NovelToon NovelToon
Matahari Dibalik Kabut

Matahari Dibalik Kabut

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / CEO
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Chani Bae

Di koridor kampus berbasis agama di Kota T, Asyifa Humaira menjalani hari-harinya sebagai mahasiswi biasa. Namun, mendadak berubah saat sebuah perjodohan direncanakan untuknya. Sosok calon suaminya bukanlah orang asing di kampus, melainkan Fadhlan Ganendra, dosennya sendiri yang dikenal dingin, killer dan perfeksionis sekaligus pria yang menyimpan kunci masa lalu Syifa.

​ Sebuah kecelakaan tragis tiga belas tahun silam merenggut memori masa kecil Syifa, menyisakan lubang kosong tepat di bagian yang seharusnya diisi oleh nama "Fadhlan". Bagi Syifa, Fadhlan adalah orang asing yang dingin. Bagi Fadhlan, Syifa adalah kepingan masa lalu yang tak pernah ia lupakan.
​Di balik pernikahan ini, keluarga besar menyimpan harapan besar agar Syifa menemukan kembali ingatannya yang hilang.

Akankah ikatan suci ini menjadi matahari yang bersinar membuka kabut masa lalu, ataukah Syifa akan jatuh cinta kembali pada sosok yang sama untuk kedua kalinya tanpa pernah mengingat siapa dia sebenarnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chani Bae , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 25

​Syifa kini berdiri sendirian, menyipitkan matanya tajam ke arah Fadhlan. Merasa ditatap intens, Fadhlan hanya mengangkat kedua bahunya acuh tak acuh, lalu berjalan santai menyusul ke outlet es krim. Tidak mau merugi sendirian, Syifa akhirnya menghentakkan kakinya dan ikut berjalan menuju kedai, berharap mendapat jatah manisnya.

​Setelah membayar semua pesanan, Fadhlan berbalik hendak beranjak pergi sembari membawa satu cup es krim rasa vanila di tangan kanannya. Di sekitar kedai, beberapa pengunjung wanita tampak mencuri-curi pandang, cari perhatian karena terpesona dengan ketampanan dosen muda itu. Syifa yang menyadari suaminya sedang menjadi pusat perhatian tebar pesona para wanita langsung melangkah maju, menghadang jalan Fadhlan.

​"Mau kemana? Saya belum dibelikan," tegur Syifa dengan nada menuntut seperti anak kecil, melipat kedua tangannya di depan dada.

​Fadhlan menghentikan langkahnya, menatap Syifa datar. "Orang yang baru sembuh dari sakit tidak boleh makan es krim."

​"Hmm. Siapa yang sakit?" Syifa memasang wajah cemberut, memprotes keras.

​Fadhlan melangkah maju satu tapak, memangkas jarak mereka. "Kamu lupa? Semalam yang badannya demam tinggi sampai meracau siapa, hm?"

​"Kan udah minum obat dari Ummi, jadi sekarang sudah sembuh total! Mereka semua dibelikan, tapi istri sendiri malah engga," gerutu Syifa dengan bibir yang mengerucut lucu.

​Melihat pemandangan itu, hati Fadhlan berdesir geli. 'Menggemaskan sekali istriku ini. Rasanya ingin kubawa kembali ke kamar resort sekarang juga,' batin Fadhlan menahan senyum meledeknya.

​"Memangnya kamu istri saya?" tanya Fadhlan dengan nada menjahili yang sangat lempeng.

​"A-apa?!" Syifa syok luar biasa, matanya membulat tidak percaya suaminya bisa menanyakan hal itu di tempat umum.

​Fadhlan menundukkan tubuhnya sedikit, mendekatkan bibirnya ke telinga Syifa, lalu berbisik dengan suara baritonnya yang seksi. "Bukannya kamu mahasiswi saya, ya?"

​"Hmmph! Nyebelin! Pokoknya saya ngga mau tahu, kemarin kita sudah sah secara agama dan negara sebagai suami istri!" cerocos Syifa ketus dengan wajah memerah, memanyunkan bibirnya ke samping.

