Reigan Douglas hanya bisa patuh saat Kakek memaksanya menikahi Hana—gadis "kampung" bermata bulat. Pernikahan itu terasa datar dan mati. Bagi Reigan, kehadiran wanita itu hanya akan membatasi geraknya sebagai penguasa Odelgard.
Namun, segalanya berubah ketika sebuah peluru melesat dan nyaris menembus pelipisnya. Reigan pun menyadari satu fakta yang menghantam egonya: peluru penyelamat itu berasal dari senjata milik Vesper—sniper legendaris yang ternyata adalah Hana, istrinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 15 Kacau
Sialan!
Reigan memang tidak terluka dalam pertarungan tadi, tapi tubuhnya memanas. Melihat tubuh Hana setengah telanjang membuat keperkasaannya kacau. Bukan hanya itu, semua interaksinya dengan wanita itu membuat tubuhnya bereaksi tidak semestinya.
Tubuh Reigan terguyur air shower. Ia diam sembari sesekali mengumpat. Ketegangan di dapur membuat adrenalinnya naik.
Air dingin yang menghantam bahu kokohnya sama sekali tidak membantu. Reigan menyandarkan satu tangannya ke dinding porselen kamar mandi, membiarkan kepalanya tertunduk sementara air mengalir deras melewati rahangnya yang masih mengeras.
Sialan. Benar-benar sialan.
Setiap kali ia memejamkan mata, bayangan di kamar tadi kembali terputar seperti film rusak. Kulit punggung Hana yang seputih porselen namun penuh dengan peta luka yang brutal, kontras dengan penutup dada hitam yang membungkus siluet tubuhnya yang ramping. Pemandangan itu tidak hanya memicu amarahnya terhadap siapa pun yang berani menyentuh miliknya, tapi juga memancing insting dasar yang sudah lama ia tekan.
Gairah itu datang seperti serangan mendadak—panas, liar, dan tidak tepat waktu.
"Wanita itu..." Reigan menggeram pelan, suaranya tenggelam di balik deru air.
Hana bukan hanya sekadar "senjata" yang ia temukan. Dia adalah racun.
Cara Hana menatapnya dengan mata yang dingin dan tidak gentar, bahkan saat dadanya terekspos, membuat Reigan merasa seolah dialah yang sedang ditelanjangi.
Hana tidak memberikan reaksi yang Reigan harapkan; tidak ada rasa takut, tidak ada permohonan. Hanya ketenangan yang mematikan.
Dan itulah yang membuat "keperkasaan" Reigan bereaksi dengan cara yang paling kacau. Ia menginginkan wanita itu bukan hanya untuk patuh, tapi untuk hancur di bawah kuasanya—sekaligus ingin melindunginya dari dunia yang telah memberinya luka sebanyak itu.
Ia mematikan kran shower dengan sentakan kasar. Kesunyian mendadak menyergap, hanya menyisakan tetesan air dari rambutnya yang jatuh ke lantai.
Reigan meraih handuk, melilitkannya di pinggang dengan gerakan frustrasi. Ia menatap pantulan dirinya di cermin yang beruap.
Napasnya masih belum stabil. Adrenalin dari pertarungan di dapur tadi masih bersirkulasi di darahnya, bercampur dengan rasa lapar yang lebih primitif.
Ia tahu, keluar dari kamar mandi ini berarti ia harus menghadapi Hana lagi. Wanita yang mungkin sekarang sedang tertidur dengan luka yang baru saja ia balut, atau mungkin sedang menunggu dengan silet lain yang tersembunyi.
****
Pagi itu, apartemen mewah Reigan terasa jauh lebih dingin dari biasanya. Tidak ada aroma gandum panggang yang tercium, tidak ada suara denting spatula yang beradu dengan wajan, dan yang paling mengganggu—tidak ada sosok wanita yang berdiri di balik pantry.
Reigan duduk di meja makan, matanya tertuju pada jam dinding yang terus berdetak. Sudah lewat tiga puluh menit dari jadwal biasanya Hana muncul.
Logika Reigan mulai berperang dengan kecemasannya. Semalam luka di punggung Hana cukup parah. Apa wanita itu pingsan? Atau lebih buruk lagi... apa luka itu terinfeksi dan ia mati dalam diam karena terlalu keras kepala untuk mengeluh?
Tapi dia bukan wanita yang bisa mati begitu saja.
Reigan menghubungi Nico.
"Ya Tuan."
"Periksa semua rekaman CCTV apartemen dalam 30 menit terakhir." Suara Reigan sangat rendah tapi sarat akan nada mengancam.
"Baik Tuan."
Reigan tidak menunggu balasan lebih lanjut dari Nico. Ia memutus sambungan telepon dengan satu sentakan jempol yang kasar.
