"GADIS GILA! APA KAMU NGGA PIKIRKAN MASA DEPAN KAMU?!" bentak pemuda itu sambil menarik tangan Ana.
Ana memandang dengan takut tapi ia juga merasa lega karena sebenarnya, dia tidak berniat untuk bunuh diri.
Anabella Queena Tanaya, tidak pernah menginginkan wajah yang buruk rupa dan tidak memiliki teman itupun hanya bisa putus asa di atas atap apartemen yang sering ia kunjungi ketika merasa sedih.
Dua lelaki tampan datang ke hidupnya dan semuanya berubah dengan sangat drastis. "Apa aku bermimpi?"
Tekad gadis itu ingin jadi glow up, bukan main - main. Tahap demi tahap, bahkan ia berusaha menutupi luka masa lalu di sekolahnya yang lama, berbuah manis bahkan terlalu manis.
Tapi siapa sangka dengan dirinya yang sekarang, Ana malah dibuat bimbang dengan kejadian tak terduga di sekolah barunya.
Apa Ana akan bisa tetap menjadi Ana yang glow up tanpa ada yang tahu bahwa dia sebenernya korban pembullyan??
Atau ada seseorang dari masa lalunya yang mengetahui semua tentang Ana?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Berliana Febbyola, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26 JUS CANDU VS PERPUSTAKAN TENANG
Nathan langsung memasukkan sebotol jus itu ke dalam tasnya.
"Nanti aku kasih di jam istirahat aja deh." jelas Nathan.
Disamping itu, kelas Ana masih banyak anak - anak yang sedang mengobrol begitupun juga terlihat Ana tersenyum dan mengangguk ketika teman di depannya sedang bercanda.
"Excause me, please. Kalian bisa nggak berhenti ribut - ribut?" tanya Bu Shinta.
"Baik, Bu.." jawab mereka serentak.
"Oke. Kalian bisa catat yang ada di papan tulis." jelasnya lagi.
"Maaf, Bu. Izin ke toilet." sahut Kai yang tiba - tiba berdiri.
"Oh, boleh Kai. Silakan.. kamu makin tinggi dan gagah aja ya. Sama seperti ayah kamu-" puji Bu Shinta sedikit berlebihan, Ana penasaran siapa sebenarnya Kai.
Apa dia se-terkenal itu?
Tapi, Kai tidak memerdulikannya dan terus bersikap dingin. Kecuali pandangannya menangkap Ana yang sedang mengikat rambutnya.
Menengok ke arah Ana dan sadar, semua orang sedang melihat kepadanya.
Jeje pun izin ke kamar mandi juga, tapi ternyata ia menghampiri Kai untuk bertanya sesuatu.
Di lorong, Kai berjalan sedikit santai jadi Jeje bisa menyusulnya.
"Kai. Tunggu, aku mau bertanya sesuatu." jelas gadis itu tampak serius.
"Ada apa?" jawaban dingin itu kembali keluar dari mulut Kai.
"Em.. kamu kenal dengan Anabella? Aku penasaran aja." jawab Jeje.
Kai langsung berhenti dan melihat Jeje dengan tatapan yang menusuk.
"Kenapa kamu bertanya kayak gitu? Ana sahabat kamu, kamu lupa?" sahut Kai tegas.
"Kamu bicara seperti ini sekarang, seakan aku berencana mengkhianati persabatan aku dengan Ana. Aku cuma bilang, aku penasaran."
"Pertanyaan kamu itu mencurigakan. Aku dan Ana nggak ada hubungan apa-apa." Jawab Kai.
"Lagipula bukan urusan kamu." jawab Kai dengan tatapan sinis dan pergi meninggalkan Jeje.
"Hm, aku cuma nggak mau gadis ular itu yang terobsesi Kai mengganggu Ana. Jika tau Ana dekat dengan Kai." gumamnya dalam hati.
Tak terasa jam menunjukkan waktu istirahat, semua berlarian ke kantin sedangkan Kai masih diam di mejanya.
Ana melihat dan mata mereka saling bertemu, tiba - tiba Jeje langsung memanggil Ana untuk ikut bersama mereka ke kantin seperti sengaja.
"Ana! Ayo ke kantin." panggil Jeje, sedikit mengeraskan suaranya.
Kai melirik Jeje, tak senang. Ana pun mengangguk mengikuti Jeje dan Sheila dari belakang.
Sesampainya di Kantin, Nathan yang sudah ada di meja kantin pun melihat suasana dulu.
[Sret..]
Jus itu langsung, ia masukkan ke saku jas almamater Ana. "Eh?! Apa ini?" terkejut Ana yang baru saja tiba.
Nathan tersenyum, "nikmati aja, aku susah payah cari jus itu."
Teman teman Nathan yang mendengar langsung memasang wajah konyol, "Susah payah, apanya.."
"Ana, ayo duduk disana." pekik Sheila.
"Oh, i-iya. (Kembali melihat ke arah Nathan.) Makasih."
Nathan sangat senang, tapi dia hanya mengangkat alis dan tersenyum.
Ana langsung pergi dengan saku yang menggembung karena ada botol jus.
"Jus dari siapa?"
