JANGAN DIBACA NANTI KETAGIHAN! 😝😘
Bagi Haura Widjaja, hidup adalah angka, target, dan ruko jastip yang harus berjalan sempurna. Di usianya yang ke-38, ia tidak butuh pria—apalagi bocah tengil yang hobi menebar pesona.
Namun, Marco Permana hadir membawa kekacauan. Mahasiswa DKV berusia 20 tahun itu bukan hanya sekadar asisten magang yang nekat; dia adalah bratt yang tahu persis bagaimana cara meruntuhkan benteng pertahanan Haura.
Satu adalah "Beauty" yang kaku dan perfeksionis.
Satu adalah "Brat" yang liar dan tak kenal takut.
Dua dunia yang seharusnya tidak pernah beririsan kini terjebak di tengah tumpukan kardus dan aroma lakban. Ketika si bocah tengil memutuskan untuk memburu hati sang Ratu Jastip, bisakah Haura tetap dingin, atau justru ia yang akan bertekuk lutut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29
Cahaya matahari pagi baru saja menyeruak tipis di ufuk timur, membiaskan rona jingga lembut pada gedung-gedung tinggi di kawasan Menteng. Pukul tujuh lewat lima belas, ruko jastip masih dalam keadaan sunyi senyap. Haura, yang biasanya baru menampakkan batang hidungnya mendekati pukul sembilan, kali ini datang jauh lebih awal dengan penampilan yang sangat kontras dari biasanya—ia hanya mengenakan blus krem santai dengan rambut yang dicepol asal, namun wajahnya tampak jauh lebih segar.
Di tangan kanannya, sebuah kotak bekal tupperware berwarna biru muda terselip dengan erat. Aroma harum nasi goreng bawang putih dan telur mata sapi yang baru saja ia masak sendiri di dapur mansion memenuhi udara di dalam tas tentengnya.
Haura membuka rolling door ruko dengan gerakan sepelan mungkin, tidak ingin menciptakan kegaduhan. Ia melangkah masuk, melewati meja packing yang masih berantakan sisa pekerjaan semalam, lalu langsung berjalan menuju lorong belakang tempat kamar tamu berada.
Tok. Tok. Tok.
Haura mengetuk pintu kayu tipis itu dengan pelan. Tidak ada jawaban. Ia mengetuk sekali lagi, kali ini dengan suara yang sedikit lebih jelas. "Marco?"
Tak lama kemudian, suara decitan pintu terbuka terdengar. Marco muncul dari balik pintu, rambutnya benar-benar berantakan akibat bantal, kaos hitam yang ia kenakan semalam tampak sedikit kusut, namun lebam di pipinya justru terlihat lebih menonjol di bawah cahaya pagi. Matanya yang mengantuk seketika melebar saat melihat Haura berdiri di sana dengan senyum tipis.
"Haura? Kok pagi banget?" tanya Marco, suaranya parau khas orang baru bangun tidur.
Haura tidak menjawab, ia justru mengangkat tinggi-tinggi kotak bekal di tangan kanannya dengan ekspresi bangga yang ia sembunyikan. "Sarapan."
Mata Marco berbinar. Ia langsung membuka pintu lebih lebar, membiarkan Haura masuk ke dalam kamar tamu yang sempit itu. Haura duduk di pinggir kasur, sementara Marco duduk bersila di lantai di depannya, menatap kotak bekal itu seolah itu adalah harta karun paling berharga di dunia.
Haura membuka tutup kotak bekal itu. Uap panas langsung mengepul, membawa aroma gurih yang membuat perut Marco seketika keroncongan hebat.
"Masak sendiri?" tanya Marco sambil menatap Haura dengan senyum jail yang tipis.
"Iya, iseng aja tadi pagi gak bisa tidur," jawab Haura santai. Ia mengambil sendok dari dalam tas kecilnya, menyendokkan nasi goreng tersebut, dan menyodorkannya ke depan bibir Marco.
Marco menatap sendok itu, lalu beralih menatap wajah Haura yang tampak sedikit bersemu merah. Bukannya langsung melahapnya, Marco justru memundurkan kepalanya sedikit. "Gue pengen disuapin, tapi tangan gue lagi kotor belum cuci muka."
"Manja banget, baru bangun tidur udah rewel," gerutu Haura, namun ia tetap menyuapkan nasi goreng itu ke mulut Marco.
