Selena Maheswari, adalah sosok gadis mandiri dan pekerja keras, dia tidak sengaja menyaksikan sendiri seseorang bertangan dingin yang dengan gampangnya mengeksekusi rekannya yang berkhianat, tanpa rasa bersalah ataupun menyesal.
Di dalam kejadian itu ternyata ada anak buah dari mafia tersebut yang mengintai Selena hingga pada akhirnya Selena terjerat ke dalam lingkaran sang Mafia.
Mampukah Selena keluar dari jerat sang Mafia atau malah sebaliknya?? Nantikan kisah selengkapnya hanya di Manga Toon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedatangan Surya
Suasana hening seketika bahkan suara angin pun berhenti sejenak, seolah ikut menahan napas melihat pertemuan dua sosok yang selama ini hanya saling memburu dalam bayangan. Selena berdiri dengan pistol teracung, sementara Robin melangkah maju perlahan, membawa aura kegelapan yang membuat anak buahnya tak berani bersuara.
“Jadi ini… ratu kecil yang katanya mampu menumbangkan namaku?” Robin menyeringai, suaranya berat penuh ejekan.
Selena tak bergeming. Matanya menyalakan bara, meski jemarinya sedikit bergetar. Dari dalam rumah kayu, samar-samar ia mendengar suara adiknya menangis, membuat jantungnya seperti diremas.
“Jika mereka terluka, Robin, aku bersumpah kau tidak akan pernah sempat menikmati kemenanganmu,” desisnya tajam.
Robin justru terkekeh. “Kau punya nyali, tapi… nyali saja tidak cukup untuk melawan iblis sepertiku.” tawa Robin menggema.
Selena berdiri tegap dengan ditemani para pengawal dan Valen di belakangnya, langkah gadis itu mantap untuk maju melawan musuh namun dengan intrik yang susah untuk ditebak.
"Tolong ... Tolong ....," suara itu terdengar begitu nyaring di telinga Selena.
"Jangan terkecoh dengan suara keluargamu, fokuskan dulu kepada musuh yang bersembunyi di sekitarmu, ingat! Jika sedikit kau lengah, maka mereka akan gampang menumbangkanmu," bisik Valen.
Selena mengangguk, gadis itu sangat mengenali pemilik suara tersebut, namun kali ini dirinya tidak boleh gegabah, salah sedikit maka nyawanya yang akan menjadi taruhannya. Ia mulai mengangkat senjatanya hati-hati, matanya mulai jeli, menatap ke segala arah, dan benar, anak buah Robin sudah mengintai bersembunyi di balik dinding-dinding kayu rumah warga.
Robin tertawa meledek, seolah Selena akan menembaknya, tangan Selena mulai terulur ke arahnya, namun di saat pelatuk mulai ditarik dengan cepat gadis itu mengarahkan senjatanya ke arah anak buah Robin yang bersembunyi di balik dinding warga.
"Door ... door ... door ....," tiga tembakan Selena tembus ke arah anak buah Robin.
Robin tercengang, melihat ketiga anak buahnya tumbang dalam waktu yang bersamaan, sementara anak buah Valen lainnya mulai menyerang ke arah lain, pertempuran dimulai.
"Kurang ajar gadis kecil itu mulai pintar mengelabuhi," desis Robin.
Sementara Selena mulai tersenyum tipis dengan tatapan tajam yang ia tunjukkan kepada Robin. Pria itu langsung mengeluarkan taringnya dan mengepalkan tangannya.
"Kau pikir semudah itu memgelabuhiku," ucap Robin sambil mengatur siasatnya.
☘️☘️☘️
Peluru berdesing, menabrak dinding rumah-rumah kayu yang mulai hangus terbakar. Jeritan penduduk desa bercampur dengan dentuman tembakan yang tak henti-hentinya. Selena berdiri tegap, tubuhnya hanya dilindungi para pengawal yang setia, sementara Valen sedikit di belakang, matanya terus mengawasi setiap gerak Robin dan anak buahnya.
"Tolong ... Tolong ... Kami!" jerit warga yang mulai berhamburan lari menyelamatkan diri masing-masing.
Sementara Selena masih sibuk dengan musuh di seberang yang membuatnya harus mengeluarkan tenaga, menembakkan peluruh ke arah yang berlawanan.
DOOOR !
Tembakan melesat tepat di sisi kiri Selena karena fokusnya mulai teralihkan kepada warga yang mulai berlarian. "Selen Fokus teriak Valen.
