Elfesya terjebak perjodohan paksa dengan Ravion Arshaka, CEO angkuh yang terus menghinanya. Luka semakin dalam saat Elfesya tahu ayah Ravionlah yang menghancurkan bisnis ayahnya. Ia melarikan diri ke pesisir, hidup nestapa sebagai buruh ikan demi harga diri.
Sadar akan dosanya, Ravion melepaskan kemewahan demi menyusul Elfesya ke gubuk reyot. Di tengah bau laut dan kemiskinan, ego sang CEO runtuh demi meraih kembali hati sang sekretaris. Ini adalah kisah tentang pengkhianatan korporasi, penebusan dosa yang perih, dan cinta yang akhirnya berlabuh di dermaga ketulusan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah yang terasa asing
Hari kepulangan Elfesya menjadi momen yang sangat canggung bagi Ravion. Ia sudah menyiapkan kursi roda dan memastikan semua administrasi rumah sakit selesai tanpa kekurangan satu sen pun. Namun, saat mobil mewah Ravion berhenti di depan lobi apartemen penthouse pribadinya, Elfesya mengerutkan kening dengan wajah penuh kebingungan.
"Pak Ravion, kenapa kita ke sini?" tanya Elfesya sambil menatap gedung pencakar langit itu. "Kos saya tidak di daerah sini. Alamat saya ada di catatan karyawan, kan? Kenapa Bapak membawa saya ke apartemen Bapak?"
Ravion menarik napas panjang, mencoba tetap tenang meski hatinya terasa seperti diremas. Ia sudah menduga pertanyaan ini akan muncul.
"Kondisi fisikmu belum stabil, Elfesya," jawab Ravion dengan nada profesional yang dibuat-buat. "Dokter bilang kamu butuh perawatan intensif di rumah. Di kosmu yang lama tidak ada yang menjagamu. Di sini, aku sudah menyiapkan perawat pribadi dan fasilitas yang memadai."
"Tapi Pak, ini tidak pantas. Apa kata orang kantor kalau sekretarisnya tinggal di rumah bosnya?" Elfesya bersikeras, tangannya mencengkeram tas kecilnya dengan erat.
"Anggap saja ini fasilitas asuransi dari Arshaka Group," sahut Ravion cepat. "Aku tidak ingin asetku rusak karena kurang perawatan. Sekarang, mari turun."
Kebingungan Elfesya semakin memuncak saat pintu apartemen terbuka. Ia melihat Elric sedang duduk di meja makan, sibuk dengan tumpukan buku sekolahnya. Begitu melihat kakaknya, Elric hampir saja berteriak "Kakak!" dan menghambur memeluknya, namun ia segera melihat tatapan peringatan dari Ravion.
"Elric? Kenapa kamu ada di sini?" suara Elfesya meninggi karena terkejut. "Bukannya kamu seharusnya ada di asrama sekolah di luar kota? Kenapa kamu memakai seragam sekolah internasional ini?"
Elric menelan ludah, menatap Ravion dengan cemas. Ravion segera mengambil alih pembicaraan.
"Aku memindahkan Elric ke Jakarta, Elfesya," ucap Ravion santai sambil meletakkan kunci mobil di meja. "Biaya sekolahnya kini ditanggung sepenuhnya oleh yayasan perusahaan sebagai bentuk kompensasi atas kecelakaan yang menimpamu di area propertiku. Dia tinggal di sini supaya kamu tidak kepikiran dan bisa fokus pada pemulihanmu."
Elfesya menatap adiknya, lalu beralih menatap Ravion. "Kompensasi perusahaan sampai sejauh ini? Membayar sekolah mahal, apartemen mewah, bahkan memindahkan adik saya?"
"Arshaka Group sangat menghargai loyalitas karyawan," dusta Ravion yang terasa pahit di lidahnya. "Sudahlah, jangan banyak tanya. Elric, bantu Kakakmu ke kamarnya."
"Kamar saya yang mana?" tanya Elfesya.
Ravion menunjuk sebuah pintu kamar yang paling luas, yang dulu merupakan kamar mereka berdua. Namun, ia menyadari sesuatu. "Ah, maksudku... kamar yang itu. Kamar tamu utama. Aku tinggal di kamar sebelah."
Elfesya masuk ke kamar itu dan melihat pemandangan yang aneh. Di dalam lemari, terdapat banyak pakaian wanita yang sangat pas dengan ukurannya. Ada juga meja rias dengan produk kecantikan yang biasa ia gunakan.
"Kenapa pakaian di sini terasa seperti milik saya sendiri?" gumam Elfesya pelan, menatap sebuah blus yang sangat ia kenali.
"Itu... aku menyuruh asistenku membelikan yang baru berdasarkan data ukuranmu," bohong Ravion dari ambang pintu. "Sekarang istirahatlah. Elric, jangan ganggu Kakakmu dulu."
Malam harinya, suasana di apartemen itu sangat sunyi. Elric sudah masuk ke kamarnya, pura-pura belajar meskipun ia sebenarnya sangat ingin menceritakan semuanya pada kakaknya. Sementara itu, Elfesya duduk di tepi ranjang, merasa ada sesuatu yang hilang dari ingatannya. Kamar ini terasa begitu familiar, aroma jeruk yang memenuhi ruangan ini seolah-olah adalah aroma yang ia ciptakan sendiri.
Ia keluar kamar untuk mencari air minum dan melihat Ravion sedang berdiri di balkon, menatap lampu-lampu kota dengan segelas kopi di tangannya. Sosok pria itu tampak sangat kesepian, sangat berbeda dengan bayangan bos angkuh yang ia miliki di ingatannya.
"Pak Ravion?" panggil Elfesya pelan.
Ravion menoleh. Untuk sesaat, matanya memancarkan kerinduan yang sangat dalam, namun ia segera menyembunyikannya di balik topeng ketenangan. "Belum tidur? Kamu butuh sesuatu?"
"Terima kasih atas semuanya," ucap Elfesya. "Tapi saya merasa... ada yang Bapak sembunyikan dari saya. Kenapa Elric memanggil Bapak dengan sebutan 'Kak' secara tidak sengaja tadi sore? Dan kenapa Bapak terlihat sangat sedih saat melihat saya?"
Ravion mendekat, jarak mereka hanya terpaut satu meter. Ia ingin sekali merengkuh Elfesya, mengatakan bahwa wanita itu adalah istrinya, belahan jiwanya yang ia jemput dari pantai penuh lumpur. Namun, ia hanya bisa mengepalkan tangannya di dalam saku celana.
"Mungkin kamu hanya terlalu lelah, Elfesya," sahut Ravion pelan. "Tidurlah. Besok adalah hari yang panjang. Aku harus memastikan Calista menerima balasan yang setimpal atas apa yang dia lakukan padamu."
Elfesya menatap punggung Ravion yang kembali berbalik. Di dalam kepalanya, sayup-sayup muncul bayangan seorang pria yang sedang menarik keranjang ikan di bawah terik matahari, namun wajahnya kabur. Ia merasa pria itu adalah Ravion, tapi akal sehatnya berkata itu tidak mungkin. Bagaimana mungkin seorang CEO kaya raya mau melakukan hal kotor seperti itu demi dirinya?
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...