“Nek,” protes Ryuhan. “Aku ini CEO muda. Masa harus nikah sama seorang dukun?”
Seroja adalah gadis muda yang berprofesi sebagai dukun beranak dan terapis saraf. Hidupnya berubah saat suami dari masa kecilnya, Ryuhan Kai Zander, CEO muda dari keluarga konglomerat datang menjemput.
Seroja harus menerima kenyataan, bahwa Ryu sudah memiliki pujaan hati. Clara.
Sebuah kecelakaan membuat Ryu lumpuh dan impoten. Kenyataan itu menghancurkan harga diri Ryu. Apalagi saat Clara memutus hubungan setelah kecelakaan itu.
Saat Ryu mulai menerima Seroja, muncul seorang pria yang diam-diam menyukai dan menghargai Seroja.
Akankah Seroja tetap bertahan di sisi suaminya… atau memilih pergi bersama pria yang benar-benar menginginkannya?
Dan apakah Ryu akan melepaskannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26.Jarak yang Perlahan Hilang
Nyonya Hanifah menoleh ke arah Ryu, lalu beralih menatap Seroja. Namun sebelum wanita tua itu membuka mulut, Seroja lebih dulu berdiri.
"Aku ambilkan air hangat dulu untuk Nenek."
Gadis itu berjalan keluar kamar tanpa menjawab pertanyaan suaminya.
Ryu terdiam saat gadis itu melewatinya begitu saja.
Nyonya Hanifah mengembuskan napas panjang. Setelah suara langkah kaki Seroja menjauh, ia akhirnya berkata,
"Dia berhenti kuliah sebelum lulus karena harus meneruskan ilmu turun temurun dari keluarganya. Mungkin ada perasaan tidak nyaman saat hal itu dibahas," terkanya.
"Memangnya dia berhenti kuliah semester berapa, Nek?" tanya Ryu meski tak yakin neneknya tahu.
"Kata keluarganya, dia pulang ke kampung saat usianya dua puluh dua tahun," jelas Nyonya Hanifah.
"Dua puluh dua tahun?" gumam Ryu. Dahinya berkerut tipis seolah sedang berpikir.
"Kalau masuk kuliah umur delapan belas tahun..." lanjut Ryu. "usia segitu harusnya sudah mau koas. Itu kalau dia ambil jurusan kedokteran. Jadi dia gak ikut koas? Sayang sekali."
"Jangan singgung hal ini di depannya kalau dia merasa gak nyaman," tegas Nyonya Hanifah.
Ryu terpaksa menelan kata-kata yang hendak ia ucapkan saat mendengar suara langkah kaki Seroja mendekat.
Gadis itu muncul membawa baskom berisi air hangat dan kain kering. Ia melewati Ryu yang masih bersandar di kusen pintu kamar Nyonya Hanifah.
"Kakinya aku kompres dulu ya, Nek," ujar Seroja lembut.
"Nenek jadi merepotkan kamu," ucap Nyonya Hanifah memandang gadis itu dengan sorot mata hangat.
"Nggak repot kok, Nek." Seroja meletakkan baskom di meja nakas, lalu mencelupkan kain kering ke dalamnya.
"Orang lain aja aku rawat," lanjut Seroja. "Masa nenekku sendiri tidak." Ia mulai mengompres kaki Nyonya Hanifah.
Nyonya Hanifah mengusap kepala Seroja penuh kasih. "Kalau kamu butuh apa-apa jangan ragu bilang ke Ryu atau Nenek. Sekarang kami adalah keluargamu. Jika Ryu menindasmu, katakan pada Nenek." Nyonya Hanifah menoleh ke Ryu tajam. "Biar Nenek hajar bocah itu."
"Nek, sebenarnya siapa sih yang cucu Nenek?" tanya Ryu kesal.
Seroja mengulum senyum mendengar nada suara suaminya yang lebih mirip anak-anak yang sedang merajuk daripada suara CEO yang berwibawa.
"Kau dan Seroja adalah cucu Nenek. Dan Nenek gak akan pilih kasih. Kalau kamu melakukan hal yang gak bener, Nenek gak segan buat nyoret nama kamu dari kartu keluarga Kai Zander."
"Ancaman itu lagi," gerutu Ryu.
"Kamu pikir Nenek cuma mengancam? Nenek benar-benar akan melakukannya jika kau berani menyelingkuhi Seroja," tegas Nyonya Hanifah.
Nada suaranya tenang, tapi tidak memberi ruang untuk dibantah. Dan justru itu yang menegaskan bahwa apa yang dikatakannya bukan sekadar ancaman.
Seroja menatap wanita tua itu penuh syukur. Meski ia hanya cucu menantu di rumah ini, ia merasa diperlakukan seperti cucu sendiri.
"Jadi kapan kamu putuskan si Clara itu?" tanya Nyonya Hanifah serius.
"Aku akan menyelesaikan urusan kantor yang mendesak dulu," jawab Ryu. "Baru setelah aku bicara sama dia."
"Jangan terlalu lama," tegas Nyonya Hanifah. "Sekarang kamu sudah tahu kalau kamu sudah punya istri. Kalau kamu menunda-nunda memutuskan dia, berarti kamu selingkuh," tandasnya.
Ryu menghembuskan napas kasar. "Iya, aku tahu."
Dalam hati ia menggerutu. "Para wanita ini gak sabaran sekali."
Setelah mengompres kaki Nyonya Hanifah, Seroja akhirnya kembali ke kamarnya bersama Ryu.
"Duduklah," ucap Seroja begitu pintu kamar mereka tertutup di belakang Ryu.
