NovelToon NovelToon
Sisa Rasa Yang Terlarang

Sisa Rasa Yang Terlarang

Status: sedang berlangsung
Genre:Drama / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: HebiKage

Usai memutuskan hubungan dua setengah tahun dengan Reza, Tari merasa lelah dengan drama cinta dan tekanan keluarga. Belum sembuh sepenuhnya, ia dipaksa ibunya mengikuti kencan buta—dan takdir malah mempertemukannya dengan Aldo, adik kandung mantan pacarnya sendiri.

Wajahnya mirip, tapi sikapnya sangat berbeda: lebih dingin, lebih tajam, dan seolah menyimpan rahasia serta dendam tersembunyi. Pertemuan yang dipaksa keluarga perlahan membangkitkan perasaan yang tak seharusnya ada. Di tengah gosip lingkungan dan luka lama yang mulai terbuka kembali, Tari dihadapkan pada satu pertanyaan berat:

Apakah ia berhak merasakan bahagia di samping orang yang masih terikat erat dengan masa lalunya yang menyakitkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HebiKage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Badai Yang Mendekat

Sudah dua hari berlalu sejak pertemuan kami yang kedua di Kafe Senjakala. Dua hari yang terasa begitu berbeda, begitu aneh, dan sama sekali tidak seperti kebiasaanku yang dulu. Biasanya, setiap kali aku berpisah atau bertengkar dengan Reza, aku akan menghabiskan berjam‑jam waktu hanya untuk menangis sendirian di kamar, memeluk guling erat‑erat seolah itulah satu‑satunya tempat berlindung, serta memutar lagu‑lagu penuh kesedihan berulang kali hingga mataku bengkak dan kepalaku terasa pening berat.

Namun kali ini, semuanya berjalan lain dari dugaan.

Aku tidak menangis. Aku tidak sibuk mencari lagu‑lagu sendu. Bahkan, aku sama sekali tidak memikirkan Reza sehebat dan sesering yang aku kira akan kulakukan.

Yang memenuhi isi kepalaku selama dua hari ini hanyalah sosok Aldo.

Bukan dalam arti yang sepenuhnya romantis—atau setidaknya itulah yang selalu kucoba yakinkan pada diriku sendiri agar tidak terhanyut. Aku hanya terus mengingat‑ingat setiap percakapan yang terjalin di antara kami. Mengingat cara dia mengucapkan sesuatu dengan tenang, cara dia mendengarkan penuturanku sepenuh hati tanpa memotong, hingga cara dia menatapku—tatapan yang membuatku merasa seolah‑olah akulah satu‑satunya orang yang ada di ruangan itu, satu‑satunya hal yang penting baginya saat itu.

“Kamu tidak sendirian.”

Kalimat itulah yang seolah tersirat dari sikapnya, meski tak pernah sekalipun dia mengucapkannya secara langsung. Tanpa banyak basa‑basi manis yang tak berdasar. Tanpa janji‑janji kosong yang sering kali hanya menjadi harapan palsu. Semua hanya tersampaikan lewat ketenangan bicaranya dan sikapnya yang membuatku merasa… aman.

Namun, aku sadar betul aku tidak boleh terbawa perasaan berlebihan. Aku baru saja berpisah dari kekasihku. Belum lama. Belum benar‑benar pulih hati dan pikiranku. Belum bisa dikatakan telah melupakan masa lalu. Ditambah lagi, Aldo adalah adik kandung dari mantan kekasihku—laki‑laki yang baru saja kutinggalkan. Hubungan kami—jika boleh disebut hubungan—awalnya hanyalah hasil pertemuan yang dipaksa oleh keinginan orang tua, bukan tumbuh dari ketertarikan atau kehendak kami berdua secara alami.

“Ini tidak sehat, Tari,” tegurku pada diri sendiri sambil menggeleng pelan. “Kamu hanya sedang mencari pelarian saja. Kamu hanya butuh seseorang yang mau mendengarkan ceritamu dan memahami hatimu. Tidak lebih dari itu.”

