Seorang wanita yang hidup mewah pada masa 2030 dengan berbagai teknologi pintar berkembang pesat. Wanita itu adalah Ria yang dijuluki seoang pembisnis dan desainer terkenal. Banyak orang iri dengan dirinya. Di saat mendapatka penghargaan desainer terbaik terjadi sebuah kecelakaan menyebabka Ria tewas ditempat. Tapi saat dia bangun dia melihat lingkungan berbeda. Tepat di depan ada sebuah kalender lama pada tahun 1997 bulan agustus. Ria yang tidak percaya segera keluar dari ruangannya melihat pemandangan yang asing dan belum berkembang berbeda dengan dia lahir sebelumnya. Ria binggung menatap ke segala arah hingga datang ibunya bernama Ratri. Dia memanggil nama Valeria kenapa kamu diam saja sini bantu ibu memasak. Ria menoleh dengan wajah binggung hingga Ratri datang memukul kepala Valaria. Ria merasakan sakit tidak percaya kalau dia merasa sakit. Valaria bertanya ini dimana. Ratri binggung membawa Valaria ke dalam aku ibumu. Kamu ini lupa atau hanya tidak mau membantu saja. penasaran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Herwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Fajar digerbang Hijau 25
Valaria masih bisa merasakan dinginnya udara malam yang menusuk, tetapi hawa panas kemarahan dan ketegangan di antara kerumunan warga jauh lebih membakar. Sorot obor menciptakan bayangan-bayangan yang menari, memperkuat nuansa mencekam di halaman rumahnya. Di tengah lautan wajah yang berang, Damian sudah tertangkap. Ia meronta, dasinya miring, dan wajahnya dipenuhi ketakutan yang menjijikkan.
“Lepaskan aku! Aku tidak melakukan apa-apa!” teriak Damian, suaranya melengking di antara cemooh.
Seorang bapak bertubuh besar dengan tangan berotot mencengkeram erat kerah baju Damian. “Tidak melakukan apa-apa katamu? Berani-beraninya kau masuk ke kamar anak gadis orang! Kita adili sekarang juga!”
Tangan-tangan lain sudah siap untuk melayangkan pukulan pertama. Valaria, yang berdiri di ambang pintu, bersandar pada kusen. Jantungnya masih berdebar kencang, sisa-sisa adrenalin karena berhasil melarikan diri mengalir deras di nadinya. Ia selamat. Rasa lega itu sekejap mengisi dadanya, sebelum digantikan oleh sesuatu yang lebih dingin dan keras.
Valaria mengangkat wajahnya, mata cokelatnya yang biasanya hangat kini berubah menjadi dua keping es yang berkilauan di bawah cahaya rembulan. Ia menatap tajam ke arah Damian yang sudah didorong ke tanah. Kebencian murni. Tidak ada lagi sisa-sisa ketertarikan atau bahkan kasihan; hanya sebuah pengakuan pahit atas sifat jahat manusia.
Tiba-tiba, sebuah suara menusuk membelah kerumunan.
“Tunggu! Hentikan semua ini!”
Laksmin menerobos masuk. Wajahnya pucat, tetapi matanya menampakkan tekad yang aneh. Ia berdiri di depan Damian yang gemetar, merentangkan tangan seolah melindungi.
“Kalian tidak boleh main hakim sendiri!” seru Laksmin.
Warga terdiam, kebingungan. Bapak yang mencengkeram Damian mundur selangkah. “Laksmin? Apa maksudmu?”
Laksmin menarik napas dalam-dalam. “Damian... dia tidak bersalah sepenuhnya. Kalian tidak boleh menyakitinya!” Ia melirik Damian, tatapan yang mengandung janji sekaligus ancaman.
Damian memanfaatkan kesempatan itu. Ia berdiri dengan tergesa, menjulurkan jari telunjuknya yang kotor ke arah Valaria.
“Iya! Dia yang bohong! Aku tidak salah! Dia yang menggodaku! Pintu kamarnya terbuka, dan dia... dia memberikan sinyal! Aku hanya datang untuk bicara baik-baik, tapi dia berteriak!” Damian mencoba membela diri dengan melemparkan masalah kepada Valaria, wajahnya penuh kepalsuan. “Dia sengaja membuka jendela itu!”
Keterkejutan menyelimuti kerumunan. Valaria menarik napas, dadanya naik turun dengan kemarahan yang tenang. Ayah dan Ibunya, segera maju, berdiri di sampingnya seperti dua pilar kokoh.
“Jaga mulutmu, Damian!” bentak Arjun, suaranya rendah dan mengancam. “Putriku bukan wanita murahan yang kau tuduhkan!”
