NovelToon NovelToon
DiBuang Suami Di Pungut Om

DiBuang Suami Di Pungut Om

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Penyesalan Suami
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: AmeeraKa94

Namaku Kimira Janetha Usia 32 tahun. aku seorang Aktris sekaligus seorang ibu. dari Seorang putri yang bernama Quensha Almahira yang biasa kami panggil Queen..

selama lima tahun aku percaya pada satu hal. yaitu Tentang kesetiaan. setia pada Keenan Jeremi. Suamiku. pernikahan yang ku bangun dari nol ternyata kesetiaan itu hanya milikku sendiri.

malam itu harusnya jadi malam kepulangan yang indah bagiku. aku pulang lebih cepat dari lokasi syuting sambil membawa kue ulang tahun pernikahan kami yang ke-5 tahun. namun yang ku temukan bukan pelukan atau senyuman. dua tubuh telanjang bulat diatas ranjangku. ya mereka adalah Keenan Jeremi suamiku, dan Clara Adellia Sahabatku.

seketika darahku langsung mendidih. tanpa pikir panjang aku langsung jambak rambut panjang Clara. hingga dia terjungkal.

plak
plak
plak

"Dasar pelacur murahan! beraninya Kamu mengotori ranjangku! " teriaku murka, marah.

pisau lancip dari sakuku langsung melayang. dan menggores pipi Clara.

Cring

Zzzzzrrkkk

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AmeeraKa94, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25 Fitnah Clara

Jakarta pagi itu mendung banget.

Awan hitam menggantung di atas gedung-gedung tinggi Kebayoran Baru. Kayak pertanda kalau hari ini bakal lebih berat dari kemarin.

Jam 5.45, Netha udah bangun duluan. Rumah masih sepi. Cuma suara kulkas yang dengung pelan.

Dia jalan ke kamar mandi. Wudhu pakai air dingin. Kulitnya langsung merinding. Tapi anehnya, hati jadi lebih tenang.

Sajadah digelar di pojokan kamar. Netha shalat tahajud 2 rakaat. Lama. Sujudnya paling lama.

“Ya Allah... hamba capek,” bisiknya pas sujud terakhir. Suaranya pelan, tapi gemetar. “hamba nggak minta dia balik. hamba cuma minta hati ini jangan goyah lagi. Jangan luluh lagi, Ya Allah.Amin”

Selesai salam, dia duduk lama di sajadah. Mata merem. Tapi otak nggak bisa diem.

Mukanya Clara pas live semalam kebayang lagi. Nangis-nangis, pegang perut bantal, teriak pelakor.

Dan Keenan... Keenan cuma bisa diem. Kayak patung.

Netha narik napas panjang. “Udah, Tha. Jangan mikirin dia. Fokus sama Queen. Fokus sama kerjaan.”

Tapi air mata tetep jatuh. Satu. Dua.

Dia hapus cepat. Nggak boleh lemah. Nggak boleh.

 

Jam 6.30. Dapur rumah Kebayoran Baru udah rame sama suara kompor. Netha masak telur dadar keju buat Queen. Wanginya nyebar ke seluruh rumah.

Keenan udah duduk di island kitchen dari tadi. Diam. Kopi hitam di depannya udah dingin. Uapnya hilang. Sama kayak kehidupannya sekarang.

Hari ke-3 pisah ranjang. Tidur di kamar tamu. Badan pegel, hati lebih pegel.

Netha nggak noleh. Nggak nyapa. Punggungnya aja yang keliatan.

Keheningan itu nyiksa banget.

Akhirnya Keenan nggak tahan lagi. “Tha...” suaranya serak.

Netha berhenti ngaduk telur. Tapi tetep nggak noleh. “Apa?”

Keenan gigit bibir. “Nggak... nggak jadi.”

Netha nggak jawab. Lanjut masak lagi.

Suara langkah kaki kecil dari tangga.

“Maammmaa...”

Netha langsung noleh. Senyumnya muncul. Tulus. Satu-satunya senyum tulus hari ini.

