Cinta tidak selalu datang dengan gemuruh.
Kadang ia tumbuh perlahan—seperti pucuk kecil yang bertahan di antara badai.
Arga adalah pria yang belajar mencintai melalui tanggung jawab. Ia percaya pernikahan bukan tentang romantika yang riuh, melainkan komitmen yang dijaga diam-diam, hari demi hari. Sementara Nara adalah perempuan yang membawa harapan di balik luka masa lalu—ia ingin dicintai sepenuhnya, tanpa ragu dan tanpa setengah hati.
Pertemuan mereka sederhana, namun keputusan untuk menikah mengubah segalanya. Di balik janji suci, ada perbedaan cara berpikir, ketakutan yang tak terucap, dan realitas hidup yang tak selalu sejalan dengan harapan. Mereka belajar bahwa cinta setelah pernikahan bukan hanya tentang saling memiliki, tetapi tentang saling memahami—bahkan ketika kecewa, bahkan ketika lelah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyanza Rayyan Fahlevy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Balik Jas Mahal Sang CEO
Matahari baru aja ngintip dari balik gorden pas Nara denger suara ketukan di pintunya. Bukan ketukan sopan yang biasanya Arga lakuin, tapi ketukan yang kedengeran agak... buru-buru?
"Nara, bangun. Sepuluh menit lagi kita cabut," suara Arga kedengeran dari balik pintu.
Nara ngerjapin mata, nyawanya belum ngumpul semua. "Hah? Apaan sih, Ga? Ini jam berapa? Kantor kan masih tutup!"
"Gue bilang kan semalam, hari ini nggak ada kantor. Cepetan, sebelum Papa kirim intel buat jagain gerbang," sahut Arga lagi.
Nara langsung loncat dari kasur. Dia cuci muka kilat, ganti baju pakai jeans sama kaos putih polos, terus lari keluar kamar. Pas nyampe di ruang tamu, Nara hampir aja nabrak punggung cowok yang lagi berdiri mungbelakangin dia.
"Ga?" Nara melongo.
Arga balik badan. Dan buat pertama kalinya, Nara ngelihat pemandangan yang nggak masuk akal. Arga nggak pakai jas. Nggak pakai kemeja yang kancingnya dikunci sampai leher. Dia cuma pakai kaos oblong hitam yang pas di badannya, celana jeans gelap yang agak pudar, sama sepatu *sneakers* yang kelihatan udah sering dipakai. Rambutnya yang biasanya klimis disisir ke belakang, sekarang dibiarin jatuh gitu aja nutupin dahi.
"Kenapa? Aneh ya?" Arga ngerapiin rambutnya yang berantakan, kelihatan agak salting diliatin Nara segitunya.
"Gila... lo siapa? Arga mana? Lo asistennya yang baru ya?" Nara muterin badan Arga. "Ternyata di balik jas mahal itu, lo punya tato kecil di lengan?"
Arga buru-buru nutupin lengan kanannya yang ada gambar grafik kecil—tapi kalau diperhatiin bener-bener, itu koordinat lokasi. "Itu cuma kenang-kenangan zaman kuliah di luar dulu. Udah, jangan dibahas. Ayo berangkat."
Mereka nggak keluar pakai sedan mewah. Arga malah narik Nara ke garasi pojok, terus buka penutup kain yang debuan. Di sana ada motor gede model klasik, warnanya hitam dop yang gahar banget.
"Naik," perintah Arga sambil nyerahin helm bogo warna krem ke Nara.
"Lo... lo bisa naik motor?" Nara masih nggak percaya.
"Dulu gue sering balapan liar pas Papa lagi dinas luar negeri. Jangan bilang-bilang dia," bisik Arga sambil naik ke atas motor, terus nyalain mesin yang suaranya ngebahas banget.
Nara naik, tangannya refleks megang pinggang Arga. Pas motor itu meluncur keluar gerbang, angin pagi Jakarta yang masih sejuk langsung nabrak muka mereka. Arga bawa motornya lincah banget, selap-selip di antara bus karyawan sama motor-motor lain.
