Elora Kirana bukan lagi nama yang dipuja seperti dulu. Sekali waktu dia adalah bintang yang bersinar terang, tapi satu skandal cukup untuk menjatuhkannya tanpa ampun. Dalam semalam, dunia yang dulu memujanya berubah jadi lautan hujatan. Kariernya hampir runtuh, kontrak diputus, dan kepercayaan publik hilang begitu saja. Saat semua orang menjauh, satu orang justru datang dengan cara yang paling tidak ia duga. Arshaka Bhumisvara. Seorang CEO muda yang dikenal dingin, tak tersentuh, dan selalu terlihat terlalu sempurna untuk dunia yang penuh drama seperti milik Elora. Tidak ada yang mengira dia akan ikut campur dalam skandal seorang artis. Tapi Arshaka datang bukan untuk simpati. Dia menawarkan sebuah kesepakatan. “Jadilah pacarku di depan publik.” Sebuah hubungan palsu untuk menutupi skandal, meredam media, dan menyelamatkan nama baik mereka berdua. Syarat yang terdengar sederhana, tapi jelas bukan tanpa risiko. Awalnya, Elora hanya menjalani semuanya seperti akting. Senyum di depan kamera, genggaman tangan yang dibuat seolah nyata, dan tatapan hangat yang sebenarnya kosong makna. Tapi Arshaka… terlalu meyakinkan untuk sekadar berpura-pura. Dan Elora mulai sadar, batas antara sandiwara dan kenyataan perlahan menghilang. Di balik sikap dinginnya, Arshaka menyimpan cara memandang Elora yang membuatnya ragu. Terlalu dalam. Terlalu nyata untuk dianggap pura-pura. Masalahnya sekarang bukan lagi soal skandal yang ingin mereka tutupi… Tapi perasaan yang diam-diam tumbuh di antara dua orang yang sama-sama tidak siap untuk jatuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nanda Amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22 - Jejak yang Tak Pernah Hilang
Elora mulai memahami satu hal yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya bahwa rasa takut tidak selalu datang dalam bentuk yang keras atau tiba tiba tapi bisa tumbuh perlahan menjadi sesuatu yang menetap diam di dalam tubuh dan menolak untuk pergi meskipun tidak ada lagi ancaman yang terlihat secara langsung Sejak pesan terakhir itu masuk ke ponselnya ia tidak benar benar bisa berpikir dengan jernih karena setiap hal kecil yang ia lakukan kini terasa seperti sesuatu yang mungkin sedang diperhatikan bahkan ketika ia hanya berdiri diam di dalam kamar yang seharusnya aman
Ponselnya masih berada di tangannya layar sudah mati tapi ia belum benar benar meletakkannya seolah ada bagian dari dirinya yang takut jika ia melepaskannya maka sesuatu akan muncul lagi tanpa ia siap menerima Jemarinya terasa dingin sementara pikirannya terus mengulang kalimat yang sama yang tidak seharusnya diketahui oleh siapa pun selain dirinya
—Kamu nggak cerita ke dia ya
Kalimat itu bukan sekadar tebakan
Bukan kebetulan
Itu pengetahuan
Dan itu yang membuat semuanya terasa jauh lebih dekat dari yang ia inginkan
Arshaka masih berada di dalam ruangan yang sama tidak jauh darinya dan kehadirannya seharusnya cukup untuk membuat situasi terasa lebih aman tapi kali ini berbeda karena yang membuat Elora tidak tenang bukan hanya ancaman dari luar tapi juga fakta bahwa ia harus terus menjaga sesuatu agar tidak terlihat oleh orang yang berdiri di depannya
Ia menarik napas perlahan mencoba mengatur ekspresinya sebelum akhirnya meletakkan ponselnya di atas meja dengan gerakan yang sengaja dibuat biasa meskipun di dalam dirinya tidak ada yang benar benar tenang
“Aku ke kamar mandi sebentar”
Kalimat itu keluar tanpa rencana hanya untuk memberi jarak beberapa menit yang ia butuhkan
Arshaka hanya mengangguk singkat tanpa banyak tanya tapi tatapannya tetap mengikuti setiap gerakan Elora seolah ia tidak benar benar melepas perhatiannya
Begitu pintu kamar mandi tertutup Elora langsung menatap cermin di depannya Wajahnya terlihat sama seperti biasanya tapi ada sesuatu yang berbeda di matanya sesuatu yang tidak bisa ia sembunyikan dari dirinya sendiri Ketegangan itu masih ada bahkan semakin jelas