“Pagi, sayang,” kata Netha sambil jongkok, peluk Queen.

Queen balas peluk kenceng. “Pagi, Ma. Wangi banget telurnya.”

Keenan liatin dari meja makan. Dadanya sesek. Dulu dia juga disapa kayak gitu. Dulu pelukan Queen juga buat dia. Sekarang dia seperti cuma tamu di rumah sendiri.

“Mau sarapan apa, sayang?” tanya Netha sambil elus rambut Queen.

“Telur dadar + keju, Ma. Kayak biasa,” jawab

Queen semangat.

"oke sayang tunggu ya. "

Netha masak. Punggungnya masih ke arah Keenan.

“Mas,” panggil Netha lagi. Kali ini tanpa emosi. Datar banget.

Keenan langsung stand up. “Iya, Tha?”

“Anter Queen ya. Aku ada call time jam 7.30 di MNC Studios. Macet Jakarta pagi-pagi,” kata Netha.

Keenan angguk. “Siap.”

Nggak ada “makasih”. Nggak ada “hati-hati di jalan”.

Rumah ini udah kayak kos-kosan. Satu atap, tapi beda dunia. Dingin.

 

Jam 7.00. Di dalam mobil BMW hitam.

Keenan nyetir. Queen duduk di carseat belakang, main boneka kelinci.

Keheningan 3 menit berasa kayak 3 jam. Cuma suara klakson Jakarta yang kedengeran.

“Papa...” panggil Queen pelan.

Keenan liat spion. “Hmm? Ada apa, sayang?”

Queen mainin kelincinya. “Kenapa Mama nggak mau ngobrol sama Papa sih?”

Pertanyaan anak 4 tahun itu langsung nusuk ke dada Keenan.

Dia ngerem pelan di lampu merah. Jantungnya copot.

“Eh... karena Papa udah bikin Mama sedih, sayang,” jawab Keenan jujur. Suaranya pelan banget.

Queen diem. Nggak main boneka lagi. Kepalanya nunduk.

“Papa jahat lagi ya?” tanya Queen lagi. Polos.

Keenan nggak bisa jawab. Matanya langsung panas. Dia cuma bisa angguk pelan. Satu kali.

Itu jawaban paling sakit yang pernah dia kasih ke anaknya sendiri.

Queen narik napas. “Terus... Papa masih sayang Mama nggak?”

Keenan genggam setir kenceng banget sampai buku jarinya putih. “Sayang... sayang banget, sayang.”

“Kalau sayang... kenapa bikin Mama nangis terus?” tanya Queen lagi.

Jleb

Keenan nggak kuat. Air matanya jatuh. Dia buru-buru lap pakai tangan biar Queen nggak liat.

“Papa bodoh, Queen. Papa salah. Dan Papa nggak tau gimana cara minta maaf ke Mama,” jawab Keenan. Suaranya pecah.

Queen diem lama. Terus tiba-tiba bilang, “Queen nggak mau Papa Mama cerai.”

Keenan langsung nggak bisa napas. “Queen...”

“Di sekolah... temen Queen Bilal, Papanya cerai. Bilal sedih. Bilal bilang dia kangen Papanya tiap hari,” lanjut Queen. Suaranya pelan.

Keenan nutup mata sebentar. “Papa janji... Papa bakal usaha bikin Mama nggak sedih lagi.”

Queen noleh ke jendela. “Tapi Mama udah nggak mau liat Papa...”

Kalimat itu nembus jantung Keenan. Lebih sakit dari ditikam.

“Papa tau, sayang. Tapi Papa tetep bakal usaha. Demi Queen. Demi Mama,” kata Keenan.

Queen nggak jawab lagi sampai sekolah. Cuma peluk bonekanya kenceng.

Dan diemnya Queen... lebih nyiksa dari makian seribu orang.

 ____

Jam 08.00. MNC Studios, Jakarta Barat.