Selena hanya mengangguk di sini dia dituntut untuk fokus ke musuh bukan yang lainnya hingga dirinya mulai memberanikan diri maju beberapa langkah untuk menebas musuh-musuh dengan senjatanya.
"DOOOR ... DOOOR ....," tembakan masih terus bersahutan, Selena memberanikan diri untuk tetap maju dan terus menembak peluruh ke arah lawan.
Di saat dirinya mulai berhasil menebas musuh dengan pelurunya tiba-tiba saja tanpa sadar gadis itu mulai berada di dalam lingkaran Robin, pria itu mulai mendekat perlahan. Sementara Selena mulai menarik langkahnya ke belakang.
Robin menyeringai keji di seberang, menodongkan pistolnya tepat ke arah Selena.
“Akhirnya sebentar lagi aku bisa menumbangkanmu, bocah ingusan! Kalau kau ingin keluargamu selamat, jatuhkan senjatamu sekarang juga!”
Suara lirih penuh panik kembali terdengar.
“Tolong... tolong aku, Kak...” suara itu, adiknya!
Jantung Selena berdentum keras, keringat dingin mengalir di pelipisnya. Tangannya bergetar menahan laju pelatuk pistol. Ia tahu itu jebakan. Sekali ia lengah, Robin akan menghabisinya.
Robin semakin mendekat, senyumnya makin melebar. “Sia-sia kau melawan. Dunia mafia bukan untukmu, Selena! Kau hanya pion kecil. Dan malam ini, aku akan pastikan darahmu menodai tanah ini!”
Kata-kata Robin seolah menjadi obat penyemangat Selena, bukan mundur, gadis itu malah membalas tatapan Robin dengan berani. "Kau pikir aku takut denganmu Robin, oh tidak ... Tidak ada langkahku yang sia-sia Robin, sekali saja kau menyentuh salah satu keluargaku, maka ... tanganku sendiri yang akan menyentuhmu."
"Bedebah kau gadis kecil, kau itu hanya kerikil di mataku, kecil yang dengan mudahnya aku menginjak-injak dirimu dengan kedua kakiku," kata Robin bengis dengan tatapan tajam yang mencolok.
Jari Robin siap menarik pelatuk, senjata diarahkan lurus ke dada Selena.
Detik itu juga, langkah cepat terdengar dari arah samping.
“SELENAAA!!!”
Suara berat itu membuat Selena sontak menoleh. Sosok ayahnya muncul dengan tubuh berlumuran keringat dan napas terengah, matanya menatap tajam penuh amarah pada Robin.
"Ayah jangan mendekat!" teriak putrinya itu.
Surya tidak menghiraukan, langkahnya terus melaju karena tidak ingin anak gadisnya yang menanggung semua atas masalalu kelamnya.
Dor!
Suara tembakan memecah udara. Dunia seperti berhenti sesaat. Selena membeku, matanya membelalak. Bukan dirinya yang roboh, melainkan sang Ayah.
Peluru Robin menembus bahu Surya, darah seketika mengalir deras membasahi bajunya. Surya terhuyung, tapi masih mencoba berdiri di depan Selena, melindungi sang anak dengan tubuhnya sendiri.
Robin tertawa puas, suaranya serak dan penuh kemenangan. “Hahaha! Lihat siapa yang datang! Surya, si penyimpan kunci data gelap! Akhirnya aku dapatkan juga. Kau pikir bisa bersembunyi selamanya? Kau terlalu berharga untuk mati cepat… tapi darahmu akan jadi awal kehancuranmu!”
Valen langsung berteriak, “SELENA, JANGAN DEKAT! Lindungi posisimu!” sementara dua pengawal menarik Selena mundur. Tapi hati gadis itu teriris. Ia ingin mendekat, ingin menolong ayahnya, meski ia tahu setiap langkahnya bisa menjadi akhir hidupnya.
Surya tersenyum samar meski darah membasahi bibirnya. Dengan suara lemah, ia berbisik pada Selena, “Jangan... jangan lengah... rahasia... ada di tanganku... jangan biarkan dia dapatkannya...”
Robin mengangkat senjatanya lagi, kali ini dengan keyakinan penuh. “Sudah cukup main kucing-kucingan. Surya, malam ini kau akan jadi pintu menuju kehancuran mereka semua!”
Bersambung ....
my queen
queen mafia pantang mundur,dan satu tidak ada kata maaf