Aline gadis cantik yang berusia 23 tahun, tidak pernah menyangka saat ia menghadiri pesta adik tirinya menjadi sebuah bencana yang membuatnya harus kehilangan keperawanannya.
Puncak dunia Aline hancur saat ayahnya yang seharusnya mendukung dan melindunginya, dengan teganya mengusirnya dari rumah setelah mengetahui bahwa dia sedang hamil dan lebih memilih percaya pada istri dan adik tirinya.
Tidak berselang lama Aline akhirnya bertemu dengan pria yang tidur dengannya, akankah hidup Aline bahagia setelah memilih ikut dengan pria itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jing_Jing22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep. 25 PELUKKAN HALAL YANG MENENANGKAN
Lima belas menit berlalu...
Aline baru saja selesai membersihkan dirinya, saat ia kembali ke kamar. Namun tidak mendapati keberadaan suaminya.
"Kemana, Erlangga...?" Matanya bergerak ke sana ke mari mencari suaminya. "Mungkin menemui keluarganya."
Aline melangkah ke arah meja rias, tepat saat ia hendak mengeringkan rambutnya tiba-tiba pintu terbuka. Menampilkan Erlangga yang sudah rapi dengan baju tidurnya dan rambut basah yang masih menetes ke wajahnya.
Ia terpaku beberapa menit saat Erlangga semakin mendekat ke arahnya. Membuatnya menatap waspada ke arah suaminya. Kejadian tadi saja masih membekas dalam benaknya lalu apakah suaminya akan meminta malam pertamanya. Aline menggelengkan kepala berusaha tetap tenang di tengah debaran jantungnya yang semakin menggila.
"Biarkan aku yang mengeringkannya." ucapnya tiba-tiba tanpa basi-basi lebih dulu bahkan kejadian ciuman tadi seolah tidak pernah terjadi.
Erlangga mendudukkan Aline di kursi lalu ia mulai menyalakan hair dryer tersebut, setiap sentuhan lembut pria itu membuat hati Aline sedikit demi sedikit mulai menerima keberadaan pria itu.
Saat Aline larut dalam sikap perhatian pria itu, ia tidak menyadari bahwa Erlangga sudah selesai dan sekarang sedang berlutut di hadapannya.
Tatapan mereka saling bertemu seolah sedang menyelami perasaan masing-masing.
"Aline... mungkin pertemuan kita karena sebuah kesalahan, tapi percayalah aku menikahimu bukan semata karena ada anak ini." jujur Erlangga tanpa sedikit pun kebohongan di setiap kalimatnya.
"Tapi aku sudah menyukaimu sejak pertama aku bertemu denganmu. Maukah kamu menerimaku bukan sebagai ayah anak dalam kandungamu tapi sebagai suami dan orang yang kamu terima keberadaannya."
Aline membeku ini pengakuan yang tidak semua pria bisa melakukannya, perlahan ia mengangguk.
"Aku akan mencobanya..." Suaranya pelan nyaris seperti desiran angin.
Erlangga tersenyum merekah saat mendengar jawaban itu. Ia langsung membawa Aline menuju tempat tidur.
Aline sempat ragu-ragu. Ia masih takut jika pria itu akan melakukan hal lebih apalagi ini malam pernikahan mereka.
Erlangga yang melihat keraguan dari wajah istrinya mencoba meyakinkan wanita itu. "Aku tidak akan melakukan hal apapun."
Setelah mendengar apa yang Erlangga katakan Aline mulai naik ke tempat tidur.
Kini Mereka mulai merebahkan diri di atas kasur. Namun, keduanya masih terjaga tidak ada di antara mereka yang memulai percakapan hanya suara pendingin AC dan jam dinding yang menyelimuti keduanya.
Hingga suara Erlangga memecah keheningan itu. "Aline, apakah aku boleh memelukmu?" tanya Erlangga, kali ini ia meminta izin terlebih dulu dan tidak ingin bertindak agresif seperti kejadian tadi yang membuat istrinya merasa tidak nyaman.
Aline terdiam sejenak. Ia sudah menjadi istrinya Erlangga apa masih pantas ia menolak suaminya. Ia berusaha meyakinkan hatinya lalu bergumam pelan. "Silakan, aku mengizinkannya."
Setelah mendapatkan izin tersebut tanpa membuang waktu lagi Erlangga langsung merapatkan tubuhnya dan memeluk istrinya dengan lembut. "Selamat malam, Sayang..." ucapnya lembut tepat di samping telinga Aline.
Aline merasakan hembusan napas hangat yang menerpa kulitnya menggit bibir bawahnya kuat-kuat berusaha agar tetap tenang, beberapa menit kemudian ia mulai merasakan nyaman berada dalam pelukkan suaminya tidak terasa menyelusupkan wajahnya semakin dalam ke arah dada bidang suaminya.
