NovelToon NovelToon
Undefined: The Guardian Dog

Undefined: The Guardian Dog

Status: sedang berlangsung
Genre:Dark Romance / Mafia / Romansa
Popularitas:938
Nilai: 5
Nama Author: hrarou

🌶️ WARNING!!🌶️

Mengandungi ***** ****** yang mungkin tidak sesuai untuk semua pembaca.
.
.
.
Dalam dunia gelap yang dipenuhi darah, senjata, dan pengkhianatan, Seravina dikenal sebagai wanita sempurna yang tidak pernah gagal.

Cantik. Elegan. Mematikan.

Tidak ada yang tahu bahwa di balik wajah anggunnya, tersembunyi monster dingin yang tidak ragu membunuh siapa pun yang membuatnya jijik.

Hingga suatu malam, pencarian anjing baru membawanya ke arena pertarungan underground.

Dan di sanalah dia bertemu Viktor—pria yang bertarung bukan demi uang atau kemenangan, tetapi demi merasakan sesuatu yang bahkan tidak dia pahami.

Satu kehilangan diri karena trauma.

Satu lagi hidup tanpa pernah benar-benar memilikinya.

Ketika dua manusia yang sama-sama rusak dipertemukan, siapa yang akan hancur lebih dulu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hrarou, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Anjing Polos

Kesadaran Viktor kembali perlahan, seperti ditarik dari dasar laut yang gelap dan dingin. Hal pertama yang ia rasakan bukanlah aroma apak gym atau dinginnya lantai semen, melainkan aroma terapi yang menenangkan dan kelembutan yang asing di bawah punggungnya.

Mata Viktor terbuka. Langit-langit kamar yang tinggi dengan lampu yang redup menyambutnya. Ia mencoba bangkit, namun kepalanya terasa berat, sisa-sisa cairan penenang itu masih berdenyut di sarafnya.

Saat ia duduk, ia menyadari sesuatu yang aneh. Ia tidak lagi mengenakan kaos singletnya yang basah oleh keringat dan penuh noda darah. Kini, tubuh besarnya dibalut oleh kemeja putih berbahan sutra berkualitas tinggi dan celana panjang hitam yang pas di tubuhnya.

Viktor melihat ke sekeliling. Furniturnya mewah, elegan, dan sangat mencerminkan selera Seravina. Tidak ada jendela yang bisa dijangkau, dan pintu kayu besar di ujung sana terlihat kokoh seperti gerbang benteng.

Kenapa aku di sini?

Ia meraba lehernya, tepat di tempat jarum suntik itu menghujamnya. Rasa sakit itu masih ada, namun yang lebih mengganggu adalah ingatan terakhir sebelum ia tumbang. Ciuman itu. Detak jantung yang liar itu.

Viktor mengepalkan tangannya di atas seprai satin yang empuk. Ia merasa seperti binatang buas yang baru saja dimandikan, didandani, dan dikurung di dalam sangkar kaca.

"Kau sudah bangun, Anjing Kecilku?"

Suara itu datang dari arah sudut ruangan yang remang. Di sana, Seravina duduk di sebuah kursi velvet, menyilangkan kakinya dengan anggun sambil menyesap segelas wine merah, menatap Viktor seolah sedang menikmati pemandangan paling indah di dunia.

Seravina meletakkan gelas kristalnya di atas meja kecil, lalu bangkit dengan gerakan yang sangat pelan, seolah takut mengganggu ketenangan mangsanya. Ia melangkah mendekati ranjang.

Ia berhenti tepat di pinggir ranjang, menatap Viktor yang terlihat jauh lebih rapi dalam balutan kemeja putih itu. Kemeja itu sedikit ketat di bagian bahu lebarnya yang kokoh.

"Selamat pagi," ucap Seravina dengan nada yang sangat manis, nyaris seperti bisikan seorang kekasih. "Atau mungkin... selamat datang di hidupmu yang baru, Anjingku?"

Viktor menatapnya dengan tatapan yang bisa membunuh, namun Seravina justru tertawa kecil. Ia mengulurkan tangan, ujung jarinya menyisir rambut pirang Viktor yang kini sudah bersih dan wangi.

"Jangan menatapku seperti itu. Kau seharusnya berterima kasih," lanjut Seravina, suaranya kini berubah menjadi dingin dan penuh tekanan otoritas. "Aku membersihkan darah dari tubuhmu, membuang pakaian sampahmu, dan memberimu tempat tidur yang jauh lebih layak daripada lubang tikus tempatmu berlatih."

Seravina menunduk, mendekatkan wajahnya ke telinga Viktor, membiarkan napasnya yang hangat menggelitik kulit pria itu.

"Aku tidak suka barang milikku terlihat kotor. Dan mulai detik ini... kau adalah milikku. Kau bukan lagi petarung jalanan yang tidak punya tuan. Kau adalah anjing yang kupaksa untuk patuh, suka atau tidak."

Ia kembali menjauhkan wajahnya, menatap lurus ke dalam mata Viktor yang kosong dan penuh gejolak amarah. "Sekarang, katakan padaku... apakah kau lapar? Atau kau masih ingin mencoba menyerangku seperti di gym kemarin?"

Matanya yang hampa menatap lurus ke arah Seravina, mengabaikan segala kata-kata manis yang baru saja diucapkan wanita itu.

"Aku mau pulang," ucap Viktor pendek.

Seravina sedikit mengangkat alisnya. "Pulang? Ke mana?"

Viktor tidak bergeming. Ia mulai melangkah menuju pintu besar di ujung kamar tanpa meminta izin, seolah-olah Seravina hanyalah benda mati yang tidak berhak menghalangi jalannya. Setiap langkahnya terasa berat dan pasti, menunjukkan bahwa ia sama sekali tidak takut pada siapa pun di mansion ini.