Dia bawa Nara menjauh dari kawasan perkantoran Sudirman yang sumpek. Mereka naik ke arah Bogor, terus melipir ke jalanan kecil yang kanan-kirinya masih banyak pohon jati.
"Kita ke mana, Ga?" teriak Nara di balik helm.
"Ke tempat di mana gue bukan CEO!" bales Arga nggak kalah kencang.
Akhirnya mereka berhenti di sebuah rumah tua dari kayu yang posisinya menjorok ke dalem hutan pinus. Suasananya sepi banget, cuma ada suara burung sama gemericik air sungai. Arga markir motornya, terus ngelepas helmnya, bikin rambutnya makin acak-adakan yang malah bikin dia kelihatan sepuluh tahun lebih muda.
"Ini rumah kakek gue dari pihak Ibu," kata Arga sambil jalan nuju teras kayu yang udah agak rapuh. "Papa nggak suka tempat ini. Katanya terlalu 'kampung' dan nggak produktif. Tapi buat gue, ini satu-satunya tempat di mana gue nggak perlu pakai topeng."
Arga duduk di lantai teras, selonjoran sambil natap pohon-pohon tinggi di depannya. Nara duduk di sampingnya, ngerasain kedamaian yang belum pernah dia rasain selama di Jakarta.
"Jadi, ini sosok asli di balik jas mahal itu?" Nara nengok ke samping. "Cowok yang suka balapan, punya tato rahasia, dan suka rumah kayu?"
Arga senyum tipis, tapi kali ini senyumnya lepas banget. "Gue terpaksa ngubur semua ini pas Ibu meninggal. Papa langsung narik gue buat masuk ke dunianya dia. Harus sekolah bisnis, harus jadi yang terbaik, harus pakai jas setiap hari biar 'kelihatan berwibawa'."
Arga nunduk, mainin ujung sepatunya. "Lo tahu nggak, Nara? Semalam pas Papa nanya lo mau apa, gue sebenernya takut banget lo bakal bilang mau 'keluar'. Karena kalau lo pergi, gue bakal balik lagi jadi robot yang cuma tahu cara pakai jas mahal tanpa punya nyawa di dalemnya."
Nara diem, dia ngeraih tangan Arga yang gede itu, terus digenggam erat. "Gue nggak bakal ke mana-mana, Ga. Jas lo emang mahal, tapi cowok di depan gue sekarang ini... harganya nggak bisa dinilai pakai angka."
Arga natap Nara, matanya yang biasanya tajem sekarang kelihatan lembut banget. Di bawah naungan pohon pinus itu, tanpa gangguan asisten atau investor, Arga bener-bener luluh total. Dia bukan lagi Arga sang CEO, dia cuma Arga—manusia yang akhirnya nemuin rumah di dalam diri seorang wanita bernama Nara.
"Makasih udah mau liat sisi gue yang ini," bisik Arga, pelan banget sebelum dia narik Nara ke pelukannya.
---
Nara nyandarin kepalanya di bahu Arga yang cuma dilapis kaos oblong itu. Rasanya beda banget sama pas dia nyandar di jas mahalnya yang kaku dan licin. Bahu Arga yang sekarang kerasa anget, nyata, dan... manusiawi.
"Ternyata CEO juga bisa punya tato ya," goda Nara lagi, jemarinya pelan-pelan nyentuh gambar koordinat di lengan Arga. "Ini koordinat apa sih sebenarnya? Tempat harta karun?"
Arga ketawa pelan, getarannya kerasa sampai ke punggung Nara. "Bukan. Itu koordinat rumah ini. Gue bikin pas hari pemakaman Ibu. Gue takut suatu saat gue bakal lupa jalan pulang ke diri gue sendiri gara-gara terlalu sibuk jadi 'boneka' Papa."
Nara diem sebentar, ngerasain angin gunung yang mulai menusuk pori-pori. "Sekarang lo nggak perlu takut lupa lagi, Ga. Karena sekarang... ada gue yang bakal selalu ngingetin kalau lo itu Arga, bukan cuma selembar saham."
