Enam bulan setelah Kirei Zhaklyn—perempuan tangguh di balik kesuksesan industri teknologi—tewas tragis dalam kecelakaan akibat sabotase keji, hidup Vaxerion Mahendra ikut hancur. Konglomerat otomotif itu memilih mundur dari dunia bisnis, hidup seperti cangkang kosong yang didera kedukaan mendalam.
Namun, di sebuah malam gala internasional, pintu aula terbuka. Di sana muncul sepasang manusia: Andi Clark, miliarder pemegang kendali perbankan global asal Swiss, menggandeng seorang wanita yang memiliki wajah, sorot mata, dan senyuman yang seratus persen persis dengan almarhumah Kirei.
Dia adalah Kirei Alexandra. Datang dari Eropa dengan pembawaan ketus, jutek, dan dingin, dia langsung menepis kasar pelukan Vaxerion: "Jaga jarak Anda, Tuan Mahendra. Saya bukan barang peninggalan masa lalu Anda."
Apakah wanita jutek ini adalah Kirei yang bangkit dari kubur untuk membalas dendam, atau ada rahasia adopsi yang sengaja dikubur sejak bayi? Di tengah adu kekayaan tingkat tinggi dan gesekan harga diri melawan Andi Clark, takdir baru yang jauh lebih berbahaya siap menggoncang Jakarta!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Salma.Z, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29: Rumah Batu dan Langkah yang Menguji
Pukul sembilan lewat empat puluh menit, sedan hitam Zhaklyn Mobile yang membawa Kirei memasuki gerbang besi raksasa di kawasan perbukitan Menteng. Di balik kaca mobil, kompleks kediaman utama Mahendra berdiri megah seperti kastil batu kelabu yang dikelilingi pohon-pohon cemara tua. Tempat ini adalah pusat dari dinasti kaya lama yang paling disegani di Asia—wilayah yang aura kekuasaannya bisa membuat pengusaha biasa gemetar bahkan sebelum turun dari kendaraan.
Kirei melangkah turun dengan kepala tegak seutuhnya. Hari ini dia sengaja tidak memakai warna champagne yang biasa disukai Vaxerion. Dia memilih setelan blazer tenun ikat berwarna biru indigo gelap dengan potongan bahu yang tegas, dipadukan dengan celana kain berpipa lurus. Rambut hitam tebalnya dicepol rapi, menyisakan gurat leher jenjang dan sepasang anting mutiara kecil. Dia berdiri di lobi luar dengan wibawa seorang pemimpin wanita yang siap bertarung isi otak, bukan untuk mengemis restu keluarga.
Pelayan berseragam resmi menuntunnya melewati koridor panjang berlantai marmer hitam, menuju sebuah ruang kaca besar yang menghadap langsung ke taman anggrek. Di tengah ruangan, duduk seorang pria lanjut usia yang memegang tongkat jati berkepala perak murni.
Tuan Adrian Mahendra.
Garis wajah tua itu sangat kaku, dengan sepasang mata jernih yang memancarkan tekanan mental yang luar biasa berat. Di atas meja jati di depannya, sebuah teko porselen putih mengepulkan uap teh kamomil yang aromanya memenuhi ruangan.
"Duduk, Nona Vancort—atau aku harus memanggilmu Zhaklyn?" suara Tuan Adrian berat, lambat, namun bergaung penuh intimidasi. Beliau bahkan tidak menuangkan teh untuk tamunya, sebuah isyarat penolakan sosial yang sangat kentara di kalangan atas.
Kirei duduk di kursi kayu di seberang sang patriark dengan punggung yang tetap tegak lurus, menolak untuk menciut akibat tekanan wibawa di ruangan itu. "Nama saya adalah Kirei Zhaklyn, Tuan Adrian. Dan saya datang ke sini hari ini bukan sebagai anak dari masa lalu Harlan Vancort, melainkan sebagai pemilik sah dari enam puluh persen saham Zhaklyn Mobile."
Tuan Adrian mengetukkan ujung tongkat peraknya ke lantai marmer dengan bunyi ketukan yang nyaring, matanya menyipit tajam menatap wajah cantik Kirei. "Kamu punya keberanian yang besar untuk ukuran anak yang tumbuh di pinggiran rel kereta. Bianca membawa berkas medis ibumu kepadaku. Silsilah keluarga Mahendra dibangun di atas reputasi bersih tanpa cela selama tiga generasi. Aku tidak akan membiarkan cucu kesayanganku mengotori namanya demi wanita yang membawa beban skandal sepertimu."
Mendengar serangan langsung terhadap latar belakangnya, Kirei tidak mengedipkan matanya sedikit pun. Senyuman tipis yang sangat tenang dan elegan justru terukir di bibirnya—sebuah pembalasan yang sama sekali tidak diduga oleh Tuan Adrian.
