Suatu hari sikap Maya mendadak berubah seratus delapan puluh derajat. Dia yang tadinya gadis pendiam dan lemah, kini memiliki tatapan tajam mematikan. Semua itu terjadi setelah pingsan yang dia alami. Semua orang terkejut dengan perubahan Maya. Julukan psiko mulai tersemat pada dirinya.
Abang tirinya yang mesum dan geng yang sering membully Maya di sekolah sekarang hanya bisa tercengang. Jika dahulu Maya hanya pasrah hingga bahkan tak berani menatap, maka kini dia malah berkata, "Aku akan sobek mulutmu jika berani menyentuhku!"
Apa yang terjadi pada Maya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 7 - Ketahuan
Kalimat itu langsung membuat Bobby melotot. “Hah?!”
Maya malah terlihat santai sambil meregangkan tubuh. “Lu punya ide lebih bagus?”
“Banyak!”
“Contohnya?”
“Hmm...” Bobby mendadak diam.
Maya menyeringai menang. “Hayo apa?"
Bobby mengusap wajah frustrasi. “Astaga... gue baru bangun tidur udah diajak kriminal.”
“Lu mantan bandar.”
“Itu sejarah kelam.”
“Lu masih jual rokok ilegal.”
“Itu usaha rakyat kecil!”
Maya tertawa kecil lalu berjalan keluar kamar. “Cepetan. Sebelum target bagus keburu diambil copet lain.”
“ASTAGA!”
Namun walau mulutnya terus mengeluh, Bobby tetap mengikuti Maya. Karena jujur saja, dia memang sedang bokek.
Pagi itu kawasan pasar kota mulai ramai. Pedagang kaki lima berteriak menawarkan dagangan. Motor lalu-lalang. Orang-orang sibuk berjalan sambil menjaga tas masing-masing. Bagi Maya tempat seperti ini adalah ladang emas.
Maya berdiri santai di pinggir jalan sambil mengamati keramaian. Sementara Bobby berdiri di sebelahnya dengan ekspresi tegang.
“Gue masih ngerasa ini ide buruk,” celetuk Bobby.
Maya malah fokus memperhatikan orang-orang lewat. “Lihat tuh.”
“Hah?”
“Cowok kemeja biru.”
Bobby menoleh.
Seorang pria gemuk berjalan sambil sibuk menelepon. Dompetnya mencuat setengah dari saku belakang celana.
“Target empuk,” ujar Maya santai.
“Lu serius?”
Maya tak menjawab. Dia langsung berjalan santai menembus keramaian.
Bobby buru-buru mengikuti. “Eh, eh, eh! Pelan-pelan!”
Namun Maya bergerak begitu alami. Satu detik dia masih berjalan biasa. Detik berikutnya, tangannya bergerak secepat kilat. Dompet pria itu sudah berpindah ke tangan Maya tanpa disadari pemiliknya sedikit pun.
Maya terus berjalan santai sambil memasukkan dompet ke hoodie.
Bobby langsung melongo. “Gila!"
Maya menyeringai kecil. “Payah banget keamanan orang-orang sini.”
Bobby masih bengong. “Gue bahkan nggak lihat tangan lu gerak!”
“Makanya jangan kebanyakan bacot!”
Mereka masuk ke gang kecil dekat pasar. Maya membuka dompet hasil pertama. Isinya lumayan.
“Tiga ratus ribu.”
Bobby langsung berbinar. “Buset!”
Maya mengambil uangnya lalu membuang dompet kosong ke tong sampah.
“Lanjut.”
Hari itu mereka beraksi berkali-kali. Bobby benar-benar dibuat kagum. Tangan Maya bergerak seperti ilusi. Cepat dan nyaris tak terlihat. Dia bisa mengambil dompet, ponsel, bahkan jam tangan tanpa membuat target sadar.
“Lu dulu anggota mafia atau pesulap?” tanya Bobby kagum.
“Dua-duanya mungkin.”
“Serem banget.”
Menjelang siang, hasil mereka sudah cukup banyak. Tiga dompet, satu ponsel murah dan total uang hampir satu juta rupiah.
Bobby sampai memegangi kepalanya sendiri. “Gue biasanya nyopet dapat lima puluh ribu aja udah sujud syukur.”
Maya duduk santai di bangku taman sambil menghitung uang. “Skill issue.”
“Jangan menghina copet kelas teri.”
Maya terkekeh kecil. Anehnya dia menikmati ini. Bukan karena uangnya. Tapi karena untuk pertama kalinya setelah masuk ke tubuh Maya, dia merasa bebas.
“Kalau sehari sejuta...” Bobby mulai menghitung pakai jari. “Sebulan kita bisa kaya.”
Maya memutar mata. “Dan ditangkep polisi di minggu kedua.”
“Ya juga sih.”
Bobby tertawa kecil. Namun semangat mereka sudah terlanjur naik.
“Sekali lagi?” tanya Bobby penuh harap.
Maya menyeringai tipis.
“Ayo. Last chapter nih!”
Kali ini mereka berpindah ke area pertokoan yang lebih ramai. Orang-orang berlalu-lalang membawa tas belanja. Maya langsung mengincar target baru.
Seorang pria muda dengan pakaian rapi berjalan sambil membawa map hitam. Jam tangan mahal. Dompet tebal di saku belakang.
“Yang itu,” bisik Maya.