Setelah beberapa suapan, Marco tiba-tiba menghentikan tangan Haura. "Lo udah makan belum?"
"Udah tadi di rumah, sedikit," jawab Haura bohong. Padahal, ia sama sekali tidak menyentuh makanan apa pun karena buru-buru ingin memastikan kondisi Marco di ruko.
Marco tersenyum penuh arti. Ia meraih sendok dari tangan Haura, lalu balik menyodorkannya ke arah Haura. "Gak percaya. Lo pasti belum makan. Buka mulutnya."
"Nggak, aku kenyang," elak Haura, memalingkan wajahnya.
"Buka, Ra. Atau gue bakal bikin lo makan nasi ini dengan cara yang jauh lebih 'berkesan' kayak semalam," ancam Marco dengan tatapan matanya yang intens, mengingatkan Haura pada kejadian di lorong ruko semalam.
Wajah Haura memanas. Dengan perasaan kalah telak, ia akhirnya membuka mulutnya, membiarkan Marco menyuapinya dengan telaten. Suasana di dalam kamar tamu itu mendadak berubah menjadi sangat intim dan hangat, terisolasi dari hiruk-pikuk dunia luar.
Denting!
Tiba-tiba, suara denting pintu ruko depan terdengar terbuka. Langkah kaki sepatu boots yang familier terdengar memburu masuk ke dalam ruko, diikuti dengan suara nyanyian kecil yang riang. Itu Emilia.
"Woi, Ra! Tumben banget lo udah dateng—"
Suara Emilia mendadak terputus saat ia melangkah masuk ke lorong belakang dan menemukan pemandangan yang membuat matanya nyaris keluar dari soketnya. Di dalam kamar tamu yang pintu terbuka setengah, ia melihat bosnya—Haura Widjaja—sedang duduk di pinggir kasur sambil disuapi nasi goreng oleh anak magang yang wajahnya penuh lebam.
Haura dan Marco serentak menoleh. Haura melompat berdiri dari kasur seolah baru saja tertangkap basah sedang mencuri emas batangan, sementara Marco justru duduk dengan santai, menatap Emilia tanpa rasa bersalah sedikit pun.
"E-Emilia! Aku... aku cuma lagi ngecek kondisi Marco!" gagap Haura, wajahnya kini merah membara, tangannya gemetar menutupi kotak bekal yang masih setengah terbuka.
Emilia berdiri mematung, menunjuk-nunjuk mereka berdua dengan jari yang bergetar heboh. "Oh... pantesan. Boss Lady dateng pagi buta bukan buat cek stok barang, tapi buat jadi babysitter berondong yang lagi sakit ya? Gila... gila... ini bener-bener di luar nalar!"
"Em, bukan gitu! Dia tadi habis dipukul sama papanya, jadi aku..."
"Sst, nggak usah jelasin panjang lebar, Ra," potong Emilia, berjalan mendekat dengan senyum paling jahil yang pernah ada. Ia menatap Marco yang masih tampak tidak peduli, lalu beralih ke Haura yang sudah ingin menghilang dari muka bumi. "Gue cuma mau bilang satu hal: kalau mau pacaran, tolong pasang tanda 'Sedang Proses' di depan pintu ruko, biar gue nggak kaget pas mau absen!"
Marco terkekeh rendah, suara beratnya memenuhi kamar tamu yang sempit itu. "Mbak Emilia, kalau mau sarapan, nanti gue pesenin nasi goreng yang lain. Bekal dari Ratu Jastip ini cuma buat pasien yang butuh dirawat, bukan buat penonton."
Haura menepuk keras pundak Marco, lalu buru-buru menarik Emilia keluar dari kamar itu sebelum sahabatnya itu mengeluarkan ledekan yang lebih pedas lagi. Pagi itu, di ruko jastip yang biasanya dingin dan profesional, aroma nasi goreng dan wajah merah padam Haura menjadi saksi bahwa hubungan mereka benar-benar sudah tidak bisa lagi disembunyikan.
***
Suasana ruko perlahan kembali ke ritme normal setelah kehebohan pagi tadi. Arlo dan Kevin yang baru saja datang langsung sibuk dengan tumpukan album K-Pop tanpa berani mengungkit lagi kejadian di kamar tamu, sementara Marco kembali ke meja packing dengan ekspresi yang lebih cerah dari biasanya—meskipun memar di pipinya masih jelas terlihat.