Netha baru kelar make up. Wajahnya udah rapi. Tapi matanya masih keliatan capek.

Inka langsung nyamperin. Jalan buru-buru. Muka pucat. HP di tangan gemetar.

“Tha... gawat. Clara live lagi,” bisik Inka. Napasnya ngos-ngosan.

Netha ngerut kening. “Live apa lagi sih dia?”

Inka nggak jawab. Langsung puterin video.

Layar HP nunjukin Clara nangis. Perutnya dibungkus bantal gede biar keliatan hamil 7 bulan. Rambut acak-acakan. Baju kusut. Make up bleber.

“Temen-temen... aku nggak tau harus ngadu ke siapa lagi,” ucap Clara terisak. Suaranya sengaja dibikin serak.

“Aku diusir dari rumah aku sendiri. Sama Netha. Sama anaknya. Padahal aku hamil anak Keenan. Anak sah Keenan. Anak kami.”

Clara pegang perut. Nangis makin kenceng. Kamera disorot ke perutnya.

“Keenan selingkuh sama aku karena Netha sibuk syuting. Netha cuekin suaminya. Netha nggak pernah ada di rumah. Aku cuma cewek yang kasihan. Aku dijebak sama keadaan,” lanjut Clara.

Komentar langsung meledak. 10rb dalam semenit.

@tim_clara: Ya Allah kasian banget Mba Clara 😭

@netizen_bingung: Lah kok bisa istri sah ngusir? Kejam banget

@lambe_danu: GAS KITA SERANG IG NETHA! HANCURIN DIA!

Netha nonton sampe habis. Wajahnya datar. Nggak ada emosi. Nggak kedip.

HP-nya getar terus di meja. DM masuk. Komentar tag. Notifikasi nggak berhenti.

“Pelakor tua”

“Malu-maluin. Udah tua masih ngerebut suami orang”

“Tendang aja Netha dari industri! Nggak pantas jadi artis!”

Inka udah mau meledak. “Harus kita klarifikasi sekarang, Tha! Ini udah fitnah! Ini udah nyerang pribadi! Nama lo hancur!”

Netha geleng pelan. Tarik napas panjang.

“Tahan, Ka,” kata Netha. Suaranya tenang.

“Tahan apanya?! Nama lo hancur di satu Jakarta ini!”

Netha liat Inka. Matanya dingin. “Kalau aku klarifikasi sekarang, Clara bakal bilang aku panik. Dia mau itu. Dia mau aku emosi di depan publik. Biarin dia makin kenceng fitnah. Makin kenceng dia fitnah, makin cepet dia jatuh sendiri.”

Inka diem. Tapi jelas nggak setuju. Tangan Inka masih gemetar megang HP.

 

Jam 10.00.

Fitnah Clara udah nyebar ke semua akun gosip besar Jakarta.

@lambe_danu. @gosip_melilit. @heru_gosip. Semua repost video Clara.

Caption mereka sama: “KORBAN SELINGKUH ATAU PELAKU? NETHA CUEK SUAMI?”

Netizen pecah jadi 2 kubu. Tapi 70% lebih condong ke Clara karena “bawa-bawa anak” dan “hamil”.

Netha diem di tenda artis. Nggak makan. Nggak minum. Cuma scroll komentar.

Inka maksa. “Makan, Tha. Lo drop nanti. Lo tumbang siapa yang bela lo?”

Netha geleng. “Nggak nafsu, Ka. Mual liat muka dia.”

HP Netha bunyi. Nomor tak dikenal. +62 812...

Netha angkat. “Halo?”

Suara ketawa serak langsung nyapa. Ketawa kemenangan.

“Netha... kamu seneng ya? Aku viral? Netizen bela aku semua,” kata Clara.

Netha diem 2 detik. Terus jawab santai. Kayak ngobrol sama temen. “Terus? Mau apa?”

“Kamu pikir kamu menang? Aku bakal rebut Keenan balik. Dan anak aku bakal jadi ahli waris Yudhistira. Kamu tunggu aja,” ancam Clara.