Bobby mengangguk kagum. “Insting kriminal lu keren juga.”
Maya mendekat santai dari belakang pria itu. Tangannya mulai bergerak perlahan.
Tapi pergelangan tangannya tiba-tiba ditangkap. Maya langsung membeku. Cowok itu menoleh cepat dengan tatapan tajam.
“Eh?”
Mata Maya sedikit menyipit. Sementara pria itu justru tampak lebih terkejut lagi.
“Maya?”
Deg.
Bobby yang berdiri agak jauh langsung panik. “Waduh... ketahuan.”
Pria itu menatap Maya tak percaya. “Ini beneran kamu?”
Maya diam beberapa detik. Sial, dia sama sekali tidak mengenali wajah lelaki ini. Ingatan Maya asli terlalu berantakan untuk diakses.
“Ehm...” Maya berdeham kecil.
Cowok itu mengernyit bingung. “Kamu ngapain di sini?”
Tatapan pria itu lalu turun ke posisi tangan Maya yang masih dekat saku belakangnya. Suasana langsung canggung.
Maya refleks menarik tangannya pelan. “Olahraga jari.”
“Hah?”
“Pemanasan.”
Pria itu malah makin bingung. “Maya... kamu baik-baik aja?”
Maya memperhatikan wajah lelaki itu cepat. Rapih, kacamata tipis, aura serius dan sepertinya bukan polisi.
Lelaki itu kembali bertanya pelan. “Kenapa kamu nggak masuk sekolah beberapa hari ini?”
Sekolah? Maya langsung sadar. Orang ini mungkin guru Maya. Sialnya dia sama sekali tidak tahu namanya.
“Ehm...” Maya mencoba santai. “Lagi sibuk.”
“Sibuk apa?”
Maya melirik Bobby yang sudah sembunyi di balik tiang sambil pura-pura baca koran terbalik. Dasar idiot!
Pria di depannya masih menatap khawatir. “Kamu kelihatan berbeda.”
“Tiap orang berubah, Mas!”
“Maya.”
Nada suara pria itu kini serius. “Kamu tadi mau nyopet saya?”
Maya terdiam beberapa detik. Lalu menjawab gugup. “Enggak kok. Jangan fitnah, Mas!"
Lelaki itu terlihat makin syok. Dia mengusap wajah pelan seolah sedang mencoba memproses semuanya. Jelas aneh sekali mendengar muridnya memanggil dirinya dengan sebutan "Mas".
“Maya...” katanya lirih. “Sebenarnya apa yang terjadi padamu?”
Maya memasukkan tangan ke saku hoodie. “Saya udah berhenti sekolah.”
Deg.
Mata pria itu langsung membelalak.
“Apa?!”
Maya tetap santai. “Keluarga saya nggak dukung.”
“Itu bukan alasan buat berhenti sekolah!”
Maya tertawa hambar. “Saya juga udah diusir dari rumah.”
Kalimat itu membuat lelaki tersebut benar-benar kehilangan kata-kata. “Apa...?”
Tatapan khawatir langsung memenuhi wajahnya. Untuk beberapa saat dia hanya diam memandangi Maya. Mungkin mencoba menyatukan potongan-potongan yang tidak masuk akal di kepalanya.
Siswi pendiam yang biasanya takut bicara, sekarang berubah jadi gadis liar yang mencoba mencopetnya di jalan.
“Maya...” katanya pelan. “Kamu tinggal di mana sekarang?”
Maya mengangkat bahu santai. “Masih hidup kok.”
“Jangan bercanda.”
“Saya nggak bercanda.”
Lelaki itu menarik napas panjang.
“Oh iya...” Maya akhirnya bertanya. “Nama Mas siapa?”
“Kamu pasti bercanda kan sekarang? Panggil Bapak mas, sekarang lupa nama juga?"
Maya langsung sadar salah bicara. “Eh maksud saya--"
Lelaki itu malah menatap Maya makin aneh. “Kamu lupa nama saya?”
Maya terkekeh canggung. “Lagi banyak pikiran.”
Pria itu menghela napas pasrah. “Saya Pak Kemal! Guru Bahasa Indonesiamu!"
“Oh.”
Jadi namanya Kemal.
Kemal mengusap tengkuknya lalu berkata pelan, “Ayo ikut saya ke warung depan. Kita bicara baik-baik.”
Dari kejauhan, Bobby langsung memberi kode panik pakai gerakan tangan aneh.
JANGAN PERCAYA!
Kabur!
Maya malah memutar bola mata malas.
“Yaudah,” katanya akhirnya. “Ayo.”
Kemal tampak lega. Mereka mulai berjalan menuju warung kecil di pinggir jalan.
Sementara Bobby diam-diam mengikuti dari belakang sambil memakai topi dan koran sebagai penyamaran murahan.
“Sialan...” rutuk Bobby. “Ini makin kayak sinetron.”
Atw ramuan bwt orang lain?
Mau nunggu diperkosa sama Jomie lagikah baru bertindak Priska?
Atw nunggu dibully rame² baru dibales Priska?
Enak banget tuh yang nge bully & merkosa dikasih waktu pengampunan terus sama Priska
🤨
Karena gak disinggung sama sekali keamanan sekolah baik penjaga sekolah, CCTV atw harus divideokan oleh orang lain baru viral semua kelakuan minus anggota sekolah disitu? 🤔