Ponselnya bergetar lagi
Dan kali ini ia tidak menunggu
Pesan baru muncul
Aku tahu kamu lagi di dalam sekarang
Napasnya langsung terhenti
Tangannya sedikit gemetar saat membaca kalimat berikutnya
—Jangan lama lama nanti dia curiga
Elora menutup matanya sejenak bukan untuk menenangkan diri tapi untuk menahan sesuatu yang hampir keluar tanpa ia sadari Karena di titik itu ia tidak lagi hanya merasa diawasi
Ia merasa seseorang benar benar mengikuti setiap langkahnya
Bahkan di tempat yang seharusnya tertutup
Ia tidak membalas
Tidak berani
Karena ia tahu semakin ia merespons semakin besar ruang yang ia berikan
Di luar ruangan Arshaka berdiri dalam diam memperhatikan arah pintu yang tertutup terlalu lama dari yang seharusnya Ia tidak mengetuk tidak memanggil tapi ada sesuatu yang mulai terasa tidak tepat Cara Elora bergerak tadi cara ia menghindari tatapan dan cara ia menjawab dengan singkat semuanya tidak sepenuhnya sama seperti biasanya
Dan Arshaka tidak pernah melewatkan detail kecil
Di dalam kamar mandi Elora mencoba menenangkan napasnya dengan menyalakan air hanya untuk menciptakan suara yang bisa menutupi keheningan yang terasa terlalu jelas Ia menatap layar sekali lagi memastikan tidak ada pesan baru sebelum akhirnya mematikan ponselnya untuk beberapa detik seolah itu bisa menghentikan semua yang terjadi
Tapi ia tahu
Itu tidak akan berhenti
Ketika ia keluar dari kamar mandi ekspresinya sudah lebih terkendali Arshaka masih di tempatnya menatap sekilas sebelum akhirnya mengalihkan pandangan seolah tidak ingin membuat situasi terasa lebih berat
“Kamu lama”
Hanya itu yang ia katakan
Elora mengangkat bahu kecil mencoba terlihat santai meskipun itu bukan sesuatu yang benar benar ia rasakan
“Cuma cuci muka”
Jawaban sederhana
Tapi cukup untuk menutup percakapan
Namun tidak cukup untuk menutup apa yang sebenarnya terjadi
Beberapa jam berlalu tanpa sesuatu yang terlihat mencurigakan Arshaka tetap berada di dekatnya sebagian besar waktu sementara Elora berusaha menjalani semuanya seolah tidak ada yang berubah meskipun di dalam pikirannya semuanya terasa jauh lebih berat
Sampai akhirnya sesuatu datang lagi
Kali ini bukan pesan
Tapi suara ketukan di pintu
Lebih pelan dari sebelumnya
Arshaka langsung berdiri
Langkahnya menuju pintu tanpa ragu sementara Elora tetap di tempatnya tanpa bergerak karena entah kenapa ada perasaan tidak nyaman yang muncul tanpa alasan yang jelas
Pintu dibuka
Tidak ada siapa siapa
Hanya sebuah amplop kecil di lantai
Arshaka mengambilnya tanpa bicara
Tatapannya berubah sedikit sebelum akhirnya ia menutup pintu kembali
“Apa itu”
tanya Elora pelan
Arshaka tidak langsung menjawab
Ia membuka amplop itu perlahan dan di dalamnya hanya ada satu lembar foto
Dan kali ini
foto itu berbeda
Karena bukan di luar
Tapi di dalam
Elora
Di dalam kamar hotel
Diambil dari sudut yang tidak seharusnya ada
Ruangan terasa langsung membeku
Dan untuk pertama kalinya
Arshaka benar benar tidak menyembunyikan reaksinya
“Dia masuk”
Kalimat itu keluar pelan tapi penuh tekanan
Elora tidak bergerak
Karena di titik itu
semua yang ia sembunyikan terasa seperti sesuatu yang jauh lebih besar dari yang ia kira
Dan ponselnya kembali bergetar
Ia tidak perlu melihat untuk tahu siapa
Tapi kali ini
ia tidak berani membuka
Karena ia tahu
kalimat berikutnya
akan lebih dekat
lebih personal
dan mungkin
tidak bisa ia sembunyikan lagi
Di luar gedung
Alven Arkana berdiri dengan tenang menatap layar di tangannya memperhatikan hasil yang ia tunggu dengan sabar Tidak ada terburu buru tidak ada keraguan karena baginya semua ini berjalan tepat seperti yang ia rencanakan
“Sekarang kamu mulai ngerti ya”
gumamnya pelan
Senyumnya tipis
Karena bagi Alven
rasa takut bukan akhir
tapi awal dari sesuatu yang lebih dalam
Dan selama Elora masih diam
ia akan terus masuk
lebih dekat
tanpa perlu izin
—
Hai jangan lupa dibaca dan di like komen jugaaa yaaa
See you di next episode!