NovelToon NovelToon
Pak Jadikan Aku Pacarmu

Pak Jadikan Aku Pacarmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Bad Boy
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad Robby Ido Wardanny

Clara Rubiana, 25 tahun, putri bungsu pemilik Darmawan Group, mulai bekerja di perusahaan ayahnya demi mencari pengalaman. Di sana, ia jatuh hati pada Tony Bagaskara, direktur operasional yang kharismatik dan selalu terlihat sempurna. Sebaliknya, Clara membenci Doni Permana, direktur pemasaran yang sering berselisih dengan Tony dan dianggap arogan. Namun seiring waktu, Clara mulai melihat sisi asli Tony yang manipulatif dan penuh ambisi gelap. Kekecewaan itu menghancurkan perasaannya. Di tengah keterpurukan, Doni justru hadir dengan ketulusan, keberanian, dan kepedulian yang tak pernah Clara sadari sebelumnya. Perlahan, kebencian berubah menjadi rasa nyaman, lalu tumbuh menjadi cinta yang tak terduga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 29

Akhir pekan akhirnya tiba. Sejak siang Clara sudah beberapa kali melirik jam dinding di kantor. Tangannya memang tetap bekerja merapikan laporan dan memeriksa data, tetapi pikirannya sudah melayang ke rumah. Sudah lebih dari satu bulan ia tidak pulang. Selama itu pula ia hidup sendiri di kontrakan kecil dengan kipas angin yang sering berbunyi berdecit, tumpukan pakaian yang harus dicuci sendiri, dan rutinitas sederhana yang dulu bahkan tidak pernah ia bayangkan.

Begitu jam kerja selesai, Clara segera membereskan mejanya. Beberapa pegawai lain mulai keluar sambil bercanda satu sama lain. Clara menghela napas pelan lalu mengambil tasnya. Baru saja ia berjalan keluar gedung, sebuah mobil hitam sudah terparkir di depan kantor.

Seorang sopir yang sangat dikenalnya segera turun dan membungkukkan badan sedikit.

“Nona Clara.”

Clara tersenyum kecil. “Pak Darto.”

“Pak Agung menyuruh saya menjemput nona pulang.”

Clara mengangguk pelan. “Ayah benar-benar memastikan aku tidak kabur, ya?”

Pak Darto tertawa kecil sambil membukakan pintu mobil untuknya.

“Pak Agung sebenarnya sudah bertanya sejak siang apakah nona benar-benar pulang hari ini.”

Clara masuk ke mobil sambil tersenyum tipis. “Aku sudah janji.”

Mobil mulai melaju meninggalkan area kantor. Clara duduk diam sambil melihat jalanan dari balik jendela. Kota sore itu masih ramai. Lampu kendaraan memenuhi jalan dan suara klakson terdengar bersahutan. Biasanya dulu Clara akan mengeluh jika perjalanan terlalu macet. Namun kali ini berbeda. Bahkan kemacetan terasa tidak terlalu menyebalkan karena hatinya sedang penuh rasa rindu.

Ia membayangkan ibunya.

Membayangkan aroma rumah.

Membayangkan ruang makan besar yang dulu terasa biasa saja, tetapi sekarang justru sangat dirindukannya.

Clara tersenyum kecil sendiri.

“Kenapa senyum-senyum, nona?” tanya Pak Darto dari depan.

“Aku cuma kangen rumah.”

Pak Darto tampak tersenyum melalui kaca depan. “Ibu Ida pasti senang sekali.”

Clara memandang keluar lagi. Jujur saja, ia juga gugup. Selama hidupnya, baru kali ini ia benar-benar jauh dari rumah dalam waktu cukup lama. Dulu ia sering marah jika orang tuanya menegur sikap manjanya. Ia merasa semua orang terlalu mengatur hidupnya. Namun sekarang setelah hidup sendiri, Clara mulai mengerti banyak hal yang dulu tidak pernah ia pikirkan.

Tentang uang.

Tentang lelah.

Tentang menghargai pekerjaan orang lain.

Dan tentang rumah yang ternyata menjadi tempat paling nyaman di dunia.

Mobil akhirnya memasuki halaman rumah besar keluarga Agung. Baru saja mobil berhenti sempurna, pintu rumah langsung terbuka.

Bu Ida berjalan cepat keluar rumah.

“Clara!”

Clara bahkan belum sempat turun dengan sempurna ketika ibunya langsung memeluknya erat.

Pelukan itu begitu hangat hingga Clara langsung terdiam.

Ibunya menangis.