"Kembalikan pakaianku yang lama," tambah Viktor tanpa menoleh, tangannya sudah memegang gagang pintu kayu yang dingin.

Saat ia mencoba menarik gagang pintu itu, pintu tersebut sama sekali tidak bergerak. Terkunci secara elektronik. Viktor mencoba menariknya lebih keras hingga otot-otot lengannya menegang di balik kemeja putih itu, namun tetap sia-sia.

"Rumahmu sudah kosong, Viktor," suara Seravina terdengar tenang dari belakang, diikuti bunyi gemerincing kunci atau mungkin sebuah remot kontrol di tangannya. "Aku menyuruh orang-orangku membereskannya setelah kau pingsan tadi. Tidak ada yang tersisa di sana. Tidak ada baju lama... tidak ada tempat untuk kembali."

Viktor terhenti. Ia berbalik perlahan, menatap Seravina dengan aura yang jauh lebih gelap dari sebelumnya.

"Aku bisa tidur di jalanan."

Seravina menghela napas panjang. Ia berjalan mendekat, langkahnya pelan hingga ia berdiri tepat di hadapan Viktor yang menjulang tinggi.

"Aku akan bertanya sekali lagi, Viktor," suara Seravina melunak, namun matanya berkilat tajam. "Mau jadi anjingku?"

"Tidak," jawab Viktor tanpa ragu. Suaranya datar, sedingin es, seolah tawaran Seravina hanyalah sampah.

Mendengar itu, kesabaran Seravina tampak menguap. Senyum manisnya menghilang, digantikan oleh raut wajah yang menggelap.

Dengan gerakan kasar, ia mencengkeram kerah kemeja yang dipakai Viktor dan menarik leher pria raksasa itu ke bawah—memaksa wajah mereka sejajar hingga hidung mereka hampir bersentuhan.

"Kau keras kepala sekali untuk seseorang yang sudah kehilangan segalanya," bisik Seravina di depan bibir Viktor.

Jari-jari Seravina berpindah ke tengkuk Viktor, mencengkeram rambut pendek pria itu dengan kuat, memaksanya untuk tidak membuang muka. Ia menatap lekat ke dalam mata Viktor yang kosong, mencari sisa-sisa detak jantung liar yang ia rasakan di gym tadi.

"Apa aku harus menciummu lagi sebagai harganya?" tanya Seravina dengan nada menantang, bibirnya hampir menyentuh milik Viktor setiap kali ia berbicara. "Apa aku harus membuat jantungmu meledak lagi supaya kau sadar bahwa kau tidak bisa lari dariku?"

Viktor bisa merasakan napas Seravina yang beraroma wine dan mawar menghantam wajahnya. Sensasi terbakar yang ia rasakan di gym tadi mulai merayap kembali, mengusik sistemnya yang dingin.

"Atau mungkin..." Seravina mempererat cengkeramannya, "Kau sebenarnya sangat menyukainya sampai kau sengaja menolakku agar aku melakukannya lagi?"

Di bawah tatapan intens Seravina, sistem di dalam tubuh Viktor kembali mengalami kegagalan fungsi. Dadanya bergemuruh hebat, sebuah denyutan yang sangat kuat hingga ia bisa merasakannya di pangkal tenggorokan. Setiap kali matanya tak sengaja jatuh ke bibir Seravina yang kemerahan, rasa panas yang asing itu menyengat sarafnya.

Ini persis seperti saat ia berada di tengah arena, saat tulang rusuknya retak atau darah memenuhi mulutnya—sebuah ledakan adrenalin yang membuatnya merasa "ada". Cuma kali ini, tidak ada musuh yang memukulnya. Hanya ada wanita ini.

Seravina menyadari itu. Dengan nada yang sangat tenang, ia mengamati perubahan pada pupil mata Viktor.

"Kau kenapa?" tanya Seravina lembut, matanya mengobservasi setiap reaksi otot di wajah Viktor.

Viktor menggeram, sebuah suara rendah yang keluar dari dadanya yang bidang. Ia mencengkeram pergelangan tangan Seravina yang ada di tengkuknya, mencoba menjauhkan wanita itu meski tubuhnya sendiri menolak untuk mundur.

"Kau..." suara Viktor parau dan dingin, menahan gejolak yang tidak ia pahami. "Apa yang kau suntikkan padaku tadi?"

Seravina hanya mengangkat sebelah alisnya, membiarkan Viktor mencengkeram tangannya hingga memerah.

"Cairan apa yang kau masukkan ke tubuhku?" tuduh Viktor dengan tatapan menghujam. "Sejak tadi jantungku tidak mau berhenti berdegup kencang. Kau pasti menyuntikkan sesuatu yang aneh untuk mengendalikan tubuhku, kan? Katakan, obat apa itu?!"

Ini adalah penjelasan paling logis. Tidak mungkin seorang manusia bisa membuat mesin sepertinya berdetak tanpa bantuan zat kimia. Ia lebih memilih percaya bahwa ia diracuni daripada mengakui bahwa keberadaan Seravina-lah yang memicu adrenalinnya.

Seravina terdiam sejenak, lalu tawa kecil yang sinis lolos dari bibirnya. Ia mendekatkan wajahnya lagi, hingga bibir mereka benar-benar bersentuhan saat ia berbicara.

"Obat?" bisik Seravina geli. "Kau mencari alasan kimia atas kegilaanmu sendiri? Aku hanya menyuntikkan penenang, bukan cinta atau gairah. Jika jantungmu tidak mau berhenti berdegup, itu artinya tubuhmu jauh lebih jujur daripada mulutmu. Tubuhmu sudah tahu siapa pemiliknya, meski otakmu menolak."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!