NovelToon NovelToon
DOSENKU, SUAMIKU

DOSENKU, SUAMIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Dosen / Nikahmuda
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Silvi Wahyu

“Aku benci dosen perfeksionis.”
Itu kalimat pertama yang Rhea tulis di buku catatannya setelah bertemu Arga...dosen muda favorit kampus yang terkenal dingin, disiplin, dan sulit didekati.
Sayangnya, hidup Rhea perlahan mulai dipenuhi pria itu.
Dari kelas pagi yang melelahkan, bimbingan yang selalu berubah menjadi perdebatan, hingga tatapan-tatapan kecil yang mulai terasa berbeda.
Rhea tidak pernah berniat jatuh cinta pada dosennya sendiri.
Masalahnya…Arga sendiri juga mulai merasa sulit melepaskannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi Wahyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pak Arga Mau Apa ?

...****************...

"Tidak."

Arga menjawab dengan tenang, tatapannya tak sekalipun beralih dari wajah Rhea.

"Saya sangat sadar."

Deg!

Kalimat itu membuat Rhea terpaku di tempat beberapa detik lamanya. Jantungnya serasa berhenti berdetak sesaat, sebelum kembali berpacu jauh lebih cepat dari biasanya.

Namun alih-alih rasa lega karena akhirnya mendapat jawaban, rasa kesal di dadanya justru makin memuncak. Alisnya langsung bertaut rapat, menatap tajam pria di hadapannya.

"Sangat sadar?" ulangnya tak percaya, nada bicaranya makin meninggi.

Arga hanya diam, menatap balik tanpa niat membantah.

"Ooh..." Rhea mengangguk pelan berulang kali, senyum sinis tersungging di bibirnya. "Jadi Pak Arga kemarin sengaja ya?"

"Tidak juga."

Jawaban santai itu nyaris membuat Rhea kehilangan kesabarannya. Ia menepis napas kasar.

"Bagaimana bisa tidak juga?" protesnya cepat. "Pak Arga bilang sadar, tapi sekarang bilang tidak sengaja. Saya jadi bingung harus percaya yang mana."

Sudut bibir Arga bergerak tipis, seolah geli melihat ekspresi kesal yang tak bisa disembunyikan itu. Gerakan kecil itu makin memicu amarah Rhea.

"Apa semua mahasiswi di kampus ini Pak Arga perlakukan seperti ini?" tanyanya menantang. "Atau cuma saya yang jadi sasaran?"

Untuk pertama kalinya sejak percakapan itu berlangsung, Arga tampak benar-benar berpikir sejenak atas pertanyaan itu. Hanya sesaat, sebelum ia menjawab dengan tenang.

"Hmm." Pria itu mengangguk kecil. "Cuma kamu."

Rhea langsung terdiam. Matanya membulat refleks, mulutnya sedikit terbuka tak percaya.

"Hah?" suaranya terdengar pelan. "Cuma saya?"

Arga tak menarik kembali ucapannya. Ia tetap berdiri di tempatnya, menatap Rhea lekat dengan ekspresi yang sulit ditebak maknanya.

Sementara Rhea mulai merasa kepalanya benar-benar pening. Semakin lama berbicara dengan pria ini, semakin ia merasa tak mengerti apa yang sebenarnya sedang terjadi di sini.

"Astaga..." gumamnya pelan sambil mengusap dahi dengan jari-jarinya yang dingin. "Saya benar-benar pusing sekarang."

Ia menghela napas panjang, berusaha menata pikiran yang kacau, lalu kembali menatap Arga dengan tatapan lebih serius.

"Sekarang Pak Arga bicara saja yang jelas. Saya sudah datang ke sini," ucapnya tegas. "Apa yang sebenarnya Pak Arga mau?"

Pertanyaan itu membuat suasana ruangan mendadak sunyi. Arga tak langsung menjawab. Tatapannya tetap terpaku pada wajah Rhea, seolah sedang menimbang sesuatu yang berat.

"Yang saya mau?" ulangnya pelan, nadanya berubah lebih rendah.

Rhea mengangguk cepat. "Iya."

"Kalau saya katakan, kamu bisa berikan?"

Rhea langsung mendengus pelan, kembali kesal dengan cara bicara pria itu yang berputar-putar.

"Apa dulu?" gumamnya. "Jangan aneh-aneh. Kalau soal mengerjakan tugas atau membantu urusan kampus, itu gampang saya penuhi."

Tak ada jawaban. Hening.

Entah kenapa, keheningan panjang itu justru perlahan membuat keberanian Rhea menipis. Ia merasa telapak tangannya makin dingin. Arga masih menatapnya. Lurus. Tanpa berkedip. Tatapan yang sedari tadi berusaha ia abaikan namun kini makin terasa menusuk.

"Saya pikir jawabannya sudah cukup jelas, Rhea," ucap Arga akhirnya.

"Tidak jelas," sanggah Rhea tegas sambil menggeleng kuat. "Dan saya tidak mengerti sama sekali."

Arga mengembuskan napas pelan, lalu sedikit memiringkan kepalanya menatap gadis itu.

"Kalau begitu...cara saya yang salah dalam menyampaikannya."

"Ya sudah kalau begitu bilang saja apa maunya," sahut Rhea cepat, makin tak sabar. "Pak Arga maunya apa?"