Namun, jauh di sudut hati kecilku, ada suara lain yang berbisik halus—suara yang menentang pemikiranku itu.

***

Di kamar kosanku, pukul 19.00 malam.

Hujan turun dengan sangat deras sejak sore tadi, hingga kini tak kunjung mereda. Dari balik jendela kamar, aku bisa mendengar suara gemericik air yang jatuh berturut‑turut dari atap ke selokan di bawah sana. Suara yang seharusnya menenangkan hati, namun malam ini terdengar lain—terdengar seperti pertanda, seperti peringatan samar akan sesuatu yang buruk yang sebentar lagi akan terjadi.

Aku duduk bersandar di dinding kamar, dengan kaki terlipat dan laptop yang terbuka tergeletak di pangkuanku. Aku berusaha menulis—bukan tugas kuliah yang harus dikumpulkan, melainkan sebuah cerita pendek tentang seorang perempuan muda yang terperangkap dalam hubungan yang salah dan menyakitkan, hingga akhirnya ia bertemu dengan seseorang yang mengajarinya bahwa cinta yang sejati seharusnya membawa kebahagiaan, bukan luka.

“Tema cerita yang terlalu dekat dengan kenyataan hidupku sendiri,” gumamku sinis dalam hati.

“Tapi setidaknya, cerita ini jujur.”

Jari‑jariku bergerak menuliskan beberapa paragraf, lalu berhenti dan menghapusnya. Mengetik lagi, lalu kembali menghapusnya. Rasanya jari‑jariku menjadi begitu berat, seolah‑olah sedang bergerak menekan batu yang keras dan tak lunak. Tak ada satu pun kalimat yang ingin mengalir lancar. Tak ada gagasan baru yang muncul di kepala. Yang selalu terbayang hanyalah wajah Aldo, nada suaranya yang rendah, hingga kebiasaannya menyerupai kopi hitam pahit tanpa menampakkan ekspresi apa pun.

Akhirnya aku menutup penutup laptop dengan pelan. Tak ada gunanya memaksakan diri. Tulisan takkan pernah jadi jika hati dan pikiran sedang tidak tenang begini.

***

Pukul 19.30 malam. Ponselku bergetar pelan di atas kasur.

Pesan masuk dari Rina, teman sekosanku:

“Tari, ada laki‑laki menunggumu di depan gerbang. Katanya mau bertemu. Naik mobil Fortuner warna hitam.”

Detik itu juga, rasanya jantungku berhenti berdetak sejenak.

Fortuner hitam…

Hanya ada satu orang yang kukenal yang memiliki mobil seperti itu. Satu orang yang terakhir ingin kutemui saat ini.

Reza.

Aku menatap tulisan di layar ponsel, berusaha memproses kenyataan itu dengan kepala yang terasa mendadak pening. Reza datang ke sini. Ke kosanku. Di jam‑jam yang sudah agak larut begini. Dan di tengah hujan yang turun sangat deras.

“Kenapa dia datang?” batinku bertanya tanpa jawaban.

Segera aku membalas pesan Rina:

“Dia bilang apa saja?”

Balasan Rina datang cepat:

“Dia hanya bilang ada perlu dan ingin bertemu denganmu. Dia sudah menunggu di depan gerbang. Bagaimana? Boleh aku bukakan gerbangnya?”

“Jangan dibukakan! Bilang saja aku sedang tidak ada di sini.”

Tak lama, balasan kembali masuk:

“Sulit begitu, Tari. Dia sudah melihat lampu kamarmu menyala terang. Dia tahu pasti kamu ada di dalam.”

Aku menghela napas panjang dan berat. Memang begitulah Reza. Dia tidak pernah mudah dibohongi. Atau lebih tepatnya, dia tidak pernah mudah menerima penolakan dari siapa pun, apalagi dariku.

“Kalau begitu katakan aku sedang sakit keras. Tidak bisa bertemu siapa pun malam ini.”

“Tapi Tari… dia…”

Kalimat pesan Rina terhenti di tengah jalan. Beberapa detik kemudian, pesan baru masuk lagi.

