"Saya nikahkan engkau dengan Rasti Nugroho binti Adi Nugroho dengan mas kawin satu set perhiasan emas dan uang seratus juta rupiah di bayar tunai"
"Saya terima nikah Rasti Nugroho binti Adi Nugroho dengan mas kawin tersebut tunai" sahut Xena.
"Sah"
" Sah"
Air mata Rasti mengalir deras. Dengan cepat ia mengusapnya agar tak terlihat oleh ibu dan adiknya. Sementara itu Budi ayah Xena tersenyum senang. Namun berbeda dengan Mira istrinya ,raut wajahnya menunjukkan ketidaksenangan melihat pernikahan putranya. Namun ia sebisa mungkin menutupinya.
"Selamat ya Nak, kini kau sudah menjadi seorang istri." ucap Siti, ibu Rasti sambil memeluk putrinya.
Rasti hanya bisa mengangguk pelan. Sungguh ini suatu mimpi buruk baginya. Ia tak pernah mengira akan menikah dengan pria yang sama sekali belum mengenalnya bahkan untuk melihat juga belum pernah.
"Siti, terima kasih atas semuanya. Akhirnya hutangku pada sahabatku lunas. Kini aku akan menjaga Rasti seperti putriku sendiri." Ujar Budi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irh Djuanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Budi ingin mewujudkan janji yang dibuat sahabatnya
Malam semakin larut. Suara jangkrik terdengar semakin jelas di luar rumah. Lampu ruang tami kini diredupkan, menyisakan cahaya kuning lembut yang membuat suasana terasa tenang. Di atas tikar pandan yang tipis, Budi sudah berbaring lebih dulu. Tatapannya terlipat di bawah kepala, matanya menatap langit-langit yang sederhana.
Sementara di sampingnya, Xena masih duduk, punggungnya bersandar ke dinding. Ia belum benar-benar siap untuk memejamkan matanya.
"Belum tidur?" tanya Budi tanpa menoleh.
Xena menggeleng kecil, walau ia tau ayahnya tak melihat, "Belum ngantuk."
Budi tersenyum tipis, "Apa yang kau pikirkan?"
Xena tidak langsung menjawab, pelan-pelan ia mulai membawa tubuhnya tidur di samping ayahnya.
"Ini pertama kalinya aku tidur di tempat seperti ini." ucap Xena pelan.
Hening sejenak.
"Bagaimana rasanya?" tanya Budi lagi.
Xena menghela nafas pelan. Matanya melirik sekeliling. Rumah sederhana, suara alam, kehangatan yanga masih terasa meski semua tidur.
"Aneh," jawabnya jujur, membuat Budi terkekeh kecil.
"Tapi...nyaman," sambungnya lagi.
Budi mengangguk puas, "Bagus kalau begitu."
Beberapa detik kembali sunyi.
"Bagaimana menurut mu jika kita membawa mereka ke kota," ucap Budi pelan.
Xena langsung menoleh, "Maksud, Papa."
Budi menghela nafas pelan, " Aku ingin mewujudkan keinginan Rani dan memenuhi janji yang dibuat Ayahnya."
"Kalau begitu, ikuti saja isi hati Papa. Aku sama sekali tidak menolak," kata Xena akhirnya.
Budi tersenyum kecil mendengar jawaban itu. Ia menoleh sekilas ke arah Xena, lalu kembali menatap langit-langit.
"Papa tidak ingin hanya sekedar membawa merek jalan-jalan," ucapnya pelan.
Xena mengernyit sedikit, " Lalu?"
Budi menarik nafas dalam, " Papa ingin mereka punya pilihan hidup yang leboh luas. Sekolah yang baik untuk Rani dan kehidupan yang lebih layak untuk ibunya."
Xena terdiam. Ia memikirkan kata-kata itu. Ada kesungguhan di sana. Bukan sekedar omongan biasa tapi tulus dari hati.
"Itu akan membuat Rasti senang," jawab Xena akhirnya.
"Tapi...Papa belum yakin, jika Siti akan setuju. Papa tau...rumah ini peninggalan Adi. Dan mungkin banyak menyimpan kenangan tentang mereka di sini." ucap Budi lagi.
"Aku akan meminta Rasti untuk membujuknya, bagaimana menurut, Papa?" sahut Xena pelan.
Budi tidak langsung menjawab, ia memejamkan mata sejenak, seolah menimbang sesuatu dengan hati-hati.
"Jangan," ucapnya pelan.
Xena menoleh, sedikit terkejut, "Jangan?"
Budi mengangguk kecil, "Jangan paksa lewat Rasti."
Xena mengernyit," Kenapa?"
Budi menarik napas panjang, lalu menoleh ke arah anaknya, "Karena itu bukan keputusan ringan. Itu rumahnya. Tempat dia membesarkan anak-anaknya fan semua kenangan dengan suaminya tersimpan."
Xena terdiam. Perlahan ia memahami. Tatapannya menurun, "Lalu bagaimana?"
Budi menatap ke depan, pikirannya terlihat jauh, "Papa akan bicara langsung dengan Siti...dati hati ke hati."
Xena mengangguk kecil, "Itu lebih baik."
Di dalam kamar, Rasti masih belum tidur. Ia duduk bersandar di dinding, menatap Rani yang sudah terlelap. Wajah adiknya itu terlihat damai. Perlahan Rasti mengusap rambutnya.
"Seandainya aku bisa membawamu...aku pasti akan melakukannya. Dan kau... pasti akan senang," bisik Rasti pelan.
Tangannya kemudian berpindah ke perutnya, "Aku juga harus mulai berani."
Perlahan matanya mulai terpejam. Sebelum akhirnya Rasti ikut terlelap bersama Rani. Begitu juga dengan Xena, ia akhirnya memejamkan mata. Tubuhnya mulai rileks di atas tikar tipis itu. Namun sebelum benar-benar tertidur, satu hal terlintas di benaknya. Rumah ini mungkin sederhana, tapi untuk pertama kalinya ia merasa sedang berada di tempat yang tepat.