​Fadhlan tidak bisa lagi menahan tawa rendahnya melihat kepanikan gengsi istrinya. "Oke, kalimat itu akan saya ingat baik-baik. Kamu masih mau es krim ini? Tapi ada syaratnya."

​Syifa menghela napas pasrah. "Huftt... baiklah. Apa syaratnya?"

​Fadhlan tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya mengetuk pipi kirinya sendiri dengan jari telunjuknya, memberi kode jelas agar Syifa menciumnya di sana.

'​Ini orang salah minum obat atau gimana sih semenjak nikah?' batin Syifa berteriak histeris.

​"Eh, ada apa tuh ramai-ramai di sana?!" potong Syifa tiba-tiba dengan nada panik artifisial, matanya menunjuk ke arah ombak pantai seolah ada kejadian luar biasa.

​Begitu fokus Fadhlan teralih dan suaminya melirik ke arah yang ditunjuk, dengan gerakan kilat Syifa menyambar cup es krim dari tangan Fadhlan.

​"Haha... kena tipu! Wlee!" ledek Syifa puas, langsung berbalik hendak berlari menjauh.

​Namun, pergerakan Fadhlan jauh lebih cepat. Sebelum kaki Syifa sempat melangkah jauh, tangan kekar Fadhlan sudah terulur, meraih pergelangan tangan Syifa dan menariknya kembali ke dalam jarak dekat dengan mesra.

​"Mau kemana? Jangan pergi jauh-jauh dari saya," ujar Fadhlan lembut.

​"Siapa suruh Mas pelit?" balas Syifa berani, mendongak menatap suaminya.

​Chu~

​Tanpa aba-aba, Fadhlan menunduk dan mendaratkan satu kecupan singkat namun tegas di pipi kanan Syifa yang lembut.

​"Mas! Dilihat orang banyak!" Syifa melotot panik, tangan kirinya refleks menepuk pelan bahu suaminya dengan wajah yang sudah seperti kepiting rebus.

​Fadhlan hanya menaikkan satu alisnya santai. "Biarkan saja. Tadi kamu menipu saya untuk mengambil es krim. Jadi, jangan salahkan saya yang mengambil 'hak' saya sebagai imbalannya."

​"Tapi... tidak di depan umum juga, Mas..." cicit Syifa, suaranya mengecil karena malu luar biasa.

​Detik itu juga, terdengar suara patah hati massal yang tak kasat mata dari para wanita yang sejak tadi tebar pesona pada Fadhlan. Ternyata, pria tampan nan berkarisma itu sudah memiliki pawang yang sah.

​Fadhlan kemudian mengubah posisinya, menggenggam erat telapak tangan Syifa, mengunci jemari mereka tanpa niat untuk melepaskannya lagi. "Baru sembuh demamnya, jangan banyak-banyak minum esnya," ujar Fadhlan, lalu dengan santai mengambil kembali sendok es krim dari tangan Syifa setelah istrinya baru sempat menyuap satu kali.

​"Baru makan sedikit, udah diambil lagi. Dasar pelit," rutuk Syifa pelan, meski hatinya kini dipenuhi bunga yang bermekaran.

​Dari kejauhan, Syifa melihat Jihan, Adiba, Tasya, dan Reyhan sudah mulai berlari ke tepian ombak untuk bermain air. "Mas, saya kesana dulu ya? Mau gabung sama mereka," pamit Syifa dengan senyuman ceria menghiasi wajah cantiknya.

​"Hati-hati, Dek," pesan Fadhlan melonggarkan genggamannya.

​"Iya, Mas!" jawab Syifa riang, langsung berlari kecil menyusul teman-temannya.

​"Dasar gadis kecil," lirih Fadhlan menatap punggung istrinya yang menjauh dengan tatapan penuh kehangatan yang mendalam. Pria itu kemudian berbalik, berjalan menuju deretan kursi pantai untuk bergabung dengan Aidan dan Haikal yang sedang bersantai menikmati kelapa muda.