“Dia sudah memaksa masuk ke halaman kosan. Maafkan aku, Tari. Aku benar‑benar tak kuasa menahannya sendirian.”

Dengan kaki yang mendadak terasa lemas dan gemetar, aku bangkit berdiri dari kasur. Berjalan perlahan menuju jendela, lalu membuka sedikit tirai kain untuk mengintip ke bawah.

Di halaman kosan yang sempit itu, di bawah cahaya lampu jalan yang redup dan berkedip‑kedip, tampak Reza berdiri tegak sambil memayungi diri dengan payung hitam berukuran besar. Dia tidak sendirian. Di belakangnya, mobil Fortuner hitamnya terparkir rapi di pinggir jalan, mesinnya masih menyala, lampu depannya memancarkan sorot terang tepat ke arah gerbang kosan yang tertutup.

Tiba‑tiba Reza mendongak menatap lurus ke arah jendelaku.

Pandangan kami bersitatap.

Dia tersenyum—senyum yang dulu selalu berhasil membuatku luluh dan lupa segalanya, namun malam ini hanya membuat bulu‑kudukku merinding ketakutan.

“Tari! Turunlah ke bawah!” serunya lantang. Suaranya keras dan tajam, memecah kesunyian malam yang hanya diisi oleh suara hujan.

Aku segera menutup kembali tirai jendela, mundur beberapa langkah menjauh, lalu jatuh duduk kembali di pinggir kasur. Tanganku gemetar hebat, dadaku berdebar kencang seakan mau melompat keluar dari dada.

“Apa yang harus kulakukan sekarang?” pikiranku kacau balau.

Segera aku meraih ponselku, lalu dengan tangan yang masih gemetar menekan nomor telepon Maya, sahabatku yang paling bisa diandalkan. Telepon berdering satu kali, dua kali, tiga kali.

“Halo… Maya…” suaraku terdengar pecah dan parau.

“Tari? Ada apa, Sayang? Kenapa suaramu terdengar aneh sekali?” tanya Maya dari seberang sambungan.

“Reza… Reza ada di depan kosanku. Dia sudah masuk ke halaman… aku takut, Maya…”

Di seberang telepon terdengar keheningan sesaat, lalu suara Maya meninggi penuh keterkejutan sekaligus kemarahan.

“APA?! REZA ADA DI SANA?! DENGARKAN AKU, JANGAN KAMU BUKA PINTU SEDIKITPUN! DAN JANGAN KELUAR!”

“Aku tidak berniat keluar. Tapi dia tidak mau pergi, Maya. Dia terus memanggilku.”

“Kalau begitu, telepon Aldo! Minta bantuan padanya sekarang juga!” serunya tegas.

Aku terdiam mendengar saran itu. Memanggil Aldo? Meminta tolong kepadanya? Padahal kami baru saja saling mengenal beberapa hari yang lalu saja?

“Tari! Kamu dengar aku kan?!” seru Maya lagi, terdengar cemas. “Aldo itu saudara kandungnya Reza! Dia pasti bisa mengerti dan mengatur kakaknya! Dia satu‑satunya orang yang bisa menolongmu saat ini!”

“Tapi… aku merasa sungkan sekali, Maya. Baru kenal sudah menyusahkan begini…”

“Masih memikirkan rasa sungkan di saat bahaya begini?! Ini bukan waktunya berpikir macam‑macam! Telepon dia sekarang juga, Tari! Segera!”

Tanpa menunggu jawabanku, sambungan telepon terputus. Aku menatap layar ponsel yang sudah gelap, bergulat di dalam hati antara rasa takut yang makin memuncak dan rasa enggan yang masih tersisa.

Di luar sana, suara Reza kembali terdengar memecah udara malam, kali ini makin keras dan penuh penekanan.

“TARI! TURUNLAH KATAKU! KITA HARUS BICARA!”

