NovelToon NovelToon
AKU IBU TIRI MUDA

AKU IBU TIRI MUDA

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikahmuda / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:8.2k
Nilai: 5
Nama Author: Miss Danica

Bailla adalah gadis muda berusia 20 tahun seorang putri tunggal yang memiliki karakter yang manja dan terbiasa hidup dengan kemewahan ia terpaksa menjadi ibu tiri muda dan menikah dengan duda beranak 3 yang terpaut usia 20 tahun. Pernikahan itu terpaksa terjadi idikarenakan perusahan orang tuanya diambang kebangkrutan akibat tertipu investasi bodong. Bagaimana Bailla menghadapi kehidupan sebagai istri dan ibu muda untuk anak-anak yang usia hampir sama dengannya ?? banyak hal lucu dan sedih yang terjadi degan Bailla si ibu tiri muda ini. ,🥰🥰

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Danica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Nasihat Perkawinan singkat dari Mpok Mur **

Pagi-pagi sekali Bailla dan Arya udah bangun.Jam di dinding nunjuk 05.12. Hampir aja nggak kebagian Subuh.Padahal semalem mereka tidur kemaleman gara-gara kikuk nggak kelar-kelar.

Bailla langsung lompat dari kasur. Rambut berantakan, baju kebalik. Lari ke kamar mandi cuci muka asal-asalan, terus lari ke dapur. Tangannya udah otomatis nyalain kompor, rebus air, nyari roti tawar. Teh hangat wajib ada. Roti bakar juga. Itu standar sarapan Pak Arya kalau pagi buru-buru.

Pak Arya udah selesai mandi. Rambut masih basah, wangi sabun murah tapi bersih. Kemeja putihnya rapi, celana bahan hitam udah disetrika Mpok Mur semalem. Dia lagi ngiket tali sepatu sambil ngintip ke dapur. Lihat Bailla sibuk bolak-balik.

Nggak ngomong apa-apa. Cuma senyum kecil.

Di ruang tengah, Mpok Mur lagi ribut ngemasin Aya dan Ara.

“Aya, kaos kaki sebelah mana? Ara, jangan mainan sisir! Itu buat Mpok!” Suara Mpok Mur kayak speaker toa. Tapi tangannya lembut pas ngerapihin seragam Aya.

Arbil baru selesai mandi. Rambutnya masih netes. Dia nggak sarapan. Langsung masuk kamar, ganti baju sekolah, keluar lagi bawa helm.

“Cepet ya Bil, ntar telat upacara.” Mpok Mur ngomel tapi nggak marah beneran.

Setelah sarapan seadanya, Pak Arya langsung berangkat. Ngantarin Ara dan Aya ke sekolah. Arbil berangkat sendiri pakai motor bebeknya. Helmnya ketuker sama punya temen, tapi dia males ribut.

Rumah jadi sepi. Tinggal Bailla dan Mpok Mur. Di meja makan masih ada teh anget dan pisang goreng yang belum abis.

Bailla duduk. Tangan masih hangat pegang gelas. Mpok Mur duduk di depan dia. Mata Mpok Mur tajam. Tajamnya kayak ibu yang udah ngeliat semua.

“Neng,” kata Mpok Mur pelan tapi nancep.

“Gimana semalam? Udah bisa klik nggak?”

Bailla langsung merah mukanya. “Belum mbok... baru pegangan tangan aja.. hehe.”

Mpok Mur ketawa. Suara ketawanya berat tapi nggak nyakitin.

“Neng, sekarang giliran Mpok kasih nasihat khusus buat kamu ya. Dengerin baik-baik. Nggak semua orang dikasih nasihat gratis kayak gini.”

Bailla ngangguk. Dia tau, kalau Mpok Mur udah mulai serius, mending diem dan denger.

“Pertama, jadi istri itu kayak nasi di magic com, Neng. Nasi kalau kepanasan, kering. Kalau kurang panas, benyek. Kamu gitu, Neng. Ke Bapak jangan terlalu ngatur nanti Bapak kering, ngerasa nggak dipercaya. Tapi jangan terlalu cuek, nanti Bapak benyek, nyari angetan lain.”

Bailla ngak kecil. “Nasehatnya aneh banget, Mpok.”

Mpok Mur nyengir. “Yang penting nyantol, Neng. Jadi anget aja. Caranya? Tanyain ‘Pak, capek nggak?’ sambil pijitin pundak. Tapi dompetnya tetep Neng cek seminggu sekali. Bercanda, Neng! Eh, serius juga boleh.”

Bailla ngak beneran kali ini. “Mpok, aku catet ya! Nanti aku tulis di skripsi bab penutup.”

Mpok Mur ngacungin sendok. “Catet, Neng. Ilmu rumah tangga nggak ada di Google Scholar.”

“Yang kedua, anak tiri itu bukan saingan, Neng. Itu investasi akhirat. Arbil, Ara, dan Aya itu rejeki Neng. Mereka kehilangan ibu. Kamu kehilangan masa muda. Impas! Tapi denger Mpok ya:”

Mpok Mur nunjuk Bailla pelan-pelan. “Kalau Arbil bandel, jangan langsung marah. Bilang: ‘Abang capek ya di sekolah?

