Pernikahan tanpa cinta adalah impian Alya, atau setidaknya itu yang dia pikirkan. Namun, apa yang akan terjadi jika suaminya menyimpan rahasia tentang dirinya sejak awal? Alya tidak terduga bahwa suaminya, Raka Pratama, adalah seorang yang dingin, berkuasa, dan tidak terlalu terbuka. Mereka menikah dengan kontrak, tapi dengan satu syarat yang tidak biasa: jangan pernah jatuh cinta. Apakah Alya dapat memenuhi syarat itu, ataukah cinta akan menghancurkan kontrak pernikahan mereka?
Ketika kebohongan berlangsung terus-menerus, batas antara apa yang palsu dan apa yang nyata mulai kabur. Alya harus menghadapi keputusan sulit: mempertahankan kebohongan yang telah ia jalankan atau meninggalkan pria yang telah berhasil memenangkan hatinya. Pernikahan ini tampaknya telah terjadwal dengan baik, tetapi ada satu hal yang tidak termasuk dalam kontrak: perasaan yang sebenarnya. Sekarang, Alya harus memilih antara kebenaran dan kebahagiaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Candra Arista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 – Tawaran yang Mustahil Ditolak
Hujan sudah turun sejak sore. Hingga malam menjelang, langit masih belum memperlihatkan tanda-tanda akan reda.
Alya berdiri di depan jendela panjang koridor rumah sakit, menyaksikan butiran hujan meluncur di permukaan kaca. Cahaya lampu kota di luar terlihat buram, seakan dunia di baliknya tidak lagi nyata. Hanya siluet samar yang bergerak tanpa tujuan.
Tangannya terlipat di dada, namun rasa dingin tetap menjalar.
Bukan disebabkan suhu ruangan.
Melainkan oleh kenyataan pahit yang sedang dihadapinya.
“Biaya operasinya harus segera dilunasi, Mbak. Jika tidak, kami tidak bisa menjadwalkan tindakan lebih lanjut.”
Suara perawat itu terus menggema di benaknya, bagai rekaman usang yang diputar berulang-ulang.
Alya memejamkan mata.
Puluhan juta rupiah.
Jumlah yang bagi sebagian orang mungkin hanya angka biasa. Namun baginya, itu adalah jurang yang mustahil untuk diseberangi.
Ia telah mencoba segala cara.
Mengajukan pinjaman ke bank—ditolak.
Meminjam kepada teman—tidak ada yang sanggup membantu sebanyak itu.
Mengambil pekerjaan sampingan—ia sudah menguras habis tenaganya, tapi hasilnya tetap tidak mencukupi.
Bahkan, ia telah menjual hampir semua barang berharga miliknya. Laptop lamanya, perhiasan warisan ayahnya, bahkan sepeda motor yang dulu ia pakai untuk bekerja.
Namun tetap saja… semua itu belum cukup.
Napasnya bergetar.
“Kalau aku gagal…” bisiknya lirih, nyaris tidak terdengar.
Ia tidak berani melanjutkan kalimat itu, sebab ia tahu persis apa yang akan terjadi.
Di balik pintu ruangan di ujung koridor, ibunya terbaring lemah, bergantung pada alat-alat medis yang berdenyut ritmis. Setiap bunyi itu bagai pengingat bahwa waktu terus berjalan… dan peluang semakin sempit.
Alya membuka mata.
Ia tidak boleh menyerah.
Tidak sekarang.
Tidak saat satu-satunya orang yang ia miliki sedang berjuang demi hidup.
Langkahnya akhirnya bergerak menjauh dari jendela. Ia berjalan perlahan menyusuri koridor, melewati beberapa keluarga pasien lain yang duduk dengan ekspresi lelah. Wajah-wajah yang tak berbeda jauh darinya—penuh harap sekaligus cemas.
Ketika ia hampir mencapai ruang tunggu, pintu di ujung koridor terbuka.
Seorang pria masuk.
Langkahnya tenang. Tidak tergesa-gesa, namun juga tidak ragu.
Alya refleks menoleh.
Untuk sesaat, ia merasa seperti berada di dua dunia yang berbeda.
Pria itu… terlalu bertolak belakang dengan tempat ini.