Benar-benar menangis.

“Ya ampun... kamu pulang juga...” suara Bu Ida bergetar.

Clara ikut memeluk ibunya erat. “Ibu... aku juga kangen.”

Bu Ida mengusap wajah putrinya berkali-kali seolah memastikan Clara benar-benar ada di depannya.

“Kamu kurus sekali,” ucapnya pelan dengan mata merah. “Lihat wajahmu... tanganmu juga kasar.”

Clara tertawa kecil walau matanya mulai terasa panas.

“Biaya salon mahal, Bu.”

Bu Ida langsung menatapnya.

“Apa?”

Clara tersenyum sambil mengangkat kedua tangannya. “Sekarang aku juga tidak takut kuku patah lagi karena dipakai mencuci baju.”

Bu Ida tampak antara sedih dan tidak percaya.

“Dulu kamu bahkan marah kalau kuku sedikit lecet.”

“Sekarang beda,” jawab Clara santai. “Kalau tidak mencuci sendiri, nanti aku kehabisan baju.”

Ibunya mengusap pipi Clara pelan.

“Kamu benar-benar berubah.”

Clara tertawa kecil. “Aku juga sudah tidak terlalu peduli make up.”

Bu Ida mengernyit. “Tumben.”

“Kontrakanku panas sekali, Bu. Baru pakai bedak sedikit sudah luntur kena keringat. Jadi percuma.”

Bu Ida akhirnya tertawa kecil di tengah tangisnya.

“Anak ibu yang dulu bisa menangis karena eyeliner tidak simetris sekarang bicara soal keringat.”

“Manusia memang bisa berevolusi kalau dipaksa keadaan,” jawab Clara sambil terkekeh.

Pak Darto yang masih berdiri dekat mobil sampai ikut tersenyum. Sungguh aneh melihat Clara yang dulu seperti putri kerajaan sekarang berbicara santai soal cucian dan panas kontrakan. Hidup memang hobi sekali memberi tamparan pendidikan gratis kepada manusia.

Bu Ida menggandeng tangan putrinya masuk ke rumah.

“Kamu pasti capek. Sana mandi dulu. Setelah itu makan malam.”

Clara tiba-tiba berhenti melangkah.

“Bu.”

“Iya?”

“Aku mau masak malam ini.”

Bu Ida tampak terkejut. “Masak?”

Clara mengangguk penuh keyakinan. “Aku mau masak untuk ibu dan ayah.”

“Tunggu dulu.” Bu Ida sampai tertawa bingung. “Kamu serius?”

“Aku serius.”

“Kamu bisa?”

Clara langsung mengangkat dagu. “Jangan meremehkan rakyat kontrakan.”

Bu Ida tertawa makin keras.

“Baiklah, ibu mau lihat hasil perjuangan hidupmu.”

Clara tersenyum puas lalu segera naik ke kamar untuk mandi.

Begitu memasuki kamarnya, Clara langsung terdiam sesaat. Kamarnya masih sama seperti terakhir ia tinggalkan. Tempat tidur besar, meja rias lengkap, lemari pakaian mahal, dan aroma ruangan yang wangi.

Dulu semua ini terasa biasa.

Namun sekarang terasa sangat mewah.

Clara duduk sebentar di tepi kasur sambil menarik napas panjang.

Ternyata rumah memang berbeda.

Setelah mandi dan berganti pakaian santai, Clara segera turun menuju dapur. Bibik Asih yang sedang membereskan bahan makanan langsung membelalak begitu melihat Clara masuk.

“Nona Clara?”

Clara tersenyum lebar. “Bibik Asih, aku mau belajar masak lagi.”

Bibik Asih tampak benar-benar syok.

Perempuan itu sudah bekerja di rumah keluarga Agung sejak Rendra, kakak sulung Clara, masih kecil. Ia hafal betul bagaimana Clara dulu tumbuh menjadi anak manja yang bahkan malas mengambil air minum sendiri.

Sekarang gadis itu masuk dapur dengan wajah penuh semangat.

Dunia memang aneh.

“Bibik tidak salah dengar?” tanya Bibik Asih hati-hati.

“Aku mau masak ayam goreng bumbu kuning dan tumis sawi jamur.”

Bibik Asih langsung menatap Clara beberapa detik sebelum tertawa kecil.

“Kalau begitu bibik bantu.”

Clara segera mengambil celemek dan mulai menyiapkan bahan-bahan. Walau masih canggung, gerakannya jauh lebih baik dibanding pertama kali belajar memasak.