Sini cerita.’ Nanti dia luluh. Soalnya anak laki tuh gengsinya selangit. Tapi kalau udah sayang, dia yang paling depan belain kamu.”

Bailla diem. Dia inget Arbil semalem. Dingin. Jawaban singkat. lTapi matanya nggak jahat.

“Terus kalau Aya nangis, Neng harus peluk dia. Anak kecil itu ingatannya siapa yang peluk dia waktu jatuh, bukan siapa yang lahirin dia.”

Bailla angguk. Dia inget Aya semalem. Nangis minta susu, terus ketiduran di pangkuan Mpok Mur.

“Kalau Ara rewel, dandanin. Kepang rambutnya. Bilang ‘Cantik kayak ibu’. Nanti dia nanya: ‘Ibu yang mana?’ Kamu jawab: ‘Ibu yang sekarang ada di depan kamu’. Dijamin dia diem, terus meluk.”

Bailla ngusap mata. Nggak nangis. Cuma panas aja. “Iya, Mpok... Bailla akan coba.”

Mpok Mur senyum. Senyumnya nggak banyak. Tapi tulus.

“Yang ketiga, jangan lupa jadi Bailla, bukan cuma ‘Bu Arya’.

Neng, Mpok liat kamu pinter. Skripsi mau kelar. Jangan gara-gara nikah, mimpi kamu dikubur, Neng.”

Bailla angkat muka. Itu hal yang dia takutin dari hari pertama. Kehilangan dirinya sendiri.

“Bapak itu tiang. Kamu itu atapnya. Kalau tiang doang, kepanasan, Neng. Kalau atap doang, ambruk. Jadi dua-duanya harus berdiri.”

Mpok Mur minum teh. Nggak buru-buru. “ Nanti kalau Neng udah lulus kuliah, Neng kerja aja kalau mau. Bisnis juga boleh.

Bapak pasti dukung. Kalau Bapak nggak dukung, Mpok jitak!

Sambil Mpok teriakin ‘Pak, istri pinter itu rejeki! Bisa ngajarin anak, bisa ngatur duit, bisa ngomelin Bapak kalau salah!’”

Bailla ketawa. Kali ini ketawanya lepas. “Ngomelin Bapak boleh ya, Mpok?”

“Boleh, Neng. Asal nggak depan anak-anak. Depan anak-anak, Bapak itu raja. Belakang pintu kamar, baru lo jadi ratu.”

Mpok Mur ngelap mulut pakai tisu. “Inget ya Neng, ibu cerdas, anak waras, bapak nggak galau. Itu rumus Mpok.”

Bailla nulis di kepalanya. Nggak pakai buku. Karena kata-kata Mpok Mur lebih nempel daripada catatan.

“Keempat, kalau berantem, inget jurus 3T ya. Tahan, Tarik, Telen.”

Bailla ngerengek. “Berantem juga diajarin, Mpok?”

“Wajar, Neng. Sendal aja sepasang kadang bunyinya beda. Apalagi manusia. Tapi ada jurusnya:

Pertama, Tahan. Tahan omongan pas emosi. Soalnya mulut perempuan kalau marah, tajemnya ngalahin silet, Neng. Silet motong kain, mulut motong hati. Susah nyambungnya.

Kedua, Tarik. Tarik napas. Tarik Bapak ke kamar. Jangan berantem depan anak. Anak itu recorder, Neng. Mereka akan merekam semua. Nanti gede-gede dia praktek, dan bakal jadi bom waktu buat mereka nanti.

Ketiga, Telen. Telen gengsi. Kalau kamu salah, minta maaf duluan. Nggak bikin kamu hina, Neng. Malah bikin Bapak makin sayang. Laki-laki tuh nggak kuat liat perempuan nangis sambil bilang ‘Maaf, Pak’. Langsung shutdown otaknya.

Nah, kalau Bapak yang salah? Tunggu dia minta maaf. Kalau 1x24 jam nggak minta maaf, sita HP-nya. Dijamin sujud, Neng.”

Bailla ngak sampai keselek teh. “Mpok! Ilmu apa ini! Ini ilmu rumah tangga apa ilmu perang?”

Mpok Mur nyengir. “Ilmu hitam di atas putih, Neng. Putihnya kertas, hitamnya tinta. Mpok tulis dari pengalaman. 25 tahun nikah, Neng. Nggak ada yang nggak pernah berantem.”

Bailla diem. Dia nggak bisa bayangin Mpok Mur berantem. Kayaknya Mpok Mur berantem juga tetep menang.

“Yang terakhir dan paling penting, jangan lupa bahagia, Neng.”

Mpok Mur suaranya melunak. Nggak ada bercanda lagi.

“Neng, Mpok nikah 25 tahun sama almarhum. Susah, Miskin Tapi Mpok bahagia. Kenapa? Karena Mpok mutusin buat bahagia.”

Bailla nggak ngomong. Dia cuma denger.

“Bapak itu bukan pangeran, Neng. Dia pekerja keras.

Duitnya banyak. Tangannya mungkin kasar. Tapi tangan itu yang nyari uang biar kamu bisa tetap kuliah.”

