Kelanjutan Dari Novel Pangeran Sampah Yang Menyembunyikan Kemampuannya.
Di dunia yang terpecah oleh kebencian antar ras, perdamaian hanyalah mimpi yang dianggap mustahil.
Ferisu—mantan pangeran yang diremehkan—kini bangkit sebagai Raja Kerajaan Asterism. Sebuah kerajaan baru yang berani menentang hukum dunia dengan satu gagasan gila: kesetaraan bagi semua ras.
Manusia, elf, beastmen, dwarf, dan ras lainnya hidup di bawah satu panji yang sama.
Namun dunia tidak tinggal diam. Ancaman datang dari segala arah. Pengkhianatan mengintai dari dalam. Dan perang besar yang pernah menghancurkan peradaban perlahan kembali menunjukkan tanda-tandanya.
Mampukah Ferisu mempertahankan mimpinya?
Ataukah Asterism akan menjadi percikan yang membakar dunia dalam perang yang lebih dahsyat?
Sebuah kisah tentang ambisi, persatuan, dan perjuangan melawan takdir dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katsumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 8 : Dark Elf
Langit pagi menyusup lewat celah tirai. Pria berambut hitam itu terbangun perlahan.
Mata emasnya terbuka, tajam namun kosong—seperti seseorang yang terbiasa bangun di tempat yang bukan miliknya.
Tangannya refleks bergerak ke belakang pinggang.
Belati tidak ada.
Ia langsung duduk.
Lingkaran sihir tipis menyala di lantai. Bukan menekan. Hanya membatasi.
Di depannya, Ferisu duduk tenang.
Noa berdiri di sisi lain ruangan.
Eliza bersandar di dinding, memainkan ujung rambut peraknya dengan ekspresi santai.
“Pagi,” ucap Ferisu.
Pria itu menatapnya tanpa bicara. Tangannya menyentuh kerah budak di lehernya. Rune di sana retak. Redup.
“Ini…” gumamnya pelan.
“Kami melemahkannya,” jawab Noa.
Ia terdiam beberapa detik.
Lalu berbicara.
“Namaku… Anor.”
Noa sedikit terkejut.
Ia punya nama.
Anor.
Nama itu terdengar asing. Tidak seperti nama bangsawan Zenobia. Tidak juga seperti nama khas dark elf.
“Kau berasal dari wilayah gurun?” tanya Ferisu.
Anor menggeleng pelan.
“Aku tidak tahu.”
Jawaban itu membuat ruangan hening.
“Kau tidak tahu?” ulang Noa.
Anor menatap tangannya sendiri.
“Aku tidak berasal dari Zenobia, lebih tepatnya aku tidak tahu asalku dari mana.”
Ia berbicara lambat. Seolah merangkai ingatan yang tidak utuh.
“Aku… bangun di hutan.”
“Hutan mana?” tanya Ferisu.
“Aku tidak tahu.”
Sunyi.
“Tubuhku terluka parah. Ada darah. Banyak.”
Mata emasnya sedikit bergetar.
“Aku mencoba bergerak. Lalu semuanya gelap lagi.”
Ia menelan napas pelan.
“Saat sadar… kerah ini sudah terpasang.”
Tangannya mencengkeram lingkar logam di lehernya.
“Orang-orang menyebutku dark elf. Mereka bilang aku ditangkap di perbatasan timur Zenobia.”
“Dan kau tidak ingat apa-apa sebelumnya?” tanya Noa hati-hati.
Anor terdiam lama.
“Aku ingat… suara.”
“Suara?” ulang Eliza.
“Hutan yang… sangat sunyi.”
Sunyi?
“Dan seseorang memanggil namaku,” lanjutnya pelan. “Anor.”
Itu saja.
Tak ada desa.
Tak ada keluarga.
Tak ada asal-usul.
Hanya nama… dan rasa sakit.
Ferisu menatapnya dalam.
“Kau tahu tentang dunia di luar Zenobia?” tanyanya.
Anor menggeleng tipis.
Ia menatap jendela seperti anak kecil yang melihat dunia untuk pertama kali.
“Manusia… elf… beastman…”
Ia menyebutnya satu per satu, seperti membaca daftar baru.
“Aku hanya tahu tugas.”
“Bunuh.”
Jawabannya datar. Tanpa kebanggaan. Tanpa kebencian.
Hanya fungsi.
Eliza memiringkan kepala.
“Jadi kamu bukan pasukan setia Duke?”
Anor menggeleng lagi.
“Mereka mengancam akan membunuhku jika menolak.”
“Sesederhana itu?” gumam Noa.
Anor menatapnya, polos.
“Bukankah begitu cara dunia bekerja?”
Kalimat itu membuat ruangan terasa lebih berat.
Ia benar-benar tidak tahu.
