NovelToon NovelToon
Ratu Yang Memilih Takdirnya

Ratu Yang Memilih Takdirnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Keluarga / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat / Cintapertama
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Anaya Barnes

Arcelia Virellia pernah menjadi putri yang hidup dalam kemewahan. Namun ketika bisnis keluarganya berada di ambang kehancuran, ia dijadikan alat transaksi melalui pernikahan politik dengan pewaris keluarga Ravert.
Pernikahan yang seharusnya menyelamatkan segalanya justru menghancurkan hidupnya.
Dihina keluarga suami…
Diabaikan oleh pria yang menjadi suaminya sendiri…
Dan ketika kematian misterius merenggut nyawa suaminya, Arcelia dituduh sebagai pembawa sial dan diusir tanpa belas kasihan.
Semua orang mengira hidupnya telah berakhir.
Namun tiga tahun kemudian, seorang investor misterius muncul dan mulai menguasai dunia bisnis elit kota. Tidak ada yang tahu identitasnya… sampai wanita itu kembali muncul dengan nama yang membuat masa lalu mereka bergetar.
Arcelia telah kembali.
Bukan lagi sebagai putri yang patuh…
Melainkan ratu yang siap menagih semua pengkhianatan.
Karena bunga mawar mungkin terlihat indah…
Tapi mereka lupa bahwa mawar selalu memiliki duri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anaya Barnes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32

Rumah itu tidak langsung kembali normal.

Pecahan kaca masih berserakan di lantai ruang keluarga. Beberapa tamu sudah pulang lebih dulu dengan wajah pucat dan pertanyaan yang tak terjawab. Suasana pesta yang seharusnya hangat berubah menjadi sunyi yang canggung.

Elvarin duduk diam di sofa, memeluk bantal kecilnya.

“Kak Lia…” suaranya pelan. “Tadi itu apa Kak?”

Arcelia duduk di sampingnya dan menggenggam tangannya. “Cuma ada sedikit gangguan Dek,” jawabnya lembut, meski hatinya sendiri belum tenang. “Tapi, sekarang sudah pergi.”

Elvarin menatapnya lama, seolah ingin memastikan kakaknya tidak berbohong.

Papa Alveron berdiri tak jauh dari mereka, menatap bingkai cermin yang kini kosong.

Ia tidak melihat sosok itu seperti Arcelia.

Tapi ia merasakan sesuatu, sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan logika bisnis atau strategi.

“Semua anak-anak masuk kamar dulu,” katanya akhirnya, suaranya tetap tenang walau matanya tajam. “Kita bereskan ini.”

Bang Kaiven membantu membereskan pecahan kaca bersama staf keamanan yang baru saja tiba. Kaelion masih berdiri dekat tangga, enggan pergi sebelum memastikan Arcelia benar-benar baik-baik saja.

Ketika suasana sedikit lebih tenang, Arcelia berdiri dan mendekati Papanya.

“Papa,” katanya pelan.

Papa Alveron menoleh.

“Papa ingat malam di rumah lama? Waktu listrik mati?”

Wajah Papa Alveron berubah sedikit.

“Iya Sayang, kenapa?.”

“Aku benar-benar bicara pada sesuatu waktu itu, kan?”

Ia terdiam cukup lama sebelum menjawab.

“Iya.”

Jawaban jujur itu membuat Arcelia menelan ludah.

“Kenapa Papa nggak pernah cerita?”

“Karena kamu masih kecil. Dan kami pikir itu cuma imajinasi anak yang kesepian.”

Arcelia tersenyum pahit.

“Ternyata bukan kan Pa?.”

Papa Alveron menghela napas panjang.

“Kalau ini tentang masa lalu, kita cari tahu bersama.”

Untuk pertama kalinya, Arcelia merasa beban itu tidak sepenuhnya ia tanggung sendiri.

Di sisi lain kota,

Wanita bergaun hitam berdiri di ruangannya yang gelap, menatap layar ponsel. Berita tentang kerusakan kecil di rumah keluarga Virellia sudah sampai padanya melalui jalur pribadi.

Namun yang membuatnya diam bukan itu. Melainkan sensasi aneh yang ia rasakan beberapa menit lalu.... Seperti udara di sekitarnya sempat menekan dada.