Arga nunduk, natap Nara yang mukanya kena sinar matahari pagi yang belang-belang gara-gara ketutup daun pinus. Dia ngeraih dagu Nara, pelan banget. "Lo tahu nggak? Tadi pas di motor, gue sempet mikir buat terus aja bawa motor ini sejauh mungkin. Nggak usah balik ke Jakarta, nggak usah dengerin ocehan Papa, nggak usah mikirin audit Rio."
"Terus kita makan apa? Daun pinus?" canda Nara, nyoba cairin suasana yang mulai terlalu deep.
"Ya nggak lah. Gue masih punya tabungan yang Papa nggak tahu. Kita bisa buka bengkel motor atau kedai kopi di sini. Lo bisa lanjutin nulis novel lo sambil ngelihatin gunung tiap hari," jawab Arga, nadanya serius banget sampai Nara sempet mikir kalau cowok ini beneran mau "resign" dari hidupnya yang mewah.
Nara senyum tulus, dia megang tangan Arga yang ada di dagunya. "Kedengarannya asik sih. Tapi kalau kita kabur sekarang, berarti kita kalah sama mereka. Gue mau kita balik ke sana, selesaiin semua urusan, dan lo bisa pakai jas mahal lo itu dengan perasaan kalau lo yang pegang kendali, bukan Papa."
Arga ngehela napas panjang, terus dia narik Nara makin nempel ke badannya. "Lo emang beda, Nara. Cewek lain mungkin bakal langsung setuju kalau gue ajak hidup mewah di persembunyian. Tapi lo malah nyuruh gue balik ke 'medan perang'."
"Ya soalnya gue tahu lo itu petarung, Ga. Bukan pecundang yang suka lari," balas Nara mantap.
Mereka duduk di sana cukup lama, cuma dengerin suara alam yang tenang banget. Arga ngerasa baterai mentalnya yang tadinya udah merah, sekarang penuh lagi. Di balik kaos oblong hitam yang simpel ini, dia ngerasa lebih kuat daripada saat dia pakai setelan jas paling mahal sekalipun.
"Laper nggak?" tanya Arga tiba-tiba.
"Banget! Lo mau masak?" Nara naik turunin alisnya, nantangin.
"Masak sih nggak bisa, tapi gue tahu warung mie instan paling enak di bawah sana. Mau?" Arga berdiri, terus ngulurin tangannya buat bantu Nara bangun.
"Gas! Pakai telur setengah mateng ya!" seru Nara semangat.
Pas mereka jalan balik ke motor, Arga sempet berhenti bentar buat ngelihat rumah kayu kakeknya itu. Dia ngerasa hari ini dia udah dapet restu yang selama ini dia cari. Bukan dari papanya, tapi dari dirinya sendiri.
"Ayo, tumpahan cat. Kita cari makan sebelum robotnya kelaperan," ajak Arga sambil makein helm ke kepala Nara, terus dia nyubit idung Nara gemes.
Nara cuma bisa cengar-cengir. Pagi ini bener-bener beda. Nggak ada jadwal rapat, nggak ada laporan keuangan, cuma ada Arga, motor gede, dan sepiring mie instan yang udah nunggu di depan mata.
---
Arga ngeraih kunci motornya, terus mereka berdua jalan santai turun ke arah warung tenda kecil yang posisinya pas banget di pinggir tebing. Suasananya bener-bener kontras sama restoran fine dining semalam. Di sini cuma ada meja kayu panjang, bau tanah basah, sama kepulan asap dari panci mie instan yang menggoda iman.
"Mang, dua ya! Pakai telur setengah matang sama rawit dipotong-potong," seru Arga fasih banget, bikin Nara makin melongo.
"Lo beneran sering ke sini ya, Ga? Kok Mang-nya kayak udah kenal banget?" Nara duduk di bangku kayu panjang sambil merhatiin Arga yang lagi sibuk nyari kerupuk di kaleng blek.
"Dulu, pas gue lagi stres banget sama tugas kuliah atau berantem sama Papa, gue kabur ke sini. Cuma Mang Dadang yang nggak bakal nanya gue dapet IPK berapa atau saham perusahaan naik berapa persen," jawab Arga sambil naruh dua kaleng soda dingin di meja.