Kali ini Arga tak membiarkannya menunggu. Tak ada jeda panjang. Tak ada senyum tipis. Tak ada lagi permainan kata-kata. Pria itu hanya menatapnya tepat di manik mata beberapa detik, sebelum akhirnya membuka suara dengan nada yang sangat serius dan tegas.

"Kamu."

Deg!

Seluruh tubuh Rhea serasa membeku di tempat. Matanya langsung membesar tanpa mampu dikendalikan. Untuk beberapa saat, ia hanya mampu diam terpaku menatap Arga dengan ekspresi kosong, seolah otaknya menolak memproses satu kata yang baru saja meluncur itu.

Hening memenuhi ruangan. Begitu sunyi hingga suara detak jam dinding di sudut ruangan terdengar sangat jelas dan berirama. Rhea bahkan lupa bagaimana cara berkedip.

"Apa...?" suaranya nyaris tak terdengar, berupa bisikan yang parau.

Namun jauh di lubuk hatinya, ia tahu. Ia mendengar kata itu dengan sangat jelas.

Beberapa detik berlalu tanpa ada satu pun kata yang keluar dari mulutnya. Rhea hanya berdiri mematung di tempat dengan mata yang masih membulat, seolah otaknya sedang berusaha mengejar dan mencerna apa yang baru saja terdengar di telinganya.

"Pak Arga gila ya!?"

Kalimat itu akhirnya meluncur begitu saja. Refleks. Tanpa dipikir panjang. Suaranya melengking kaget bercampur tak percaya.

Arga yang masih berdiri tenang di depannya langsung mengangkat sebelah alis, menatap gadis itu dengan tatapan tak terduga.

"Berani sekali kamu bilang saya gila," ucapnya pelan, nada bicaranya datar namun ada getaran geli yang samar.

"Kalau begitu apa?" balas Rhea cepat, napasnya sedikit memburu. "Masih mabuk ini? Ngomong ngawur begini?"

"Tidak."

"Jangan bohong!" Rhea menatapnya curiga, bibirnya mengerucut tak terima.

"Kalau saya mabuk," ujar Arga tenang, suaranya rendah namun meyakinkan, "...mana mungkin saya bisa berdiri tegak, apalagi mengajar di kelas kamu selama dua jam penuh pagi tadi?"

Rhea langsung terdiam. Mulutnya terbuka sedikit hendak membantah, namun kembali tertutup rapat.

Sial.

Argumen itu benar-benar masuk akal. Dan justru karena masuk akal, kepalanya jadi semakin pusing dan berantakan.

"Ehm..."

Ia mundur satu langkah, menjauh perlahan. Wajahnya mulai terasa memanas tak karuan.

"Saya..."

Lalu mundur lagi, punggungnya kini sudah jauh dari dinding pintu.

"Saya pulang dulu."

Rhea bahkan tidak berani menatap wajah Arga lebih lama dari satu detik. Jantungnya berdetak kacau di dada, sementara isi kepalanya berputar hebat. Semua kalimat protes atau pertanyaan yang tadi ia siapkan matang-matang mendadak lenyap begitu saja, tak bersisa.

"Rhea."

Satu panggilan rendah dari Arga membuat langkah kakinya terhenti sesaat. Namun gadis itu tidak berani menoleh sedikit pun. Ia justru mengangkat satu tangan ke depan, seolah memberi isyarat agar pria itu berhenti bicara.

"Jangan bicara sama saya dulu, Pak," ucapnya cepat, suaranya terdengar gugup dan tertekan. Napasnya terdengar tidak beraturan. "Saya benar-benar tidak bisa berpikir sekarang."

Setelah mengatakan itu, Rhea langsung berbalik badan dan berjalan cepat menuju pintu. Tangannya gemetar sedikit saat meraih gagang pintu, lalu membukanya dengan agak kasar.

Arga hanya berdiri diam di tempatnya, memperhatikan semua gerak-gerik panik itu tanpa berusaha menghentikannya sedikit pun. Ia membiarkan gadis itu pergi.

Beberapa detik kemudian...

Brak.

Pintu tertutup kembali dengan bunyi keras yang menggema.

Ruangan itu mendadak sunyi senyap kembali.

Arga masih berdiri di tempat yang sama, menatap lekat ke arah daun pintu yang baru saja dilewati Rhea. Bayangan gadis itu seolah masih tertinggal di udara, membawa serta ekspresi kaget, panik, dan wajah merah padam yang berusaha keras ia sembunyikan tadi.

Hening melanda ruangan itu beberapa saat.

Lalu perlahan, tanpa sadar, sudut bibir Arga terangkat tipis membentuk senyum yang sangat jarang ia tunjukkan. Pria itu mengembuskan napas panjang dan pelan, lalu menyibak rambutnya ke belakang dengan satu usapan tangan santai.

"Ck..."

Kepalanya sedikit menunduk, matanya menatap lantai seolah masih melihat bayangan gadis itu di sana.

"Lucu sekali ekspresinya," gumamnya pelan, hampir tak terdengar.

Untuk pertama kalinya sejak pagi hari, beban di bahunya terasa hilang. Suasana hatinya menjadi jauh lebih ringan dan tenang.

Setidaknya sekarang, tidak ada lagi yang perlu disembunyikan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!