Laura Hiraya yang baru berusia 20 tahun harus rela di jodohkan dengan putra konglomerat. Keputusan egois keluarganya menjadikan ia alat tukar di dalam bisnis. Keluarga konglomerat itu menjanjikan sebuah kerjasama bisnis, dan sebagai imbalannya mereka menginginkan calon istri untuk putra mereka, Gaharu Gardapati.
Gaharu, pria cacat yang sialnya sangat tampan. Kecelakaan tragis 2 tahun lalu membuatnya harus terduduk di atas kursi roda. Ia kehilangan kedua fungsi kakinya. Itu, bersifat sementara. Ia masih menjalani perawatan.
Lalu.. bagaimana kisah rumah tangga si gadis ceria dan aktif seperti Laura Hiraya yang di hadapkan dengan Gaharu Gardapati si pria arogan yang pemarah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vanesa Dintiani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25. Sakit & interogasi (2)
Gaharu terdiam di balik meja kerjanya. Lima menit yang lalu, Juan datang membawa setumpuk dokumen yang sempat tertunda tadi malam.
Setelah kabar Laura yang sakit, entah dorongan dari mana pria itu memilih meliburkan diri dari pekerjaan. Ia memilih mengerjakannya di rumah di banding langsung pergi ke kantor. Setidaknya, pria itu dapat memantau perkembangan Laura dan mengawasi setiap pergerakan gadis itu lewat cctv yang sengaja ia pasang pada kamarnya.
Setengah dari tumpukan dokumen itu sudah Gaharu tinjau dan selesaikan. Fokusnya kini teralihkan pada sebuah map biru yang berisikan informasi tentang pria bernama Abizar.
Bolpoin di tangannya ia letakan, meraih map biru tersebut lalu mulai membukanya. Mata tajamnya dengan teliti membaca setiap rentetan kalimat informasi di dalamnya, biodata termasuk silsilah keluarganya lengkap di dalam sana.
Di luar sana Juan mengetuk pintu tiga kali, lalu masuk ke dalam ruang kerja Gaharu. Membawakan sebuah teh chamomile yang biasa pria itu konsumsi akhir-akhir ini, sebuah kebiasaan.
“Tuan. Teh, Anda.” Juan meletakan cangkir teh yang masih mengepul itu pada bagian meja yang tampak kosong.
Juan mundur beberapa langkah dan berdiri tegak di hadapan Gaharu. Hanya meja yang memisahkan jarak mereka berdua.
“Kau yakin tidak salah memberikan informasi?” Gaharu menutup map tersebut dan melemparkannya sembarang arah. Menatap tepat pada mata si sekertaris.
“Benar, Tuan. Saya sudah memastikannya. Sebelum itu, saya sempat mendatangi salah-satu sahabat yang dekat dengan Nyonya muda, Rahel. Pria bernama Abizar ini memang gencar mengejar-ngejar Nyonya muda sebelum pernikahan Anda dan Nyonya berlangsung.”
“Tepatnya saat Nyonya masih menjadi mahasiswi baru di universitas. Tuan Abizar sudah mengejar-ngejar Nyonya muda. Namun, Nyonya selalu mencari cara untuk menghindar. Selain itu..”
Juan mengantungkan ucapannya. Pria itu meraih map yang sempat di lemparkan Gaharu dan membuka lembaran terakhir pada map tersebut. Ia membawanya dan menunjukkan isi dari laporan tersebut.
“... Ada satu pria yang juga mengejar-ngejar Nyonya Laura. Noah, anak fakultas teknik. Setelah saya telusuri, dia salah-satu anak dari keluarga Dawson. Namun, sepertinya pria ini sudah tahu tentang pernikahan Anda dan Nyonya Laura. Dia menjaga batasannya dan cenderung mengindari Nyonya muda.”
Gaharu menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi roda, membiarkan keheningan mengisi ruang sejenak. Matanya tertuju pada nama 'Noah' yang baru saja disebutkan Juan. Ujung jarinya mengetuk meja dengan irama yang pelan namun penuh penekanan, menciptakan suasana yang kian tegang.
“Dawson, ya?” Gaharu bergumam rendah, suaranya terdengar seperti geraman tertahan. “Setidaknya dia punya cukup otak untuk tahu kapan harus mundur. Tidak seperti tikus kecil bernama Abizar ini. Dia selalu mencampuri apapun yang aku miliki..”