Haura, yang merasa suasana hatinya masih naik-turun akibat ledekan Emilia dan kejadian sarapan tadi, memutuskan untuk keluar sejenak. Ia menyambar kunci mobilnya di atas meja admin.
"Mau ke mana, Tan?" tanya Marco dari meja packing, suaranya terdengar penasaran namun penuh perhatian. Pemuda itu menghentikan gerakannya yang sedang menempelkan stiker alamat.
Haura berhenti di depan pintu kaca, menoleh sedikit dengan raut wajah yang kembali ia buat dingin dan profesional. "Pergi aja. Ada urusan sebentar. Jangan ikut! Kalian bertiga kerjain tuh sisa packing-an sampai selesai. Jangan ada yang bolong!"
"Siap, Bos!" sahut Arlo dengan nada jenaka, sementara Marco hanya menatap kepergian Haura dengan senyum tipis yang penuh teka-teki, seolah ia tahu ke mana wanita itu akan pergi.
Haura memacu mobilnya membelah kemacetan Jakarta menuju sebuah toko perlengkapan seni dan desain grafis yang cukup tersohor di pusat kota. Begitu sampai di dalam toko yang dipenuhi oleh berbagai macam alat gambar profesional—mulai dari drawing pen kualitas terbaik, spidol marker arsitek, hingga sketchbook bertekstur premium—Haura merasa sedikit asing. Ia terbiasa dengan dunia barang mewah dan fesyen, bukan dunia mahasiswa desain.
Ia menghampiri salah satu pegawai toko yang tampak sibuk merapikan rak kuas.
"Permisi, Mbak," sapa Haura ramah.
Pegawai itu menoleh, tersenyum sopan. "Ya, ada yang bisa saya bantu, Kak?"
Haura menghela napas pendek, merasa sedikit canggung. "Mbak, kira-kira... untuk mahasiswa baru jurusan DKV, peralatan apa saja ya yang paling dibutuhkan? Soalnya saya kurang tahu, saya mau beli hadiah untuk... adik saya yang lagi kuliah desain."
Pegawai itu tampak antusias, matanya berbinar. "Wah, mahasiswa DKV ya? Biasanya yang paling mereka butuhin itu spidol marker set yang alcohol-based, Kak. Itu wajib punya. Terus drawing pen ukuran lengkap dari 0.05 sampai 0.8, sketchbook kertas tebal, sama mungkin cutting mat ukuran besar buat bikin maket. Ini, Kak, yang kualitasnya paling bagus, sering dipakai anak desain kampus-kampus top."
Haura mendengarkan dengan saksama, mengangguk-angguk saat pegawai itu menunjuk satu set lengkap perlengkapan desain yang terlihat sangat mewah dan profesional. Ia membayangkan bagaimana wajah Marco nanti saat melihat alat-alat ini—apakah dia akan tersenyum tengil, atau justru akan menatapnya dengan tatapan lembut yang berbeda?
"Oke, kalau begitu tolong dibungkusin semua yang Mbak sarankan tadi ya. Yang kualitas paling bagus," ucap Haura tegas, mengeluarkan kartu kredit dari dalam dompetnya.
Setelah proses pembayaran selesai, Haura sedikit berpesan kepada pegawai tersebut. "Mbak, nanti tolong antar semua barang ini ke alamat ruko ini ya," Haura memberikan secarik kertas berisi alamat rukonya. "Tapi, tolong, di bagian pengirimnya jangan tulis nama saya. Tulis saja di kartu ucapannya: 'Untuk Marco, semangat tugasnya'. Bisa, Mbak?"
Pegawai itu tersenyum mengerti, mungkin sudah terbiasa dengan pelanggan yang memberikan hadiah kejutan. "Bisa banget, Kak. Tenang saja, nanti saya pastikan kurir kami mengantarnya dengan aman."
"Terima kasih banyak, Mbak. Saya permisi."