​Di kursi pantai, Haikal yang sejak tadi memperhatikan gerak-gerik asisten pribadi Fadhlan langsung menyenggol kaki Aidan. "Gue perhatiin dari tadi, lu ngeliatin temennya Syifa yang hijab hitam itu mulu. Naksir ya lu?" tanya Haikal blak-blakan.

​Aidan terperanjat, hampir saja tersedak air kelapanya mengetahui gerak-geriknya ketahuan. "Jangan bicara sembarangan, Kal!"

​"Halah, jujur aja kali, Bang. Lagian Bang Fadhlan sebagai bos lu juga nggak bakal masalah, ya kan, Bang?" sahut Haikal meminta dukungan pada Fadhlan yang baru saja duduk di sebelah mereka.

​"Berisik kamu, Haikal," ketus Aidan, wajahnya memerah samar.

​Fadhlan memperbaiki posisi duduknya, lalu bertanya dengan nada santai tanpa menoleh. "Kamu tertarik dengan Adiba, Aidan?"

​"Tidak, Fad. Jangan dengarkan bocil kematian satu ini," elak Aidan cepat.

​"Dia putri tunggal dari Ustadz Taufiq," pungkas Fadhlan memberi informasi krusial.

​"Ustadz?" Tanya Aidan, tenggorokannya mendadak terasa kering.

​Fadhlan menoleh, menatap sahabat sekaligus asistennya itu dengan senyuman jahil yang jarang ia tunjukkan. "Kalau kamu memang suka dengannya, saya bersedia mengantar kamu langsung ke rumah beliau untuk bertemu orang tuanya. Khitbah langsung, jangan kamu ajak dia pacaran. Bagaimana?"

​Haikal langsung tertawa puas. "Wih! Berat tuh, saingan lu langsung sama Gus atau anak pak Kyai, Bro! Anaknya ustadz!"

​"A-itu... aish! Kalian berdua bisa tidak jangan bersekongkol menjatuhkan saya?" gerutu Aidan salah tingkah setengah mati.

​"Idih, mukanya salting parah. Gue bilangin ah ke orangnya pas makan malam nanti!" timpal Haikal memanasi situasi.

​"Haikal! Awas kamu ya!" ancam Aidan, membuat Fadhlan terkekeh puas di kursinya.

...----------------...

Sementara para pria sibuk mengobrol di kursi santai, Syifa di tepi pantai tidak henti-hentinya dihujani godaan maut oleh kedua sahabatnya karena aksi kecupan di depan kedai es krim tadi.

​"Sumpah ya, Syif! Ternyata Pak Fadhlan kalau udah nikah bisa sebucin dan sekalem itu ya sama kamu. Lihat tuh, pipi kamu masih merah bekas dicium tadi. Kayaknya dia emang udah suka beneran sama kamu deh," cerocos Jihan menyenggol bahu Syifa dengan heboh.

​"Jihan, please stop okay? Senggol sekali lagi, kubawa kamu ke tengah laut biar dimakan hiu sekalian!" ancam Syifa salah tingkah, menyembunyikan wajahnya yang menghangat.

​"Haha... ciee, Istri Dosen kita salting nih ceritanya!" lanjut Jihan tertawa puas.

​Reyhan yang sedang membuat istana pasir ikut menimpali tanpa dosa. "Tadi pagi subuh ketahuan sama Reyhan di tempat shalat, sekarang malah pamer di depan orang-orang... Hahaha, parah Kak Syifa."

​"Heh, bocil! Engga usah ikut-ikutan obrolan orang dewasa ya. Masih di bawah umur!" ketus Syifa menunjuk adiknya dengan sendok plastik.

​Tasya yang baru selesai mencuci kakinya ikut menambahi dengan wajah polos. "Kak Syifa gengsi aja tuh buat ngaku kalau suka sama Kak Fadhlan. Waktu subuh aja merhatiin Kak Fadhlan pas jadi imam sampai nggak kedip saking terpesonanya."

