NovelToon NovelToon
Terjebak Dalam Pernikahan CEO Dingin

Terjebak Dalam Pernikahan CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / CEO / Trauma masa lalu
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: HaluBerkarya

Aurin Josephine— tidak pernah menyangka, niatnya kabur dari perjodohan yang diatur paman dan bibinya justru menyeretnya ke dalam pernikahan tak terduga dengan pria asing, malam itu.

Gallelio Alastar, seorang CEO dingin yang mati rasa, mengubur perasaannya bersamaan dengan istrinya lima tahun lalu. Pernikahan itu tidak pernah ia inginkan. Bahkan terasa seperti pengkhianatan pada janji yang pernah ia berikan.
Namun di rumah yang sama, di bawah satu atap yang terasa asing, Aurin mulai mengenal sisi lain pria itu.

Dan untuk pertama kalinya, ia bertekad… membuatnya jatuh cinta lagi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HaluBerkarya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2. Nekat Kabur

Aurin terbangun dengan kepala yang terasa sangat berat. Dia menyapu wajahnya, darah di kepalanya sudah mulai mengering. Di luar sana suara hujan deras disertai petir membuatnya meringkuk di sela pintu. Wajahnya pucat pasi. Suasana kamar tampak begitu gelap karena hari sudah berganti malam. Gadis itu berdiri dengan tubuh gemetar, kembali menekan gagang pintu dan menggedornya berkali-kali, namun pintu itu tetap terkunci rapat.

​"Bibi... buka!" lirih Aurin, memaksakan suaranya yang mulai serak.

​Dia berusaha tetap tegak meski ketakutan terhadap gelap dan suara petir mulai menyerang. Tangannya meraba dinding, mencari saklar lampu.

​KLIK!

​Lampu menyala. Aurin langsung menghambur ke tempat tidur. Tubuhnya meringkuk dengan kepala tenggelam di bawah bantal, berusaha menetralkan degup jantung yang berpacu akibat suara petir yang menjadi traumanya.

​'Tidak... aku harus pergi!' batin Aurin sambil kembali duduk.

​Wajah pucat itu dipaksa untuk tetap kuat. Dia mulai memindai seisi kamar, mencari apa pun yang sekiranya bisa membawanya keluar dari sana. Pandangannya terjatuh pada sebuah jepit rambut di atas meja. Tanpa menunggu lebih lama, Aurin meraih benda itu dan bergegas menuju pintu. Tangannya bergerak cekatan, memasukkan jepit rambut ke lubang kunci. Sial, pintu itu tetap tidak bisa di buka.

​'Aku tidak mau... tidak mau menikah dengan Delon!'

​Dia menoleh, menatap jendela kaca yang letaknya agak tinggi. Sebuah ide nekat terlintas dalam benaknya. Aurin mendekat, melirik ke arah luar yang tampak gelap gulita. Hanya ada air hujan yang mengguyur deras, membasahi bumi yang kian mendingin.

​"Kalau aku pecahkan kacanya, mereka dengar tidak ya?" tanyanya, mencoba meyakinkan diri sendiri.

​Gadis itu mengambil napas dalam, mengumpulkan sisa-sisa tenaga yang nyaris habis. Dia mengangkat kursi belajarnya tinggi-tinggi, dan...

​PRANG!!!

​Satu hantaman kuat membuat kaca jendela itu pecah berantakan. Kursi yang Aurin gunakan terlempar keluar, menyisakan lubang besar dengan pinggiran tajam di bingkai jendela.

​Sejenak dia menoleh ke belakang, menunggu beberapa detik untuk memastikan Paman dan Bibinya tidak mendengar keributan itu. Saat merasa situasi cukup aman, Aurin dengan nekat memanjat. Kakinya yang tanpa alas kaki seketika tertancap serpihan kaca tajam. Darah segar mulai mengalir, meninggalkan jejak merah yang kontras di sisa-sisa kaca.

​"Shhh..." Dia berdesis tertahan merasakan sakit luar biasa yang menjalar dari telapak kakinya.

​Dengan pandangan siaga dan mata yang terus waspada, Aurin akhirnya melompat keluar. Tubuhnya terjatuh tepat di halaman belakang, mendarat di antara serpihan kaca yang tersebar di tanah.