Di sela‑sela itu, aku sempat mendengar suara Rina yang berusaha menenangkan, disusul suara Yoga yang ikut turun membantu, hingga akhirnya terdengar bentakan Reza yang terdengar marah luar biasa:

“URUSAN INI HANYA ANTARA AKU DAN DIA! KALIAN TIDAK ADA HUBUNGANNYA!”

Aku sadar, aku benar‑benar tak punya pilihan lain lagi.

Dengan tangan yang masih gemetar, aku membuka daftar kontak, mencari nama Aldo—nomor yang kemarin dia berikan kepadaku saat kami berpisah di kafe, sambil berkata: “Simpan saja, untuk berjaga‑jaga kalau ada hal mendesak.”

Aku menekan tombol panggil. Telepon berdering satu kali, dua kali, tiga kali.

“Halo?” jawab Aldo. Suaranya terdengar tetap tenang seperti biasa, namun aku menangkap ada nada kesiagaan di baliknya.

“Aldo…” suaraku pecah tak tertahankan. “Aldo, tolong aku… Reza ada di sini, di depan kosanku. Dia marah sekali… aku takut, Aldo…”

Air mataku akhirnya jatuh juga—bukan karena sedih atau kecewa, melainkan karena rasa takut yang mendadak meluap. Takut pada sosok Reza yang dulu selalu bisa kuyakini keadaannya, namun malam ini tampak seperti orang yang sama sekali berbeda, asing dan mengerikan.

“Tari, dengarkan aku baik‑baik,” potong Aldo tegas, namun tetap lembut. Suaranya berubah menjadi lebih mantap dan pasti, seketika membuatku merasa sedikit lebih tenang. “Kamu ada di dalam kamar, kan? Apakah pintunya sudah dikunci rapat?”

“Sudah… sudah aku kunci semua.”

“Bagus. Tetaplah di sana dan jangan buka pintu untuk siapa pun selain aku. Aku akan segera berangkat ke tempatmu sekarang juga.”

“Kamu… kamu ada di mana saat ini?”

“Aku di tempat tinggalku, di Tebet.”

Tebet ke Depok… jarak yang lumayan jauh. Sekitar setengah jam perjalanan, bahkan bisa lebih lama lagi mengingat hujan deras yang turun membasahi jalanan.

“Berjanjilah padaku, Tari. Tetap diam dan jangan keluar sampai aku datang. Aku akan berusaha secepat mungkin.”

“Aku janji…” jawabku lirih.

“Aku matikan telepon sebentar untuk menyetir. Aku akan kabari lagi begitu sudah sampai di sana.”

Sambungan terputus.

Aku menjatuhkan diri duduk di lantai bersisi kasur, membelakangi pintu kamar agar merasa sedikit lebih aman. Punggungku bersandar pada daun pintu, sementara tanganku masih erat menggenggam ponsel. Air mataku terus menetes membasahi pipi, namun rasa takutku perlahan mulai terbagi dengan rasa percaya yang entah bagaimana muncul begitu saja saat mendengar suara Aldo.

Di luar, Reza masih bersuara lantang, kini mulai menebarkan tuduhan yang menyakitkan:

“TARI! AKU TAHU KAMU ADA DI SANA! KAMU KIRA AKU TIDAK TAHU APA‑APA?! KAMU SUDAH MENDUAKAN AKU DENGAN ADIKKU SENDIRI! KAMU DAN ALDO! KAMU BERDUA BERSEKONGKOL!”

Segera aku menutup telingaku rapat‑rapat dengan kedua tangan. Aku tak ingin mendengarnya. Tak ingin memikirkannya. Aku hanya berharap waktu berjalan lebih cepat agar Aldo segera datang.

***

Tiga puluh menit berlalu dengan terasa begitu lambat dan panjangnya.

Hujan masih turun dengan deras yang sama. Reza masih berdiri di bawah sana berseru‑seru, meski suaranya kini mulai terdengar serak karena terlalu lama berteriak. Rina dan Yoga sudah masuk kembali ke dalam kosan—mereka menyerah, tak sanggup lagi berhadapan dengan kekerasan hati Reza.