Di tengah aroma antiseptik dan suasana suram rumah sakit, ia tampak seperti seseorang yang datang dari dimensi lain. Jas hitamnya rapi tak bercela, sepatu kulitnya berkilau, dan cara ia berdiri—tegak, penuh percaya diri—seolah tak ada satu pun hal di dunia ini yang mampu mengusik ketenangannya.
Pandangannya menyapu sekeliling, lalu berhenti tepat pada Alya.
Langkahnya berubah arah.
Menuju dirinya.
Alya sedikit mengernyit, merasa asing sekaligus tidak tenteram. Ia tidak mengenal pria itu. Dan dari cara pria itu menatapnya… jelas ia sedang mencari seseorang.
Ketika jarak mereka tinggal beberapa langkah, pria itu berhenti.
“Nona Alya Maheswari?”
Suaranya rendah, datar, tanpa emosi.
Alya sedikit terperanjat, namun tetap menjawab, “Ya… saya.”
Ada jeda sejenak.
Pria itu menatapnya lebih dalam, seolah ingin memastikan sesuatu.
“Ada yang ingin saya tawarkan.”
Alya mengerutkan kening. “Tawaran apa?”
Pria itu tidak langsung menjawab. Ia justru mengamati wajah Alya beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya.
Tatapan itu membuat Alya merasa… sedang dinilai.
Sedang diukur.
Seolah dirinya adalah sebuah opsi yang sedang dipertimbangkan.
Perasaan tidak tenteram mulai menjalar.
“Apa kita saling mengenal?” tanya Alya, kali ini dengan nada lebih waspada.
Pria itu menggeleng pelan.
“Tidak.”
Jawaban singkat, tegas.
Lalu, tanpa basa-basi, ia berucap—
“Menikahlah dengan saya.”
Dunia seolah terhenti.
Suara langkah kaki di koridor, bunyi alat medis dari ruangan sekitar, bahkan suara hujan di luar… semuanya sirna seketika.
Alya hanya menatap pria itu, tidak yakin apakah ia baru saja salah dengar.
“…Maaf?” suaranya nyaris berbisik.
“Saya butuh seorang istri,” lanjut pria itu dengan nada yang sama datarnya. “Dan Anda membutuhkan uang.”
Jantung Alya berdegup lebih kencang.
Bukan karena terharu.
Melainkan karena… terkejut. Curiga. Tidak percaya.
"Ini bukan sesuatu yang bisa Anda jadikan bahan bercanda," katanya, suaranya sedikit menahan emosi.
"Saya tidak bercanda."
Balasannya cepat, tegas, dan tanpa keraguan.
Pria itu membuka tas kerja yang ia bawa, lalu mengeluarkan sebuah map berwarna gelap. Ia menyerahkannya pada Alya.
"Ini kontraknya."
Alya tidak langsung menerimanya. Ia menatap map itu, lalu kembali ke wajah pria di depannya.
"Kenapa saya?"
Pertanyaan itu keluar secara spontan, dan jujur. Karena ia tidak melihat alasan masuk akal apa pun.
Pria itu tampak seperti seseorang yang bisa mendapatkan apa saja yang ia inginkan, termasuk wanita. Lalu kenapa… dirinya?
"Baca dulu," jawab pria itu singkat.
Alya akhirnya mengambil map itu, meskipun keraguan masih menggantung di benaknya.
Tangannya terasa sedikit dingin saat membuka dokumen di dalamnya. Beberapa lembar kertas resmi, dengan isi yang… terlalu rapi. Terlalu terstruktur. Dan terlalu nyata untuk disebut lelucon.
Matanya bergerak cepat membaca poin demi poin.
Pernikahan kontrak.
Durasi satu tahun.
Tidak ada kewajiban hubungan suami-istri secara emosional.
Kerahasiaan mutlak.
Dan di bagian akhir—
Kompensasi.
Napas Alya tercekat. Angka yang tertera di sana membuat jari-jarinya menegang. Itu bukan hanya cukup untuk biaya operasi ibunya; itu bahkan lebih dari cukup untuk melunasi semua utangnya… dan memulai hidup baru.
Perlahan, ia mengangkat kepala, menatap pria itu lagi.
"Kamu serius?"