Gaharu meraih cangkir teh chamomile yang disiapkan Juan, namun ia hanya memutar-mutarnya perlahan tanpa niat untuk menyesapnya. Uap tipis yang menari-nari di depan wajahnya seolah memperkeruh sorot matanya yang mendingin.
“Lalu, bagaimana dengan masalah kesehatan istriku? Kenapa dia bisa sakit? Tentang dosen yang mengajar dan tentang makanan yang dia konsumsi hari itu.”
Juan menarik nafasnya dalam-dalam, menutup kembali map biru tersebut. “Jadwal hari itu tidak benar-benar padat, Tuan. Seperti jam kelas pada umumnya. Hanya saja.. cuaca hari itu memang benar-benar panas. Di tambah lagi fasilitas yang di berikan pihak universitas pada fakultas seni benar-benar minim.”
“Apa maksudmu?” jelas sekali ada nada kemarahan pada pertanyaan itu.
“Tidak ada pendinginan ruangan seperti pada fakultas-fakultas yang lain. Bahkan ruang dosen pun lebih baik di banding fasilitas yang di berikan kepada fakultas seni,” jelasnya.
“Apa mereka sedang mempermainkanku?” Gaharu terkekeh sinis.
Pria itu diam-diam memberikan banyak donasi Minggu ini agar Laura merasa nyaman. Anggap saja sebagai kompensasi karena sudah menemaninya untuk check up ke rumah sakit. Tapi, lihat manusia-manusia serakah itu. Benar-benar kurang ajar! Mereka tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa.
“Kau tahu apa yang harus kau lakukan, Juan.”
Juan mengangguk paham. “Saya sudah mengurusnya, Tuan. Saya sudah memastikan saat Nyonya Laura kembali kuliah, fasilitas sudah di ubah. Dan.. Tuan Rajendra ikut turun tangan saat mendengar informasi tersebut. Tuan Rajendra mengadakan rapat di universitas perihal fasilitas yang terkait. Terkhusus untuk Rektor dan staf-staf yang bertanggung jawab akan hal itu.”
Gaharu sedikit tertegun saat nama ayahnya disebut. Ia mendengus pelan, sebuah seringai tipis muncul di sudut bibirnya yang dingin.
“Tua bangka itu masih saja gemar ikut campur,” gumam Gaharu, meski ada sedikit rasa puas karena ayahnya bertindak lebih kejam jika menyangkut kenyamanan keluarga. “Tapi baguslah. Biarkan dia yang membersihkan kotoran-kotoran di universitas itu. Setidaknya rektor dan bawahannya akan gemetar sebelum aku sempat menyentuh leher mereka.”
Gaharu kemudian melirik monitor yang menampilkan visual kamarnya. Laura masih terbaring, nafasnya terlihat teratur meski wajahnya masih memucat.
“Lalu, tentang makanan yang di konsumsi oleh istriku hari itu?”
“Nyonya melewatkan makan siangnya, Tuan. Nyonya hanya membeli satu roti berisi selai coklat dengan es teh manis, siang itu. Keadaan kantin saat itu cukup padat dan berdesak-desakan—”
Tak!
Suara cangkir yang beradu memotong penjelasan Juan. Pria itu mengatupkan bibirnya rapat-rapat.
“Panggil gadis bernama Rahel, sekarang!”
“Tuan, apa yang ingin Anda lakukan?”
“Jangan bertanya, lakukan saja.”
“Baik,” Juan menundukkan kepalanya. Ia berbalik cepat dan keluar dari ruangan itu. Di setiap langkah yang ia ambil, ia menerka-nerka apa kira-kira yang akan Tuan mudanya lakukan kepada sahabat Nyonya mudanya.
Tidak mungkin 'kan jika Tuan mudanya akan memarahi gadis bernama Rahel itu karena Laura yang telat makan?
Tidak masuk akal.
***
Rahel meremas jari-jarinya dengan gugup. Saat ia sedang berjalan menuju kos-annya dengan menenteng nasi ayang geprek yang sempat ia beli tadi. Tiba-tiba sebuah mobil hitam mewah berhenti di sampingnya.