​"Sial... lukanya banyak," gumamnya dengan mata yang mulai berair.

​Ini kali pertama dia menangis karena luka di tubuhnya sendiri. Bukan sekadar rasa sakit fisik yang dia rasakan, melainkan bagian terdalam batinnya yang jauh lebih tersiksa.

​Dengan langkah terseok-seok, dia berusaha bangkit berdiri. Sekarang bukan saatnya untuk diam dan meratap. Aurin harus segera pergi sebelum nasib buruk menyeretnya ke dalam ikatan pernikahan yang lebih pantas disebut neraka dunia.

"Dia kabur!"

​Teriakan itu lamat-lamat tertangkap di indra pendengarannya. Bukan suara Paman atau Bibinya, melainkan anak buah Pak Broto yang ditugaskan berjaga di sekitar rumah sejak sore tadi.

​Aurin gemetar hebat. Dia memacu kakinya sekuat tenaga yang tersisa. Sesekali dia menoleh ke belakang, menyaksikan bayangan hitam orang-orang itu mulai mengejarnya, menembus derasnya rintikan hujan yang kian rapat.

​"Sial! Tolong jangan lemah dulu, kaki sialan!" umpat Aurin setiap kali langkahnya tersandung.

​Serpihan kaca yang masih tertancap di telapak kakinya terasa semakin menghunjam ke dalam. Setiap guyuran air hujan menyapu bersih darah di kakinya, namun detik itu juga rembesan baru mengalir keluar, lebih banyak dan lebih pekat.

​Gadis itu terisak. Tubuhnya menggigil hebat antara kedinginan dan sesak napas. Dia sudah berlari jauh, sangat jauh, namun bayangan para pengejarnya masih samar terlihat di kejauhan.

​"Mama... tolong..." gumamnya lirih.

​Kepalanya mulai berdenyut nyeri. Tenaganya kian terkikis, sedikit demi sedikit mulai tidak sanggup lagi menopang beban tubuhnya sendiri.

​"Bawa aku bersama kalian... jangan tinggalkan aku sendiri dalam penderitaan ini, Papa!" teriak Aurin histeris, namun suaranya langsung lenyap ditelan bising hujan.

​Malam itu, banyak kendaraan melintas di jalan raya, namun tidak satu pun yang melambat, apalagi berhenti untuk sekadar menawarkan tumpangan. Dia benar-benar sendirian, menyusuri trotoar dalam cekaman ketakutan. Ketakutan bahwa jika dia kehilangan kesadaran sekarang, anak buah Pak Broto akan menyeretnya kembali ke neraka itu.

​"Siapa pun... tolong aku..." gumam gadis itu melemah. Dia akhirnya terduduk lemas di sisi trotoar dengan tubuh meringkuk.

​JEDERRRR!

​Suara petir menggelegar dahsyat, meruntuhkan sisa keberanian yang ada hingga pijakan kaki Aurin terasa selunak jeli.

...****************...

Sebuah mobil mewah menepi perlahan di sisi jalan. Tatapan mata elang seorang pria menghunus tepat pada sosok yang meringkuk di trotoar. "Orang gila?" gumamnya datar.

​Dia berusaha tidak peduli, namun sesuatu dari dalam hatinya mendesak untuk menolong. Terutama saat melihat sosok itu terus bertekuk lutut dan menutup telinga setiap kali suara petir menggelegar dahsyat.

​Tangan pria itu meraih payung di jok belakang, lalu membuka pintu mobil dan keluar. Langkahnya sangat tegap, membawanya melintasi trotoar yang basah.

​Tatapannya memindai tubuh gadis di bawahnya. Perlahan, gadis itu mendongak begitu rintikan hujan berhenti mengenainya karena tertahan oleh payung.

​"Hei!" sapa pria itu. Ujung sepatunya yang mengkilap menendang kecil tubuh Aurin, sekadar memastikan gadis itu masih bernyawa.

​Aurin menyeret tubuhnya mundur. Pikirannya kalut, menduga pria berjas hitam itu adalah salah satu anak buah Pak Broto.

