NovelToon NovelToon
Pengkhianatan Manis Adik Kandung Ku

Pengkhianatan Manis Adik Kandung Ku

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: Elwa Zetri

​"Mbak Rani!" Tyas langsung memeluk kakaknya erat.

​"Wah, adik Mbak sudah besar sekarang, ya. Makin cantik," puji Rani tulus, mengusap kepala adiknya. Rani kemudian beralih ke suaminya yang berdiri di ambang pintu. "Mas, ini Tyas."

​Tyas beralih menyalimi tangan Angga. "Halo, Mas Angga. Mohon bantuannya ya selama Tyas kuliah di sini."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sunyi di sisa malam

Begitu pintu kamarnya tertutup rapat, Tyas menyandarkan punggungnya di sana sembari memegangi dadanya yang berdegup kencang. Wajahnya masih terasa panas. Alih-alih mengambil tisu di kamar mandi luar seperti alasannya tadi, Tyas memutuskan untuk langsung mengganti pakaiannya yang basah kuyup.

​Ia membuka lemari pakaian dan jemarinya terhenti pada sebuah setelan piyama berbahan satin halus berwarna maroon tua. Setelan itu terdiri dari atasan tanpa lengan yang dipadukan dengan celana pendek sepaha, lengkap dengan sebuah kardigan tipis senada sebagai luarannya. Setelah memakainya, Tyas membiarkan kancing kardigannya tetap terbuka, memperlihatkan potongan leher piyamanya yang sedikit rendah. Rambut pendek sebahunya yang hitam kontras dengan warna merah marun pakaiannya, membuat kulit leher dan kakinya terlihat semakin cerah.

​Tyas mengembuskan napas panjang untuk menenangkan diri, lalu membuka pintu kamar dan berjalan kembali menuju area meja makan.

​Angga yang masih duduk di posisinya sontak mendongak begitu mendengar suara langkah kaki Tyas. Ketika sosok adik iparnya itu kembali muncul di bawah pendar lampu dapur, pandangan Angga kembali terkunci. Alih-alih kaos oversize yang longgar, kini Tyas berdiri di hadapannya dengan piyama satin yang jatuh dengan pas di tubuhnya, memperlihatkan kaki jenjangnya yang mulus hingga sebatas paha.

​"Maaf ya, Mas, lama. Baju yang tadi basah banget, jadi Tyas sekalian ganti baju tidur saja," ucap Tyas agak canggung, pelan-pelan mendudukkan kembali dirinya di kursi semula.

​"Oh... iya, gak apa-apa," sahut Angga dengan suara yang terdengar sedikit lebih berat dari biasanya. Ia berdeham kecil, mencoba mengalihkan pandangannya ke piring jalannya yang sebenarnya sudah bersih, lalu meraih gelas air putihnya untuk membasahi tenggorokan yang mendadak terasa kering.

​Suasana di meja makan itu kini benar-benar diselimuti oleh ketegangan yang kasat mata. Aroma parfum mandi Angga yang maskulin beradu dengan wangi sabun manis dan kehangatan yang dipancarkan dari tubuh Tyas setelah berganti pakaian. Di tengah keheningan malam yang kian larut dan ketidakhadiran Rani, pilihan pakaian Tyas malam itu seolah-olah tanpa sadar mengaburkan batasan di antara mereka berdua, memicu debaran aneh yang terus menggelitik dinding iman Angga yang kian menipis.

Suasana di meja makan berangsur tenang kembali. Baik Angga maupun Tyas memilih untuk menghabiskan sisa makanan mereka tanpa banyak bicara, mencoba menekan debaran aneh yang sempat menguasai atmosfer dapur. Denting sendok yang beradu dengan piring menjadi satu-satunya suara yang memecah keheningan di antara mereka.

​Begitu makan malam selesai, Tyas langsung berdiri dan mengumpulkan piring-piring kotor. "Mas Angga, biar Tyas saja yang cuci piringnya," ujarnya sambil membawa tumpukan piring itu ke arah wastafel dapur.

​"Ya sudah, Mas bantu bersihkan mejanya," sahut Angga. Ia mengumpulkan kotak-kotak bekas pembungkus ayam goreng dan sisa tisu ke dalam satu kantong plastik besar, lalu mengikatnya rapat-rapat. "Mas sekalian keluar untuk buang sampah ini ke bak depan, ya."

​"Iya, Mas."

​Tyas mulai menyalakan kran air di wastafel. Suara kucuran air yang bergemercik menemani jemarinya yang lincah menggosok piring dengan sabun. Sesekali ia melirik pantulan dirinya di kaca jendela kecil di atas wastafel, merapikan kardigan piyama maroon-nya yang sesekali merosot di bahu akibat gerakannya yang dinamis.

​Sementara itu, Angga melangkah keluar melalui pintu dapur menuju teras depan. Udara malam pukul setengah tujuh lewat langsung menyergap tubuhnya, terasa dingin namun cukup menyegarkan pikirannya yang sempat buntu. Ia berjalan ke sudut pagar dan memasukkan kantong sampah tersebut ke dalam tempat penampungan.

​Angga tidak langsung masuk kembali ke dalam rumah. Ia berdiri sejenak di teras, bersandar pada pilar beton sembari menatap langit malam komplek yang sepi. Angin malam berembus pelan, mempermainkan kaus abu-abu tipis yang dikenakannya. Angga menarik napas dalam-dalam, mencoba mengusir sisa-sisa bayangan bentuk tubuh Tyas yang basah tadi dari kepalanya, menyadari bahwa setelah ini, ia harus kembali masuk ke dalam rumah dan menghadapi kenyataan bahwa malam yang panjang baru saja dimulai.

1
Anonim
Kurang ajar banget si angga dan si tyas ini,buat rani tau lebih cepat thor tentang kebangsatan suami dan adik nya
Anonim
Lama bener thor muter nya ,si rani kapan sadar perselingkuhan adik nya sama suami nya jangan kelamaan
Anonim
Si rani kenapa oneng sih g bisa liat sekilas model ade nya kek apaan dah ,cuek apa emang buta dia
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!