Empat tahun lalu, Aelira S. Valenzia gadis unik, misterius terjerat oleh Ravian Kael Davino veyron, pewaris tunggal keluarga veyron , yang mengidap penyakit haphephobia. Suatu hari, Davino pergi ke sekolah karena suatu hal penting, dimana Aelira tidak sengaja terjatuh, dan menangkap tangan Davino, atau yang orang sebut Ravian. Ia tidak menyangka hal tersebut menjadi awal mula hidup tidak sebebas dulu lagi. Penasaran? yuk baca!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hukuman untuk gadis yang tak menurut~
Langkah Aelira cepat keluar dari ruang OSIS.
Dan belum sempat Aelira berbelok ke tangga, sebuah tangan menarik keras pergelangan tangannya.
"Eh-apa-"
"Ikut kami!"
BRUK!
Tubuh Aelira ditarik paksa ke arah koridor sepi-lalu dibawa masuk ke toilet perempuan.
"Lo kira lo siapa, hah?! Dasar pick me!" Sentak Valerie.
Dia adalah Queen bee SMA Nusa Cendekia.
Kakak kelas. Penuh drama.
"Apa-apaan sih?!" Aelira berontak.
"Diem lo!" Tapi Valerie sudah lebih dulu menyiramkan air dingin dari botol ke tubuh Aelira.
BYURRR!
Seragam Aelira langsung basah. Rambutnya menempel di wajah. Gadis itu mengerang kaget dan refleks mundur.
"Lo tuh caper banget ya. Flirting sama mantan gue terang-terangan?" Bentak Valerie.
"Gue nggak flirting sama siapa-siapa, Kak!"
Valerie mendesis dan langsung menjambak rambut Aelira dengan kasar. "Jangan sok polos lo! Ketua OSIS tukang caper!"
PLAK!
Aelira menampar wajah Valerie keras-keras. Suasana langsung hening.
Valerie membeku, wajahnya memerah karena malu dan marah bersatu. Dua anteknya pun melongo.
"Gue cuma adik kelas. Gue Ketua OSIS. Terus lo pikir gue nggak bisa bales lo?" Suaranya tajam, tegas.
"Kalau lo mau labrak gue, di luar sekolah. Biar gue kasih lihat, gue siapa."
Valerie seketika kicep melihat tatapan tajam Aelira
"perlu lo tanamin di otak dangkal lo. Gw bukan lo yang haus validasi , apalagi caper,kalo cowok lo dekatin gw,itu salah di lo,karena lo gak menarik lagi dimatanya," jelas Aelira dengan aura mengintimidasi.
"Minggir!"
"MINGGIR!" Bentak Aelira membuat Valerie gelagapan dan segera menyingkir.
Aelira keluar dari toilet sambil menyeka wajahnya.
"Sial."
"Aelira ?"
Pemuda tinggi dengan seragam olahraga baru keluar dari ruang basket.
Mata Alvandra membulat begitu melihat kondisi Aelira.
"Kamu kenapa basah gitu?"
Aelira buru-buru menghindari tatapan cowok itu.
"Nggak papa, Kak."
Alvandra menghela napas tajam, lalu tanpa pikir panjang membuka jaket trainingyang dipakainya.
"Eh Kak nggak usah-"
"Seragam kamu tembus pandang. Pakai!"
Dia menggantungkan jaketnya ke bahu Aelira membuat Aelira spontan menyilangkan tangan di dada.
Aelira menoleh pelan, ragu sejenak, lalu mengangguk kecil. "Makasih, Kak..."
Alvandra hanya tersenyum lalu secara spontan mengelus surai lembut Aelira, membuat Aelira syok dengan adegan tiba-tiba itu.
Aelira bergegas pergi meninggalkan Gama.
*****
Suasana kantin begitu ramai, meja penuh, suara obrolan bersahutan saat jam istirahat kedua.
Hingga tiba-tiba...
"WOY, ADA RAVIAN DI HALAMAN DEPAN!!!"
"Hah? Seriusan?"
"Iya. Dia ke sini."
Sekelip mata, kantin langsung pecah.
"OMAGAAAAT!"
"YANG BENER LO?!"
Semua murid bangkit dari tempat duduk, berlari ke luar
Kantin, membawa ponsel dan suara teriakan kegirangan.
Berbeda dengan Aelira yang membeku syok.
Ziva yang masih duduk langsung bangkit panik.
"Ra, CEPAΑΤ! ΚΙΤΑ HARUS LIAT!"