"Tuan Adrian," suara Kirei mengalun sangat merdu, stabil, dan penuh wibawa. "Jika reputasi bersih tiga generasi yang Anda maksud adalah ketergantungan pasokan bahan baku Mahendra Motors pada konsorsium Eropa milik keluarga Bianca yang sore ini resmi bangkrut karena investasinya dibekukan, maka saya rasa reputasi itu sedang berada di ujung tanduk. Rekam medis ibu saya tidak akan bisa merakit satu unit mobil listrik pun di pabrik Anda. Tapi sistem enkripsi Zhaklyn OS yang ada di tangan saya... adalah satu-satunya otak teknologi yang bisa menyelamatkan izin edar internasional mobil buatan cucu Anda dari boikot Uni Eropa minggu depan."
Tuan Adrian langsung terdiam kaku. Cengkeraman tangannya yang keriput pada kepala tongkat peraknya mengetat, syok melihat bagaimana gadis muda di depannya ini bisa membeberkan kelemahan bisnis terdalam keluarganya dengan begitu tenang tanpa ada rasa takut.
"Vaxerion nekat memutus dana Bianca bukan karena dia buta oleh perasaan," lanjut Kirei, matanya pengawas tajam tertuju ke arah sang kakek dengan ketegasan yang jelas. "Dia melakukannya karena dia adalah seorang pengusaha yang matang. Dia tahu, masa depan Mahendra Motors ada di dalam kode pemrograman saya, bukan di dalam kliping gosip masa lalu milik Mirna. Jadi, jika Anda ingin memutus kerja sama ini demi menjaga kesucian tongkat perak Anda... silakan ketuk lantai ini sekali lagi, dan saya akan menarik seluruh hak paten perangkat lunak saya dari semua unit mobil Anda sebelum matahari terbenam."
Benturan ego dan harga diri tingkat tinggi di antara keduanya membuat atmosfer ruang kaca mendadak senyap total. Tuan Adrian menatap Kirei selama beberapa detik dalam keheningan yang mencegah, menilai dengan saksama ketangguhan mental wanita yang ada di depannya.
Brak!
Pintu ruang kaca mendadak terbuka lebar dengan hentakan keras. Vaxerion Mahendra melangkah masuk dengan napas yang sedikit memburu. Pria itu baru saja melesat mengendarai mobil sport listriknya dari pabrik begitu mendengar kabar undangan rahasia ini. Setelan kemeja hitamnya sedikit berantakan di bagian kerah, memancarkan aura kepanikan dari seorang pria yang takut wanitanya terluka.
Vaxerion langsung berjalan cepat, mengambil posisi berdiri tepat di sebelah kursi Kirei—pasang badan sepenuhnya, menjadi tameng hidup yang memotong seluruh jalur pandang Tuan Adrian ke arah Kirei. Tatapan elangnya yang tajam dan sedingin malam kutub langsung mengunci wajah kakeknya.
"Aku sudah bilang, Kakek," suara berat Vaxerion berdesis rendah, berisi ancaman mematikan yang tidak bisa dinegosiasi. "Urusan takhta dan masa depan Mahendra Motors adalah kuasaku. Jika Kakek menggunakan tongkat ini untuk menekan Kirei lagi... aku bersumpah akan memindahkan seluruh pusat aset tersembunyiku ke luar negeri malam ini juga."
Tuan Adrian tidak marah mendengar ancaman nekat dari cucu kesayangannya. Sebaliknya, pria lanjut usia itu perlahan melepaskan ketegangan di wajah kaku tuanya. Beliau menyandarkan punggungnya di kursi, lalu mengembuskan napas panjang sambil menatap Vaxerion dan Kirei bergantian.
Besar kemungkinan dugaan Kakek runtuh dalam sekejap. Sebuah senyuman tipis, penuh arti yang mendalam, perlahan muncul di wajah sang patriark. Beliau mengetukkan tongkatnya sekali lagi, namun kali ini dengan ketukan pelan yang santai.
"Duduklah, Vaxerion. Jangan bertingkah kayak bocah amatir yang ketakutan," ujar Tuan Adrian, suaranya melembut namun tetap berwibawa tinggi. Beliau menatap Kirei dengan binar mata tua yang kini dipenuhi rasa hormat yang tulus atas isi otak cerdas wanita itu. "Calon istrimu ini baru saja memeras kakekmu menggunakan grafik saham Eropa dalam waktu lima menit. Dia tidak butuh perlindungan nekatmu. Perempuan keras kepala ini... ternyata jauh lebih tangguh dari semua model pajangan yang pernah kamu bawa ke rumah ini."
Mendengar pengakuan jujur dari kepala keluarga besarnya, Vaxerion tertegun sejenak. Rahang tegasnya yang semula mengeras kaku perlahan melunak, memancarkan pesona ketampanan yang luar biasa memikat dari samping. Pria itu menoleh ke arah Kirei, menatap mata jernih wanitanya dengan binar rasa bangga yang begitu jelas, menyadari bahwa Kirei baru saja menyelesaikan pertemuan pertamanya di rumah batu ini dengan hasil yang gemilang.