Naraya Pramaswari Dhanubrata, seorang CEO muda yang dikenal dingin dan perfeksionis, terbiasa hidup dalam kemewahan. Di usianya yang terbilang matang, ia tidak lagi benar-benar percaya pada cinta, apalagi hubungan rumit.
Segalanya berubah ketika ia bertemu Sagara, pemuda tampan berusia 24 tahun yang sederhana. Namun, penuh semangat hidup. Berbeda jauh dari dunia Naraya, Sagara menjalani berbagai pekerjaan demi bertahan hidup. Mulai dari montir, ojek online, hingga pekerja paruh waktu. Meski hidupnya keras, Sagara tetap hangat, tulus, dan pantang menyerah.
Pertemuan tak terduga mereka perlahan menyeret Naraya ke dalam dunia yang tak pernah ia bayangkan. Sagara yang gigih, tanpa sadar meruntuhkan dinding hati Naraya yang selama ini terkunci rapat.
Namun, perbedaan status, usia, dan prinsip hidup menjadi tantangan besar bagi keduanya. Belum lagi seseorang dari masa lalu Naraya yang kembali hadir.
Akankah cinta mereka mampu bertahan, atau justru menjadi luka yang tak terhindarkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon teteh lia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Sagara sendiri langsung menghembuskan napas berat sambil menatap deretan alat-alat mahal di depannya. Rahangnya perlahan mengeras. "Wanita itu benar-benar keras kepala," gumamnya dalam hati.
"Tuan, silahkan ditanda tangani," ucap pria petugas pengantar alat itu, membuyarkan lamunan Sagara.
"Saya tidak bisa menerima ini," ucap Sagara tegas sambil menyerahkan kembali map dokumen pada petugas pengiriman.
Namun, belum sempat pria itu mengambil map tersebut, suara Andi lebih dulu terdengar nyaring. "WOI! Jangan asal nolak dulu!"
Sagara menoleh tajam. "Andi!"
"Apaan 'Andi-Andi?" sahut pria itu cepat sambil berjalan mendekati deretan alat bengkel baru. "Lu tau nggak sih ini barang impian semua montir?"
Beberapa montir lain langsung mengangguk setuju.
"Iya, Ga. Mesin hidrolik kita aja udah sering ngadat," ucap salah satu montir senior.
"Kompresor yang lama juga bocor terus," timpal montir berkacamata.
"Belum lagi alat scanner mobil itu. Yang sekarang lemot banget." Bang Dori ikut menimpali.
"Tapi ini terlalu mahal," jawab Sagara.
"Andaikan gue punya orang kaya yang ngejar gue kaya gini ...," celetuk salah satu montir muda, membuat suasana mendadak ricuh oleh tawa.
Sagara langsung melempar tatapan dingin. "Diam."
Namun, Andi malah menjadi-jadi. "Ga, otak lu tuh kadang aneh." Ia menunjuk motor tua di pojok bengkel. "Motor hadiah ditolak. Sekarang alat bengkel juga mau ditolak? Lu mau kita kerja pakai obeng karatan terus?"
"Ini bukan soal itu."
"Terus soal apa?" potong Andi cepat. "Harga diri?"
Sagara terdiam.
Andi mendecak pelan lalu menurunkan nada bicaranya. "Kita semua tau lu nggak suka dikasihani." Tatapannya berubah serius. "Tapi kali ini bukan cuma buat lu."
Ia menunjuk seluruh isi bengkel. "Ini buat semuanya," ucapnya lugas. "Lu nggak kasian sama kita-kita?"
Suasana langsung hening.
Beberapa montir lain ikut menatap Sagara penuh harap. Sagara mengepalkan tangannya pelan. Ia tahu kondisi bengkel ini memang jauh dari kata layak. Banyak peralatan yang sudah tua dan rusak, namun pemilik bengkel belum mampu menggantinya. Karena itu pekerjaan mereka sering terhambat.
Dan sekarang, semua yang mereka butuhkan justru berada tepat di depan mata.
"Kalau lu nolak," lanjut Andi tanpa dosa, "gue yakin bapak-bapak tua enihh bakal nangis berjamaah malam ini."
"Lebay," gerutu salah satu montir paling tua, meski tetap tertawa.
"Tapi bener!" sahut Andi cepat. "Lu tuh ditaksir cewek tajir bukannya bersyukur malah nyusahin orang sebengkel."