Erlangga yang merasakan sentuhan itu semakin kalang kabut, ia merasa seperti memancing dirinya sendiri ke dalam hasrat itu. "Sial! Kenapa jadi aku yang terjebak seperti ini." gumamnya dalam hati, berusaha mati-matian menahan gejolak panas yang ia rasakan.
Hingga beberapa menit kemudian. Ia berhasil mengendalikan dirinya dan langsung tertidur menyusul istrinya yang sudah terlelap di dalam pelukkannya.
*
*
*
Sinar matahari pagi langsung menerobos masuk melalu celah gorden kamar hotel, kedua pasangan itu tampaknya masih berpelukkan di bawah selimut yang sama.
Tiba-tiba saja, Aline terbangun dan dengan gerakan cepat ia mendorong tubuh Erlangga yang masih memeluknya lalu menyibak selimut sedikit kasar. Ia melompat dari atas kasur dan berlari kecil ke arah kamar mandi.
Erlangga yang langsung terbangun dengan dorongan tiba-tiba itu, tercengang saat melihat istrinya tanpa hati-hati dan sangat ceroboh saat melompat dari kasur.
Setelah itu, ia mendengar suara muntahan istrinya yang terdengar sangat dramatis dari dalam kamar mandi.
Erlangga langsung duduk tegak, ia mulai panik lalu melirik jam dinding yang masih menunjukkan pukul 06.15!
Ia bergegas bangun. Lalu mengetuk pintu kamar mandi dengan kekhawatiran yang sangat terlihat jelas di wajahnya.
TOK! TOK! TOK!
"Aline, apa kamu baik-baik saja?"
Setelah beberapa saat, Aline keluar dengan wajah lesu.
Erlangga yang melihat wajah pucat istrinya turut prihatin dengan yang dialami istrinya. Ia menuntun istrinya untuk kembali ke tempat tidur.
"Bagaimana apa sudah baikkan?"
Aline menggeleng lemah. "Perutku seperti diaduk-aduk dari dalam." keluhnya dengan suara yang terdengar lirih.
Dengan cepat Erlangga menyerahkan obat pereda mual dan air mineral kepada istrinya. "Minum dulu. Aku tau trimester kehamilan pertama memang seperti itu, tapi setelah kamu berhasil melewatinya tidak akan terjadi muntah-muntah lagi." Erlangga berusaha menjelaskan dengan suara lembut.
Aline hanya mengangguk pelan sambil meminum obat tersebut, lalu ia menyandarkan tubuhnya pada headboard . Hari ini benar-benar membuatnya sangat lemas apalagi setelah acara pesta kemarin.
"Aku buatkan teh jahe dulu untuk kamu." Erlangga hendak melangkah keluar dari kamar itu. Namun langkahnya terhenti saat mendengar suara Aline.
"Tunggu! Aku nggak mau minum teh jahe!"
Erlangga bingung. "Tapi kan... minuman hangat membantu meredakan rasa mual."
Aline terdiam sejenak, ia menundukkan kepalanya sambil menautkan kedua tangannya sendiri merasa takut jika mengatakan keinginannya.
"Aku... aku ingin makanan yang dibuat Daddy, apa boleh?" pinta Aline dengan suara sangat pelan.
Erlangga mengulum senyumnya, sambil menggigit pipi dalamnya berusah untuk tidak menerkam istrinya saat itu juga yang terlihat sangat menggemaskan.
"Tentu saja boleh, pasti Daddy akan sangat antusias menuruti keinginan cucunya sendiri!" jawab Erlangga meyakinkan.
Aline perlahan mendongak, matanya berbinar penuh harap. "Kamu yakin?" tanyanya.
Ia berusaha meyakinkan dirinya bahwa ia bisa meminta sang ayah mertua untuk melakukan keinginannya, entah kenapa ia merindukan masakan ayahnya dan hal itu tidak mungkin terjadi, secara sekilas bayangan ayah mertuanya melintas lalu keinginan itu tiba-tiba beralih pada sang ayah mertua.
"Sangat yakin, sebaiknya kamu bersiap... kita akan pulang sekarang juga agar Daddy menyiapkan makanan yang kamu inginkan."
"Benarkah!"
Erlangga mengangguk pasti.
Aline yang melihat suaminya mengangguk tampak sangat bahagia, ia langsung beranjak dari tempat tidurnya dan berhambur memeluk Erlangga.
"Terima kasih, kalian memang sangat baik!"
Erlangga yang mendapatkan serangan tiba-tiba seketika tubuhnya membeku saat itu juga, ini pertama kalinya wanita itu memeluknya dengan keinginannya sendiri tanpa ia yang memulai duluan.
Dengan cepat dan tidak ingin membuat momen itu sia-sia, ia membalas pelukkan istrinya dengan erat.
Seram, Erlangga seram😬😬😬😬🤣
Semoga si Iblis bernama Anita itu, binasa aja🤣