"Saya tidak punya waktu untuk bercanda."
Nada suaranya tetap sama. Dingin. Stabil.
Alya menelan ludah. Pikirannya mulai kacau. Ini terlalu tiba-tiba. Terlalu tidak masuk akal. Tapi di saat yang sama… terlalu menggiurkan untuk diabaikan.
"Kenapa menikah?" tanyanya lagi, mencoba mencari celah. "Kenapa bukan… cara lain?"
Pria itu terdiam sejenak. Lalu menjawab, "Saya butuh seorang istri secara legal."
"Untuk apa?"
"Kepentingan pribadi."
Jawaban yang menggantung, tidak memberi penjelasan, dan justru menambah tanda tanya.
Alya menghela napas pelan. Ini gila. Benar-benar gila. Menikah dengan orang asing demi uang? Kalau ia mendengar cerita ini dari orang lain, ia pasti akan langsung menolak tanpa berpikir dua kali. Tapi sekarang…
Ia berada di posisi itu.
Dan di balik pintu ruangan itu—
Ibunya sedang menunggu.
Menunggu kesempatan hidup.
Alya menggenggam map itu lebih erat.
"Kalau saya menolak?" tanyanya pelan.
Pria itu menatapnya, tanpa ekspresi.
"Tidak ada yang berubah."
Jawaban yang jujur, dan menyakitkan. Alya tersenyum tipis, pahit. Ya. Tidak ada yang berubah. Ibunya tetap sakit. Biaya tetap tidak terbayar. Dan waktu tetap berjalan.
Ia menunduk, menatap angka di dalam kontrak itu sekali lagi. Ini bukan soal cinta. Bukan soal kebahagiaan. Ini soal bertahan hidup.
"Apa jaminannya?" tanyanya lagi. "Kalau saya setuju… kamu benar-benar akan membayar semua itu?"
Pria itu langsung menjawab, "Semua akan tertulis dalam kontrak resmi. Anda akan mendapatkan uang muka sebelum pernikahan."
Tidak ada keraguan dalam suaranya. Tidak ada celah untuk meragukan keseriusannya.
Alya terdiam. Untuk beberapa detik, ia hanya berdiri di sana, membiarkan pikirannya berputar. Logikanya menolak. Hatinya ragu. Tapi keadaan… memaksanya.
Akhirnya, ia mengangkat kepala.
"Siapa kamu sebenarnya?"
Pria itu menatapnya, lalu mengulurkan tangan.
"Raka Pratama."
Nama itu terasa berat saat masuk ke dalam pikirannya, seolah memiliki arti yang belum ia pahami.
Alya tidak langsung menyambut tangan itu. Ia hanya menatapnya.
Pria ini.
Tawaran ini.
Keputusan ini.
Semuanya terasa seperti pintu. Sekali ia melangkah masuk…
Tidak akan ada jalan kembali.
Dari dalam ruangan, terdengar suara mesin monitor berbunyi lebih cepat. Alya refleks menoleh. Jantungnya ikut berdegup. Ibunya…
Ia menggigit bibirnya pelan. Lalu kembali menatap Raka. Dan untuk pertama kalinya, ada sesuatu yang berubah dalam tatapannya. Bukan lagi sekadar ragu, tapi… keputusan yang perlahan terbentuk.
"...Saya butuh waktu untuk berpikir," katanya akhirnya.
Raka mengangguk sekali.
"Tentu."
Ia menarik kembali tangannya, lalu berbalik.
"Tapi jangan terlalu lama. Waktu Anda tidak banyak."
Langkahnya menjauh. Tenang. Seolah ia sudah tahu… bagaimana akhir dari semua ini.
Alya tetap berdiri di tempatnya. Map itu masih berada di tangannya. Hujan di luar semakin deras. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya—
Alya merasa… ia sedang berdiri di ambang sesuatu yang besar. Sesuatu yang bisa menyelamatkannya. Atau justru menghancurkannya.
Ia menatap pintu ruang rawat sekali lagi. Lalu menunduk, melihat kontrak di tangannya. Dan perlahan, tanpa sadar—
Ia menggenggamnya lebih erat. Seolah itu adalah satu-satunya harapan yang tersisa.