Ratri menimpali, suaranya bergetar tetapi penuh otoritas. “Valaria tidak akan mungkin mengizinkan orang lain masuk ke kamarnya! Kami mendidiknya dengan baik! Jendela itu memang terbuka karena udara yang pengap, dan dia sudah tidur! Kau yang mengambil kesempatan dalam kegelapan, dasar pengecut!”
Valaria melangkah sedikit ke depan. Suaranya datar, tanpa emosi, tetapi setiap kata tajam seperti pecahan kaca. “Aku sedang tidur. Aku terbangun saat merasakan keberadaan orang lain di kamarku. Aku melihat dia masuk ke dalam kamar dengan sengaja. Bukan kebetulan. Bukan karena undangan. Aku berteriak dan melawan karena dia mencoba… dia mencoba berbuat jahat. Tepat saat aku mendorongnya, pintu didobrak. Itu semua yang terjadi. Mataku tidak buta, Damian. Dan warga di sini tidak bodoh.”
Ia menatap mata Damian yang kini dipenuhi kepanikan total. Kerumunan mengangguk-angguk, melihat betapa tenangnya Valaria dan betapa paniknya Damian.
Laksmin, melihat suasana semakin memburuk, mengambil langkah paling ekstrem. Ia memegang tangan Damian erat-erat, menatap warga dengan mata berkaca-kaca.
“Dia tidak bisa, kalian adili,” bisik Laksmin, dramatis. “Aku... aku sedang mengandung anaknya. Dia harus bertanggung jawab padaku.”
Keheningan yang mencekam kembali terjadi, kali ini lebih dalam. Orang tua Damian yang baru tiba dari balik kerumunan, terhuyung mendengar pengakuan itu. Warga saling pandang, desas-desus mulai terdengar. Ini mengubah segalanya. Valaria, yang sudah ingin merobek-robek kebohongan Laksmin, memilih untuk diam.
Ia mendesah pelan, bahunya merosot sedikit. Kepalanya menggeleng. “Aku tidak peduli.”
Semua mata beralih padanya. Valaria mengangkat dagunya. “Aku sudah bilang semua yang terjadi. Aku selamat. Dan jika memang Laksmin mengandung anakmu, Damian, maka aku mendukung kalian berdua untuk menikah.” Ia berkata dengan sinis, matanya menyiratkan, ‘Pergilah, dan jangan pernah tunjukkan wajahmu lagi di hadapanku.’
Pengakuan Valaria, yang seolah-olah memberikan restu dingin, mengakhiri persidangan malam itu. Orang tua Damian, dalam keterkejutan dan rasa malu yang mendalam, segera membawa putra mereka pergi, meninggalkan janji untuk menyelesaikan masalah ini dengan pernikahan sesegera mungkin. Laksmin tersenyum menang, tetapi senyum itu tidak mencapai matanya.
Setelah kerumunan bubar, Ratri memeluk Valaria erat-erat, membiarkan putrinya menyalurkan sisa-sisa ketegangan.
“Kau baik-baik saja, Nak. Ibu di sini,” bisik Ratri.
Valaria hanya mengangguk, menyandarkan kepala pada bahu ibunya. “Aku baik, Bu. Aku hanya… lelah melihat wajahnya.”
Malam itu, Ratri tidur bersama Valaria, tidak ingin meninggalkannya sendirian. Arjun dan Raka berbagi ranjang di ruang tamu. Kehangatan ibu dan anak itu menjadi perisai dari kengerian malam yang baru saja berlalu.
Pagi hari datang membawa cahaya yang lembut dan aroma masakan yang menggugah selera. Di dapur, Ratri memasukkan sedikit daging ayam ke dalam kuah kaldu.
“Valaria, Ibu rasa… hari ini kau tidak usah ikut jualan,” ucap Ratri, matanya tampak khawatir. “Istirahat saja. Kejadian tadi malam pasti mengganggu pikiranmu.”
Valaria, yang sedang mencuci piring, menoleh. “Tidak, Bu. Aku baik-baik saja. Aku justru ingin pergi. Aku ada tempat yang harus kukunjungi sebelum ke pasar.”
“Tapi…”
“Aku tidak apa-apa, Bu,” potong Valaria lembut namun tegas. “Kalau aku bersembunyi, seolah-olah aku yang bersalah. Aku ingin pagi yang baru, Bu.”
Ratri menghela napas, melihat tekad di mata putrinya.
Di saat yang sama, sebuah mobil bak terbuka berhenti di depan rumah. Jaya, Baskoro, dan Tirta turun. Tirta membawa beberapa kotak berisi sayuran dan bumbu tambahan.
“Pagi, Bu Ratri! Kami datang untuk membantu jualan!” seru Tirta riang.