Aku masih duduk di tempat yang sama, memeluk lutut, mataku tak lepas menatap layar ponselku.

Hingga akhirnya ponselku bergetar. Pesan masuk dari Aldo:

“Aku sudah ada di depan gerbang kosan. Turunlah perlahan saja.”

Segera aku bangkit berdiri, meski kakiku masih terasa lemas berat. Aku berjalan menuju pintu, membukanya perlahan, lalu mulai menuruni tangga satu per satu dengan hati‑hati.

Di halaman kosan yang sempit itu, di bawah sorot lampu jalan yang masih redup, kini terparkir dua kendaraan: mobil Fortuner hitam milik Reza, dan sedan hitam milik Aldo.

Reza berdiri kaku di dekat kendaraannya, wajahnya merah padam menahan amarah yang meluap. Sedangkan Aldo berdiri santai namun tegas di dekat mobilnya. Wajahnya sama sekali tak berubah—tetap tenang, sangat tenang persis seperti permukaan danau yang diam dan tak bergelombang meski sedang diterpa badai.

“ALDO! KENAPA KAMU DATANG KE SINI?!” seru Reza, suaranya parau dan kasar.

“Menjemput Tari,” jawab Aldo singkat dan datar, tanpa nada emosi sedikit pun.

“MENJEMPUT DIA?! APA HUBUNGANMU DENGAN DIA?! APA KAU BERDUA BERMAIN DI BELAKANGKU?!”

“Aku tidak perlu menjelaskan apa pun kepadamu, Kak.”

“KAK?! BERANI KAMU PANGGIL AKU ‘KAK’ SEMENTARA KAMU MENGHANCURKAN SEGALANYA?! KAMU TIDAK PUNYA RASA HORMAT!”

Aldo diam saja, tidak menjawab bentakan itu. Dia hanya menatap lurus ke arah Reza dengan pandangan yang sulit kutafsirkan—bukan marah, bukan takut, bukan pula benci. Pandangan yang seolah‑olah sedang mengamati, menganalisis, dan membaca setiap gerak‑gerik kakaknya.

“Reza,” panggil Aldo akhirnya dengan suara rendah namun tegas yang menembus suara hujan. “Pulanglah sekarang.”

“AKU TIDAK AKAN PULANG SEBELUM TARI TURUN DAN BICARA DENGANKU!”

“Tari tidak mau bertemu denganmu. Dia takut padamu. Dia tidak ingin melihatmu malam ini,” ucap Aldo mantap.

“AKU TIDAK PEDULI APA KATA DIA! AKU MAU—”

“CUKUP!”

Suara Aldo menggema keras memenuhi seluruh halaman kosan, membuat Reza seketika terdiam terkejut. Jarang sekali orang bisa membuat Reza bungkam secepat itu.

Aldo melangkah mendekat, satu langkah demi satu langkah—perlahan namun pasti, tanpa ragu sedikit pun.

“Kak,” katanya lagi, kali ini suaranya kembali lembut namun berwibawa. “Kamu sudah membuat keributan. Kamu sudah menakuti Tari. Kamu sudah membuat semua penghuni di sini merasa terganggu dan tidak aman. Sekarang, pulanglah. Kita bicarakan semuanya nanti, besok saja saat keadaan sudah tenang.”

Reza menatap tajam ke arah Aldo dengan pandangan yang penuh kebencian—kebencian yang begitu nyata, yang belum pernah kulihat sebelumnya, bahkan saat dia paling marah padaku sekalipun.

“Kamu… kamu lebih memilih dia daripada aku?” bisik Reza, suaranya bergetar menahan emosi.

“Ini bukan soal memilih‑memihak siapa, Kak. Ini soal mana yang benar dan mana yang salah.”

“Jadi menurutmu akulah yang salah?”

“Ya, Kamu salah, Kak. Salah karena datang ke sini tanpa undangan dan membuat keributan di tengah malam begini,” jawab Aldo jujur dan tegas.

Reza terdiam. Dadanya naik turun hebat menahan napas yang memburu.

