Menerima laki-laki yang di kenalkan oleh sosok yang bernama Ayah itu seperti membuka pintu derita bagi Maura. Apakah Maura menderita karena perlakuan sang laki-laki atau perasaan bersalah pada keluarganya....
Yuk lanjut episode baru cerita aku....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Meitania, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Senyuman Maura
Pulang kantor Radit sudah menunggu Maura di dalam mobilnya. Maura pun berjalan cepat menuju mobil Radit. Setelah Maura masuk Radit menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang. Hening sesaat sebelum Radit bertanya bagaimana hari Maura.
"Gimana kerjaan lancar tadi?" Radit.
"Alhamdulillah semua tepat pada waktunya." Maura.
"Syukurlah. Tadi dari mana? Kok ga ke musola?" Tanya Radit yang tak melihat Maura di musola saat makan siang.
"Oh, tadi makan siang di kafe ujung jalan itu sama Tasya. Terus solat di sana karena tersedia musola di sana." Jelas Maura.
"Oh, Oke.."
"Tadi ngga ada agenda ke luar Mas?" Tanya Maura balik.
"Ngga ada. Tadi santai aja sih. Besok ada jadwal meeting tapi di kantor juga ngga keluar." Radit.
"Makan siang di kantor?" Maura.
"Ya. Kiki pesankan makanan dari luar. Tadinya mau ngajakin kamu makan juga sih tapi si Kiki lupa beli makanannya. Lebih tepatnya dia fikir dua makanan untuk dia sama aku jadi dia berinisiatif beli satu untuk aku aja. Eh, tapi ternyata kamu pergi juga." Jelas Radit.
"Jadi ngga mubazir kan makanannya." Maura.
"Iya juga sih. Besok makan siang sama-sama ya." Ajak Radit.
"Ngga usah deh. Ngga enak sama Tasya nanti dia makan sendiri." Tolak Maura.
"Ajak dia juga aja ngga apa-apa." Radit.
"Eh, bisa banyak pertanyaannya nanti kalo tiba-tiba aku ajak makan sama-sama di ruangan Mas." Maura.
"Kita ketemuan aja di tempat makan nya biar kaya ngga sengaja mau?" Radit.
"Hmm... Sama-sama aja deh. Nanti aku bilang sama Tasya." Putus Maura.
Karena Maura tau sekeras apapun dirinya menolak Radit pasti akan memaksa. Seperti hal nya pergi dan pulang kantor ini. Jika dirinya sembunyi-sembunyi dengan Tasya ngga mungkin juga pasti rumor dirinya pulang pergi bersama Radit akan cepat tersebar dan Tasya pasti akan banyak bertanya juga.
"Oke. O ya, Oma minta di bawain Bakmi nanti kamu beliin ya sama Ayah. Ini beli bilang ke Ayah jangan gratis ngga enak aku nya." Radit.
"Aku yang marah Mas. Masa buat Oma harus bayar. Ngga usah ah. Nanti Mas tunggu aku minta bungkus ke pegawai Ayah ya." Maura.
"Jangan Ra. Kalo aku sering makan Bakmi nya nanti Ayah rugi dong." Radit.
"Ngga. Malahan nanti tambah berkah jalannya." Maura.
"Kok Oma tau Ayah jualan Bakmi?" Tanya Maura.
"Bukannya kamu yang bilang sama Oma? Sebenarnya pas antar kamu pertama itu Oma minta di bawain Bakmi tapi ternyata Ayah udah tutup. Terus pas kemarin Mas malu mau minta di bawain buat Oma. Mana Mas udah makan Bakmi ga bayar eh malah di ajak makan malam lagi." Radit.
"Hahaha... Ya ngga apa-apa dong Mas. Kan bungkus juga buat Oma." Maura.
"Kamu kalo senyum gitu tambah cantik Ra." Radit.
"Eh,,, jangan gombal deh ngga mempan." Maura.
"Ini jujur dari hati padahal." Radit.
"Iya deh terserah Bapak saja." Maura.
Tanpa terasa mereka sudah sampai di halaman rumah Maura. Seperti biasa Radit memarkirkan mobilnya di halaman rumah Maura yang masih luas di samping warung Bakmi. Terlihat juga motor Maulida sudah berada di samping mobil Pak Budi.
"Ayah, pake mobil ini ya belanja?" Tanya Radit.
"Iya. Ayah copot jok nya biar bisa di pake ambil belanjaan." Maura.
"Kenapa ngga pake mobil bak?" Radit.
"Uang nga ngga cukup buat beli mobil bak Mas. Kan Ayah resign tanpa pesangon." Maura.
Lanjut kok...