Haura melangkah keluar dari toko dengan perasaan yang aneh. Hatinya merasa ringan, seolah beban yang ia pikul semalam akibat pertengkaran dengan ayahnya perlahan terkikis oleh tindakan kecil yang ia lakukan untuk Marco. Ia sadar, apa yang ia lakukan sekarang sudah melampaui batasan antara atasan dan anak magang. Ini adalah bentuk kepedulian yang tulus, sebuah pengakuan bahwa sosok berandalan di hidupnya itu memang sudah menempati ruang tersendiri di hatinya.
Setengah jam kemudian, Haura kembali ke ruko. Begitu pintu kaca terbuka, ia mendapati suasana ruko sudah jauh lebih tenang. Arlo dan Kevin sedang duduk istirahat di lantai, sementara Marco tampak sibuk membersihkan sisa lakban di meja kerja.
"Tumben udah balik, Tan? Tadi katanya ada urusan?" tanya Marco tanpa menoleh, namun telinganya sangat peka terhadap suara langkah kaki Haura.
Haura berjalan santai menuju meja admin, berusaha menyembunyikan detak jantungnya yang kembali berpacu. "Urusan kantor sebentar. Sudah selesai semua?"
"Sudah, tinggal nunggu kurir jemput," jawab Marco santai, lalu menoleh ke arah Haura. Matanya menatap Haura dengan intens, seolah ingin mencari tahu apa yang sebenarnya Haura lakukan di luar sana. "Lo kelihatan beda, Ra. Lebih... tenang."
Haura hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang sangat jarang ia perlihatkan kepada karyawannya. "Mungkin karena harinya menyenangkan. Sudah, sana istirahat sebentar sebelum kurir datang."
Tepat saat itu, sebuah mobil boks kurir logistik kecil berhenti di depan ruko. Sang kurir masuk ke dalam ruko sambil membawa sebuah kardus berukuran sedang dengan pita cantik di atasnya.
"Atas nama Marco?" tanya kurir itu.
Arlo dan Kevin langsung berdiri heboh. "Wah, paket apa tuh, Co? Lo beli barang apaan lagi?"
Marco tampak bingung, ia melangkah maju menuju kurir tersebut. "Iya, saya Marco."
Ia menerima paket tersebut, lalu membaca kartu ucapan yang terselip di sana. Wajahnya yang semula bingung perlahan berubah menjadi ekspresi kaget yang luar biasa. Ia membaca tulisan tangan di kartu itu sekali lagi, lalu menoleh perlahan ke arah Haura yang sedang pura-pura sibuk memeriksa layar laptop di meja admin.
Marco melangkah menghampiri meja Haura. Ia tidak peduli dengan kehadiran Arlo, Kevin, maupun Emilia yang kini sedang mengintip penasaran.
"Ra," panggil Marco dengan suara yang sangat rendah, penuh dengan emosi yang tertahan.
Haura menoleh, mencoba memasang wajah polosnya. "Ya? Kenapa, Marco?"
Marco meletakkan kardus berisi alat-alat desain mahal itu di atas meja tepat di depan Haura. Ia menatap mata Haura dalam-dalam, senyum miring yang biasanya tengil kini berubah menjadi senyum yang paling tulus dan hangat yang pernah ia berikan.
"Lo tahu kan, alat-alat ini harganya mahal banget buat kantong mahasiswa? Dan lo tahu kalau gue selalu butuh ini buat tugas gue," bisik Marco, suaranya sarat akan rasa haru. "Kenapa lo ngelakuin ini buat gue?"
Haura memalingkan wajahnya sedikit ke arah jendela ruko, berusaha menyembunyikan senyum lebarnya. "Cuma... supaya kamu nggak telat ngerjain tugas lagi karena harus pinjam alat teman. Saya nggak mau asisten saya nilainya jelek. Itu saja."
Marco tertawa, tawa yang terdengar begitu bahagia. "Alasan yang klasik, Tante Bos. Tapi, makasih ya. This really means a lot to me."
Marco mencondongkan tubuhnya lebih dekat, berbisik tepat di telinga Haura, membuat bulu kuduk wanita itu meremang. "Satu hadiah dari lo, gue bakal balas dengan seribu dedikasi buat ruko ini... dan buat lo."
Haura tidak membalas, ia hanya menutup wajahnya dengan satu tangan, merasa bahwa hari ini benar-benar tidak akan bisa ia lupakan. Di meja packing, Arlo dan Kevin hanya bisa berbisik-bisik, "Waduh, suasana makin panas nih kayaknya."
semangattt