Netha ketawa kecil. Beneran ketawa.

“Silakan. Tapi inget, Clara. Keenan kerja di agensi Yudhistira Group. Dan agensi itu nggak main-main sama nama baik. Apalagi CEO-nya Om Arsen. Dia paling benci pengkhianat. Tunggu aja hukumannya,” kata Netha.

Tut. Matiin duluan.

Tangannya gemetar. Tapi dagunya tetap ke atas. Karena dia nggak boleh nunjukin lemah.

 

Jam 11.30.

Email masuk ke HP Netha. Dari HRD Yudhistira Group.

Subject: PEMBEKUAN KONTRAK SEMENTARA – KEENAN JEREMI

Isinya: Yth. Bpk. Keenan Jeremi, kontrak Anda sebagai photografer dibekukan sementara karena pelanggaran etika berat. Semua klien model yang booking Anda, kami alihkan ke fotografer lain. Keputusan ini berlaku efektif hari ini.

Netha baca pelan. Terus senyum miring.“Akhirnya,” gumamnya. Pelan.

Inka liat dari samping. “Siapa yang bekukan?”

“Agensi Yudhistira,” jawab Netha. “Manajemen. Tanpa sepengetahuan Om Arsen.”

“Karena CEO-nya masih di Singapura. Tapi manajemen agensi nggak mau nama mereka hancur karena skandal Keenan. Mereka cut duluan sebelum diserang publik,” lanjut Netha.

Inka manggut. “Pantes. Kejam juga.”

Netha diem. “Ini baru awal, Ka. Kejatuhan dia baru mulai.”

 

Jam 12.00.

Keenan dapet email yang sama.

Dia lagi di studio foto kecilnya di daerah Cilandak. Nggak ada klien. Nggak ada job. Studio sepi.

Laptop di depannya. Notifikasi masuk terus.

Klien cancel. Model cancel. Brand cancel. Semua.

“Keenan Jeremi dibekukan” jadi trending di grup fotografer Jakarta.

Keenan lemas. Jatuh duduk di lantai studio. Punggungnya sandar ke tembok.

“Gue benar benarv habis..sekarang...” bisiknya. Suaranya hancur.

Dia buka galeri. Foto selingkuhnya sama Clara viral di mana-mana. Wajahnya hancur.

Dia buka chat Clara. Blokir. 2 detik kemudian unblock. Terus blokir lagi.

Nggak tau harus ngapain. Mau lari kemana juga nggak ada tempat.

 

Jam 14.00.

Clara live lagi. Kali ini lebih gila. Lebih dramatis.

Dia pegang surat USG. Entah asli atau editan Photoshop.

“Ini anak aku sama Keenan. Tapi aku diusir. Netha nggak manusiawi. Dia nggak sayang anak kecil. Dia nggak punya hati,” ucap Clara sambil nangis histeris.

Viewer 50rb. Naik terus.

Netizen langsung nyerang IG Netha. Spam komentar. 100 komentar per detik.

Netha liat dari tenda syuting. Wajahnya tetap datar. Tapi tangannya genggam HP kenceng banget sampai putih.

Inka udah mau meledak. “Tha! Kita harus lapor polisi! Ini pencemaran nama baik! Ini udah kelewatan!”

Netha angkat tangan. Nyuruh diem.

“Kenapa?!” tanya Inka frustasi.

Netha liat jam. “Karena kita nggak main di level dia. Kita main di level hukum. Dan level itu... lebih sakit.”

Inka nggak ngerti. Tapi nurut. Karena percaya sama Netha.

 

Jam 16.00.

Netha pulang syuting lebih cepat. Capek mental.

Di jalan Tol Kebon Jeruk, mobilnya dikepung 2 motor. Wartawan gosip.

“Mba Netha! Tanggapan soal Clara?” teriak satu wartawan.

“Mba Netha! Bener nggak Mba cuekin suami sampai dia selingkuh?” teriak yang lain.

