh!!" Alin menjerit kecil, tangannya langsung mencengkeram rambut Zayyan.
Zayyan melahap istrinya dengan penuh semangat. Lidahnya menari di klitoris, sesekali menyusup masuk ke dalam, menjilat dan menghisap dengan rakus. Dua jarinya ikut bermain, memompa pelan di dalam sambil mulutnya terus bekerja. Alin menggelinjang hebat, pinggulnya naik turun mengikuti irama lidah suaminya.
"Zayyan... ahh... aku... aku..." erang Alin, napasnya sudah memburu.
Zayyan tak berhenti sampai Alin mencapai klimaks pertama. Tubuh istrinya mengejang hebat, cairan manisnya membasahi mulut Zayyan. Ia terus menjilat hingga getaran Alin mereda.
Baru setelah itu Zayyan naik ke atas, kejantanannya yang sudah sangat keras dan berdenyut menempel di pintu masuk Alin. Dengan satu dorongan pelan tapi dalam, ia menyatukan tubuh mereka sepenuhnya.
"Nngghh..." Alin menggigit bibirnya kuat, merasakan sensasi penuh yang masih terasa nyeri-manis karena aktivitas mereka yang intens sejak kemarin.
Zayyan mulai bergerak. Awalnya lambat dan dalam, setiap hantaman penuh perasaan. Ia menatap mata Alin tanpa berkedip, seolah ingin menanamkan setiap gerakannya ke dalam jiwa istrinya.
"Aku cinta kamu, Alin. Hanya kamu," bisiknya di setiap dorongan. "Lolly nggak ada artinya lagi. Kamu istriku. Kamu milikku."
Alin menangis lagi, tapi kali ini karena campuran emosi yang meluap. Ia memeluk leher Zayyan erat, kakinya melingkar di pinggang suaminya, membiarkan Zayyan semakin dalam.
Gerakan Zayyan semakin cepat, semakin kuat. Suara benturan tubuh mereka memenuhi kamar yang sepi. Keringat mulai menetes di dada bidang Zayyan. Ia mencium Alin liar, tangannya meremas payudara istrinya, sementara pinggulnya terus memompa tanpa henti.
Alin mencapai puncak untuk kedua kalinya, tubuhnya mengejang hebat di bawah Zayyan, dinding dalamnya memijat kejantanan suaminya dengan kuat.
"Zayyan... aku keluar lagi!! Akhhhh!!"
Zayyan mengerang dalam, beberapa hantaman terakhir yang sangat dalam dan brutal, lalu ia meledak di dalam tubuh Alin. Panas cairannya memenuhi istrinya sambil ia menggigit bahu Alin pelan.
Keduanya ambruk saling berpelukan, napas tersengal-sengal. Zayyan tak langsung keluar. Ia tetap di dalam Alin sambil memeluknya erat, menciumi kening, mata, dan bibir istrinya yang basah air mata.
"Aku akan balas pesan Lolly sekarang," kata Zayyan tiba-tiba sambil meraih ponselnya di nakas.
Di depan Alin, ia mengetik balasan:
"Lolly, aku sudah menikah dan sangat bahagia dengan istriku. Tolong jangan hubungi aku lagi. Semua yang dulu sudah selesai. Selamat menjalani hidupmu."
Ia menekan kirim, lalu langsung memblokir nomor Lolly di depan mata Alin.
"See? Hanya kamu," bisik Zayyan sambil meletakkan ponsel dan kembali memeluk Alin erat.
Alin tersenyum lemah, hatinya jauh lebih tenang sekarang. Ia menciumi dada suaminya dan berbisik,
"Maaf aku langsung curiga..."
"Nggak apa-apa. Aku senang kamu cemburu. Artinya kamu sudah sayang aku," jawab Zayyan sambil tertawa pelan.
Mereka berpelukan lama di bawah selimut, tubuh masih menyatu, hati semakin dekat. Sore itu, rumah mereka kembali dipenuhi kehangatan , bukan hanya gairah, tapi juga kepercayaan yang baru diperkuat.
lanjut Thor 💪💪💪
lanjut Thor 🔥🔥🔥