Bailla ngangguk pelan. Dia inget tangan Pak Arya semalem.

Kasar. Tapi anget.

“Jadi kalau capek, liat tangan Bapak. Kalau kesel, inget dia pilih kamu, padahal dia bisa cari yang lain. Tapi dia pilih rempongnya kamu, Neng. Itu mahal.”

Mpok Mur nunjuk dada Bailla. “Bahagia itu bukan karena nggak ada masalah, Neng. Tapi karena ada Bapak yang mau mikul masalah bareng kamu.”

Bailla nangis. Nggak kenceng. Cuma netes. “Mpok... makasih nasehatnya...”

Mpok Mur nyodorin tisu. “Nangis boleh. Tapi jangan lama-lama.

Nanti mata bengkak, nggak cantik. Bapak jadi nggak nafsu pulang.”

Bailla ketawa sambil nangis. Dia meluk Mpok Mur. Pelukan yang nggak canggung. Pelukan yang kayak anak ke ibu.

“Mpok... makasih...Mpok kayak Mami aku...”

Mpok Mur nepuk punggung Bailla pelan. “Loh, Mpok emang ibu kamu sekarang, Neng. Ibu versi galak. Tapi sayang. Sayangnya kayak sambel: pedes, tapi bikin nagih.”

Mereka diem beberapa menit. Cuma ada suara kipas angin tua di pojok dapur. Anginnya pelan. Tapi cukup bikin hati adem.

Mpok Mur ngelirik Bailla. “Neng, ini bonus ya. Tolong dicatet.

Nasihat Mpok Unah buat cewek-cewek,

intinya cuma 3:

Satu, jadi istri, jangan jadi malaikat. Jadi manusia aja, yang bisa marah, bisa manja, bisa minta gendong.

Dua, jadi ibu, jangan jadi robot. Robot nggak bisa meluk.

Anak butuh pelukan, bukan jadwal.

Tiga, jangan jadi orang lain. Jadi Bailla aja. Bailla yang 20 tahun, yang masih bisa ketawa nggak jelas, yang masih bisa nangis karena takut salah.”

Bailla angguk. Dia inget semua. Nggak ada yang bakal dia lupa.

Mpok Mur berdiri. Beresin piring. “Udah, itu aja Panjang-panjang nanti kamu pusing, skripsinya nggak kelar-kelar, hehe.”

Bailla ikut berdiri. Dia bantu Mpok Mur nyuci piring. Airnya dingin. Tapi hatinya anget.

“Mpok,” kata Bailla pelan. “Kalau aku bingung lagi, aku boleh dateng ke Mpok kan?”

Mpok Mur nggak jawab langsung. Dia matiin keran. Ngusap tangan pakai lap. Terus dia balik badan.

“Neng, kalau lupa, panggil Mpok. Mpok refresh lagi.

Gratis. Bayarnya pakai like aja, hehe.”

Bailla ketawa. Dia tau, ‘like’ itu kode buat ‘Mpok, aku butuh kamu’.

Mpok Mur keluar dari dapur. Mau nyapu ruang tamu.

Tapi sebelum pergi, dia berhenti. “Neng, satu lagi.”

Bailla nengok.

“Ibu cerdas, anak waras, bapak nggak galau. Itu quote Mpok.

Kalau lupa, tempel di kulkas. Biar Bapak juga baca.”

Bailla angguk. Dia janji bakal tempel. Besok.

Hari mulai terang. Matahari masuk lewat celah jendela dapur.

Nyorot ke gelas teh yang udah dingin. Nyorot ke wajah Bailla yang masih basah bekas nangis.

Tapi nggak ada sedihnya. Ada lega. Ada tenang. Ada harapan kecil yang tumbuh pelan-pelan.

Bailla ngerti sekarang. Nikah itu nggak kayak di sinetron. Nggak langsung klik. Nggak langsung cinta. Tapi kalau ada yang mau nunggu, ada yang mau ngajarin, ada yang mau sabar...

Pelan-pelan, rumah itu jadi rumah. Bukan karena temboknya bagus. Bukan karena mebelnya mahal. Tapi karena ada orang-orang yang mau duduk bareng di meja makan. Minum teh anget. Ngobrol receh. Saling jaga.

Bailla nyapu remah roti di meja. Dia senyum sendiri. Di kepalanya kebayang malam nanti. Mungkin masih kikuk.

Mungkin masih canggung. Tapi sekarang, dia nggak takut lagi.

Karena ada Mpok Mur yang bilang, “Gue di sini, Neng. Kalau lo jatuh, gue yang angkat.”

Dan itu cukup. Lebih dari cukup.

...****************...

1
Yuliyana
ada bima n dito, siapa ya ?
Miss Danica: Maaf kak di Bab ini ada perubahan nama tokoh dan ada yang lupa edit ... Makasih atas koreksiannya. Selamat membaca kak 😍🙏
total 1 replies
Miss Danica
Hay gaeess sahabat NT mohon suportnya karya pertama ku ini ya. mohon bimbingannya juga semoga sehat sehat semuanya sukses untuk kita semua.😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!