Ratri tersenyum lega. “Ya ampun, kalian datang di waktu yang tepat! Tirta, kau bantu Ibu dan Arjun di pasar, ya. Dagangan pasti ramai.”
Ratri menoleh pada Jaya. “Jaya, tolong temani Valaria. Dia ingin pergi ke suatu tempat dulu.”
Jaya mengangguk. Ia mendekati Valaria yang sudah siap dengan tas selempangnya. Mereka berjalan dalam keheningan yang nyaman.
Setelah beberapa saat, Jaya memecah keheningan. “Valaria…” Ia menatap wajah Valaria, mencoba mencari tahu apa yang tersembunyi di balik matanya yang tenang. “Apa benar… Damian datang ke kamar kamu tadi malam?”
Valaria meliriknya, ekspresinya datar, lalu mengangguk singkat.
“Untuk apa? Apa benar dia… dia ingin melakukan hal tidak baik denganmu?” tanya Jaya, suaranya sedikit tercekat oleh rasa marah yang tak terucap.
Valaria mengangguk lagi, kali ini lebih lama, matanya sedikit memejam. “Dia hanya ingin mengambil apa yang bukan miliknya,” jawab Valaria, nadanya dingin.
Jaya menggenggam tangannya erat-erat di samping tubuhnya, ingin sekali membalas perbuatan Damian. Tapi ia menahannya. “Kenapa kau tidak bilang pada kami?”
“Untuk apa? Masalahnya sudah selesai. Sekarang dia milik Laksmin,” kata Valaria, ada sedikit nada geli yang ironis di suaranya.
Mereka tiba di sebuah toko kecil yang menjual perlengkapan alat tulis. Valaria mengambil beberapa buku tulis tebal dan pulpen berkualitas.
“Untuk apa buku tulis sebanyak ini?” tanya Jaya.
“Untuk kita semua. Kita akan mulai mencatat pemasukan dan pengeluaran dengan lebih baik. Dan juga, aku akan mulai membuat catatan resep rahasia dan beberapa hal lain,” jelas Valaria, senyum tipis akhirnya merekah.
Selesai membayar, Valaria berjalan melewati sebuah lapak yang menjual kain-kain batik. Matanya tertuju pada selembar kain berwarna nila tua dengan motif perak yang indah. Kain itu tampak mewah dan mahal.
“Kamu mau beli kain itu?” tanya Jaya, menangkap tatapan Valaria.
Valaria menoleh, mendesah pelan. “Maunya. Tapi uangnya masih kurang banyak. Harganya lumayan mahal,” katanya. Ia segera menggeleng, seolah menyanggah keinginannya sendiri. “Sudahlah, ayo segera pergi dari sini untuk membantu Ibu.”
Jaya hanya bisa menatapnya, ada rasa tidak berdaya karena ia belum mampu membelikan apa yang Valaria inginkan. “Baiklah. Kita pasti bisa membelinya lain waktu.”
Mereka bergegas menuju pasar. Dari kejauhan, mereka melihat kerumunan orang sudah mengelilingi lapak Ratri. Dagangan bakso dan hidangan lainnya laris manis. Ratri dan Tirta tampak kewalahan melayani pembeli yang antri.
“Wah, sudah ramai sekali!” seru Jaya.
“Ayo, cepat!”
Valaria dan Jaya segera berlari, mengganti pakaian mereka dengan celemek, dan dengan sigap mengambil alih tugas melayani. Valaria mengambil pesanan, menghitung uang, dan melayani dengan senyum profesional. Jaya membantu membungkus makanan dan menyiapkan minuman. Dengan tambahan tenaga mereka, antrian bergerak lebih cepat.
Semangat pagi itu terasa menular. Di tengah kesibukan melayani, Valaria merasa hidupnya kembali normal, seolah-olah kengerian semalam hanyalah mimpi buruk. Belum tengah hari, semua dagangan mereka sudah habis. Panci-panci kosong dan meja yang bersih menjadi saksi keberhasilan mereka.
Valaria berdiri di samping Ratri, melihat uang hasil penjualan yang menumpuk.
“Luar biasa, Bu. Bahkan lebih banyak dari hari biasanya,” kata Valaria, hatinya penuh kebanggaan.
Ratri memeluk Valaria dari samping. “Ini semua berkat kamu Nak. Dan... dan juga karena kau sudah menjadi gadis yang sangat kuat.”
Valaria membalas senyum ibunya. Pagi yang baru, penuh dengan kesibukan dan keberhasilan, terasa seperti damai. Ia telah meninggalkan Damian dan rasa jijiknya di malam yang gelap. Hari ini adalah awal yang segar.