​"Tolong... tolong jangan bawa saya kembali..." rintihnya menyayat hati. "Tolong biarkan saya aman di sini, Tuan. Saya tidak mau menikah dengan laki-laki itu, tolong..."

​Pria itu mengernyitkan kening. "Bangun! Saya bukan penculik!"

​Pria itu membungkuk dan mengulurkan tangannya. Dari jarak dekat, dia melihat wajah Aurin yang pucat pasi, tampak sangat rapuh namun berusaha keras untuk tetap kuat.

​Aurin menatap balik pria itu. Dari perawakannya, sosok ini memang tidak terlihat garang seperti anak buah Pak Broto. Akhirnya, Aurin menyambut uluran tangan tersebut. Begitu kulit mereka bersentuhan, rasa hangat bagi Aurin seketika menjalar, berbanding terbalik dengan sang pria yang sempat terkesiap karena dinginnya tangan Aurin.

​"Itu dia!" teriakan anak buah Pak Broto membelah udara, membuat mata Aurin membulat sempurna. Dia kembali gemetar ketakutan.

​"Cepat berdiri sebelum mereka sampai ke sini. Masuk ke mobil!" perintah pria itu dengan suara rendah dan penuh tekanan.

​Aurin memaksa tubuhnya bangkit. Dia berlari dengan langkah pincang menuju mobil mewah tersebut.

​BRAK!

​Pintu ditutup rapat. Mesin menderu dan mobil mulai melaju tepat saat beberapa orang sampai di sisi kendaraan, menggedor kaca mobil dengan beringas.

"Sial! Kejar mobil itu!" teriak salah satu dari mereka.

​Namun, orang-orang yang datang hanya berbekal kaki itu harus mendesah pasrah. Mereka terengah-engah menyaksikan lampu belakang mobil tersebut perlahan memudar dan menghilang di balik rintikan hujan yang semakin lebat.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

1
ChaManda
😭
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM
cih kesal
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
kan kan kan kocak ini si Gel... bilang aja aku minta no kamu biar kalau ada apa-apa gampang/Curse//Curse//Curse//Curse/ pke alesan sebagai terima kasih
≛⃝⃕|ℙ$꙳Äññå🌻✨༅༄: gengsi kk🤣🤣😭
total 1 replies
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
🤔 apa ini? kau mulai water? cihhh... dasar Gelooooooo/Curse//Curse//Curse//Curse//Curse/
≛⃝⃕|ℙ$꙳Äññå🌻✨༅༄: 🤣🤣jangan lama2 dia dinginnya, ntar beku kak
total 1 replies
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM
huhuhuair mataku😭😭😭
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
jeng jeng jeng jeng..... Gel... baik2 bini mu incaran adik lelaki mu
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩: maca iya yuk lah buat Erza nyemek2
total 4 replies
ChaManda
aduhh kasian juga yaa si Clara
ChaManda
🫵🏻🫵🏻🫵🏻
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM
ihhh msh kesel sama pak duda ngeselin😑
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM
heh astagaaa keliarga gilaa ku penggal juga itu kepala kalian biar sekalian gk ounya otak😑
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
idih.... mulai nyaman dia natap yang belum tumbuh🤭
≛⃝⃕|ℙ$꙳Äññå🌻✨༅༄: Udah tumbuh tapi belum keliatan menarikknya🤣🤣
total 1 replies
ChaManda
buat istrimu atau buat kamu?☺️
≛⃝⃕|ℙ$꙳Äññå🌻✨༅༄: Gallelio: buat gadis itu, biar gak kuyuss krempeng
total 1 replies
ChaManda
🤣🤣🤣
ChaManda
🤣
ChaManda
🤣😭🫵🏻
ChaManda
🤣🤣🤣🤣 aku suka gayamuu
ChaManda
😭😭😭
ChaManda
🤣🤣🤣
ChaManda
heleh heleh🤣
ChaManda
keluar kandang kucing, masuk kandang mancan ini mah ☺️
≛⃝⃕|ℙ$꙳Äññå🌻✨༅༄: 🤣🤣Biar Aurin ada kerjaan aja sih kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!