Reigan melangkah lebar menuju kamar Hana. Ia berhenti tepat di depan pintu kayu jati yang kokoh itu. Ia tidak mendobrak, namun kehadirannya di sana terasa begitu menekan, seolah oksigen di sekitar pintu itu baru saja habis tersedot oleh aura dominasinya yang gelap.
"Hana," panggilnya. Suaranya rendah, nyaris seperti bisikan predator, namun bergetar oleh emosi yang tidak mampu ia definisikan.
Tangannya mengepal, siap untuk menghancurkan pintu itu, saat sebuah suara datar dan tenang terdengar dari arah koridor masuk utama.
"Sedang apa di depan kamarku?"
Reigan tersentak. Bahunya menegang hebat saat ia memutar tubuh dengan cepat. Di sana, Hana berdiri dengan jaket tipis yang membungkus tubuhnya, membawa kantong kertas kecil berisi bahan makanan. Wajahnya tetap stoik, sedingin es, seolah-olah ia tidak baru saja membuat jantung seorang Valerius hampir berhenti.
Reigan terpaku. Ia menatap Hana dari balik tatapan yang begitu tajam, sementara tangannya masih mencengkeram manset kemejanya dengan kekuatan yang bisa mematahkan kancing logam itu.
"Kau... dari luar?" tanya Reigan. Suaranya terdengar tenang dan elegan, namun ada kilat amarah yang sangat berbahaya di matanya. Rasa paniknya baru saja bertransformasi menjadi murka karena merasa kontrol dirinya baru saja dipermainkan.
"Aku butuh beberapa rempah yang tidak ada di dapurmu. Aku juga butuh udara segar agar punggungku tidak kaku," jawab Hana santai. Ia berjalan melewati Reigan, mengabaikan pria itu yang masih berdiri mematung dengan aura yang siap meledak.
"Kau keluar Dengan luka seperti itu?" tanya Reigan tidak senang.
"Ya."
Hana meletakkan kantong belanjaannya di pantry dan mulai mengeluarkan beberapa ikat daun bawang. "Dapur akan siap dalam sepuluh menit. Silakan duduk," ujarnya. "Jika kamu tidak takut aku meracunimu tentunya."
Reigan mengumpat dalam hati. Ia kembali ke meja makan, memperbaiki posisi duduknya dengan gerakan yang sangat rapi namun kaku.
Sialan. Bagaimana bisa wanita ini memiliki kendali sebesar itu atas detak jantungnya hanya dengan menghilang selama tiga puluh menit?
Reigan melirik ponselnya yang bergetar.
Pesan dari Nico masuk.
CCTV menunjukkan Nona Hana keluar lewat pintu samping 45 menit lalu, Tuan.
Reigan menggeram.
Ia menatap punggung Hana yang sibuk di dapur, mencoba menembus kain jaket itu untuk melihat bagaimana perban yang ia pasang semalam bertahan.
"Bagaimana lukamu?" tanya Reigan setelah menekan marah dan kesalnya.
"Baik-baik saja. Kau cemas?"
"Aku hanya tidak ingin ada mayat di propertiku."
"Ya. Awasi terus, karena aku bisa merusak propertimu." Hana tersenyum tipis.
"Berhenti bercanda. Jangan berkeliaran sembarangan dengan luka itu, Hana!" ujar Reigan.
"Aku bisa mengatasinya."
"Aku tidak bisa."
"Ya?" Hana berhenti karena bingung. Namun dia tidak berbalik.
Reigan melihat lagi punggung itu. Tubuhnya berdiri mendekat ke meja pantry.
Karena tidak menduga Reigan akan mendekat, Hana berbalik terlalu cepat hingga tubuhnya menubruk dada tegap Reigan yang terbungkus rapi oleh kemeja.
Benturan itu mengirimkan sentakan tidak nyaman ke luka di punggungnya. Hana sempat menegangkan rahang—menahan ngilu yang menusuk.
"Maaf." Hana mundur. "Kenapa kesini?"
"Ada yang bisa aku bantu?"
Hana melihat ke sekelilingnya. "Tidak ada."
"Baru tadi malam aku mengobatimu, jadi aku tidak ingin luka itu terbuka lagi."
"Bersikap manis setelah menyerangku? Itu gaya pria Valerius ternyata." Sarkas Hana.
Reigan mendengus. "Jadi bantuanku di tolak?"
"Ya," sahut Hana yakin.
Reigan tidak beranjak. Alih-alih mundur, ia justru mengulurkan tangannya, melewati bahu Hana untuk mengambil pisau yang tergeletak di meja pantry. Gerakan itu memaksa Hana terperangkap di antara tubuh tegap Reigan dan meja dapur.
semangattttt
lanjutttt😄💪
lanjuttt
smangattt💪😄