“Kita bicara lagi besok,” ulang Aldo tenang. “Sekarang pulanglah dan istirahatlah. Kamu sudah lelah dan terlalu banyak pikiran.”

Reza tak menjawab sepatah kata pun. Dia hanya menatap Aldo cukup lama, lalu mengalihkan pandangannya kepadaku—aku yang masih berdiri diam di teras atas, membeku dan tak berani bergerak.

Setelah itu, Reza berbalik badan, masuk ke dalam mobilnya, dan menyalakan mesin dengan kasar. Kendaraan Fortuner hitam itu melaju kencang meninggalkan halaman, membelah hujan, hingga lenyap di tikungan jalan di kejauhan, meninggalkan bekas jejak ban yang panjang di aspal basah.

Aldo pun segera berjalan menuju tempatku berdiri.

Dia tidak bergegas berlari. Setiap langkahnya tetap teratur dan pasti, seolah dia tak pernah merasa takut menghadapi apa pun di dunia ini.

Sesampainya di hadapanku, dia menatap wajahku lekat—memastikan bahwa aku baik‑baik saja, meski mataku masih merah dan bengkak bekas menangis.

“Kamu tidak apa‑apa, Tari?” tanyanya lembut.

Aku hanya menggeleng pelan. “Aku… aku sangat takut tadi.”

“Sudah, semuanya sudah lewat. Jangan takut lagi. Dia sudah pergi,” hiburnya halus.

“Tapi dia pasti akan datang lagi, Aldo. Dia tidak mudah menyerah.”

“Kalau dia datang lagi, aku pun akan datang lagi untukmu,” jawabnya tanpa ragu sedikit pun.

Aku menatapnya lekat‑lekat. Wajah yang sedari tadi tampak keras dan tegas demi menenangkan Reza, kini kembali berubah teduh—kembali menjadi sosok Aldo yang aku kenal, sosok yang selalu membuatku merasa aman.

“Kenapa… kenapa kamu mau datang ke sini demi aku?” tanyaku pelan, masih tak percaya.

“Karena kamu memintaku datang,” jawabnya sederhana.

“Aku… aku sungkan sekali menyusahkanmu begini…”

“Jangan berpikir begitu. Aku malah senang kamu berani meneleponku dan minta bantuan,” potongnya lembut.

Aldo tersenyum tipis. Lalu perlahan, dia meraih tanganku—genggamannya lembut sekali, hati‑hati seolah aku terbuat dari kaca tipis yang bisa pecah jika disentuh terlalu kuat.

“Aku akan mengantarmu masuk kembali ke kamar,” katanya pelan. “Kamu butuh beristirahat dan menenangkan diri.”

Aku mengangguk patuh.

Aldo menggandengku menaiki tangga satu per satu hingga sampai di depan pintu kamarku. Di sana dia melepaskan genggamannya perlahan.

“Tidurlah yang nyenyak malam ini. Jangan memikirkan hal‑hal buruk lagi,” pesannya. “Besok aku akan menghubungimu lagi.”

“Aldo…” panggilku sebelum dia sempat pergi.

“Iya?”

“Terima kasih… terima kasih banyak untuk semuanya.”

Aldo tersenyum lebih lebar—senyum hangat yang seketika membuat dadaku terasa hangat pula, meski tubuhku masih menggigil karena udara dingin dan sisa ketakutan tadi.

“Kapan pun kamu butuh bantuan, aku akan selalu datang kepadamu,” ucapnya tenang.

Dia pun berbalik, menuruni tangga, dan menghilang ke dalam gelapnya malam yang masih diguyur hujan.

Aku masuk ke kamar, mengunci pintu rapat‑rapat kembali, lalu menjatuhkan diri ke atas kasur yang empuk.

Di luar sana, hujan masih turun deras tanpa henti. Namun di dalam dadaku, kini tumbuh sebuah kehangatan yang sulit kujelaskan dengan kata‑kata. Sebuah rasa aman dan damai yang baru saja kutemukan, tepat saat aku paling membutuhkannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!