Ia menoleh ke sudut ruangan.

Kosong.

Namun ia tahu,

Sesuatu baru saja bergerak.

“Menarik…” gumamnya pelan.

Permainannya belum sepenuhnya selesai. Tapi ia mulai sadar, ia mungkin bukan satu-satunya yang mengatur papan catur.

Malam semakin larut,

Di kamar Arcelia, cermin sudah diganti sementara dengan kain besar yang menutup bingkainya.

Namun ketika ia duduk di ranjang, ia mendengar suara kecil.

Bukan suara gelap seperti sebelumnya.

Lebih lembut.

“Maaf.”

Arcelia membeku.

Ia menoleh pelan ke arah bingkai kosong.

Tidak ada sosok tinggi.

Hanya bayangan kecil.

Versi dirinya waktu kecil.

“Aku cuma takut sendirian…” suara itu lirih.

Arcelia merasakan air matanya kembali jatuh.

“Aku tahu,” bisiknya.

Bayangan kecil itu menatapnya.

“Dia masih ada.”

Arcelia mengangguk pelan.

“Aku tahu kok.”

“Dia tidak akan pergi sepenuhnya.”

Kalimat itu membuat dadanya terasa berat.

“Kenapa?”

“Karena dia tidak datang sendiri.”

Udara terasa sedikit lebih dingin.

Arcelia mengerutkan dahi.

“Maksudnya?”

Namun bayangan kecil itu perlahan memudar. Sebelum benar-benar hilang, ia mengucapkan satu kalimat terakhir.

“Hati-hati pada retakan di luar rumah.”

Arcelia terdiam.

Retakan… di luar rumah?

Di kantor pusat, malam itu juga,

Bang Kaiven duduk sendirian di ruang rapat kecil. Ia membuka kembali data keuangan yang mencurigakan. Dan menemukan sesuatu yang membuatnya menegang.

Aliran dana pesaing mereka… Terhubung dengan sebuah yayasan lama. Yayasan yang pernah bermitra dengan perusahaan keluarga mereka bertahun-tahun lalu.

Saat Arcelia masih kecil.

“Ini bukan kebetulan…” gumamnya.

Ia segera mengirim pesan ke Papanya.

“Masalah ini lebih lama dari yang kita kira.”

Beberapa detik kemudian balasan datang.

“Besok kita bongkar semuanya.”

Di kamar utama,

Papa Alveron dan Mama Mirella duduk berdampingan dalam sunyi.

“Kita terlalu lama menghindari masa lalu,” istrinya berkata pelan.

Papa Alveron mengangguk. “Mungkin memang sudah waktunya kita menghadapinya.”

Ia menatap ke arah lorong kamar anak-anaknya.

Apa pun yang bangkit malam ini, bukan hanya tentang janji anak kecil. Bukan hanya tentang bisnis. Semuanya terhubung. Dan retakan pertama sudah muncul.

Di kamar Arcelia,

Ia berdiri perlahan dan mendekati bingkai cermin kosong.

Tangannya menyentuh kayu di tepinya.

“Kalau kamu masih di luar sana,” bisiknya pelan, “aku tidak takut lagi.”

Angin tipis menyapu tirai. Tidak ada suara menjawab. Namun jauh di luar rumah, di tempat yang gelap dan tak terlihat..... sosok tinggi itu berdiri diam.

Tidak lagi mencoba masuk.

Hanya mengawasi.

Menunggu.

Karena seperti yang dikatakan bayangan kecil itu, ia tidak datang sendiri. Dan sesuatu yang lebih besar… baru saja terbangun.

1
Anaya Barnes
siap kaka
makasih udah mampir🙏
mfi Pebrian
aku dah mampir yah.....cerita nya bagus.....tetap semangat.
jangan lupa mampir juga di novel aku judul nya"Dialah sang pewaris"di tunggu yah....
Raine
jujur ceritanya bagus, tapi sedikit bosan untuk saya, narasi author di setiap bab selalu mengulang kalimat dengan arti yg sama, kayak udah baca tadi trus di baca ulang lagi dan lagi
mfi Pebrian: mampir kak di novel saya"Dialah sang pewaris"
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!