Bukan pura-pura tidak tahu.
Benar-benar tidak mengerti konsep pilihan.
Ferisu berdiri perlahan.
“Kau tidak punya tempat kembali?” tanyanya.
Anor berpikir.
Sangat lama.
“Tidak tahu...”
Bahkan jawabannya bukan “tidak”.
Melainkan “tidak tahu”.
Ia seperti seseorang yang terlepas dari peta dunia. Tak punya titik awal. Tak punya tujuan.
Ferisu mendekat.
“Kau tidak tahu asalmu,” katanya tenang. “Dan mereka memasang kerah itu untuk mengendalikanmu.”
Anor hanya mengangguk.
“Jika kerah itu kulepaskan sepenuhnya… apa yang akan kau lakukan?”
Pertanyaan itu menggantung.
Anor menatap tangannya. Menatap lantai. Menatap jendela.
“Pergi,” jawabnya akhirnya.
“Kemana?” tanya Noa.
Ia terdiam.
“Aku tidak tahu.”
Sunyi.
Eliza mendecih kecil.
“Dia seperti anak kucing liar.”
Anor meliriknya bingung.
“Kucing?”
Eliza tersenyum lebar.
“Makhluk kecil berbulu yang suka mencakar.”
“Aku tidak berbulu,” jawab Anor serius.
Noa menahan napas, hampir tertawa.
Ia benar-benar tidak paham metafora.
Ferisu memperhatikannya dalam diam.
Anor bukan prajurit fanatik.
Bukan loyalis Duke.
Bukan juga pemberontak.
Ia hanyalah seseorang yang terseret arus.
Dan mungkin—Ia bukan berasal dari Zenobia sama sekali.
Luka parah.
Ingatan hilang.
Bangun di hutan.
Seolah… ia dibuang.
“Atau dikirim,” gumam Ferisu pelan.
Anor mengangkat wajahnya.
“Apa?”
“Tidak ada.”
Ferisu menatap kerah itu.
“Kerah ini akan kulepaskan sepenuhnya.”
Mata emas Anor membesar sedikit.
“Lalu?”
“Kau bebas memilih.”
“Memilih apa?”
“Cara hidupmu.”
Anor terdiam.
Konsep itu terdengar asing.
Memilih.
Bukan diperintah.
Bukan diancam.
Memilih.
“Dan jika aku memilih pergi?” tanyanya.
“Pergilah.”
Jawaban Ferisu tanpa ragu.
Sunyi panjang.
Anor menunduk perlahan. Ia tidak berlutut. Tidak bersujud. Namun untuk pertama kalinya—Suaranya tidak terdengar kosong.
“Aku tidak mengerti dunia ini.”
Noa melangkah satu langkah maju.
“Itu bisa dipelajari.”
Anor menatapnya.
“Tanpa dibunuh?”
Noa tersenyum tipis.
“Tanpa dibunuh.”
Mata emas itu bergetar lagi.
Sangat kecil.
Namun cukup jelas.
Di luar istana—
Duke Albrecht menerima laporan.
“Dark elf itu berbicara?” tanyanya dingin.
“Belum jelas, Duke. Tapi… dia masih hidup.”
Albrecht tersenyum tipis.
“Menarik.”
Jika ia benar-benar bukan dari desa timur…
Maka ada kemungkinan lebih besar.
Kemungkinan yang bahkan Asterism belum sadari.
Ia menatap peta.
“Aku ingin tahu… dari mana sebenarnya makhluk itu berasal.”
Karena jika Anor bukan milik Zenobia, maka mungkin—Ia adalah potongan dari sesuatu yang jauh lebih besar.
Dan jauh lebih berbahaya.
Babak baru belum benar-benar dimulai.
Ia baru saja membuka tirai.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...----------------...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sore itu, ruang strategi istana dipenuhi aroma tinta dan kertas.
Ferisu berdiri di depan peta wilayah timur Zenobia. Beberapa titik ditandai lingkaran merah—gudang lama, bangunan kosong, terowongan suplai yang “sudah tak terpakai”.
“Jika Duke ingin menciptakan kekacauan,” ucap Ferisu tenang, “ia akan menyerang simbol stabilitas.”
Noa mengangguk.
“Gudang distribusi gandum. Jalur suplai ke distrik beastman. Dan pasar timur.”
Ferisu menunjuk tiga titik sekaligus.
“Kirim kesatria terbaik. Tangkap siapa pun yang mencurigakan. Jangan tunggu sampai mereka bertindak.”
Ia menoleh pada Eliza.
“Dan kau—awasi dari atas. Jika ada yang lolos dari pengamatan manusia…”
Eliza tersenyum manis.
“Biar roh yang melihatnya?”
Ferisu mengangguk tipis.