Netha diem. Kaca mobil ditutup rapat. Wajahnya nggak keliatan.

Driver jalan terus. Ngebut. Nyelip-nyelip.

Netha pegang dada. Jantungnya kenceng banget.

Tapi dia nggak nangis. Nggak di depan orang.

 

Jam 17.00. Rumah Kebayoran Baru.

Keenan udah di rumah duluan. Duduk di sofa kulit. Wajahnya kosong. Kayak mayat hidup.

Netha masuk sama Queen.

Keenan langsung berdiri. “Tha... aku... aku mau jelasin...”

Netha angkat tangan. Nyuruh diem. Wajahnya dingin.

“Makan dulu,” kata Netha singkat.

Makan malam lagi. 3 orang. 3 dunia berbeda.

Queen di tengah. Netha di kiri. Keenan di kanan. Nggak ada yang ngobrol. Cuma suara sendok.

Selesai makan, Netha langsung ajak Queen sikat gigi. Baca dongeng. Tidur.

Jam 21.00. Netha keluar kamar Queen.

Keenan masih di sofa. Nggak pindah dari tadi.

Netha duduk. Jarak 2 meter. Sengaja.

“Kontrak kamu dibekukan,” kata Netha datar. Tanpa ekspresi.

Keenan mengangguk. “Iya.” Suaranya serak.

“Agensi Yudhistira nggak mau nama mereka hancur gara-gara kamu,” lanjut Netha.

Keenan diem. Air mata jatuh. Netes ke lantai.

“Tha... aku salah... aku nyesel...”

Netha natap dia. Tajam. Kayak pisau.

“Jangan minta maaf ke aku, Mas,” kata Netha. “Minta maaf ke Allah. Karena nikah kita nikah sah. Akad di depan Allah. Dan kamu khianatin janji itu.”

Keenan nangis makin kenceng. Bahunya gemetar.

Netha berdiri. “Tidur di kamar tamu. Sama seperti kemarin.”

Keenan nurut. Jalan pelan. Punggungnya bungkuk. Kayak narapidana mau ke sel.

Sebelum masuk kamar tamu, dia berhenti. Noleh sedikit.

“Tha... makasih udah nggak ngancurin aku di depan publik,” bisiknya.

Netha nggak jawab. Nggak noleh. Langsung masuk kamar. Kunci. Klik.

 

Jam 22.30.

Clara histeris di apartemennya di daerah Senopati.

HP-nya dibanting ke tembok. Pecah. Komentar netizen mulai berbalik.

“Pelakor”

“Muka tebel banget”

“Batalin aja tuh kehamilan. Kasihan anaknya”

Manajernya nelpon. Suaranya panik. “Clara, brand mulai cabut satu-satu. Kita nggak bisa bantu lagi kalau kamu terus fitnah. Karier kamu hancur.”

Clara nangis. Teriak. “Netha! Dasar perempuan tua! Tunggu aja! Aku nggak akan diem!”

Tapi dia tau. Kartu dia udah habis. Permainan dia udah selesai.

 

Jam 01.00.

Netha belum tidur. Lampu kamar masih nyala.

Dia buka laptop. Draft gugatan cerai masih 80%.

Tapi kali ini dia nggak buka buat ngirim. Dia buka buat edit.

Dia tambahin satu kalimat di akhir dokumen:

“Gugatan ini ditahan sampai saya melihat penyesalan tulus dari tergugat. Dan sampai pihak agensi memutuskan hukuman apa yang pantas.”

Terus dia tutup laptop.

Ranjang masih dingin. Tapi malam ini... hatinya nggak sedingin kemarin.

Karena untuk pertama kalinya dalam 6 bulan... Keenan kehilangan semuanya.

Pekerjaan. Nama. Harga diri. Karier.

Dan semua itu... bukan karena Netha. Tapi karena perbuatannya sendiri.

To be continued...

1
Anwar Ghazi
bagus cerita nya
fanny tedjo pramono
semangat update ditunggu guys
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!