Juan, keluar dari dalam mobil dan menyuruh Rahel untuk masuk. Rahel jelas mengetahuinya. Pria itu adalah tangan kanan pengusaha berpengaruh di kota ini. Tangan kanan dari suami sahabatnya.
Pikirannya sudah berkecamuk kemana-mana. Kira-kira apakah ia membuat sebuah dosa dengan pria bernama Gaharu? Atau mungkin karena ia berbuat dosa kepada istrinya, Laura?
Ya Tuhan, selamat aku. Begitulah pemikirannya.
Kini, Rahel sedang menunggu di ruang tengah kediaman pribadi Gaharu. Matanya menelisik setiap sudut ruangan itu. Betapa mewahnya rumah ini.
Suara ketukan sepatu heels memecah lamunan Rahel yang masih terlihat sibuk menelisik setiap sudut ruangan.
“Kamu gadis yang bernama Rahel?” tanya seorang wanita yang tak lain adalah Adeline.
Rahel sontak saja berdiri dan membungkukkan badannya. Adeline terkekeh geli melihat refleks yang di berikan sahabat menantunya.
“Jangan terlalu formal, duduklah.”
Adeline duduk di seberang Rahel. Sementara Rahel dengan kaku kembali duduk dengan meremas bungkusan keresek hitam yang berisi nasi ayam geprek tadi.
“Apa yang kamu bawa, Rahel?”
“A-ah! Hehe, hanya makanan kecil untuk makan siang saya, Nyonya.” Rahel membalas dengan kikuk, ia dengan segera memasukan bungkusan keresek itu pada tas selempang hitamnya. Takut-takut bau ayam geprek itu membuat ruangan wangi dan sejuk ini terkontaminasi.
Adeline tersenyum kecil, “Kamu belum makan? Ingin makan siang bersama?”
Rahel membelalak kaget, ia reflek mengangkat tangannya menolak. “Tidak perlu, Nyonya. Saya sudah makan siang di kampus tadi.”
“Begitu, baiklah.”
Tepat saat itu, seorang pelayan datang dengan membawa minuman segar juga beberapa cemilan.
“Jika kamu tidak ingin makan, setidaknya minum atau makan beberapa cemilan ini, hm?”
Ah.. Nyonya besar Gardapati benar-benar baik. Meleleh hati Rahel. Apalagi saat ia mendengar nada lembut yang keluar dari dua belah bibir cantik itu. Benar-benar ibu dan mertua idaman.
Rahel dengan sedikit gemetar meraih gelas air berwarna orange, menyesapnya sedikit. Sensasi dingin dan segar benar-benar membuat tenggorokannya terasa lebih lega. Namun, rasa tenang itu hanya bertahan sekejap.
“Ibu, berhenti keramah-tamahanmu. Dia di sini atas perintahku.”
Suara bariton dingin muncul saat pintu lift berdenting, mereka bahkan tidak sadar jika suara lift berdenting.
Rahel tersedak kecil. Gadis itu dengan segera meletakkan gelasnya dan menunduk dalam-dalam saat kursi roda itu berjalan menuju ruang tengah. Pria itu tampak sangat dominan meski hanya mengenakan kemeja santai dengan lengan kemeja yang di gulung hingga batas siku.
Adeline menghela napas, menatap putranya dengan pandangan mencela. “Gaharu, jangan menakutinya. Dia ini sahabat Laura.”
“Aku tahu, Ibu. Bisakah Ibu tinggalkan kami berdua?”
Adeline bangkit dengan anggun, mengusap bahu Rahel sekilas seolah memberi kekuatan sebelum beranjak pergi. Kini, hanya tersisa keheningan yang mencekam antara sang penguasa rumah dan mahasiswi yang masih memeluk tas berisi ayam gepreknya itu.
“Rahel,” panggil Gaharu rendah.
“Y-ya, Tuan?”
“Kau bersama Laura saat jam makan siang kemarin?”
Rahel menelan ludahnya dengan susah payah. “Benar, Tuan..”
“Kau bersamanya, kau sahabatnya, tapi kau membiarkan sahabatmu dehidrasi dan mengalami asam lambung hingga demam sekarang! Kau membiarkan istriku makan satu roti yang bahkan tidak bisa mengganjal rasa lapar. Sahabat macam apa kau ini?”