Operasi itu bergerak cepat.
Di gudang pertama, kesatria Asterism menemukan peti kayu berisi kristal peledak tersembunyi di balik karung gandum.
Di terowongan lama, dua pria tertangkap sedang memasang pemicu sihir.
Di distrik selatan, tiga mantan perwira Zenobia diringkus sebelum sempat menyalakan sumbu.
Satu per satu, titik merah di peta dicoret.
Noa menerima laporan dengan wajah yang mulai sedikit tenang.
“Empat lokasi diamankan.”
“Enam pelaku ditahan.”
“Kristal peledak disita.”
Ferisu menutup matanya sesaat.
Jadi benar.
Duke memang bermain api.
“Teruskan pencarian,” perintahnya. “Pastikan tak ada yang terlewat.”
Di wilayah timur—
Duke Albrecht menerima kabar yang sama.
“Beberapa titik gagal, Duke.”
Ia tidak marah.
Tidak panik.
Ia justru tersenyum tipis.
“Memang seharusnya begitu.”
Orang kepercayaannya terdiam.
“Maksud Anda?”
Albrecht berjalan menuju jendela.
“Jika semuanya berhasil, itu terlalu mencurigakan.”
Ia menatap ke arah kota.
“Biarkan Asterism merasa menang.”
Ia menoleh perlahan.
“Karena permainan ini bukan soal menghancurkan bangunan.”
“Lalu apa?” tanya bawahannya pelan.
“Kepercayaan.”
Sementara itu—
Langit mulai menggelap.
Ferisu berdiri di balkon istana ketika suara gemuruh mengguncang udara.
BOOM.
Ledakan itu jauh—namun cukup besar untuk membuat kaca jendela bergetar.
Beberapa burung beterbangan panik.
Asap hitam membumbung dari arah timur laut.
Noa berlari masuk ke balkon.
“Itu dari distrik perbatasan ras campuran!” katanya cepat.
Tak lama, kesatria pembawa pesan datang dengan napas terengah.
“Yang Mulia! Sebuah bangunan di wilayah timur meledak! Api menyebar cepat—warga panik!”
Ferisu menatap asap yang membubung.
Itu bukan gudang.
Bukan terowongan.
Itu… pusat distribusi bantuan untuk beastman dan manusia miskin.
Tempat yang sengaja ia bangun untuk menyatukan mereka.
Tepat di titik paling sensitif.
Beberapa menit kemudian laporan lanjutan datang—
“Keributan pecah, Yang Mulia!”
“Ada yang berteriak bahwa Asterism sengaja meledakkan wilayah manusia untuk menyalahkan bangsawan Zenobia!”
“Sebagian lain berteriak bahwa beastman adalah pelakunya!”
Api.
Bukan hanya di bangunan.
Tapi di hati rakyat.
Ferisu mengepalkan tangan.
Ia telah menghentikan banyak titik.
Tapi satu… satu saja sudah cukup.
Noa menatapnya.
“Ini disengaja.”
“Ya.”
“Dia ingin kita memadamkan api kecil… agar tak melihat api besar.”
Ferisu menatap asap itu tanpa berkedip.
Di tempat lain—
Duke Albrecht berdiri di kerumunan, wajahnya tampak tegang, penuh kepedulian.
“Tenang! Tenang!” serunya. “Kerajaan Asterism pasti akan bertanggung jawab!”
Beberapa warga mulai berteriak.
“Ini salah siapa?!”
“Kenapa wilayah kita terus jadi korban?!”
Albrecht menunduk sedikit, ekspresinya dibuat berat.
“Aku percaya… Yang Mulia Ferisu tidak akan membiarkan ini tanpa jawaban.”
Kata-katanya terdengar membela.
Namun benih telah ditanam.
Kecurigaan.
Ketakutan.
Kebencian lama yang belum sepenuhnya mati.
Dan malam itu—
Di ruang tahanan istana—
Anor tiba-tiba mengangkat wajahnya.
Mata emasnya menyipit.
“Aroma… itu.”
Noa yang sedang berjaga menoleh.
“Apa?”
Anor berdiri perlahan.
“Itu bukan kristal peledak biasa.”
Jantung Noa berdegup lebih cepat.
“Lalu?”
Anor menatap ke arah timur.
“Energinya… bukan dari Zenobia.”
Hening.
“Bukan dari sini.”
Kalimat itu menggantung di udara.
Jika ledakan itu bukan sepenuhnya milik Duke…
Jika ada kekuatan lain yang terlibat…
Maka permainan ini jauh lebih besar dari sekadar perebutan wilayah.
Di balkon istana, Ferisu masih menatap asap hitam yang membumbung ke langit malam.
Perang telah usai.
Namun sesuatu yang lain—Baru saja dimulai.