Nara senyum tipis. Dia ngerasa makin sayang—eh, maksudnya makin kagum sama sisi manusiawi Arga ini. "Ternyata pelarian lo sederhana juga ya."
"Hidup gue udah terlalu ribet, Nara. Gue butuh yang sederhana buat tetep waras," Arga nyenderin punggungnya, matanya natap kabun pinus di bawah sana. "Dan sekarang, kesederhanaan gue itu... lo."
Nara hampir aja kesedak ludah sendiri denger omongan Arga yang makin berani. Dia mau bales ngeledek, tapi tiba-tiba HP Arga yang ditaruh di atas meja kayu itu getar nggak berhenti-berhenti. Getarannya kenceng banget, tanda ada puluhan notifikasi masuk barengan.
Arga ngerutin dahi. Dia sebenernya mau cuek, tapi pas liat nama "Bayu" muncul di layar panggilannya sampai lima kali berturut-turut, dia akhirnya ngeraih HP itu.
"Bentar ya, Nara. Bayu nggak bakal nelpon kayak orang kesurupan kalau nggak ada yang gawat," gumam Arga sambil geser tombol hijau. "Halo, Bay? Gue bilang kan jangan ganggu kecuali—"
Suara Arga mendadak berhenti. Mukanya yang tadi rileks dan penuh senyum langsung berubah kaku. Rahangnya ngeras lagi, persis kayak pas dia lagi di mode perang di kantor.
"Kapan?" tanya Arga singkat, suaranya dingin banget sampai bikin Nara merinding. "Oke. Kirim link-nya ke gue sekarang."
Nara langsung naruh kerupuknya. "Ada apa, Ga? Rio?"
Arga nggak jawab. Dia buka sebuah pesan dari Bayu, terus jarinya gemeteran dikit pas ngebuka sebuah postingan di akun gosip paling gede di Jakarta. Di sana, jelas banget ada foto lembaran kertas dengan judul besar: "SURAT PERJANJIAN PERNIKAHAN KONTRAK: ARGA & NARA".
Lengkap sama tanda tangan mereka berdua.
"Gila..." Nara ngerasa dunianya kayak runtuh pas liat layar HP Arga. "Itu... itu kan berkas yang gue simpan di laci kamar?"
"Rio," desis Arga. "Dia pasti nyuruh orang buat masuk ke rumah pas kita lagi di pesta semalam. Ini balas dendam dia karena gue audit perusahaannya."
Di bawah foto itu, ribuan komentar hujatan udah numpuk. Ada yang bilang mereka penipu, ada yang bilang Nara itu cuma cewek matre yang disewa, sampai ada yang nuntut Arga mundur dari jabatannya karena dianggap melakukan kebohongan publik demi naikin harga saham.
"Ga, gimana ini? Karir lo... perusahaan lo..." Nara mulai panik, matanya mulai berkaca-kaca. Dia ngerasa bersalah banget karena gara-gara dia, hidup Arga jadi berantakan.
Arga naruh HP-nya pelan. Dia natap Nara yang udah mau nangis. Bukannya panik atau marah, Arga malah ngeraih tangan Nara, digenggam kuat banget di bawah meja kayu itu.
"Nara, dengerin gue," suara Arga dalem banget. "Surat itu emang nyata. Kontrak itu emang ada. Tapi perasaan gue ke lo pas gue cium dahi lo semalam, atau pas gue ajak lo ke sini pagi ini... itu nggak ada di kontrak mana pun."
"Tapi dunia nggak bakal peduli, Ga! Mereka bakal hancurin lo!" tangis Nara pecah juga.
Arga berdiri, dia narik Nara ke pelukannya di tengah warung mie instan yang sepi itu. "Biarin mereka nyerang gue. Tapi gue nggak bakal biarin satu orang pun nyentuh lo. Kita balik sekarang. Kita selesaiin ini dengan cara gue."
Mie instannya dateng, tapi mereka udah nggak selera. Di balik jas mahal yang nggak dia pakai hari ini, Arga sadar kalau perang yang sebenernya baru aja dimulai. Dan kali ini, taruhannya bukan cuma jabatan, tapi masa depan dia sama wanita yang udah jadi "rumah"-nya.