Ia mulai menghaluskan bawang.

Memotong kunyit.

Mencuci ayam.

Sesekali Bibik Asih memberinya instruksi.

“Bawangnya jangan terlalu besar potongannya, nona.”

“Seperti ini?”

“Iya, bagus.”

Clara tampak fokus sekali. Bahkan ketika tangannya mulai pegal karena mengulek bumbu, ia tetap melanjutkan.

“Masak ternyata capek juga,” gumamnya.

Bibik Asih tersenyum. “Makanya jangan suka menyisakan makanan.”

Clara langsung diam sesaat.

Kalimat sederhana itu terasa menamparnya pelan.

Dulu ia memang sering membuang makanan hanya karena tidak sesuai selera.

Sekarang setelah harus memasak sendiri, ia baru sadar setiap makanan membutuhkan tenaga dan waktu.

Clara mulai memasukkan ayam ke dalam bumbu kuning. Aroma rempah langsung memenuhi dapur.

“Mmm... harum juga,” katanya bangga.

“Nona memang berbakat kalau mau belajar,” puji Bibik Asih.

Clara terkekeh kecil. “Dulu aku terlalu sibuk jadi manusia menyebalkan.”

Bibik Asih tertawa sambil mengaduk tumisan.

Tidak lama kemudian masakan akhirnya selesai. Clara memandangi hasil masakannya dengan wajah puas. Ayam goreng bumbu kuning tampak menggoda dengan warna keemasan, sementara tumis sawi jamur terlihat segar.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Clara merasa bangga pada sesuatu yang ia buat sendiri.

Ia segera menuju ruang keluarga.

“Ayah! Ibu! Makan malam!”

Pak Agung yang sedang membaca koran langsung menurunkannya perlahan.

“Wah, semangat sekali.”

Bu Ida tersenyum sambil berjalan menuju ruang makan bersama suaminya.

Begitu melihat hidangan di meja, keduanya tampak benar-benar terkejut.

“Ini buatan kamu?” tanya Bu Ida.

Clara langsung menunjuk dirinya sendiri dengan bangga. “Tentu saja.”

Pak Agung duduk sambil menatap lauk di meja dengan wajah penuh curiga.

“Ayah rasa ini sebenarnya buatan Bibik Asih.”

Clara langsung protes.

“Ayah!”

Pak Agung tertawa kecil. “Ayah hanya sulit percaya anak ayah yang dulu tidak bisa menyalakan rice cooker sekarang memasak ayam bumbu kuning.”

“Itu fitnah masa lalu,” jawab Clara cepat.

Bu Ida tertawa kecil sambil mengambil nasi.

“Sudah, ayo coba dulu.”

Pak Agung mengambil sedikit ayam lalu mencicipinya perlahan.

Clara langsung menatap ayahnya penuh harap.

“Bagaimana?”

Pak Agung diam beberapa detik.

Clara mulai panik.

“Jangan bilang asin.”

Pak Agung tiba-tiba tersenyum kecil. “Enak.”

Mata Clara langsung membesar. “Serius?”

“Iya.”

Bu Ida juga ikut mencicipi tumis sawi jamur lalu mengangguk kagum.

“Ini benar-benar enak.”

Clara langsung tersenyum lebar seperti anak kecil mendapat hadiah.

“Aku berhasil.”

Pak Agung memandang putrinya beberapa saat sebelum tersenyum tipis.

“Ayah bangga padamu.”

Kalimat itu sederhana.

Namun Clara langsung terdiam.

Entah kenapa dadanya terasa hangat mendengarnya.

Dulu ia selalu berpikir ayahnya terlalu keras. Namun sekarang Clara mulai mengerti bahwa semua itu dilakukan karena ayahnya ingin ia tumbuh menjadi pribadi yang kuat.

Makan malam itu akhirnya dipenuhi tawa dan obrolan panjang.

Clara menceritakan kehidupannya di kontrakan.

Tentang kipas angin yang suka mati mendadak.

Tentang perjuangannya memasak telur dadar pertama yang gosong.

Tentang naik bus berdesakan.

Tentang dirinya yang sekarang selalu menghitung pengeluaran sebelum membeli sesuatu.

Bu Ida beberapa kali tampak ingin menangis mendengarnya.

Sementara Pak Agung diam-diam memperhatikan putrinya dengan tatapan bangga.

Clara memang berubah.

Bukan menjadi sempurna.

Tetapi menjadi lebih dewasa.

Dan malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, rumah mereka kembali terasa lengkap.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!