"Tuh." mata gadis itu seperti menunjuk seseorang, Nathan yang susah kembali duduk di meja nya dan menyantap makanan.
"Dari Nathan?!" terkejut Sheila.
"Oh namanya Nathan ya. Iya, dari dia." jawabnya.
"Hah?! Serius? Kapan?"
"Mungkin kalian nggak lihat, tapi tadi pas kita baru datang ke kantin dia kasih jus ini. Entahlah.." jawab Ana.
"Polos banget kamu, Na. Hahaha"
"Hah? Maksudnya?" tanya Ana bingung, karena Sheila langsung menertawakannya.
"Dia kasih kamu, jus pasti ada alasannya. Dia mungkin suka sama kamu." tambahnya.
"Ah yang bener aja, manusia tengil menyebalkan kayak dia. Nggak mungkin." tepis Ana.
"Kamu lebih baik pesen makanan kamu sekarang." sahut Jeje.
Mereka pun mulai memesan, pesanan pun datang dan tanpa Ana sadari, ternyata Nathan sedang memperhatikannya.
Tak terasa bel selesai istirahat pun dibunyikan, mereka kembali ke kelas untuk bersiap - siap mata pelajaran terakhir.
Karena Guru matematika mereka tidak masuk di kelas Ana, alhasil suasana jam kosong di kelas pun sedikit ribut.
Ana melirik ke sekeliling dan pandangannya terhenti saat melihat Kai.
Sinar matahari senja, menerpa wajah tampan Kai. Memang tidak bisa dipungkiri, Nathan sangat tampan.
Sampai, satu sekolah pun menganggap dia adalah Prince Charming.
Sedikit berlebihan, tapi memang begitu adanya. Matanya yang tenang tapi banyak yang tak sanggup menatapnya terlalu lalu lama, jika dibandingkan dengan Nathan. Nathan juga tampan dan tinggi, tapi dia tidak sekalem Kai.
Itulah perbedaan mereka.
Jam kosong selama satu jam itu tak terasa sudah hampir selesai dan 5 menit kemudian bel pulang bunyi.
Sorak - sorak gembira para siswa mendengar bel pulang.
Kai menunggu Ana di lorong, "Ayo berangkat." Singkatnya ketika melihat ada sedang berjalan ke arah, Ana hanya mengangguk mengikuti laki - laki itu dari belakang.
Di depan Gerbang sekolah, tampak para siswa dan siswi ramai yang saling berbisik ketika melihat Kai kebanggaan mereka sedang jalan dengan seorang gadis, yakni Ana.
Ana tampak tak nyaman dan hanya menunduk.
Melihat Ana tidak nyaman, Kai pun membiarkan Ana jalan lebih dulu.
"Kamu jalan lebih dulu. Aku yang di belakang kamu."
"A-apa? Oke.." jawab Ana mulai berjalan lebih cepat.
Bis berhenti dan keduanya naik.
"Perpustakaannya jauh, Kai?" tanya Ana yang duduk di samping Kai.
"Nggak terlalu jauh." jawabnya singkat.
Bis melaju sangat kencang, dan tanpa sadar Ana menggenggam tangan Kai karena takut.
Ternyata, Kai juga tidak menolak. Malah semakin erat. Ana melirik tangannya yang berpegangan erat.
"A-aku nggak sengaja, maaf." sahut Ana. Mereka pun mulai melepaskan genggaman itu.
Bis berhenti di depan perpustakaan yang cukup luas dan hening..
Ana terus membuntut di belakang Kai, Kai berhenti.
Ana terkejut untung sekarang ia bisa mengerem.
"Duduk disini aja." sahut Kai, memilih meja panjang yang ada di ujung. Sunyi. Menenangkan.
Ana duduk dan menyimpan tasnya, mengeluarkan buku catatan begitupun juga Kai.
Alih - alih duduk bersebrangan, Kai memilih duduk di samping Ana dan jarak mereka sangat dekat.
Ana bisa terdiam sesekali memalingkan wajahnya.
"Kamu mau pelajari yang mana dulu?" tanya Kai.
"Em,, (matanya melihat ke arah lain.)" jantung Ana berdetak sangat kencang.
Rasanya ingin meledak, duduk disamping orang yang Ana pun kagum dengan ketampanannya.
"Kalau belajar lihatnya ke buku, kenapa malah lihat ke rak - rak buku? Nanti kita bisa pinjam buku - buku mereka kok. Sekarang tolong serius, kesini." tegasnya, sambil mengetuk kertas dengan pulpen.
Ana langsung menggerutu dalam hatinya, "huh, galak banget."
"Iya Kai, aku juga dari tadi lihatnya ke buku." jawab Ana, lalu melihat ke arah Kai. Wajah mereka sangat dekat.
Canggung.
Kai juga terlihat kikuk dan berusaha tenang.
"Ayo selesaikan soal yang ini dulu." sahutnya mengalihkan suasana canggung.
"Ana. Disekolah lama, kamu bisa menyelesaikan soal ini? Ini mudah, aku ajarkan triknya."
Ana dengan cepat bisa berbaur dengan sikap dinginnya Kai, ternyata dia tidak seburuk itu.
"Dia ternyata bisa hangat juga." batin Ana.
#Bersambung...