Sagara langsung menatap tajam. "Tapi ...."
"Pokoknya gue setuju diterima!" potong Andi cepat.
"Gue juga setuju!" timpal montir yang paling muda.
"Terima aja, Ga!" Montir senior kembali ikut berkomentar.
Satu per satu suara dukungan langsung memenuhi bengkel.
Sagara menatap mereka lama. Lalu pandangannya perlahan beralih pada alat-alat baru yang masih tersusun rapi. Napasnya keluar kasar. Pada akhirnya ia sadar satu hal, kalau kali ini ia menolak, yang kecewa bukan hanya Nara tapi juga orang-orang di bengkel ini.
Sagara memejamkan mata sesaat sebelum akhirnya membuka kembali map dokumen di tangannya. "Baik," ucapnya pelan, membuat seluruh montir langsung bersorak kecil. "Tapi hanya kali ini." Tatapannya berubah tajam. "Dan setelah ini tidak boleh ada lagi ada yang setuju menerima kiriman apa pun dari Nona itu."
Andi langsung menyeringai lebar. "Siap, Bos calon mantu keluarga konglomerat."
******
Sementara di kantor pusat DBT Group. Nara masih berada di ruang kerjanya ketika Tiwi kembali masuk dengan langkah cepat. Kali ini wanita itu sudah mengetuk pintu lebih dulu sebelum masuk.
"Nona," panggilnya sambil menahan senyum.
Nara yang tengah memeriksa berkas hanya mengangkat sebelah alis. "Ada apa?"
Tiwi mendekat sambil membawa ponselnya. "Orang kita di bengkel baru saja memberi kabar."
Nara langsung meletakkan pulpen di tangannya. "Dia menolak lagi?"
Tiwi menggeleng cepat. "Tidak, Nona." senyumnya semakin lebar. "Pria itu akhirnya menerima semua peralatan yang Nona kirimkan."
Beberapa detik ruangan langsung hening. Lalu perlahan, sudut bibir Nara terangkat tipis. Akhirnya sesak di kepalanya sedikit menghilang.
"Jadi akhirnya dia menyerah juga," gumamnya pelan.
Tiwi mengangguk keras. "Katanya montir-montir di sana terus mendesak Sagara agar alat-alat itu diterima."
Nara terkekeh kecil mendengarnya. Entah kenapa ia bisa membayangkan jelas bagaimana ekspresi kesal Sagara saat didesak banyak orang sekaligus. Dan anehnya, membayangkan pria itu kehilangan kendali justru membuat suasana hatinya membaik.
"Bagus," ucapnya santai sambil kembali menyandarkan tubuh pada kursinya. "Berarti setidaknya dia mulai mengerti jika tidak semua bantuanku punya maksud buruk."
Tiwi hanya tersenyum kecil. "Nona hebat bisa kepikiran sampai ke sana," puji Tiwi, "mengirim sesuatu yang tidak hanya untuknya, membuat pria itu jadi sulit menolak karena dorongan dari rekan seprofesinya."
Sudut bibir Nara kembali terangkat. Namun, sebelum ia kembali berucap, ponsel Nara yang tergeletak di atas meja tiba-tiba bergetar pelan.
Tatapan Nara langsung beralih. Nama pengirim yang muncul di layar membuat matanya sedikit menyipit.
Sagara.
Tiwi yang ikut melihat nama itu langsung menahan napas. Sementara Nara perlahan mengambil ponselnya lalu membuka pesan tersebut.
Beberapa detik kemudian, senyum tipis di wajah wanita itu berubah semakin jelas. "Sepertinya umpan kita berhasil," gumamnya pelan.
"Apa katanya, Nona?" tanya Tiwi penasaran.
Nara tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap layar ponselnya beberapa saat sebelum akhirnya berdiri perlahan dari kursinya. Tatapannya terlihat jauh lebih hidup dibanding beberapa jam sebelumnya.
"Dia ingin bertemu denganku."
Mata Tiwi langsung membesar. "Serius?"
Nara mengangguk pelan. Dan untuk pertama kalinya sejak semua kekacauan ini dimulai, wanita itu benar-benar merasa berada selangkah lebih maju.
Sagara akhirnya bergerak lebih dulu ke arahnya.
**** bersambung.