"Ziv, gue nggak mau, sumpah-"
"Ayo, ih!"
Ziva menariknya membuat
Aelira terpaksa ikut berlarian ke halaman depan sekolah-menembus kerumunan siswa yang saling dorong-dorongan demi melihat sosok Aelira.
Dan di sana-Sebuah mobil black metalic terparkir dengan elegan.
Seorang cowok tinggi dengan tubuh tegap menyender di mobil memakai kacamata hitamnya, kaos putih di balut jaket dan celana hitam.
"GILAAAA! Itu beneran, Ravian!"
"Gue mau pingsan!"
woy." "Dia lebih cakep aslinya,
Ziva yang masih menggenggam tangan Aelira makin gencar menyikut maju.
Tapi tubuh Aelira terdorong dari samping oleh kerumunan.
BRAK!!
"Awh!" Rintih Aelira saat tubuhnya menabrak seseorang.
Dia mendongak. Matanya melebar saat Ravian sudah merengkuh pinggangnya erat.
Ravian melepas kacamata hitamnya perlahan, menatap Aelira dari atas ke bawah dengan rahang mengeras.
"Suka banget hmm..buat gua marah." Desisnya tajam.
Aelira menunduk gugup-jantungnya berdegup kencang.
Tidak boleh ada yang tau jika dia dan Ravian berpacaran.
"V-Van, jangan di sini, please..."
Tanpa bicara lagi, Ravian langsung mencengkeram pergelangan tangan Aelira dan menariknya pergi dengan langkah cepat.
"Ikut gue!"
"TUNGGU! DIA TARIK AELIRA?!"
"Kok bisa?"
"Mereka saling kenal??"
"Nggak mungkin plot twist-nya pacar rahasia Ravian selama ini itu KETUA OSIS SEKOLAH
KITA???"
Ziva sendiri melongo-ikutan syok.
***
BRAK!!
Punggung Aelira membentur dinding gudang yang dingin. Dia merintih kesakitan.
"Lo-" Ravian melihat jaket yang di pakai Aelira . "Anjing! Apa-apaan lo pakai jaket cowok lain? Jaket siapa itu, hah?!"
Ravian menarik jaket basket itu dari tubuh Aelira
"BUKA!"
"Jangan Van —"
Seketika tubuh gadis itu hanya terbalut tank top crop-top warna abu yang kini membuatnya tubuhnya terekspos.
"Kamu keterlaluan tau nggak!?" Teriak Aelira terisak.
"Gue? Lo yang keterlaluan. Lo itu punya gue." Bentaknya emosi.
Aelira menatap mata Ravian dengan sorot memerah, meski suaranya nyaris bergetar.
"Gue pengen putus."
Wajah Ravian menegang dan tersenyum licik.
"putus? sejak kapan lo dikasih hak buat membuat keputusan?! "
" Vano gw capek tau gak!! " keluh Aelira
"Oke pergi, tapi siap siap gue ancurin siapapun yang lo datengin setelah gue."
Aelira menarik napas tajam, mencoba tetap tegar meski matanya memerah.
"Gue nggak pernah sayang sama lo."
Ravian tersenyum sinis. Ia menunduk perlahan, menyatukan dahinya ke dahi Aelira.
"Sayang atau enggak, lo tetap milik gue. Bahkan kalau itu bikin lo menderita. Ngerti?"
Tangan dingin Ravian terangkat mencengkeram tengkuk Aelira , menariknya mendekat secara paksa.
"Lo harus inget. Lo cuma anak panti asuhan yang di pungut bonyok gw.
Harusnya lo tau diri, gue masih mau jagain lo."
Detik berikutnya, bibir Ravian mendarat di bibir Aelira dengan tekanan yang menggetarkan seluruh sendi.
Ciuman itu bukan sekadar kecupan. Bukan juga lembut.
Ravian menekan pinggang Aelira agar mendekat.
Ravian tidak peduli dan melumat rakus bibir Aelira dengan ciuman brutalnya.
Saat ciuman terputus, tangis Aelira pecah dan terduduk lemas di lantai
Memeluki tubuhnya sendiri, membuat Ravian membeku.
"Sial." Umpat Ravian dan melepaskan jaketnya kemudian memakaikan ke Aelira lalu menariknya ke dalam pelukan.
"baby... sorry, aku khilaf, pliss maafin aku. Aku cuma berusaha membuat kamu patuhw, gak lebih, "
"Udah, jangan nangis! Ayo pulang!"
***