​"Siapa? Kapan Kakak begitu? Kakak kan bilang penampilan dia tadi subuh itu biasa aja, standar!" elak Syifa dengan volume suara naik satu oktav.

​"Wah, parah nih. Syifa mulai berani bohongin kita, Diba," adu Jihan pada Adiba yang sejak tadi hanya menyimak dengan senyum simpul.

​"Sepertinya kamu memang mulai ada rasa yang berbeda ya sama Pak Dosen, Syif?" tanya Adiba ikut menggoda dengan nada lembutnya.

​Syifa terdiam sejenak, menatap hamparan ombak di depannya. "Hm... biarlah semuanya mengalir dengan sendirinya, Diba. Jujur, aku juga nggak tahu ini rasa suka yang sesungguhnya atau sekadar rasa kagum yang singgah sementara."

​"Hehe... ngaku aja deh, iya kan? Wanita-wanita yang cuma lihat Pak Fadhlan di koridor kampus aja pada ngefans, apalagi kamu yang sekarang statusnya sudah sah jadi istrinya," ujar Jihan kembali menyenggol lengan Syifa.

​"Jihan... ih!" rengek Syifa pasrah.

​Tiba-tiba, pandangan mata Jihan menyipit menatap ke arah deretan kursi pantai yang berjarak beberapa puluh meter dari posisi mereka. "Tunggu, tunggu... girls, aku rasa dari tadi ada orang yang merhatiin Adiba deh."

​"Siapa? Orang jahat ya?" tanya Syifa kebingungan, langsung ikut mengedarkan pandangan.

​"Itu loh, supir Pak Dosen... siapa namanya?" tanya Jihan mencoba mengingat.

​"Bang Aidan," jawab Reyhan tanggap dari bawah.

​"Nah, iya itu si Aidan. Kamu ngerasa juga kan dari tadi, Diba?" tanya Jihan beralih menatap Adiba.

​Adiba tertegun sejenak, namun dengan cepat ia memalingkan wajahnya ke arah lain demi menyembunyikan getaran aneh di dadanya. "Ngga, biasa aja. Perasaan kamu aja kali, Jihan."

'​Hishh... lagian ngapain sih itu orang dari tadi lihat ke arah sini terus? Kurang kerjaan banget,' batin Adiba bermonolog kesal, meremas ujung khimarnya.

​"Tapi... dia itu bukan supir, Jihan. Dia itu asisten pribadinya Mas Fadhlan yang sudah dianggap kayak saudara sendiri," jelas Syifa membetulkan informasi, tanpa sadar meluncurkan panggilan khususnya untuk Fadhlan di depan mereka.

​Suasana mendadak hening selama tiga detik. Jihan dan Adiba langsung saling berpandangan dengan mata berbinar lapar akan gosip baru.

​"Tadi... kamu panggil Pak Fadhlan apa, Syif?" tanya Adiba dengan senyum penuh selidik.

​Syifa tersentak, tersadar akan kebodohannya sendiri. "Anu... hm, ya Pak Fadhlan. Emang aku panggil apa tadi? Nggak ada yang aneh, kan?" jawab Syifa dengan senyum cangkung yang sangat kaku.

​"Hm, kok di telinga aku dengernya jelas banget ada kata 'Mas' ya?" sindir Jihan menaikkan alisnya naik-turun.

​"Iya, Rey juga dengernya panggil 'Mas Fadhlan' tadi—"

​"Ah, kalian semua salah dengar mungkin! Angin pantai sore ini terlalu kencang!" elak Syifa panik, langsung mengulurkan tangannya untuk membekap erat mulut Reyhan sebelum adiknya itu membongkar rahasia kamarnya lebih jauh lagi.

...****************...

1
Ulfa 168
lanjut thor
Ulfa 168
bagus cerita nya kak ditunggu kelanjutannya
Idah Faridah
alhamdullilah sah 👍
Rian Moontero
mampiiirr😍
Chani Bae ✨: Terimakasih kak sudah mampir 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!