"Mau apa?" tanya Ryu.
"Kakimu belum sembuh benar. Aku akan memijatnya lagi biar cepat sembuh," jelas Seroja.
Ryu menurut. Ia duduk di tepi ranjang sambil bersandar. Seroja mengangkat kaki Ryu, lalu duduk dan memangkunya. Tanpa banyak bicara ia mulai memijat kaki pria itu.
"Jangan kuat-kuat. Aku masih bisa merasakan sakit," protes Ryu.
Seroja menatap suaminya beberapa detik sebelum akhirnya ia tertawa kecil.
Ryu menaikkan sebelah alisnya. "Kenapa tertawa?"
"Aku hanya tidak menduga," jawab Seroja sambil terus memijat kaki Ryu. Bibirnya melengkung tipis. "CEO yang pasang muka datar dan dingin di luar sana ternyata cerewet dan kadang kekanakan."
Sejenak Ryu terdiam melihat Seroja yang masih tersenyum kecil, lalu ia cepat-cepat memasang wajah datarnya.
"Berani sekali kamu mengejek suamimu."
"Aku gak mengejekmu," sahut Seroja pelan. "Aku hanya mengungkapkan fakta."
"Diam," kata Ryu cepat. "Pijat saja yang benar, biar suamimu bisa cari uang buat nafkahin kamu."
"Baik, Baginda suami," sahut Seroja. Bahunya bergetar menahan tawa.
"Kau--" Ryu menunjuk Seroja tapi tak tahu harus berkata apa.
Seroja malah benar-benar tertawa.
Ryu terdiam. Ia tak tahu kenapa ia bisa bersikap apa adanya di depan Seroja. Seolah mereka sudah bersama sangat lama. Padahal baru dua hari.
Bahkan dengan Clara yang sudah menjadi pacarnya selama lima tahun, ia tak pernah berinteraksi dengan wanita itu seperti ini.
Tapi dengan gadis ini, ia bahkan tak sadar telah menunjukkan sifat aslinya.
Sedangkan Seroja, perlahan ia merasa kecanggungan diantara mereka perlahan menghilang.
Mereka mulai merasa nyaman satu sama lain, hingga perlahan bersikap apa adanya tanpa perlu menutupi perasaan mereka.
"Di kota ini, apa rencanamu ke depannya?" tanya Ryu tiba-tiba serius.
Tangan Seroja yang memijat kaki Ryu perlahan berhenti.
...🔸🔸🔸...
...“Kenyamanan tidak selalu datang dari waktu yang lama, kadang datang dari seseorang yang membuat kita bisa menjadi diri sendiri.”...
...“Ada orang yang baru dikenal beberapa hari, tapi terasa lebih dekat daripada yang sudah bersama bertahun-tahun.”...
...“Kadang yang membuat hati tenang bukan kata-kata manis, tapi rasa diterima apa adanya.”...
...“Ada orang yang baru hadir sebentar, tapi perlahan membuat kita menjadi diri sendiri.”...
..."Nana 17 Oktober"...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
Seroja mengganti celanya dengan celana jins dan mengenakan jaket kulit.
Seroja beneran naik motor sport, Muji berdecak kagum melihatnya.
Itu Nenek tahu kalau Seroja bukan gadis sesederhana yang mereka lihat atau pikirkan. Dan harus bersiap dengan kejutan-kejutan dari Seroja.
Jordi mendapat tugas penting dari Ryu - untuk menyelidiki istrinya.
Dipikirannya bebas menafsirkan bagaimana Tony yang sedang mengajari Seroja naik motor sport.
Nenek melihat reaksi Ryu setelah mendengar itu.
Seroja menjawab pertanyaan dari Nenek. Tony, temannya.
Tony bisa dibilang teman dekat. Begitu penuturan Seroja.
Hampir mirip kisahnya, istri yang disembunyikan tapi bikin penasaran suami dengan segala tindakannya
Apakah Seroja masih ponakan Vexia ya 🤭😃
Seroja mau lanjut kuliah, Nenek senang mendengarnya - antusias mendukung Seroja kuliah lagi.
Ryu menawari Seroja pakai mobilnya, disuruh pilih yang Seroja suka. Setelah bertanya Seroja apa bisa bawa mobil.
Seroja malah pilih naik motor. Padahal motor Ryu motor sport wkwkwk.
Ryu mendengar Seroja mau pakai motor sport miliknya sampai hampir tersedak buburnya.
Yang ngajarin Seroja naik motor sport Tony. Nah lho - Ryu cemburu tuh 😄
lanjut kak nana... 💪🙏
Lucu juga nih Seroja. Meraba tubuh Ryu dari atas ke bawah - yang dikira gulingnya dan mengendus aromanya pula 😄.
Kebayang bagaimana Ryu menegang ketika diraba tubuhnya dan diendus Seroja wkwkwk.
Ryu turun ranjang menuju kamar mandi, repot menjinakkan ularnya yang menegang tuh.
Kebiasaan Ryu tidur bertelanjang dada. Seroja tertegun sejenak melihatnya. Jantungnya mulai tak karuan.
Dalam hati dua insan yang sudah sah sebagai pasabgan suami istri berbeda.
Dalam hati Seroja - apa Ryu bakal minta haknya sebagai suami.
Dalam hati Ryu yang ditanya kenapa tidak pakai baju - apa tubuhku gak bagus. Kenapa dia tidak terpesona sama sekali.
Perbincangan mengalir - mereka mulai tidur.
Semangat Kak Nana.. Up Bab Baru-nya ya Kak 🙏🙏🙏