Rahel berjengit kaget saat suara Gaharu naik satu oktaf. Ia memejamkan matanya dengan erat meremas tangannya yang gemetar.
“Saya.. saya sudah menawarkan diri untuk mengantri makanan. Namun.. Laura menolak. Saya bersumpah, Tuan!” Rahel hampir saja menangis karena tekanan aura Gaharu.
“Laura mengatakan jika saat itu ia sedang tidak berselera makan. Saya tidak berani memaksa karena emosinya kadang tidak stabil saat cuaca panas..” jelasnya pelan.
Gaharu terdiam, ia merogoh sakunya lalu ia letakan sebuah kartu berwarna emas di atas meja. “Ambil ini.”
Rahel tertegun, menatap kartu itu dengan bingung. “I—ini.. ini kartu apa, Tuan?”
“Kartu akses eksklusif untuk layanan katering premium yang akan dikirim ke kampus setiap hari saat istriku mulai kembali kuliah. Aku akan memberimu penawaran..” Gaharu menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi roda. Melipat kedua tangannya di depan dada.
“Penawaran apa yang Anda maksud, Tuan?”
“Pekerjaan, dan pastinya gajinya lebih dari cukup dari gaji yang kau dapatkan saat ini, bagaimana?”
Pekerjaan? Gaji yang lebih dari gajih yang ia dapat dari pekerjaannya saat ini? Rahel menelan ludahnya susah payah.
“Jika boleh tahu.. pekerjaan apa yang harus saya lakukan?”
Gaharu tersenyum puas. “Cukup sederhana, hanya memastikan istriku makan dengan baik, tidak melewatkan jam makan siang saat di kampus. Jika dia menolak, kau harus mencari cara agar makanan itu masuk pada perutnya.”
Gaharu memajukan tubuhnya, menatap Rahel dengan intensitas yang lebih dalam. “Jika kau berhasil memastikan dia makan dengan benar dan tidak jatuh sakit lagi, kartu itu juga berlaku untukmu. Makan siangmu, makan malammu, apa pun yang kau inginkan di restoran manapun yang terafiliasi dengan Gardapati Group, akan ditanggung olehku. Bagaimana?”
Rahel tanpa ragu menganggukkan kepalanya cepat. Ia tidak mungkin menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Hidup di kota besar sudah cukup mencekiknya. Apalagi dengan harga-harga makanan dan benda lainnya yang cukup mahal. Dengan gajih mungilnya bisa saja ia mati muda, 'kan?
“Saya menerimanya, Tuan. Saya akan memastikan jika Laura akan makan dengan teratur setelah ini!” sahut Rahel menggebu-gebu. Ia melupakan rasa takutnya yang sempat menyergap perasaannya.
“Bagus, tapi ingat..” Gaharu merendahkan nada bicaranya. “Jika aku melihat dia pingsan lagi karena maag atau kelelahan sementara kau ada di sampingnya... aku akan memastikan beasiswamu di universitas itu berakhir hari itu juga. Mengerti?”
Rahel kembali mengangguk dengan cepat, tangannya gemetar meraih kartu emas itu. “Mengerti, Tuan. Saya mengerti.. saya akan memastikan Laura makan dengan baik!”
“Satu hal lagi.. tentang pria bernama Abizar. Jika kau melihatnya mendekati Laura lagi di kampus, segera hubungi sekertarisku. Kau akan mendapatkan 'bonus' yang lebih besar dari sekadar makan gratis jika kau menjadi mataku di sana. Setidaknya istriku ada yang mengawasi saat jauh dari jangkauan kelima ajudannya.”
“Maksud Anda, saya akan menjadi seperti pengawal pribadi?”
“Bisa di katakan seperti itu. Pastikan pekerjaanmu benar. Aku tidak suka menerima satu kesalahan sekecil apapun.”
“Baik, Tuan! Saya mengerti, saya akan bekerja dengan baik!” Rahel berdiri dari duduknya dan membungkuk dengan hormat.
Rahel merasa ekonominya di kota besar ini benar-benar tertolong karena suami dari sahabatnya ini. Sementara Gaharu, pria itu tampak tersenyum puas.
***
Jum'at, 08 Mei 2026
Published : Jum'at, 08 Mei 2026